08 Mei, 2009

MENGACUHKAN PARA KOMENTATOR ULUNG

Posted by Suguh Jumat, Mei 08, 2009, under | No comments


“Mustahil Daud dapat memenangkan pertarungan”, kata Jalut pada Nabi Daud A.S ketika beliau akan memasuki Palestina. Jalut adalah pria berbadan kekar dengan tinggi enam hasta sejengkal ( kira kira 2,82 m ). Duel yang menurut logika tidak seimbang, justru berakhir diluar dugaan semua orang. Dalam pertarungan itu, Daud mengambil lima butir kerikil dan melemparkannya kemuka Jalut sehingga jagoan dari Gat itu menjadi buta. Daud yang jauh lebih kecil berhasil mengalahkan seorang raksasa dengan kecerdikannya

“Bagaimana bisa lelaki tua dan ringkih dapat mengalahkan Shahanshahnya ( Raja diraja ) Iran”, kata Shah Reza pahlevi pada Imam Khomaeni. Pahlevi adalah Penguasa yang pada tahun 1963 hingga 1977, memiliki angkatan bersenjata terkuat didunia Bersama AS, Uni Soviet dan Inggris. Iapun telah menghabiskan 1,8 miliar dollar AS untuk memenuhi kebutuhan senjata modern dan memiliki pasukan rahasia sekelas GESTAPU, bernama SAVAK yang terkenal brutal, kejam dan reprasif. Namun setelah dibuang dan terlunta lunta selama 15 tahun dinegri orang, Iman Khomaeni akhirmya pulang membawa kemenangan. Lewat sebuah gerakan revolusi paling massif yang beliau pimpin, tanggal 16 januari 1979 Pahlevi berhasil ditumbangkan dari kursi kepresidenan. Ia dan istrinya melarikan diri ke Mesir untuk menghindari kemarahan rakyat.

“Tidak mungkin tiga ribu tentara pemberontak yang kelelahan bisa mengalahkan tiga puluh ribu pasukan profesional milik pemerintah”, kata Fulgencio batista pada Fidel Castro dan Che Guevara. Rakyat Kuba dan dunia internasional pesimis terhadap keberhasilan gerakan revolusi yang dipimpin oleh dua orang pahlawan heroik ini. Tapi setelah bergrilya selama tiga tahun dipegunungan Sierra Maestra, Fidel Castro, Che Guevara dan pasukannya ( yang kelelahan ) pada tanggal 28 Desember 1958 berhasil mengambil alih ibu kota provinsi paling starategis, Santa Clara . Satu tahun kemudian, 2 januari 1959 , mereka berhasil merebut ibu kota Negara, Havana. Batista melarikan diri keluar negeri, Kuba merdeka dari sebuah rezim korup dan diktator.

Begitupun orang berkata MUSTAHIL pada Junko tabei, seorang ibu rumah tangga biasa sebelum berhasil menaklukan gunung evrest pada tahun 1977, begitupun orang berkata MUSTAHIL pada Thomas Alva Edison sebelum menemukan lampu pijar, begitupun orang berkata MUSTAHIL pada Alexander graham bell sebelum menemukan telepon. Begitupun orang berkata MUSTAHIL pada George Washington sebelum menjadi Presiden Amerika.

Keberhasilan tidak ditentukan oleh komentar orang terhadap usaha kita. Mereka lebih sering bersikap sujektif atas apa apa yang telah, sedang dan akan kita perjuangkan. Layaknya komentator ulung, testimoni testimoni yang muncul bukannya memberi semangat tapi justu malah melemahkan dan membuat kita patah arang. Hal itu terjadi bukan karena mereka benar benar kompeten namun sebagai cerminan dari perasaan dengki lantaran mereka tidak bisa melakukan hal hal serupa seperti yang sedang kita lakukan Komentar komentar buruk pastinya tidak keluar dari niat tulus sebab ia hanya bertujuan untuk menghambat kita dalam meraih kehidupan yang lebih baik.

Saat berhadapan dengan “para komentator” ulung, kita seharusnya tidak menjadi gentar apalagi minder hingga termakan oleh kata kata mereka. Seorang bijak pernah berkata, “bencana terbesar bagi anak manusia adalah ketika ia tidak menghargai dirinya sendiri sehingga jiwanya menjadi kerdil dan lebih percaya dengan perkataan orang lain padanya kendatipun perkataan tersebut belum tentu benar”. Sikap terbaik ketika berhadapan orang orang seperti itu adalah, dengan merubah sikap kita seolah olah telah menjadi tuli, buta, dan bisu dihadapan mereka. Tuli ketika mendengar apa apa yang mereka katakan. Setiap cercaan, hinaan ejekan, caci maki atau kalimat pesimistik tak lebih dari angin lalu. Ia masuk ke telinga kanan keluar dari telinga kiri. tak lebih, tak pernah diambil hati hingga kita tak sedikitpun menjadi murung dan kehilangan semangat karenannya. Kita menjadi bisu untuk tidak berkomentar apalagi membalas semua stigma buruk tadi. Bukankah kualitas seseorang ditentukan oleh sikapnya dalam menghadapi suatu peristiwa. Apabila seseorang membalas keburukan dengan keburukan maka ia adalah pribadi yang biasa biasa saja. Namun bila seseorang membalas keburukan dengan kebaikan maka ia adalah pribadi yang utama. Dan seutama utama pribadi adalah ketika mulutnya terpelihara untuk tidak mengumbar emosi lewat perkataanya pada orang lain kendati ia sedang dalam posisi tersudutkan. Pribadi yang utama dari mulutya hanya keluar hikmah dan nasehat hingga kebenaran terungkap. Terakhir kita harus menjadi buta atas tingkah mereka dihadapan atau dibelakang kita. Para pendengki hanya melakukan dua hal, yaitu merasa senang bila orang lain dalam keadaan susah dan merasa susah bila orang lain dalam senang. Mereka akan bersorak sorai bila kita mendapat kemalangan dan berduka bila kita mendapat kebahagiaan. Baik dalam keadaan susah ataupun senang, Dengan bersikap seolah olah menjadi orang buta kita akan mengabaikan semua pengaruh negatif dari segala komentar burut dan semakin fokus pada cita cita yang telah menunggu dihadapan kita.

Orang orang besar yang saya sebutkan sebagian telah wafat dan sebagian masih hidup dengan terus berjuang. Kisah hidup mereka dapat kita jadikan cermin dalam menyongsong masa depan. Bersikap seolah olah menjadi tuli, bisu dan buta seperti yang telah mereka lakukan ternyata jauh lebih efektif untuk mengantar kita pada keberhasilan dari pada bertindak temperamental dengan membalas semua komentar buruk dengan komentar serupa. “just ignore them”, abaikan saja, dan kita akan terus meluncur kelangit sementara para komentator ulung sibuk dengan diri mereka tanpa pernah bisa berbuat sesuatu.

0 komentar:

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog