30 Desember, 2011

Wayang Dan Etika Kepemimpinannya

Posted by Suguh Jumat, Desember 30, 2011, under | No comments




Esai ini menjadi pemenang pertama dalam lomba menulis Esai tingkat Nasional dalam kategori mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga yang bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena Pusat Pada 28 Oktober 2010.






Ironi Kepemimpinan Nasional

Idealisasi kepemimpinan nasional menjadi suatu tuntutan. Wacana perubahan sudah semustinya tak hanya berada pada ranah retorika dan pencitraan, namun harus bergulir pada tindakan nyata. Apalagi ditengah krisis yang masih menjadi musuh laten bangsa ini. Tiap pemimpin dituntut pandai pandai memosisikan diri. Karena mereka sejatinya adalah representasi dari rakyat Indonesia yang sedang gamang didera kemiskinan. Legitimasi dan kepercayaan kemudian menjadi semacam bonus, karena hal paling esensial adalah berjalannya roda kepemimpinan yang manjur untuk ‘menyehatkan’ kembali bangsa yang sedang ‘sakit’.

Namun sejatinya kini, ibarat pepatah lama berdedah, “buruk rupa cermin dibelah”. Harapan tak melulu paralel dengan kenyataan. Sikap egalitarian elit seperti makan nasi aking, keliling pasar tradisional atau kunjungan ke tempat pembuangan sampah hanya marak ketika kampanye. Setelah itu semua kebiasaan tersebut raib. Kita menyaksikan kebiasaan baru dimana antara pemimpin dan rakyat seperti minyak dan air. Ketika dibawah rakyat memanut penuh monoloyal, diatas para pemimpin justru bertingkah monoroyal. Belum kering berita soal mobil dinas mewah jajaran kabinet Indonesia Bersatu jilid II dan rencana ambisius membangun degung DPR baru yang menyulut kontroversi luas itu.

Hal yang amat ironis sekaligus memrihatinkan. Dikatakan memrihatinkan lantaran diatas gelimang kemewahan, masih terdapat 8,89 juta orang menganggur pada 2010. Selain itu masih terdapat pula 11,7 juta siswa putus sekolah pada 2009. Tentu hal ini menjadi preseden buruk. Bila terlalu lama didiamkan berpotensi menurunkan popularitas dan legitimasi pada pemimpin bersangkutan. Reaksi rakyat yang terlanjur kecewa pada sebuah rezim, berpotensi menimbulkan chaos. Huru hara 12 Mei 1998 dapat dijadikan pelajaran betapa kekuasaan yang sudah tak legitimated akhirnya harus tumbang.

Karena itu cara cara solutif tanpa kekerasan sudah selaiknya ditempuh sebagai ikhtiar mencari jalan keluar. Diharapkan potensi pertumpahan darah antar anak bangsa dapat diredusi. Jangan sampai ‘ijtihad’ kita menyesaikan masalah ternyata menimbulkan masalah baru. “Cai na herang lauk na beunang” (airnya terang ikannya dapat), ujar ungkapan Sunda lawas.

Wayang Dan Kearifannya

Selanjutnya, kembali pada nilai nilai kearifan yang datang dari budaya bangsa patut mendapat porsi lebih. Karena nilai nilai tersebut selain membuat kita tak lupa pada purwadaksina (asal usul), ajaran yang dikandungnyapun tak kalah canggih dengan sejumlah pemikiran ‘stensilan’ barat. Wayang dalam hal ini bisa kita jadikan bahan pembelajaran. Menurut akademisi Universitas Indonesia Darmoko, wayang memiliki nilai moral serta seni yang akan selalu mendominasi dalam setiap ceritanya. Hal itu diamini pula oleh pengamat kebudayaan Dr. A Ciptoprawiro, bila kesenian yang telah ditetapkan sebagai "A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity" oleh Unesco ini dianggap sebagai pagelaran kesenian yang menyajikan banyak nilai sebagai tuntunan (etika) dan tontonan (estetika).

Sebelum tokoh tokoh barat macam Abraham Zalzenik, John P. Kotter, James M. Kauzes, Barry Z. Posner atau Burt Nanus merumuskan teori kepemimpinan versi mereka masing masing, nilai nilai kearifan wayang sudah mendedahkan perkara bila sebaik baik pemimpin adalah ia yang dapat meresapi hakikat Purwa Sajati. Inilah tipe kepemimpinan yang bersifat amanah dan terpercaya. Didalamnya terkandung ajaran sepi hing pamrih rame hing gawe. Dalam prespektif pewayangan Jabatan dimaknai sebagai suatu pengabdian bukan untuk menumpuk numpuk kekayaan seperti tejadi sekarang. Dengan merenungi intisarinya seseorang dapat menjadi sosok yang selamat secara personal hingga terbebas dari cela dan dosa politik serta menyelamatkan karena fungsi fungsi kepemimpinanya bisa dirasakan langsung oleh lingkungan.

Hal tersebut tercermin dari sifat Kresna misalnya. Dibidang politik karirnya amat cemerlang bukan karena faktor pencitraan namun sifatnya yang bijaksana. Meski berdarah, berkulit dan berdaging hitam, tapi ia adalah sosok yang amat disegani. Ucapan ucapannya amat inspiratif hingga setelah pulang berkonsultasi darinya, para relasi Kresna merasa bersemangat kembali menjalani hidup. Selain itu terdapat Sri Rama dan Arjuna yang tak hanya penampilanya saja yang rapi, tapi juam mereka penuh dengan senyum, bertutur bahasa halus, bertingkah laku terukur dan tampak tak berminat membuat orang susah terhadap siapapun serta selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan. Atau pada ‘bab lain’ kita bisa belajar dari Abiasa. pada waktu menjadi penguasa di negeri Astina ia selalu mencintai dan memberi perhatian kepada rakyatnya, memiliki kepribadian kuat, konsisten, visioner dan integritas tinggi hingga ia dicintai dan dipercaya oleh pengikutnya.

Guna mewujudkan suksesi kepemimpinan ideal, dalam pewayangan terdapat tiga syarat yang sifatnya simbolik sekaligus mengandung kedalaman makna dan pesan moral. Ketiga syarat itu ialah,

1. Nembus Bumi (Bisa menembus Bumi)
Dalam prespektif nembus bumi, seorang pemimpin musti bisa menyelaraskan standar hidupnya dengan standar kebanyakan rakyat. Kalau kemiskinan itu menyebalkan ia lebih memilih hidup sederhana daripada bermewah mewah. Hal ini dapat kita simak dalam dedahan ki dalang yang sering diucapkan pada saat pertunjukan, “Gedong sigrong moal digandong, Sawah lega moal dibawa, Pamajikan geulis moal diais, Salaki ginding moal dijinjing (Gedung (rumah) mewah tidak akan digendong (dibelakang), Sawah luas tidak akan dibawa, Istri cantik tidak akan digendong (didepan), Suami gagah tidak akan dijinjing).

Dalam konteks kekinian kita dapat belajar dari Presiden Iran Mahmmoud Ahmadinejad. Meski menduduki posisi Iran satu, sosok Ahmadinejad jauh dari kesan glamor. Ia tinggal dipemukiman padat penduduk di Teheran dan menolak segala macam kemewahan. Pernah suatu ketika listrik mati di Iran, sejumlah pegawai membawakan mesin pemanas untuknya. Tapi simaklah apa yang dikatakan anak pandai besi ini, “kalau rakyatku dan mustadh’afin menggigil, mengapa pula aku harus bersenang senang dengan mesin pemanas ini.”. Tat Twam asi (aku adalah kamu) ujar Mahatma Ghandi, dan karenanya legitimasi dari rakyat makin tebal pada seorang pemimpin karena mereka melihat diri mereka pada diri pemimpinya.

2. Napak Sancang (berdiri diatas air)
Pluralisme adalah fitrah yang tak dapat disanggah bagi bangsa multi enitnis, agama dan budaya seperti Indonesia. Keberagaman membuatnya makin kaya dengan potensi dan sumber daya. Namum faktanya kerap perbedaan menjadi pasal penyulut konflik. Tragedi Ambon, Poso atau Sampit dapat dijadikan bahan renungan, dimana clash antar agama dan suku berakhir dengan huru hara serta banjir darah.

Dalam hal ini seorang pemimpin harus bisa ‘napak sancang’ dalam arti dapat berdiri diatas semua golongan. Kehadirannya adalah perwujudan dari bangsa yang memiliki keragaman latar belakang dan asal usul namun tetap dapat tampil utuh dihadapan bangsa bangsa lain. Ia memiliki kelihaian untuk meredam konflik dengan memeberikan cara pandang pada rakyatnya bila kepentingan bersama lebih utama dari kepentingan golongan. Serta roda pembangunan tak dapat berputar oleh satu elemen bangsa saja tapi semua memiliki tanggung jawab untuk bergerak. Dalam prespektifnya, pertikaian hanya akan mebuat progres pembangunan mundur. Kesejahteraan rakyat bisa makin buruk karena kondisi keamanan yang tak kondusif untuk menjalanan kegiatan ekonomi dengan aman. Persaudaraan, perdamaian dan sinergi antar hendaknya dapat dikampanyekan oleh seorang pemimpin, tak musti hanya pada pemilu saja tapi sifatnya prefentif jauh sebelum benih benih konflik baru muncul. Selain itu tiap elemen bangsa musti insyaf pula dari mempermasalkan hal remeh temen dan memilih rekonsiliasi untuk menyelesaikannya.

3. Bisa Ngapung (Bisa Terbang)
Ketika Bima merentas laut untuk mencari Tirta Amerta (Air Kehidupan) di samudra selatan ia mengalami cobaan maha dahsyat. Selain harus menerjang gelombang yang sedang bergejolak, Bimapun harus bertarung melawan seekor naga raksasa bernama Nembur Nawa. Nyawanya dipertaruhkan dalam suatu pertarungan. Atas keteguhan hati dan tekatnya pertarungan itu berakhir dengan tewasnya sang naga. Sementara Bima meski telah kepayahan dapat melanjutkan perjalan untuk meraih tujuannya.

Kisah singkat Bima diatas bisa kita terjemahkan dalam dua dimenasi. Satu, seperti Bima pemimpin harus harus memiliki visi, tujuan serta cita cita yang dirancang secara konstruktif. Mensejahterakan rakyat harus menjadi tujuan yang utama. Unsur skala prioritas harus dikedepankan. Anggaran belanja negara jauh lebih pas bila dialokasikan untuk kepentingan real seperti menyelanggarakan sekolah gratis, membuka lapangan kerja baru atau mendirikan rumah sakit cuma cuma. Kearifan mengelola anggaran adalah cermin atas sikap egalitarian elit yang sesungguhnya.

Kedua, seperti dikatakan oleh Prof. Dr. D.H. Burger ahli kebudayaan Jawa dari Belanda, wayang menyiratkan nilai nilai Riderlijk Cultuur atau budaya ksatria. Seperti Bima seorang pemimpin adalah penjaga martabat diri dan bangsanya. Dalam konteks global ia tak hanya manut dan menurut pada kekuatan adi kuasa tapi memainkan posisi tawar dengan kemampuan diplomasi yang cakap. Sikap tegasnya akan mengangkat harga diri bangsanya bahwa ia bukan budak, bukan pula jongos Negara Negara besar. politik bebas akitfnya tak sekedar menjadi retorika kosong tapi menggambarkan keberanian mengambil posisi atas nilai nilai keadilan dan pembelaan pada bangsa bangsa ditindas. Inilah dua inti dari istilah bisa ngapung, yakni gambaran pemimpin yang dapat menggenggam dengan erat martabat diri dan bangsanya baik dinegrinya ataupun dipentas dunia.

Menyongsong Momentum Perubahan
Belajar dari nilai nilai kearifan wayang adalah suatu keniscayaan. Darinya seorang pemimpin bisa berkaca diri dengan segala kerendahan hati kemudian mulai melangkah untuk merekonstruksi bangsanya. Diharapkan dapat terjadi kesadaran nilai nilai saat mereka sedang menduduki suatu jabatan tertentu. Segala macam pencitraan dan sikap bermewah mewah diharapkan dapat diganti dengan satu kata yang amat sederhana namun masih terbilang langka dinegri ini, pengabdian yang tulus dan total.

Mensejahterakan Indonesia memang pekerjaan sulit. Tapi rasa optimis akan bergulirnya perubahan musti tetap dijaga dalam diri. Seperti disampaikan diatas, mulai berbuat dengan tindakan nyata ialah langkah yang musti ditempuh. Kita tak bisa lagi mengulur waktu dan menunggu bila memang menghendaki perubahan terjadi dengan segera disegala lini di negri ini. “Let me fasten my seat belt, and I’am now ready to take off,” ujar Kartini Sjahrir dalam ‘Soe Hok Gie Sekali Lagi’ dan mulai bergeraklah. Sampurasun.


Daftar Pustaka

1. Prasetyo, Eko, 2006. INILAH PRESIDEN RADIKAL, Yogyakarta. Resist Book
2. Fadhly, Fahrus Zaman, 1999. MAHASISWA MENGGUGAT: Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998, Bandung. Pustaka Hidayah
3. Badil, Rudi, Luki Sutrisno Bekti dan Nessy Luntungan R.2009, Soe Hok-gie sekali lagi, Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
4. http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/30/267/serat_saking_tanah_jawi_bagian_1
5. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20070201112437
6. http://id.shvoong.com/books/1945041-nilai-nilai-kearifan-budaya-wayang/
7. http://bataviase.co.id/content/wayang-yang-sayang-di-lupakan
8. http://sabdalangit.wordpress.com/2009/02/27/wayang-upaya-menggapai-rahsa-sejati/
9. http://antikorupsi.org/indo/content/view/16100/6/
10. http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/8/3/52385/117-juta-anak- indonesia-putus-sekolah
11. http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/12/114198/4/2/Angka-Pengangguran-2010-Diprediksi-Turun
12. http://penggemarwayang.blogspot.com/2009/02/tokoh-pewayangan-ajarkan- karakteristik.html
13. http://www.kaskus.us/showthread.php?p=255189280

02 Desember, 2011

Kata Pengantar buku REPUBLIK SONTOLOYO: Manifesto Karavan Keabadian

Posted by Suguh Jumat, Desember 02, 2011, under | No comments



Sejatinya ‘Republik Sontoloyo’ disusun untuk merangkum sekelumit peristiwa dari berbagai macam dimensi agar menjadi bahan renungan, katalisator untuk berkontemplasi
dan wadah merefleksikan diri bagi kita pada hari ini dan bagi anak cucu kita nanti. Mengail hikmah dari banyak kejadian, lalu dapat belajar dengan segala kearifan darinya ialah suatu kebijaksanaan. Bila tiap kekeliruan, kealpaan bahkan kebebalan lelaku musti dipenggal sama sekali. Bila tiap kebodohan dan kemaha-tololan tindakan harusnya tak diulang lagi.

Terlebih bila bicara pada tataran lebih luas, kita menyaksikan semacam pertunjukan sirkus yang teramat konyol. Diatas panggung pertunjukan kawanan badut dengan rupa rupa topeng memainkan lawakan yang terlampau garing untuk ditertawakan. Badut itu bernama oknum ‘Mahasiswa’, yang tak bisa berdemokrasi dengan cara cara elegan. Mereka memilih untuk mengintimidasi dan mengancam lawan politiknya. Lebih jauh, jangankan membahas isu isu strategis seperti pendidikan gratis atau membuka lapangan kerja baru. Yang ada ialah ‘banci banci salon’ yang lebih doyan mengurusi persolan persoalan fun dan happy happy. ‘Mahasiswa’ nyatanya telah melakukan bunuh diri sosial yang amat tragis, lantaran menempatkan diri mereka diatas menara gading yang Sama sekali tak bersentuhan dengan kepentingan masyarakat, induk semangnya.

Ditataran elit, para pejabat melakukan kekonyolan serupa. Mereka bertingkah ibarat minyak dan air bila berhadapan dengan rakyat. Ketika dibawah rakyat memanut penuh monoloyal diatas pejabat justru bertingkah monoroyal. Kasus mobil dinas mewah Kabinet Indonesia Bersatu jilid II atau rencana pembangunan gedung DPR baru, merupakan sedikit contoh bila pejabatkita merupakan pejabat yang lebih memilih untuk memperturutkan libido bermewah mewahnya ketimbang menjadi negarawan yang membumi.


Ya kawan, buku ini disusun untuk memetakan zaman kita. Zaman dimana keborokan nilai nilai telah berurat dan berakar. Penjahat, bromocorah, mafia dan tukang menjilat nyatanya makin berjaya pasca gerakan reformasi yang heroik dan berdarah darah itu. Diatas genangan darah korban kerusuhan Mei dan para Mahasiswa yang ditembak kemarin dulu, saat ini mahasiswa mahasiswa oportunis berlaga sok suci, namun sejatinya mereka adalah bajingan bajingan tengik, tukang tukang cari muka pada dosen dan tukang menyontek pula waktu ujian. Dihadapan selaput dara perempuan perempuan Tiong Hoa yang diperkosa, para pejabat sangat pandai menggoyang dangdut masa kampanye. Mereka lihai memberikan mimpi dan angan angan kosong. Ketimbang merumuskan konsepsi lalu bertindak nyata.

Ya Kawan, buku ini adalah kesaksian sejarah. Sejarah bangsa yang bebal dan dungu. Dikatakan bebal, lantaran badut badut pemerannya adalah para intelektual, mereka yang sedang kuliah dan lulusan perguruan tinggi.

Kelak anak cucu kita membaca kembali buku ini, dapat belajar banyak soal generasi kita saat ini. Generasi yang sedang lesu vitalitas dan loyo nilai nilai. Yang serba transaksional dan kompromistis dengan menghambakan segenap jiwa pada materi. Saya tak tahu apakah nanti zaman akan lebih baik atau lebih buruk dari sekarang. Tapi harapan saya semoga buku ini dapat menjadi kawan pengiring yang setia bagi mereka untuk memilih jalan yang semustinya mereka pilih. El camino dela perdad, kata Sub Comandante Marcos, Jalan para pahlawan, jalan para pejuang, jalan para pengambil risiko yang mempertaruhkan segalanya atas apa apa yang mereka yakini benar. Bukankah sejatinya keyakinan adalah hal paling asasi. Dan karena itulah anak cucu kita tak menggadaikannya meski diimingi materi selangit. Bukankah pada hakikatnya, memiliki intelektual yang tak bisa dibeli sama artinya dengan memiliki pemerintah tandingan. Dan itulah yang kemenangan para intelekual yang paling sejati. Gerenasi setelah kita, kan berbaur pada zamannya tapi semoga tak latah membebek dan ikut ikutan lebur. Adalah pada waktu kita berharap, untuk memberikan pembuktian, mereka jauh lebih baik dari kita semua.

Sedang bagi kita yang menjalani zaman ini, jaman kita sendiri, sudah tiba masa untuk melalukan oto kritik. Bukan seberapa besar diri kita untuk merubah keadaan, tapi seberapa tindakan nyata yang telah kita korbankan untuknya. Berpangku tangan dan melamun adalah pekerjaan para pemimpi. Memaki maki dan marah adalah pekerjaan orang orang frustasi. Tika yang lain sedang selebor memabuki zaman, sudah selaiknya kita insyaf. Kemudian mulai menggagas ide, karena perubahan bisa dimulai dengan tersemainnya gagasan. Berdiskusi dengan kawan kawan lalu mulai terjun dimasyarakat. Kendati hanya dengan sekeping koin, kendati hanya dengan selembar selendang usang, kita musti pula merasai perih luka dan rajam kemiskinan kebanyakan saudara sekandung bangsa kita. Diatas segalanya, apalah yang lebih nikmat bagi seorang intelektual selain telah memenuhi panggilan jiwanya.

Semua tulisan dalam buku ini sudah saya publikasikan melalui blog pribadi saya yaitu blogspot dan kompasiana, media cetak dan online serta ada pula yang memang belum sempat dipublikasikan kemudian masuk didalamnya. Sebagian tulisan dalam buku ini, pernah pula memenangi lomba lomba menulis. Setelah melakukan penyeleksian, maka terhimpunlah tiga bab didalamnya. Ditulis dari awal 2007 sampai akhir 2011. Pada Bab I membahas isu isu kemahasiswaan, Bab II membahas isu isu nasional dan internasional dan Bab III membahas seni budaya dan suka suka, yakni tulisan bebas non artikel dengan tak melupakan sikap kritis membangunnya.

Saya ucapkan pada kawan semua selamat membaca. Yang tertulis akan abadi dan selebihnya akan sirna ditelan pusaran waktu. Maka, dengan membaca buku ini saya mengajak kawan kawan untuk bergabung dalam karavan panjang keabadian. Yang hidup dalam damai dengan bersampir kehormatan dan kebesaran jiwa. Tabik!


18 November, 2011

Ingin Ku Kecup Kening Amak Sekali Lagi

Posted by Suguh Jumat, November 18, 2011, under | 4 comments



Padahal jangkar rantauku masih tertambat erat di dada amak
Melindapi kelok curam labirin asanya yang putih macam pohaci
Mencengkram muara cintanya yang harum bagai kesturi

Sungguh masih ingin kucumbu ia seperti kemarin lalu
Saat perlahan terbuai oleh senandung Anak Salido
dalam timangan legam sepasang tangan tembaganya
atau termangu menyimak kisah tinutur batu ajuang batu peti
lepas lampu surau mati dan anak anak pulang mengaji.

Tak gundahkan ia, waktu lamat lamat bunyi peluti merambat
antar perahu sandar di hadapan?
Sampai hatikah ia, tika melihat orang orang berhimpit
dalam sesak anjungan pula buritan?

Selembar kain sarung dan peci
Sebuah mushaf Qur’an dan pepata pepiti
dijejalkannya dalam kopor haji sisa umroh tetangga tujuh tahun lalu
Silat langkah tigo harimau campo menyertai
bertahun telah menjadi sungai garam, dalam sulur gerak dan langkahku.

“Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun…,”
Ia mengusap peluh di keningku
“Marantau Bujang dahulu, Di kampuang baguno balun.”
Ia mendekap dan mulai terisak di bahuku

Gemuruh dalam dadaku
menjadi pusaran gelombang karenanya.
Lantas ia semburat hingga langit berubah sendu
Wajah itu kini bersisipan bersama sapuan awan di atas sana,
Wajah yang telah mengkerut lantaran digerus usia
Wajah yang telah tiga puluh satu tahun bermimpi,
namun tak jua berangkat naik haji.

Ingin kukecup kening amak
meski hanya sekali
Sayang,
Belum lagi berbalik badan di ambang titian sauh
Ia lebih dulu pergi lalu menjauh.

(Ngilu di dada kukemas baik baik bersama mimpi amak menuju rantau)

14 November, 2011

Ziarah Sukma

Posted by Suguh Senin, November 14, 2011, under | No comments




Puisi ini menjadi juara kedua dalam lomba menulis puisi bertema Giver Spirit For Indonesia 2011 yang diselenggarakan oleh Eelaine Firdauza)

Selagi mihrab malam belum menyuraikan gulita
dan selintang lazuardi masih berwarna saga
Maka tetap Berjagalah kawan
Lantaran dalam amuk segara
Engkau adalah layar sampan yang meradang
menerabas didih gelombang dihadapan

Selagi hijab antara gelap dan terang masih menggenang
dan langit belum dicadari oleh kerlingan bintang
Maka tetap bersiagalah kawan,
Lantaran dalam gelegak awan panas
Engkau adalah setitik embun yang telanjang
matang digerus angin dan didera bara sejadinya

Dimuka tiada lagi pijakan tersisa buat kita
Tanah sudah becek oleh genangan darah
Luka luka lebam dari bangkai busuk manusia
menyeruakan bau kedukaan yang tak terkira nyerinya

Ini perih raca bumi kita
Ini pedih rajam langit kita


Arak arakan panjang
Tersaruk melangkahi jalanan beraspal api
Kaki kaki telanjang
Menapaki pelarian dalam karavan yang tak putus
dari wasior, mentawai hingga merapi.

Ini lara sekandung kita
Ini air mata sedarah kita


Berjaga dan bersiagalah kawan
Sebelum gelap menilam raga kita,
Kendati cuma dengan sebuluh perindu
dan seikat selendang usang
tuk menyaput air mata mereka,
Kita musti pula merasa gelayut duka
Lolong panjang tangis negri kita

29 Oktober, 2011

Mahasiswa Dalam Prespektif Kearifan Lokal Masyarakat Sunda

Posted by Suguh Sabtu, Oktober 29, 2011, under | No comments

Esai Ini menjadi pemenang pertama dalam lomba menulis esai se Indonesia, yng diselenggarakan oleh UKM Belistra FKIP Universitas Tirtayasa Banten pada 2010

Oleh Suguh Kurniawan

Kembali merenungkan nilai nilai kearifan lokal bukan berarti mundur ke peradaban purba. Meminjam ungkapan Penyair Acep Zam Zam Noor, justru dengan melakukannya kita dapat menemukan, “mutiara-mutiara para leluhur dan menjadikannya sebagai pegangan setiap langkah ke depan.” Lebih jauh apabila hal tersebut direflesikan pada kehidupan kampus, dimana apatisme para mahasiswanya sudah mencapai titik nadir. Terdapat setitik harapan untuk mencairkan kembali kebekuan pendidikan tinggi tanah air, dengan cara mengadopsi formula yang nota bene bersifat lokal namun dapat berpengaruh global.

Hura hura Ala Mahasiswa

Mahasiswa (tanpa bermaksud mengenaralisir) nyatanya telah terjebak pada pandangan sempit. Bahwa kuliah dimaknai tak lebih dari rutinitas keseharian biasa yang hanya berkutat pada buku dan diktat. Sementara aspek sosial kemasyarakatan amat jarang dijadikan topik pembicaraan apalagi didebatkan untuk dicari solusinya. Pembelaan terhadap masalah masalah HAM, dimana rakyat kebanyakan selalu jadi pesakitanpun terlupakan atau lebih tepat diam diam dilupakan. Hal ini terjadi karena para hamasiswanya sibuk untuk menjadi yang terbaik secara akademik, berambisi lulus tepat waktu kemudian bekerja ditempat nyaman dan terjamin. Sepintas tak ada yang salah pada cara pandangan tersebut. Namun bila mengkajinya lebih dalam, hal ini menjadi preseden buruk. Sebab para mahasiwa hanya melaksanakan aspek pendidikan dan penelitian dengan melupakan aspek pengabdian. Kontra produktif bila membandingkannya dengan mahasiswa terdahulu yang begitu giat menggemakan isu isu kerakyatan.

Kemudian, alangkah naif pula bila Mahasiswa yang selama ini dianggap sebagai pembela HAM justru malah mengkhianatinya. Apa pasal? Ketika 32,5 juta rakyat di Indonesia berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari zona kemiskinan, ternyata ada (oknum) mahasiswa yang justru bersikap tak acuh. Meski tak tertulis dan terucap, sikap emang gua pikirin yang ditunjukan para mahasiswa amat kentara. Alih alih merumuskan formula atas suatu kasus kemanusiaan, mereka sibuk memenuhi desakan libido hura huranya. Riset Gilang Desti Parahita penulis buku Tuhan di Dunia Gemerlapku mengatakan lebih dari 70 % mahasiswa Indonesia doyan dugem. “Dalam penelitian itu, saya menemukan tiga tipe mahasiswa yang ada di tempat dugem. Pertama, mahasiswa yang dugem karena coba-coba, kedua karena telah terbiasa dan ketiga karena prestise. Dan, 70 persen dari mereka karena terbiasa dan prestise”,tandasnya. Selain itu pergaulan bebas yang lepas kendali menyebabkan munculnya efek domino. Pada 2008 telah beredar lebih dari 500 video porno buatan Indonesia dimasyarakat, baik dalam bentuk VCD, DVD maupun beredar dari ponsel ke ponsel. Yang mengagetkan pelaku adegan adegan syur itu adalah mahasiswa dan pelajar. Hal tersebut disusul dengan meningkatnya kematian wanita hamil karena belum memasuki usia matang dan tindakan aborsi sementara pasangan pria mereka tak mau bertanggung jawab.

Apabila kita menilik fakta fakta tadi dari aspek sosiologis, tak bisa dimungkiri proses globalisasi yang tak tangkas disikapi oleh para mahasiswa telah menyebabkan blunder. Ibnu Khaldun menggariskan, bila peradaban pemenang akan menghegemoni peradapan pecundang. Saat ini barat sedang menjejalkan sampah peradabannya ke timur. Ibarat pestisida, racun westoksinasi disemprotkan secara membabi buta melalui media mainstream seperti internet, Tv Radio, koran dan majalah. Lalu dengan latah para mahasiswa kita ‘membebekan diri’ tanpa lebih dulu menyaringnya dengan nalar yang jernih. Karena itu pergaulan serba boleh (hedonisme), hura hura dan free sex dianggap sebagai suatu hal yang keren kendati bertentangan dengan norma agama dan sosial.

Sedangkan secara politis, walau sudah tumbang lebih dari dua belas tahun lalu, tak bisa disanggah bila orde baru mewariskan tatanan birokrasi yang mapan. Proses NKK/BKK pasca huru hara Malari ternyata masih terasa dampaknya hingga saat ini. Alienasi kampus dari kegiatan politik dilakukan dengan cara cara represif. Sosiolog Ignas Kleden dalam paparanya menyebut, “setiap Insiden politik sebelum ini selalu dihadapi dengan rumus yang sama: tangkap pemimpin gerakan dengan poros Bandung-Jakarta-Jogja, ancam rektornya atau beri dia janji promosi, lalu api itu segera padam.” Ketika rezim berganti pada 1998 tak serta merta merubah iklim kebebasan bereskpresi mahasiswa diseluruh kampus ditaha air. Dalam sebuah kesempatan saya pernah bertanya pada seorang teman satu kampus, kenapa dia tidak melakukan aksi saat Gaza diserang Israel. Dia menjawab, takut dikeluarkan kuliah bila melakukan hal tersebut. Bayang bayang Pengekangan dan pengkooptasian itu bagi sebagian birokrat kampus dan para mahasiswanya masih membayangi, hingga mereka cenderung apatis bila diajak ‘bergerak’.

Melihat fakta fakta diatas, langkah progresif musti dilakukan oleh mahasiswa. Meminjam ungkapan Aktifis Mahasiswa angkatan 66 Soe Hoek Gie, terdapat beban moral yang harus mereka tanggung sebagai entitas the happy selected view, yang beruntung bisa kulias saat jutaan pemuda Indonesia tak mendapatkan kesempatan serupa. Melahirkan mahasiswa mahasiswa berkepribadian ideal merupakan suatu tuntutan. Sedangkan idealisme sendiri, tak serta merta jatuh dari langit namun hanya muncul bila mereka berani menilai diri secara obketif dan melakukan perbaikan personal.

Merenung adalalah pilihan bijak sebagai langkah awal. Dalam prespektif masyarakat Sunda renungan difilosofikan dengan ungkapan “indit kudu bari cicing, lumampah ulah ngalengkah.” (berangkat harus dengan diam, berangkat jangan melangkah). Suatu pemahaman yang sejatinya hanya dijalani oleh para petapa. Namun pada ranah kekinian, hal tersebut dapat ditafsirkan sebagai ajakan pada kita untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, berpikir dan kontemplasi, melakukan introspeksi lalu merumuskan perubahan.

Kembali Pada Kearifan Lokal

Kalau apatisme selama ini diumpamakan dengan air, maka ia adalah air yang terdapat pada sebuah danau. Bila terlalu lama menggenang dapat membuatnya busuk dan berbau. Guna menyikapinya perlu dibuka penggalang yang telah menyumbat aliran agar genangan dapat bergerak secara lancar. Banyak rumusan dan teori untuk kembali menggiatkan aktifisme Mahasiswa, namun akan lebih bijak bila kita menilik nilai nilai kearifan lokal yang tak kalah canggih dengan metode stensilan barat.

Jauh jauh hari sebelum Nietzsche mendedahkan konsep kemanusiaan dalam wacana human to all human, kearifan lokal masyarakat Sunda berkata bila seorang intelektual musti bisa meresapi ungkapan, “Mun aya angin bula-bali, ulah muntang kana kiara, muntang mah ka sadagori.” Artinya kalau ada angin puting-beliung jangan berpegang pada pohon beringin, tetapi pada rumput sadagori. Rumput sadagori adalah sejenis tanaman kecil yang berakar sangat kuat. Bila ditafsirkan, ungkapan tersebut memiliki makna bila rakyat menghadapi masalah baik itu dalam hal sosial, politik, kesejahteraan, kemiskinan dan lain lain sampaikanlah pada mahasiswa untuk mencari solusinya. Mahasiswa dianggap dapat menjadi sandaran karena merekalah yang memiliki kapabilitas dan kapasistan keilmuan untuk menjawab tantangan yang berkembang. Sejarahpun menggariskan, kalau kaum muda merupakan representasi atas aspirasi rakyat yang mereka waliki. Baik itu berupa parlemen jalanan atau melakukan tekanan tekanan politis pada pemerintah incumbent, gerakan mereka terbukti ampuh dalam menumbangkan sistem pemerintahan dan rezim yang terbukti telah bobrok lalu menggantinya dengan rezim baru. Meski datang dengan memakai baju ideologi, latar belakang kampus, asal usul serta agama berbeda beda, namun mahasiswa dapat bersatu bila sudah menginjak ranah yang sifatnya universal, yakni mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Sedangkan mahasiswa, dalam menanggapi masalah kerakyatan musti pula memahami ungkapan, “Ka cai kudu saleuwi, ka darat kudu salogak.” Artinya kesungai jadi satu lubuk, kedarat jadi satu lembah. Mahasiswa harus memiliki kecerdasan dalam berinteraksi dengan rakyat. Dalam istilah politisi Budiman Sudjatmiko disebut dengan membaca lingkungan. Mereka terjun langsung kelapangangan, memetakan masalah lalu mencari solusinya. Jurang antara kaum terdidik dan tak terdidik serta merta hilang lantaran mahasiswa dengan segala kerendahan hati menanggalkan gap intelektualitasnya. Mereka tak merasa menggurui dan rakyat juga tak merasa didikte karena kedua belah pihak sama sama memegang prinsip “Hirup mah ulah paluhur-luhur tangtung, ulah pagede-gede gawe”. (Jangan berlomba-lomba mengejar kedudukan, jangan berebut dalam pekerjaan). Hal paling penting adalah terciptanya sinergi saling menguntungkan. Mahasiswa dapat melaksanan fungsi fungsi sosialnya, sedangkan rakyat dapat terentaskan masalah masalah yang selama ini mereka hadapi.

Guna membentuk karakter Mahasiswa yang tangguh dan siap mengabdi, ajaran sunda buhun mengatakan seseorang harus memenuhi tiga aspek fundamental dalam dirinya,

1. Luhung Elmuna (Tinggi Ilmunya)
Mahasiswa musti menjadi pribadi yang berkualitas secara intelektual. Menjadi ahli dibidang yang digeluti, merupakan suatu tuntutan sekaligus kewajiban karena tugas seorang mahasiswa adalah belajar dan menunjukan rasa tanggung jawab yang amat besar kepada orang tua yang telah membiayai kuliah. Menjadi man on the class merupakan manifestasi perjuangan seorang intlektual yang sedang menuntut ilmu.

Sedang filosofi menuntut ilmu sendiri adalah journey bukan race. Mereka yang memaknainya sebagai race akan terjebak untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Sebagai contoh menyontek menjadi suatu kelaziman umum, memplagiat tugas akhir tak lagi merasa berdosa dan menyuap dianggap sebagai suatu hl lumrah. Tujuannya tak lain agar dirinya lulus tepat waktu meski penuh ‘cacat moral’ disana sini. Tentu hal ini dapat mencederai dunia pendidikan tinggi tanah air karena persaingan intlektual mahasiswa baik dikelas ataupun saat ujiang sudah tak lagi fair.

Namun mereka yang memaknainya sebagai journey, lebih mengutamakan proses. Beranjak setahap demi setahap menapaki tangga pengetahuan, kadang mengalami pula kesulitan. Namun hal tersebut dianggap sebagai tantangan yang akan mematangkan pribadi dan skill mereka secara personal dimasa depan.

Bila mahasiswa yang memaknai menuntut ilmu sebagai race cenderung bersikap egois dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri, mahasiswa pada kelompok kedua ini memiliki niatan kuat kalau pengetahuan yang dipelajari dikampus kelak dapat diaplikasikan secara langsung dimasyarakat. Kemampuannya teu diheungheum sorangan (tak disimpan sendiri) tapi “Pakena gawe rahayu pakeeun heubeul jaya di buana. Pakena kreta bener pakeeun nanjeur di juritan” (Pekerjaannya menyejahterakan rakyat, agar ia lama berjaya. Pekerjaannya memakmurkan negeri agar unggul dalam perang atau perjuangan).

2. Pengkuh Agamana (Kokoh Agamanya)
Dalam paradigma Sunda buhun (kuno), manusia merupakan bagian dari seke seler (sub sistem) alam semesta. Karenanya ia mengikuti aturan kesemestaan. Semua benda termasuk manusia dibalik penampakan fisik materialnya meyakini terdapat kekuatan metafisik. Ialah yang disebut dengan Sanghyang tunggal (Tuhan Yang Esa) sebagai sembahan. Konsep Tapa dinagara (Bertapa ditengah kehidupan sehari hari)pun diterapkan. Orang sunda buhun berpandangan bahwa ibadah bukan hanya saat melakukan ritus religis saja namun pada setiap aspek kehidupan merupakan bagian dari pertapaan (peribadatan) agar kelak mereka layak berhadapan dengan sang pencipta.

Konsep ini paralel dengan ajaran agama dalam prespetif kontemporer. Diharapkan nilai nilai agama dapat memberi dampak nyata dalam keseharian. Dimensi pahala dan dosa memberi rambu sebelum suatu tindakan diambil oleh seseorang . Dengan nilai nilai agama pula, mahasiswa dapat menyadari esensi penting pendidikan, bahwa menjadi pintar saja tak cukup, bila belum bisa bertindak benar. kepintaran yang tak dibarengi kebenaran selain berpotensi mendatangkan bala dari ‘Sang Hyang Tunggal’, juga dapat merusak sendi sendi sosial pada masyarakat. Tingkat korupsi yang terus melonjak dan bobroknya birokrasi merupakan contoh kecil dari nilai nilai keagamaan yang tak sepenuhnya teraplikasi dalam kehidupan. faktanya memang tak ada manusia yang benar benar terbebas dari dosa. Namun mereka yang mampu meredusi keburukan dengan kebaikan dalam naungan agamalah yang akan selamat.

3. Jembar budayana (Lestari Budayanya)
Artinya seorang mahasiswa, kendati hidup pada era global jangan sampai melupakan nilai nilai kebuhunan yang luhur. Karena nilai nilai inilah yang amat potensial untuk memfilter dampak buruk ‘westoksinasi’ ala barat seperti disampaikan diatas. Ajarannya amat sederhana namun memiliki kedalaman makna amat luar biasa. Misalnya ketika pengaruh barat mengajarkan hidup individualistik, ajaran buhun justru mengajarkan kita untuk bersikap Someah hade ka semah (Ramah kepada tamu), Hade ku omong, goreng ku omong (Segala hal sebaiknya dibicarakan). Ketika pengaruh barat cenderung merentas batas batas kesopanan, konsep buhun mengajarkan kita untuk selalu bersikap handap asor (sopan santun) dengan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat melalui “Undur katingali punduk datang katingali tarang (Pergi tampak tengkuk, datang tampak pelipis, yakni bahwa perilaku kita sebagai anggota komunitas harus diketahui oleh anggota komunitas lain), ketika pembanguan ala barat membabi buta hingga merusak ekosistem, konsep sunda buhun mengajarkan, “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan ” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).


Namun dengan melakukan hal demikian bukan berarti mahasiswa mengisolasi diri dari kebudayaan luar. Nilai nilai yang datang dari luar tak sepenuhnya pula bersifat negatif. Karena dari barat mahasiswa dapat belajar mengenai disiplin, etos kerja, ketepatan waktu, dedikasi dan pengorbanan, pengembangan IPTEK dan lain sebagainnya. Berbaur tapi tak lebur, belajar dengan segala kerendahan hati pada siapapun dengan tak melupakan purwa daksina (asal usul) merupakan kunci bagi kita untuk mengejar ketertinggalan dan bersaing dengan bangsa bangasa lain pada tataran global.

Ngigelkeun Jaman
Dengan menerapkan nilai nilai kearifan lokal dalam kehidupan, mahasiswa dapat mengenal diri dan lingkungannya. Mereka tak lagi kurung batokeun (dalam pribahasa Bahasa Indonesia istilah ini setara dengan ungkapan: seperti katak dalam tempurung) karena kearifan lokal menggariskan agar mahasiswa dapat berguna bagi diri dan lingkungan. Kegiatan aktifisme niscaya dapat bergairah kembali, karena mereka tergerak untuk turun kelapangan, memformulasi masalah, berdiskusi dan memecahkannya. Pembelaan terhadap hajat rakyat banyak, bukan lagi angan angan tapi dapat menjadi kenyataan karena mereka bersinergi dan mulai bergerak.

Hirup ngan sakali (hidup hanya sekali), maka inilah kesempatan terbaik bagi seluruh mahasiswa untuk ngigelkeun jaman (menggerakan zaman) bukannya diigelkeun jaman (digerakan zaman). Perubahan tak jatuh begitu saja dari langit namun harus ada yang berani memulainnya. Para pioneer mutlak dibutuhkan oleh bangsa yang sedang dirundung masalah. Ketimbang menunggu kehadiran sang pioneer, sudah saatnya para mahasiswa menjadi avantgarde untuk kembali melaksanakan tugas tugas intelektul dan sosialnya. Mereka musti bersiaga menyambut segala kemungkinan, mederas segala tantangan. Setiap kita, harus segera caringcing pageuh kancing, saringset pageuh iket (setara dengan ungkapan: menyingsingkan lengan baju) bila menghendaki pilar perguruan tinggi yang telah pincang itu, dapat berdiri dengan ajek kembali. Sampurasun.

Daftar Pustaka

1. Al-Malaky,Ekky.2003.Remaja Doyan Filsafat? Why Not.Bandung.Penerbit DAR, Mizan
2. Koespardono, Gantyo, KICK ANDY, Kumpulan Kisah Inspiratif, Bandung. Mizan Media Utama
3. Fadhly, Fahrus Zaman, MAHASISWA MENGGUGAT: Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998, Bandung. Pustaka Hidayah
4. http://www.facebook.com/note.php?note_id=86528033415
5. http://jendelapemikiran.wordpress.com/2008/05/12/bercermin-pada-kearifan-lokal/
6. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20070127193606
7. http://pangasuhbumi.com/article/20582/pemulihan-lingkungan-dengan-kearifan-lokal.html
8. http://suguh-kurniawan.blogspot.com/kemahasiswaan
9. http://www.opensubscriber.com/message/urangsunda@yahoogroups.com/11902024.html

25 Oktober, 2011

Melawan Pelanggaran HAM Terhadap ODHA

Posted by Suguh Selasa, Oktober 25, 2011, under | No comments


Esai ini menjadi pemenang ke tiga seIndonesia dalam Lomba Penulisan Diskursus AIDS Tahap III yang diselenggarakan oleh JOTHI dengan tema "HAM dan orang terinfeksi HIV” pada 2010.

Oleh Suguh Kurniawan

Sesungguhnya penyakit yang paling berbahaya di dunia ini bukanlah AIDS, kanker, tumor ataupun antraks. Tetapi menghina dan merendahkan potensi diri sendirilah penyakit yang sebenarnya paling berbahya di dunia ini.
(Din, dikutip dari buku ‘Selalu Ada Harapan’ hal 16)

Sejak kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada 1987, tindakan pencegahan dan perawatan digalakan baik oleh pemerintah atau LSM LSM penggiat AIDS dan kemanusiaan. Kendati demikian, setelah duapuluh tiga tahun menjadi bagian dari problema medis Indonesia, jumlah penderitanya terus meningkat. Selain itu perlakuan diskriminatif tak surut ditujukan pada ODHA. Nilai nilai kemanusiaan yang dilanggar menjadi preseden buruk bagi para penderita hingga beban fisik dan psikologis yang harus mereka tanggung makin berat, dan karenanya penegakan HAM Indonesia pun berada dalam dilema.

Diskriminasi Multidimendional
HAM ungkap paus Yohanes Paulus II sebagai, “salah satu dari ekspresi hati nurani manusia tertinggi.” Hak dasar yang melekat pada diri manusia ini, bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah tuhan yang harus dihormati dan dijaga (wahyuforlife.blogspot.com). Pilar utamanya adalah saling menghargai, melindungi, membantu serta mendukung manusia atas manusia lain tanpa membeda bedakan asal usul, warna kulit, agama atau status sosial. Dengan demikian diharapkan tercipta tatanan masyarakat sirnegis yang bebas dari cela diskriminasi.

Namun bagi penderita HIV/AIDS faktanya tak demikian. Sampai saat ini masih sering terdengar kabar tak sedap soal tindakan tak manusiawi yang masyarakat tujukan pada mereka disegala lini. Pada ranah terkecil yakni keluarga sebagai contoh, karena minimnya pemahaman mengenai proses penularan HIV/AIDS, keluarga yang harusnya memberi dukungan moril justru melakukan pengucilan. Pada April 2009, di Bali terdapat dua ODHA yang tidak bisa pulang kerumah dari perawatan rumah sakit karena ditolak oleh keluarga mereka. "Estimasi orang terinfeksi HIV sekitar 4000 kasus di Bali. Apa yang terjadi kalau semua ditolak keluarganya? Siapa yang mengurus? Saya juga berpikir dengan nasib saya nanti,” papar Dodi, aktivis AIDS setempat. (satuportal.net/07/09/09).

Sementara dimasyarakat dikriminasi makin kentara. Teman, tetangga, dan lingkungan menjadi hakim yang menjatuhkan vonis pada ODHA secara tidak adil. Orang orang terdekat yang semula akrab, berbalik menjauhi ketika seseorang didiagnosa HIV positif. Peristiwa miris terjadi di Mengi, Badung, Bali. Terdapat suami istri positif HIV, memutuskan untuk membuka status mereka. Namun saat sang suami meninggal, masyarakat melakukan diskriminasi. (satuportal.net/07/09/10). contoh lain adalah penolakan masyarakat atas tujuh jenazah ODHA oleh warga seperti disampaikan Istiana Dewi, aktivis dari lembaga Bali Plus.

Pihak rumah sakit yang mulanya diharap dapat memberi layanan maksimal pun justru melakukan kekeliruan serupa. Padahal secara logika rumah sakitlah yang memiliki pemahaman paling luas mengenai masalh HIV/AIDS dengan segala komplesitasnya dibanding keluarga dan masyarakat. Hal memilukan dapat kita simak dari Sartika Nasmar, Jurnalis dari Makasar. Berdasarkan wawancara yang dilakukannya bersama seorang ODHA berinisial Dedes, diketahui Dedes mendapat anjuran dari dokter yang menanganinya untuk tutup kandungan agar bayi yang ia kandung tak terinfeksi HIV. Padahal seperti diyakininya, dengan memanfaatkan program Preventing Mother To Child Treathmen (PMTCT) hal tersebut dapat dicegah (kesehatan.kompasiana.com//09/01/10).

Begitupun dikalangan penggiat medis lain seperti perawat. “Stigma dan diskriminasi dari dokter atau perawat tidak hanya dialami pasien ODHA saja, tapi kami juga mengalaminya.”, kata Suster berinisial Rima, Salah satu perawat pasien HIV dan AIDS di sebuah rumah sakit di Makassar. Karena dedikasi besarnya untuk merawat ODHA, ia selalu mendengar perawat lain bergunjing atau berteriak memanggilnya dengan sebutan Suster HIV (kesehatan.kompasiana.co/21/09/09). Namun hal tersebut tak memupuskan semangatnya untuk memberikan pelayan terbaik, “Saya nda peduli ji. Saya sudah bikin komitmen berbakti sama pasien HIV sampai habis masa pensiunku.”, Ungkapnya dengan logat Makasar (kesehatan.kompasiana.com//09/01/10).

Tindakan dikriminatif hanya menjadikan kasus HIV/AIDS seperti gunung es, Nampak kecil dipermukaan namun sebenarnya berpotensi menimbulkan bencana besar dimasa depan. Karena takut mendapat stigma buruk dan perlakuan tidak manusiawi dari lingkungan, banyak ODHA yang merahasiakan status mereka. Diluar data rersmi, Departemen Kesehatan memperkirakan saat ini jumlah orang terjangkit HIV sekitar 300.000 kasus (bataviase.co.id/04/12/09), dan bila hal tersebut terus terjadi, para ahli epidemologi memproyeksikan pada 2015 terdapat 1000.000 jiwa penderita HIV/AIDS di Indonesia (bidansmart.wordpress.com/21/12/09).

Solusi: Penegakan HAM
Membiarkan orang terinveksi HIV/AIDS terus dikucilkan dan mendapat berbagai stigma buruk merupakan pelanggaran HAM. Hak hak dasar yang dirampas, membuat mereka asing dilingkungan mereka sendiri. Dibutuhkan solusi tepat guna mengentaskan masalah pelik tersebut. Karena dikriminasi selama ini bersifat multi dimensional, maka solusi penanggulangan dan penyelesaiannyapun harus bersifat multidimensional.

Untuk keluarga dan masyarakat, mereka harus sadar bahwa orang dengan HIV/AIDS bukanlah ancaman yang harus dikucilkan. Pergaulan dan komunikasi baik verbal dan nonverbal harus dijaga dengan baik. Selebriti Christian Sugiono dapat dijadikan teladan. "Gue mulai bisa berteman dengan penderita AIDS karena pengetahuan tentang AIDS bertambah berkat kampanye AIDS. Gue punya teman yang AIDS, santai saja. Bahkan, sering hang out bareng.", ungkapnya (celebrity.okezone.com/12/04/08).

Karena itu Kampanye Anti dikriminasi harus terus digalakan. Selain mengadakan seminar dan simposium, sistem jemput bola dapat menjadi solusi dalam masalah ini. para aktifis penggiat HAM dan AIDS dapat turun langsung kemasyarakat, seperti bekerja sama dengan karang taruna atau aktivis pemuda pada skup masyarakat terkecil, RT dan RW. Dengan menyampaikan pemahaman sederhana bahwa HIV tidak akan menular melalui hubungan sosial seperti jabatan tangan, bersentuhan, berpelukan, penggunaan alat makan, WC, Kamar mandi dan kolam renang bersama, lambat laun perubahan dari bawah ke atas dapat terjadi. Selain itu terbuka pula pemahaman lebih luas yang memungkinkan ODHA untuk terlibat lebih aktif dalam setiap kegiatan dimasyarakat.

Sedang bagi rumah sakit, tindakan dikriminatif apapun harus diganjar dengan sanksi. LSM AIDS dan Kemanusiaan harus memonitor dengan objektif. Karena kebanyakan kasus terjadi lantaran pasien enggan mengungkapnya kepermukaan, saat ini telah tiba masa bagi mereka untuk melaporkan sikap buruk tersebut pada LSM besangkutan agar dapat diambil langkah hukum. Dibutuhkan keberanian lebih dari ODHA untuk mengungkap jati diri mereka atas tindakan tindakan tak menyenangkan yang mereka terima. Bila hal ini dapat mereka lakukan maka lubang dikriminasi dapat ditutup dengan rapat.

Selain itu fungsi pelayanan juga harus dijaga kualitasnya. Berdasarkan SK No.1190/MENKES/2004 mengenai pemberian obat gratis Anti Retroviral (ARV) dan SK No.760/MENKES/SK/VI/2007 mengenai ditunjuknya 237 RS Rujukan bagi ODHA dengan akselerasi program konseling dan testing sukarela, pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dan perawatan, pengobatan serta dukungan (bidansmart.wordpress.com/21/12/09), jangan sampai terdengar lagi keluhan soal minimnya dana pengobatan dimasa depan. Subsidi pengobatan cuma cuma harus ditambah jumlahnya. Apa yang dikampanyekan pemerintah saat pemilu soal kesehatan gratis jangan hanya sekedar menjadi gelembung politik yang terbang kelangit dan tak kembali lagi. Inilah saatnya untuk membuktikan kalau pengobatan gratis itu benar benar bisa dirasakan terutama bagi pasien HIV/AIDS.

Bila pemerintah alpa melaksanakan pelayanan dan gagal mencegah tindakan dikriminatif, maka hal tersebut merupakan suatu pelanggaran kemanusiaan. Nur Kholis, wakil Ketua II Bidang Eksternal KOMNAS HAM menguatkan dengan berkata, "diksriminasi terhadap ODHA dalam mendapatkan layanan kesehatan diindikasikan sebagai pelanggaran HAM." (satudunia.net/24/02/10). Sebagai pihak terdzalimi, pasien dengan bantuan advokasi dari LSM terkait dapat melaporkan tiap tindakan tak menyenangkan pada PBB. Apalagi Indonesia telah meratifikasi konvensi Internasional. Sebagai contoh Konvensi hak-hak sipil dan politik (The International Covenant on Civil and Political Rights-disingkat ICCPR-terdiri dari 53 pasal) yang telah diadaptasi oleh pemerintah Indonesia dengan UUNo.12 Tahun 2005 (satuportal.net/23/03/10). Sudah sepantasknya pemerintah bersikap konsekuen dan siap menerima segala sanksi dari PBB bila mereka lalai melaksanakan undang undang tersebut.

Menggapai Kemengan Monumental
Ditengah ujian yang menimpa mereka orang terinfeksi HIV/AIDS adalah manusia luar biasa. Tidak sepantasnya mereka dijauhi, dikutuk dan dibatasi kesempatannya untuk berkarya dimasyarakat. Pengakuan eksistensi dan mendapat perlakuan manusiawi seperti dicintai, dihargai, dijaga dan dilindungi merupakan sebuah kemengan monumental yang mereka raih ditengah segala tekanan fisik serta psikologis maha berat. Sementara diskriminasi sudah waktunya ditanggalkan oleh mereka yang non ODHA. “live must go on”, kata pemeo lama. Bersama nilai nilai HAM yang dijalankan secara konsekuen oleh pihak pihak yang bersentuhan langsung ataupun tidak dengan ODHA, mereka dapat menjadi manusia dalam arti sesungguhnya.

11 Oktober, 2011

METAMORFOSA SASTRA PERUBAHAN

Posted by Suguh Selasa, Oktober 11, 2011, under | No comments


Esai ini menjadi Pemenang ke Dua pada lomba menulis esai sastra yang diselenggrakan oleh komunitas penulis muda (penulismuda.com) dalam rangka memeringati wafatnya Chairil Anwar pada 2010. Judul Asli: Metamorfosa Sastra Hingga Menggugah dan Mengubah

Oleh Suguh Kurniawan

“Tidak satu pun diantara mereka akan langeng. Yang langgeng adalah mereka yang menulis hanya karena jika tidak melakukannya mereka seakan-akan meledak.”
(Anthony de Mello)

Apabila sastra diibaratkan dengan pesawat, maka penulis adalah pilotnya dan pembaca adalah penumpangnya. Akan dibawa kemana pesawat? bergantung kehendak sang pilot. Ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan para penumpang hingga burung besi tersebut landing dilandasan. Berangkat dari ilustrasi singkat itu, ‘pesawat sastra’ memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan kehidupan bangsanya. “A drop of ink can move billion peoples to think.”, kata idiom lama, sementara Subcomandante Marcos, Pemimpin geriliawan Zapatista berujar, “nuestra palabra es nuestra arma.” (kata adalah senjata)

Lebih dari Segurat Kata
Sebagaimana diungkapkan Horace, sastra berfungsi sebagai Dulce et utile yaitu penghibur sekaligus berguna. Dua ‘hulu ledak’ ini, sejak awal harus disadari dengan jernih oleh para penulis sebelum berkarya. Karena efek ledakannya bukan hanya bersifat insidental tapi multidimensional.

Menghibur bukan berarti latah ikut ikutan trend, Terjebak dalam perangkap kapitalisme penerbitan yang membabi buta memenuhi selera pasar tapi tidak menghiraukan ekses negatifnya. Bila hal tersebut menjadi prioritas utama, maka yang muncul kemudian adalah buku buku dangkal filosofis, kering pesan moral dan meaningless kecuali hanya untuk menuaskan selera sesaat. Penulis Montgomery Belgion menyebutnya sebagai Irresponsible propagandist (propagandis tidak bertanggung jawab), karena disadari atau tidak tulisan seperti halnya cat dan kuas dapat memulas ‘kanvas’ para pembaca dengan ide ide yang dikandungnya.

Hal tersebut dikuatkan dengan realita generasi muda kita yang miskin militansi, kering idealisme dan buta nilai nilai. Budaya hedon telah menyulap mereka menjadi konsumen sampah kebudayaan barat yang rakus. Kebebasan tanpa kontrol telah menghilangkan jati diri ketimuran, dimana moralitas tidak lagi menjadi rambu dalam hubungan antar manusia dan norma norma tak risih lagi untuk dilanggar. Hal ini terefleksi dari Gaya hidup bermewah mewah anak muda kita dalam novel, cerpen, esai yang sangat kontras dengan nasib tiga puluh dua juta rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Suatu preseden buruk bagi hubungan kelas sosial antar kaya miskin, kuat lemah, kuasa tak berkuasa. Edy Firmansyah, Esais sekaligus pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Jakarta mengatakan, “Mencipta karya sastra yang melangit dan eksklusif secara tak langsung berarti memaksa masyarakat alpa terhadap perubahan.”

Menyikapi hal tersebut dibutuhkan fungsi kedua, yaitu ‘dapat berguna’. terlepas dari genre masing masing penulis, dibutuhkan karya karya yang berani melawan mainstream. Pesan moral, kemanusiaan, sosial dan pendidikan dapat diusung menjadi tema utama sebagai bentuk refleksi masyarakat kita yang sebenarnya. Karya monumental seperti tetralogi laskar pelangi karya Andrea Hirata, Ayat Ayat Cinta karya Habiburahman Al Shirazy atau Manusia Manusia Langit karya Helvy Tiana Rosa bisa dijadikan acuan. Kendati semula dianggap aneh, tidak populer dan asing tapi kemudian karya karya tersebut dapat merajai bursa buku nasional. Pembacapun mendapat nilai plus menuju arah yang lebih positif atas apa yang telah mereka deras dan telaah. Buku cerdas niscaya dapat mencerdaskan dan seperti dikatakan oleh aktifis kemanusiaan Chico mendez, perubahan terstruktur hanya tinggal menunggu waktu.

Semangat itulah yang dirasa sangat relevan guna menghadapi realita saat ini dan masa datang. Kedepan, mendirikan penerbit independen yang dapat menampung karya karya para penulis idealis wajib hukumnya. Hal ini telah dibuktikan oleh resist book yang berani beda dengan meluncurkan buku buku bertema perlawanan. Sokongan dana dari penulis mapan, sponsor dan pihak pihak yang peduli terhadap perubahan mesti digalang. Dengan demikian, dari penerbitan tersebut dapat muncul sejumlah karya yang dapat meredusi terbitan yang sifatnya merusak. Selain itu membuka jalan pula bagi para penulis berbakat pemula yang selama ini tidak mendapat kesempatan mengorbitkan naskah mereka karena terisisih oleh sistem.

Save to landing
Perubaham bukan cuma mimpi bila ada sinergi dari semua kalangan. ‘Pesawat sastra’ yang kelak akan landing dilintasanpun dipastikan dapat membawa para penumpangnya dengan selamat. Landasan yang dimaksud adalah terbentuknya suatu pemahaman global bahwa tiap manusia musti menjalankan fungsi fungsi sosial untuk manusia dan lingkungannnya. Melalui sastra kita menjadi peka terhadap realita kemudian tergerak untuk melakukan perbahan.

“I have a dream”, kata Martin Luther King, ketimbang meributkan rute penerbangan yang dipastikan sangat panjang, lebih baik kita mengencangkan sabuk pengaman, mengatur kemudi dilintasan dan mulai membawa pesawat sastra kita pada jalurnya yang benar. Entah sampai kapan ia melayang layang diudara dalam mencari landasannya, yang paling penting adalah para penulis (termasuk kita barangkali), sebagai pilot telah membuka jalan menuju landasan itu. Tabik !

09 September, 2011

GRACE DAN MANUSIA MANUSIA TOPENG

Posted by Suguh Jumat, September 09, 2011, under | No comments

Dalam beberapa hari terakhir saya ngeliat wajah Grace selalu murung. Saya ingin nanya apa yang terjadi sama dia, tapi saya ngga enak hati. Saya ngerasa segan aja kalau nanya masalah pribadi seseorang, meski ia adalah sosok yang saya kenal amat dekat. Mungkin dia kecewa gara gara gagal pake behel. Sebulan lalu Grace janji mau pake kawat pengindah gigi itu pada saya. (ssssst diam diam saya jd suka cwe yg pake behel, lucu soalnya^^ jangan bilang bilang ya, Ini rahasia) Atau mungkin juga karena potongan rambut geum jandi-nya udah berubah, sekarang rambutnya mulai tumbuh menyentuh pinggang. Bagi Grace, Kehilangan hair style sama artinya dengan kehilangan Obsesi. Bikin kepala senewen tujuh keliling. Jauh didalam hati dia ngebet ingin ke salon tapi ngga punya duit. (How Poor you are, babe T_T)

Entahlah. Pokoknya Saya nggak tahu persis apa alasannnya dia berubah. Sampai suatu sore, waktu hari belum terlalu gelap dan mahasiswi mahasiswi ganjen masih ngerumpi di kopma, sementara mahasiswa mahasiswa jomlo masih ‘berburu’ di main Hall, Grace mendatangi saya. saat itu saya sedang duduk nyender disalah satu dinding diluar perpustakaan.
“bete” katanya
“kenapa” belum apa apa dia sudah ill feel, “pasti lagi bad mood” pikir saya dalam hati.

Grace duduk disamping saya. Saya tahu ia baru sembahyang, karena bau dupa tercium dari tubuhnya.
“ kenapa orang orang suka pake topeng?”
“maksudnya?” tanya saya kebingungan.

Perempuan tiong hoa ‘kawan’ dekat saya ini menarik nafas panjang. Setelah itu ia diam sejenak dan mulai ngomong panjang lebar,
“kamu tahu apa yang akan terjadi guh” katanya dengan nada datar. Seandainnya dulu tuhan mencipkan manusia tanpa wajah. Hanya kepala badan, tangan dan kaki saja.
“kamu tahu?”

Saya menggelengkan kepala. Dahi saya mulai pening karena pertanyaanya. Grace bilang, kita akan dengan mudah mengenali siapa penipu dan siapa yang jujur. Kepala tanpa raut muka tidak bisa berbohong kata Grace. Ia bisa menjadi cermin yang merefleksikan suasana hati. Bila hati sedang bahagia maka permukaan kepala bagian depan akan tampak cerah, bila hati sedang berduka maka warnya akan meredup.

Tapi tuhan yang maha pemurah, kata Garce lagi, mengkaruniakan wajah wajah rupawan pada manusia ciptaanya. Maka tampaklah seperti apa yang kita tahu sekarang. Setiap orang punya lekuk dan kelok, guratan dan garisan, raut dan gurat mereka masing masing. Tuhan menghendaki dengannya manusia menjadi mahluk paling sempurna diantara mahluk mahluk lain. Mereka dapat hidup berdampingan dengan saling mengenal. Setelah itu yang tercipta adalah sinergi, saling membantu, menolong dan mengayomi. Hukum semesta mengehendaki semua mahluk berputar seperti kosmos, bergerak padu dan tak saling berbenturan.
Lalu dengan berat Grace bilang, “sayang guh”
Saya ngedadak terkejut (penyakit ge’er saya tiba tiba kambuh), “haaah Grace? kamu manggil aku sayang, makasih akhirnya kamu nyadar juga?”
“bukan itu maksudnya suguh imut….”
“apa dong? heheehhe”
“Maksudnya aku kecewa” jawabnya.

Karena dengan dikarunia wajah yang rupawan, sebagian manusia memanfaatkannya untuk melakukan keculasan keculasan. Ia menyembunyikan kebusukan hati dibalik tampan atau cantik wajahnya. Konotasi seorang bajingan adalah sosok dengan tampang sangar dan menyeramkan mulai bergeser saat ini. Bajingan tengik sejati justru mereka yang suka berpura pura manis, Sok ramah, sopan, pengertian, penuh rasa hormat tapi tak demikian kenyataanya. Mereka yang penjilat, tukang cari muka, pengkhianat, munafik juga suka memasang tampang suci. Mereka ada dimana mana. Meraja tapi tak kentara.

Dan parahnya, kata Grace, banyak orang tertipu. Karena wajah itu tampak tanpa dosa, hingga orang orangpun melimpahkan kepercayaan yang luar biasa besar. Mereka yakin amatnya akan dijaga oleh ‘rupawan rupawan’ ini. Tapi sayang, “udah aku bilang guh”, kata Grace mengintrupsi, “mereka itu memang bajingan tengik ”. Bagi mereka ga ada amanat amananatan. Lantaran yang ada ialah memanfaatkan kesempatan untuk menguntungkan dan memperkaya diri sendiri. habis perkara.

“apa bukti realnya” telisik saya.
Kamu liat, ada mahasiswa yang keliatan sopan banget didepan dosen dosennya tapi sebenarnya ia tukang nyontek, Penguntil, pencuri dan koruptor. Ada juga mahasiswi yang pura pura miskin padahal punya segalanya, agar mendapat beasiswa pendidikan gratis. Ditataran yang lebih luas, korupsi sistematis dinegri ini yang dilakukan secara berjamaah disebabkan oleh mereka yang pandai sekali berkelit karena bersembunyi dibalik topeng keluguan.

Grace bilang, “bajingan bajingan tengik ini lebih berbahaya dari pada kanker” kanker meski berpotensi menyebabkan seseorang meninggal, bisa dideteksi dan didiagnosa. Tapi orang orang yang selalu muncul dengan tampang sok suci, sangat sulit diprediksi. Bisa saja ia bertampang manis didepan kita, tapi kalau sudah dibelakang ia punya niat untuk menikam punggung kita dengan belati. Atau mengadu domba dengan sesama kita. yang membuat makin parah kemudian, ibarat virus, karakter munafik seperti ini menular. Orang yang semula tak bermental demikian dapat terinfeksi karena bersinggungan dengannya. Lebih lebih mereka yang kondisi kejiwaanya masih labil. Orang yang tak senang menyontek, akan ikut menjadi tukang nyontek karena merasa dicontohi oleh sosok yang ia percaya bersih selama ini. Orang yang jujur akan menjadi culas karena pribadi panutannya melakukan keculasan pula. Orang yang tidak korupsi, akan terbawa korupsi karena sikap teman sejawat atau teman dekat yang semula dipercaya punya integritas kuat ternyata melakukan hal itu.

Grace membuang muka. “kenapa orang orang suka pake topeng sok suci kaya gini ya guh?”. Saya bergeming tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan kata kata apa.
“seandainnya dulu tuhan ngga menciptakan wajah dikepala kita” grace bertanya lagi.
Ia memandang saya. saya memandang dia. (Grace keliatan cantik banget-pendapat subjektif saya). “apa solusi masalah ini?” telisik saya padanya.

Grace bilang. Kalau saya sudah mengenal sosok yang munafik, kedepan jangan pernah dekat dekat dengannya. Lebih baik cari aman. Jangan menjalin relasi bisnis atau hubungan kerja. Rekam jejaknya yang suram patut dipertimbangkan.
“wah grace kamu galak amat? Emang ngga bisa dimaapin ya?”

Grace bilang, tentu saja bisa. Tapi yang namanya watak sulit sekali untuk dirubah. Bila seseorang memiliki akar munafik, kemanapun akan menjadi munafik dan itu sangat berbahaya. Lebih baik kita jangan dekat dekat dengannya.

Kita kemudian harus membangun integritas, Persetan semua kawan kita suka memasang tampang bersih dihadapan orang yang lebih berpengaruh secara administratif dan skrtuktur organisatoris. Kita harus selalu tampil apa adanya. Mungkin kita akan dianggap aneh karena tak ikut bersekongkol dalam keculasan mereka. bagi kita lebih baik dianggap aneh daripada menjadi bagian dari kemunafikan. Kita harus berani diasingkan dan disingkirkan kalau memang memiliki keyakinan untuk berada pada rel yang benar. ini pekerjaan berat. Tak banyak orang mau melakukannya. Tapi sekali kita berani melakukannya maka disanalah tergambar siapa diri kita sebenarnya.

Grace bilang, Kita tentu bukan malaikat yang selalu benar, tapi juga bukan iblis yang selalu salah. Sikap kita pastinya akan mendapat kritikan juga dari bajingan bajingan itu. Bisa jadi justru kita yang dituduh sok suci. Tiap kesalahan akan dicari cari dan diungkapkan didepan umum. Bukankah orang munafik pandai membuat konspirasi dan fitnah? Sedang bagi mereka keculasan bukan lagi dosa karena sudah terlalu sering dilakukan. Tapi itu pun tak jadi soal. karena kita tak mau berkompromi dengan keculasan. Kita lebih suka menampakan wajah kita yang sebenarnya. Wajah dimana isi hati terefleksi olehnya. kalau memang ada sesuatu yang salah atau janggal, dari pada kita berpura pura menutupi lebih baik mengungkapkannya. Kata grace inilah wajah yang tak berdusta, ketika wajah wajah lain berdusta. Wajah apa adanya yang selalu ingin telanjang atas segala hal. Hingga karenanya kita tak membebek, menjadi penjilat, tukang cari muka, munafik, sok bersih dan bermuka manis.

Setelah menyelesaikan ceritanya, Grace bangkit dan mengajak saya pulang. Kami melewati lorong lorong kelas yang mulai gelap. Sebelum berpisah suatu belokan dekat masjid kampus, dan pulang ke kediaman masing masing, sekilas saya melihat wajahnya yang masih terlihat murung. saya hanya bisa menerka, bisa jadi ia kecewa karena orang orang yang dia percaya selama ini ternyata semua memakai topeng. Bisa jadi dia juga kecewa pada saya karena melihat topeng itu menempel di wajah saya.

ya Grace, bisa jadi saya bukan santo atau rabbi yang suci, tapi setidaknya saya ingin memeperbaiki diri. Tentu semua manusia pernah berbuat salah. Tapi hal itu tak berarti memberi legitimasi untuk melakukan kesalahan kesalahan selanjutnya. Karena itulah ada pertaubatan dalam agama, dan karena itu pula tuhan menciptakan surga dan neraka. Mereka yang masuk surga bukanlah orang orang yang tak pernah berbuat dosa tapi mereka yang dapat menambah takaran kebaikannya ketimbang takaran keburukannya. Ini logika sederhana bukan?

Dan Gracepun berlalu meninggalkan saya. dia menjauh dan hilang di sebuah kelokan. Saat ia lenyap dipandangan, saya masih mencium bau dupa dibadannya. Wangi sekali. Wangi yang akan saya bawa pulang kerumah dan menyimpannya dalam buku harian.

Saya kembali belepotan nulis percakapan panjang lebar dengan Grace.
Biar ga bikin repot saya lagi,
mungkin nanti dia aja yang nulis sendiri uneg unegnya.
Udah dulu ya, besok lusa disambung lagi.

19 Agustus, 2011

‘SIMPANG JALAN’ MENGGUGAT KEGAMANGAN KITA

Posted by Suguh Jumat, Agustus 19, 2011, under | 1 comment



Sejatinya manusia hidup diantara pilihan pilihan. Sejatinya pula merekalah yang menentukan pilihan mana yang akan diambil. Hal itu menandaskan bila fitrah paling asasi dalam diri manusia, yakni jiwanya dicipta bergerak dengan bebas. Tak ada seorangpun dapat mengendalikannya. Kendatipun raganya dikekang oleh lilitan rantai atau dijejalkan dalam penjara. Ialah kemerdekaan tanpa deklarasi yang bersemayang dalam diri tiap manusia.

Buku kumpulan cerpen Simpang Jalan ini adalah menifestasi dari hal itu. Kisah kisahnya menceritakan para tokoh yang sedang berada dipersimpangan tuk menentukan suatu pilihan atas realita hidup yang mereka jalani. Misalnya tokoh Suminah dalam cerpen berjudul ‘Terserah Suminah Saja’. Gadis muda ini sedang ketiban sial. Apa pasal? Lantaran ia musti menanggung hutang orang tuanya. Dengan iming iming mendapat dua puluh lima juta rupiah ia didesak oleh rentenir bernama juragan Kasman tuk melakukan kawin kontrak. Apakah Suminah rela mempertaruhkan kehormatannya demi rupiah atau kan mengambil jalannya sendiri? Atau cerita lain dalam cerpen berjudul ‘Rizki Maskid Kami’. Apakah Andika, salah satu tokoh dalam cerpen tersebut akan memanusiakan orang tuannya setelah pergi bertahun tahun mereka dari rumah. Akankah ia kembali berbakti dan menaruh hormat pada mereka berdua atau justru lebih memilih istrinya yang kaya sandang kaya papan lantaran ia anak seorang pengusaha.

Suminah, Andika dan tokoh tokoh dalam kumpulan cerpen ini yang menentukan pilihan mereka sendiri. Bila meminjam tag line buku ini, terlepas nanti pilihan mereka berujung buruk hingga mendapat stigma sebagai kawan setan atau berujung baik hingga diidentikan dengan berkawan dengan malaikat, biarkan mereka memenuhi panggilan jiwa masing masing. Buku ini tak berniat menjadi hakim apalagi jagal karena itu kisah kisahnya mengalir semaunya.

Hanya dari riak dan gemercik konfliknya pembaca diharapkan tak hanya mendapat hiburan. Tapi lebih dari itu dapat pula merenung, berkontemplasi, menimbang nimbang suatu perkara dengan matang, kemudian kembali melanjutkan langkah. Diharapkan terjadi metamorfosa kematangan emosional setelah membacanya. Dari tokoh tokoh dan jalan cerita dalam buku ini, dengan segala kerendahan hati kita sama sama belajar untuk lebih arif dalam menyikapi suatu persoalan hingga menemukan jalan keluar yang solutif

simpang jalan menawarkan kebaruan. Bila membaca ialah untuk berubah menjadi pribadi pribadi lebih baik secara personal dan sosial. Bila dengannya pula kita tidak gagap atas isu isu kemanusiaan. Menjadi melek atas nilai nilai hidup ialah suatu keutamaan. Lantaran karenanya kita tak gamang lagi bila kelak harus menentukan pilihan dipersimpangan jalan.

Judul : SIMPANG JALAN berkawan Setan Berteman Malaikat
Penerbit : Hasfa Arias-Lini Hasfa Publishing
Harga : Rp. 33rb
ISBN 978-602-98738-7-0

Cara pembelian. Silakan pesan via sms 081914032201.
Tulis nama/alamat/jumlah/judul buku yg dipesan

13 Agustus, 2011

Antologi puisi Negeri Cincin Api

Posted by Suguh Sabtu, Agustus 13, 2011, under | 5 comments

Senang sekali akhirnya buku ini sampai juga ke rumah. Panitiannya baik banget ngasih buku free lima. Antologi puisi Negeri Cincin Api merupakan kumpulan puisi bertema bencana.Penggagas antologi ini adalah Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) PBNU. Dengan tebal 168 halaman, memuat puisi tentang Merapi, Wasior, dan bencana alam yang seperti beruntun menimpa Indonesia pada 2010. salam, KATA ADALAH SENJATA....

13 Juli, 2011

Ini Dia Resep Juara Persipura

Posted by Suguh Rabu, Juli 13, 2011, under | No comments

Oleh Suguh Kurniawan

diterbitkan di situs berita sidomi.com

Kedigjayaan Persipura Jayapura dalam pentas sepak bola nasional memang tak terbantakan lagi. Kendati kompetisi belum usai tim mutiara hitam-julukan Persipura, memastikan meraih gelar juara Liga Super Indonesia musim 2010/1011. Selain didukung oleh faktor teknis, ternyata terdapat pula faktor lain yang membuat Titus Bonai dan kawan kawan berhasil menjadi yang terbaik.

Kebersamaan menjadi kunci penting. Hal itu dikatakan oleh mantan bintang Persipura Rully Nere. “Managemen berhasil mengelola dan menciptakan rasa kekeluargaan yang begitu erat diantara pemain, pelatih, dan official tim. Ini yang membuat pemain selalu berusaha tampil maksimal saat pertandingan,” . sebagai contoh menurut Rully, bila ada pemain yang cedera, manajemen selalu memantau dan memerhatikan pemain tersebut.

Hal itu membuatnya termotivasi untuk berlaga kembali. Lebih jauh Manajemenpun merangkul keluarga para pemain hingga tidak muncul kesan minder dan diskriminatif diantara mereka. Hal tersebut diamini oleh Pelatih Jacksen Fereirra Tiago, “Kebersamaan dari anak-anak yang dibangun sejak lama. Selain itu, banyak penderitaan yang dialami di Papua sehingga sepak bola yang menjadi kebanggaan. Itu yang membuat mereka bermain dengan hati yang membara.”

kerendahan hati menjadi faktor pendukung selanjutnya. Hal tersebutlah yang ditamankan oleh Jacksen ketika timnya bermain. Karena menurut Pria kelahiran 28 Mei 1968 ini, kendati anak anak asuhnya memenangi pertandingan dengan susah payah, dirinya mengingatkan agar mereka tak terjebak dengan banyak pujian. Begitu juga yang dikatakan oleh Boaz Salosa, dalam sebuah kesempatan bintang Persipura itu berujar, “Kami tak ingin sombong dan berusaha untuk tetap rendah hati.”

Karenanya sentuhan rohani menjadi amat kentara dalam tubuh Persipura. Bila tim akan bermain maka didatangkan pendeta pada malamnya. Di Papua ada enam atau tujuh Pendeta yang memimpin ibadah mereka. Seandainnya ada pemain yang menghadapi persoalan maka pendeta tersebut berdoa khusus buatnya. Begitupun bila tim melakukan laga tandang. Merekapun mendatangkan pendeta.

Baik ketika rapat atapun menutup rapat pertandingan selalu disebebut nama Tuhan dan dibacakan ayat Al Kitab. “ Biarkan Tuhan bekerja. Kalian tingggal bekerja dengan sepenuh hati. Tuhan akan buka jalan hasil yang kita inginkan. Ujar Jacksen pada para pemainnya. Dua hal diatas rupanya yang membuat Persipura sukses juara namun tak serta merta berubah jadi Jumawa.

Sumber

http://tabloidjubi.com/index.php/daily-news/lego/12664-rully-nere-kebersamaan-kunci-sukses-persipura.html

http://bola.kompas.com/read/2011/03/23/0747359/Jacksen.Pemain.Papua.Perlu.Pendekatan

http://soccerfact.com/2011/06/11/jackson-f-tiago-menggagas-persipura-yosim-samba-dari-timur/

12 Juni, 2011

NYARIS 'MATI' (KUMPULAN FIKSI MINI)

Posted by Suguh Minggu, Juni 12, 2011, under | No comments


ANAK PEMULUNG

“Sekolah dimana dik?” “Jangankan sekolah, mimpi punya buku saja saya akan dianggap gila pak”.

SELINGKUH

“Mah, ini Ely selingkuhan papah” “Oh cantik sekali pah” “Emang mama ga cemburu?” “Ngga, Ely kan pasien sifilis mama”.

AYAH

Ku jeratkan kawat jemuran waktu ia lengah. Tak apalah. Aku hilang keperawanan. Dia hilang nyawa. Maafkan aku ayah.

ISTRI

“Makasih mas” kata istriku. Aku kembali ke pangkalan ojek. Nanti subuh seperti biasa aku kan menjemput ia lagi, ke Doli.

WISUDA

“Mama ga bisa datang, lagi ke Singapur. Ya kan bi?” ‘Bibi’ tersipu. Tahu diri, ia pun menjauh. Lalu pergi sambil terisak.

ANAK

Saking sibuknya ayah, untuk curhat putus pacaran saja, harus buat janji dulu dengan sekertarisnya.

ADIK

Aku tanya ia dari belakang, “Ade lagi apa?” gelagapan ia menjawab, “Lagi buka email! beneran!! Ga buka folder ko”.

OPERASI

Lepas berpakaian sama sama, ia meletakan 25 juta diatas meja. “Bagaimana ibumu?” aku ingat ibu yg tergolek di ruang operasi. Ya begitulah, paman”.

PELURU

Tiba di markas baru ia sadar apa yang hilang. 12 peluru dalam magazine, 1 sisanya tertinggal di kepala mahasiswa.

PLAGIAT

Seorang guru besar, memplagiat karya ilmiah. Simsalabim! Besoknya bayangan dirinya serupa lutung.

DPR

Ada anggota DPR, gemar lawatan ke luar negri, simsalabim! Besoknya kena ambeyen.

PENULIS BUKU

Penulis buku, tulisannya dibajak saban tahun. frustasi. Besoknya berganti kewarganegaran.

TURIS DAN SEKOLAH

“Great!” kata turis Belanda itu. Ia bilang murid murid disini penyayang hewan semua. Sampai sampai belajarpun di kandang bebek.

RAMAL

Kata mbah Roso, kalau anak bapak suka main solitaire, artinya nanti tidak cocok kerja di air. Cocoknya jadi anggota DPR

ORBA

Tanaman hias sekolah dimakan kambing. Mau diusir atau ditangkap? baiknya Kita minta petunjuk daripada bapak presiden saja.

TOLERAN?

Sembilan bulan lalu tergenapkan hasratnya. Hari ini ia buang bayinya.

12 MEI

“Lihat Han pulang”, kata ibu. Lagi di halaman ia berjikrat girang. Lagi, dua orang perawat menyuntikan obat penenang.

ORBA

Jangankan protes, malam malam empat orang kumpul main halma saja, bisa dituduh subversif.

PIKUN

Saking pikunnya ayah. Hampir saban malam, ia tak lagi bisa membedakan antara kamar mama dan kamar mbok Ijah.


06 Juni, 2011

KUMPULAN GOMBALAN TER-LAIK DIS

Posted by Suguh Senin, Juni 06, 2011, under | 1 comment

Aaaaahh daripada kepala saya makin jangar, mending bikin ginian dulu...


Nyenggol

Apa bedanya, nyenggol Polisi sama nyenggol kamu?

kalo nyenggol Polisi masuk penjara, nyenggol kamu masuk KUA

Tukang Gali Sumur

Tau ngga? Cinta aku ke kamu itu kaya ngegali sumur. Makin digali makin dalem. Makin dalem makin cinta.

Tukang Baso tahu

Neng, tukang baso tahu ya? Piringnya belum diketok, getaran cintanya udah nyape duluan.

Ojeg Payung

Aa : Kamu pasti tukang ojek payung?

Eneng : Ih sembarangan, emangnya kenapa A?

Aa : Soalnya, kamu telah meneduhkan hati ku.

Bajak Laut Somalia

Ih dasar ya kamu Bajak laut somalia. Sampe hari ini masih menyandera hati ku.

Kaya BBM

Tau ngga, cinta aku ke kamu itu kaya BBM, bisa naek tapi ga bisa turun.

Nulis Skripsi

Aku pengen deh skripsi ku ga beres beres, biar tiap hari selalu dibimbing kamu.

UN

Ngeliat kamu hari ini bikin aku pengen belajar terus. Karena kamu telah meng-UN-kan hati ku.

Anak ITB

Kamu : Kamu anak ITB ya?

Dia : Eh, kok tau?

Kamu : Soalnya kamu imut kaya patung Ganesha.

Pribtu Eka

Kamu : Briptu Eka ya?

Dia : Bukan, emang kenapa?

Kamu : Kok belum apa apa, aku langsung pengen diborgol asmara sama kamu

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog