29 Oktober, 2011

Mahasiswa Dalam Prespektif Kearifan Lokal Masyarakat Sunda

Posted by Suguh Sabtu, Oktober 29, 2011, under | No comments

Esai Ini menjadi pemenang pertama dalam lomba menulis esai se Indonesia, yng diselenggarakan oleh UKM Belistra FKIP Universitas Tirtayasa Banten pada 2010

Oleh Suguh Kurniawan

Kembali merenungkan nilai nilai kearifan lokal bukan berarti mundur ke peradaban purba. Meminjam ungkapan Penyair Acep Zam Zam Noor, justru dengan melakukannya kita dapat menemukan, “mutiara-mutiara para leluhur dan menjadikannya sebagai pegangan setiap langkah ke depan.” Lebih jauh apabila hal tersebut direflesikan pada kehidupan kampus, dimana apatisme para mahasiswanya sudah mencapai titik nadir. Terdapat setitik harapan untuk mencairkan kembali kebekuan pendidikan tinggi tanah air, dengan cara mengadopsi formula yang nota bene bersifat lokal namun dapat berpengaruh global.

Hura hura Ala Mahasiswa

Mahasiswa (tanpa bermaksud mengenaralisir) nyatanya telah terjebak pada pandangan sempit. Bahwa kuliah dimaknai tak lebih dari rutinitas keseharian biasa yang hanya berkutat pada buku dan diktat. Sementara aspek sosial kemasyarakatan amat jarang dijadikan topik pembicaraan apalagi didebatkan untuk dicari solusinya. Pembelaan terhadap masalah masalah HAM, dimana rakyat kebanyakan selalu jadi pesakitanpun terlupakan atau lebih tepat diam diam dilupakan. Hal ini terjadi karena para hamasiswanya sibuk untuk menjadi yang terbaik secara akademik, berambisi lulus tepat waktu kemudian bekerja ditempat nyaman dan terjamin. Sepintas tak ada yang salah pada cara pandangan tersebut. Namun bila mengkajinya lebih dalam, hal ini menjadi preseden buruk. Sebab para mahasiwa hanya melaksanakan aspek pendidikan dan penelitian dengan melupakan aspek pengabdian. Kontra produktif bila membandingkannya dengan mahasiswa terdahulu yang begitu giat menggemakan isu isu kerakyatan.

Kemudian, alangkah naif pula bila Mahasiswa yang selama ini dianggap sebagai pembela HAM justru malah mengkhianatinya. Apa pasal? Ketika 32,5 juta rakyat di Indonesia berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari zona kemiskinan, ternyata ada (oknum) mahasiswa yang justru bersikap tak acuh. Meski tak tertulis dan terucap, sikap emang gua pikirin yang ditunjukan para mahasiswa amat kentara. Alih alih merumuskan formula atas suatu kasus kemanusiaan, mereka sibuk memenuhi desakan libido hura huranya. Riset Gilang Desti Parahita penulis buku Tuhan di Dunia Gemerlapku mengatakan lebih dari 70 % mahasiswa Indonesia doyan dugem. “Dalam penelitian itu, saya menemukan tiga tipe mahasiswa yang ada di tempat dugem. Pertama, mahasiswa yang dugem karena coba-coba, kedua karena telah terbiasa dan ketiga karena prestise. Dan, 70 persen dari mereka karena terbiasa dan prestise”,tandasnya. Selain itu pergaulan bebas yang lepas kendali menyebabkan munculnya efek domino. Pada 2008 telah beredar lebih dari 500 video porno buatan Indonesia dimasyarakat, baik dalam bentuk VCD, DVD maupun beredar dari ponsel ke ponsel. Yang mengagetkan pelaku adegan adegan syur itu adalah mahasiswa dan pelajar. Hal tersebut disusul dengan meningkatnya kematian wanita hamil karena belum memasuki usia matang dan tindakan aborsi sementara pasangan pria mereka tak mau bertanggung jawab.

Apabila kita menilik fakta fakta tadi dari aspek sosiologis, tak bisa dimungkiri proses globalisasi yang tak tangkas disikapi oleh para mahasiswa telah menyebabkan blunder. Ibnu Khaldun menggariskan, bila peradaban pemenang akan menghegemoni peradapan pecundang. Saat ini barat sedang menjejalkan sampah peradabannya ke timur. Ibarat pestisida, racun westoksinasi disemprotkan secara membabi buta melalui media mainstream seperti internet, Tv Radio, koran dan majalah. Lalu dengan latah para mahasiswa kita ‘membebekan diri’ tanpa lebih dulu menyaringnya dengan nalar yang jernih. Karena itu pergaulan serba boleh (hedonisme), hura hura dan free sex dianggap sebagai suatu hal yang keren kendati bertentangan dengan norma agama dan sosial.

Sedangkan secara politis, walau sudah tumbang lebih dari dua belas tahun lalu, tak bisa disanggah bila orde baru mewariskan tatanan birokrasi yang mapan. Proses NKK/BKK pasca huru hara Malari ternyata masih terasa dampaknya hingga saat ini. Alienasi kampus dari kegiatan politik dilakukan dengan cara cara represif. Sosiolog Ignas Kleden dalam paparanya menyebut, “setiap Insiden politik sebelum ini selalu dihadapi dengan rumus yang sama: tangkap pemimpin gerakan dengan poros Bandung-Jakarta-Jogja, ancam rektornya atau beri dia janji promosi, lalu api itu segera padam.” Ketika rezim berganti pada 1998 tak serta merta merubah iklim kebebasan bereskpresi mahasiswa diseluruh kampus ditaha air. Dalam sebuah kesempatan saya pernah bertanya pada seorang teman satu kampus, kenapa dia tidak melakukan aksi saat Gaza diserang Israel. Dia menjawab, takut dikeluarkan kuliah bila melakukan hal tersebut. Bayang bayang Pengekangan dan pengkooptasian itu bagi sebagian birokrat kampus dan para mahasiswanya masih membayangi, hingga mereka cenderung apatis bila diajak ‘bergerak’.

Melihat fakta fakta diatas, langkah progresif musti dilakukan oleh mahasiswa. Meminjam ungkapan Aktifis Mahasiswa angkatan 66 Soe Hoek Gie, terdapat beban moral yang harus mereka tanggung sebagai entitas the happy selected view, yang beruntung bisa kulias saat jutaan pemuda Indonesia tak mendapatkan kesempatan serupa. Melahirkan mahasiswa mahasiswa berkepribadian ideal merupakan suatu tuntutan. Sedangkan idealisme sendiri, tak serta merta jatuh dari langit namun hanya muncul bila mereka berani menilai diri secara obketif dan melakukan perbaikan personal.

Merenung adalalah pilihan bijak sebagai langkah awal. Dalam prespektif masyarakat Sunda renungan difilosofikan dengan ungkapan “indit kudu bari cicing, lumampah ulah ngalengkah.” (berangkat harus dengan diam, berangkat jangan melangkah). Suatu pemahaman yang sejatinya hanya dijalani oleh para petapa. Namun pada ranah kekinian, hal tersebut dapat ditafsirkan sebagai ajakan pada kita untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, berpikir dan kontemplasi, melakukan introspeksi lalu merumuskan perubahan.

Kembali Pada Kearifan Lokal

Kalau apatisme selama ini diumpamakan dengan air, maka ia adalah air yang terdapat pada sebuah danau. Bila terlalu lama menggenang dapat membuatnya busuk dan berbau. Guna menyikapinya perlu dibuka penggalang yang telah menyumbat aliran agar genangan dapat bergerak secara lancar. Banyak rumusan dan teori untuk kembali menggiatkan aktifisme Mahasiswa, namun akan lebih bijak bila kita menilik nilai nilai kearifan lokal yang tak kalah canggih dengan metode stensilan barat.

Jauh jauh hari sebelum Nietzsche mendedahkan konsep kemanusiaan dalam wacana human to all human, kearifan lokal masyarakat Sunda berkata bila seorang intelektual musti bisa meresapi ungkapan, “Mun aya angin bula-bali, ulah muntang kana kiara, muntang mah ka sadagori.” Artinya kalau ada angin puting-beliung jangan berpegang pada pohon beringin, tetapi pada rumput sadagori. Rumput sadagori adalah sejenis tanaman kecil yang berakar sangat kuat. Bila ditafsirkan, ungkapan tersebut memiliki makna bila rakyat menghadapi masalah baik itu dalam hal sosial, politik, kesejahteraan, kemiskinan dan lain lain sampaikanlah pada mahasiswa untuk mencari solusinya. Mahasiswa dianggap dapat menjadi sandaran karena merekalah yang memiliki kapabilitas dan kapasistan keilmuan untuk menjawab tantangan yang berkembang. Sejarahpun menggariskan, kalau kaum muda merupakan representasi atas aspirasi rakyat yang mereka waliki. Baik itu berupa parlemen jalanan atau melakukan tekanan tekanan politis pada pemerintah incumbent, gerakan mereka terbukti ampuh dalam menumbangkan sistem pemerintahan dan rezim yang terbukti telah bobrok lalu menggantinya dengan rezim baru. Meski datang dengan memakai baju ideologi, latar belakang kampus, asal usul serta agama berbeda beda, namun mahasiswa dapat bersatu bila sudah menginjak ranah yang sifatnya universal, yakni mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Sedangkan mahasiswa, dalam menanggapi masalah kerakyatan musti pula memahami ungkapan, “Ka cai kudu saleuwi, ka darat kudu salogak.” Artinya kesungai jadi satu lubuk, kedarat jadi satu lembah. Mahasiswa harus memiliki kecerdasan dalam berinteraksi dengan rakyat. Dalam istilah politisi Budiman Sudjatmiko disebut dengan membaca lingkungan. Mereka terjun langsung kelapangangan, memetakan masalah lalu mencari solusinya. Jurang antara kaum terdidik dan tak terdidik serta merta hilang lantaran mahasiswa dengan segala kerendahan hati menanggalkan gap intelektualitasnya. Mereka tak merasa menggurui dan rakyat juga tak merasa didikte karena kedua belah pihak sama sama memegang prinsip “Hirup mah ulah paluhur-luhur tangtung, ulah pagede-gede gawe”. (Jangan berlomba-lomba mengejar kedudukan, jangan berebut dalam pekerjaan). Hal paling penting adalah terciptanya sinergi saling menguntungkan. Mahasiswa dapat melaksanan fungsi fungsi sosialnya, sedangkan rakyat dapat terentaskan masalah masalah yang selama ini mereka hadapi.

Guna membentuk karakter Mahasiswa yang tangguh dan siap mengabdi, ajaran sunda buhun mengatakan seseorang harus memenuhi tiga aspek fundamental dalam dirinya,

1. Luhung Elmuna (Tinggi Ilmunya)
Mahasiswa musti menjadi pribadi yang berkualitas secara intelektual. Menjadi ahli dibidang yang digeluti, merupakan suatu tuntutan sekaligus kewajiban karena tugas seorang mahasiswa adalah belajar dan menunjukan rasa tanggung jawab yang amat besar kepada orang tua yang telah membiayai kuliah. Menjadi man on the class merupakan manifestasi perjuangan seorang intlektual yang sedang menuntut ilmu.

Sedang filosofi menuntut ilmu sendiri adalah journey bukan race. Mereka yang memaknainya sebagai race akan terjebak untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Sebagai contoh menyontek menjadi suatu kelaziman umum, memplagiat tugas akhir tak lagi merasa berdosa dan menyuap dianggap sebagai suatu hl lumrah. Tujuannya tak lain agar dirinya lulus tepat waktu meski penuh ‘cacat moral’ disana sini. Tentu hal ini dapat mencederai dunia pendidikan tinggi tanah air karena persaingan intlektual mahasiswa baik dikelas ataupun saat ujiang sudah tak lagi fair.

Namun mereka yang memaknainya sebagai journey, lebih mengutamakan proses. Beranjak setahap demi setahap menapaki tangga pengetahuan, kadang mengalami pula kesulitan. Namun hal tersebut dianggap sebagai tantangan yang akan mematangkan pribadi dan skill mereka secara personal dimasa depan.

Bila mahasiswa yang memaknai menuntut ilmu sebagai race cenderung bersikap egois dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri, mahasiswa pada kelompok kedua ini memiliki niatan kuat kalau pengetahuan yang dipelajari dikampus kelak dapat diaplikasikan secara langsung dimasyarakat. Kemampuannya teu diheungheum sorangan (tak disimpan sendiri) tapi “Pakena gawe rahayu pakeeun heubeul jaya di buana. Pakena kreta bener pakeeun nanjeur di juritan” (Pekerjaannya menyejahterakan rakyat, agar ia lama berjaya. Pekerjaannya memakmurkan negeri agar unggul dalam perang atau perjuangan).

2. Pengkuh Agamana (Kokoh Agamanya)
Dalam paradigma Sunda buhun (kuno), manusia merupakan bagian dari seke seler (sub sistem) alam semesta. Karenanya ia mengikuti aturan kesemestaan. Semua benda termasuk manusia dibalik penampakan fisik materialnya meyakini terdapat kekuatan metafisik. Ialah yang disebut dengan Sanghyang tunggal (Tuhan Yang Esa) sebagai sembahan. Konsep Tapa dinagara (Bertapa ditengah kehidupan sehari hari)pun diterapkan. Orang sunda buhun berpandangan bahwa ibadah bukan hanya saat melakukan ritus religis saja namun pada setiap aspek kehidupan merupakan bagian dari pertapaan (peribadatan) agar kelak mereka layak berhadapan dengan sang pencipta.

Konsep ini paralel dengan ajaran agama dalam prespetif kontemporer. Diharapkan nilai nilai agama dapat memberi dampak nyata dalam keseharian. Dimensi pahala dan dosa memberi rambu sebelum suatu tindakan diambil oleh seseorang . Dengan nilai nilai agama pula, mahasiswa dapat menyadari esensi penting pendidikan, bahwa menjadi pintar saja tak cukup, bila belum bisa bertindak benar. kepintaran yang tak dibarengi kebenaran selain berpotensi mendatangkan bala dari ‘Sang Hyang Tunggal’, juga dapat merusak sendi sendi sosial pada masyarakat. Tingkat korupsi yang terus melonjak dan bobroknya birokrasi merupakan contoh kecil dari nilai nilai keagamaan yang tak sepenuhnya teraplikasi dalam kehidupan. faktanya memang tak ada manusia yang benar benar terbebas dari dosa. Namun mereka yang mampu meredusi keburukan dengan kebaikan dalam naungan agamalah yang akan selamat.

3. Jembar budayana (Lestari Budayanya)
Artinya seorang mahasiswa, kendati hidup pada era global jangan sampai melupakan nilai nilai kebuhunan yang luhur. Karena nilai nilai inilah yang amat potensial untuk memfilter dampak buruk ‘westoksinasi’ ala barat seperti disampaikan diatas. Ajarannya amat sederhana namun memiliki kedalaman makna amat luar biasa. Misalnya ketika pengaruh barat mengajarkan hidup individualistik, ajaran buhun justru mengajarkan kita untuk bersikap Someah hade ka semah (Ramah kepada tamu), Hade ku omong, goreng ku omong (Segala hal sebaiknya dibicarakan). Ketika pengaruh barat cenderung merentas batas batas kesopanan, konsep buhun mengajarkan kita untuk selalu bersikap handap asor (sopan santun) dengan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat melalui “Undur katingali punduk datang katingali tarang (Pergi tampak tengkuk, datang tampak pelipis, yakni bahwa perilaku kita sebagai anggota komunitas harus diketahui oleh anggota komunitas lain), ketika pembanguan ala barat membabi buta hingga merusak ekosistem, konsep sunda buhun mengajarkan, “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan ” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).


Namun dengan melakukan hal demikian bukan berarti mahasiswa mengisolasi diri dari kebudayaan luar. Nilai nilai yang datang dari luar tak sepenuhnya pula bersifat negatif. Karena dari barat mahasiswa dapat belajar mengenai disiplin, etos kerja, ketepatan waktu, dedikasi dan pengorbanan, pengembangan IPTEK dan lain sebagainnya. Berbaur tapi tak lebur, belajar dengan segala kerendahan hati pada siapapun dengan tak melupakan purwa daksina (asal usul) merupakan kunci bagi kita untuk mengejar ketertinggalan dan bersaing dengan bangsa bangasa lain pada tataran global.

Ngigelkeun Jaman
Dengan menerapkan nilai nilai kearifan lokal dalam kehidupan, mahasiswa dapat mengenal diri dan lingkungannya. Mereka tak lagi kurung batokeun (dalam pribahasa Bahasa Indonesia istilah ini setara dengan ungkapan: seperti katak dalam tempurung) karena kearifan lokal menggariskan agar mahasiswa dapat berguna bagi diri dan lingkungan. Kegiatan aktifisme niscaya dapat bergairah kembali, karena mereka tergerak untuk turun kelapangan, memformulasi masalah, berdiskusi dan memecahkannya. Pembelaan terhadap hajat rakyat banyak, bukan lagi angan angan tapi dapat menjadi kenyataan karena mereka bersinergi dan mulai bergerak.

Hirup ngan sakali (hidup hanya sekali), maka inilah kesempatan terbaik bagi seluruh mahasiswa untuk ngigelkeun jaman (menggerakan zaman) bukannya diigelkeun jaman (digerakan zaman). Perubahan tak jatuh begitu saja dari langit namun harus ada yang berani memulainnya. Para pioneer mutlak dibutuhkan oleh bangsa yang sedang dirundung masalah. Ketimbang menunggu kehadiran sang pioneer, sudah saatnya para mahasiswa menjadi avantgarde untuk kembali melaksanakan tugas tugas intelektul dan sosialnya. Mereka musti bersiaga menyambut segala kemungkinan, mederas segala tantangan. Setiap kita, harus segera caringcing pageuh kancing, saringset pageuh iket (setara dengan ungkapan: menyingsingkan lengan baju) bila menghendaki pilar perguruan tinggi yang telah pincang itu, dapat berdiri dengan ajek kembali. Sampurasun.

Daftar Pustaka

1. Al-Malaky,Ekky.2003.Remaja Doyan Filsafat? Why Not.Bandung.Penerbit DAR, Mizan
2. Koespardono, Gantyo, KICK ANDY, Kumpulan Kisah Inspiratif, Bandung. Mizan Media Utama
3. Fadhly, Fahrus Zaman, MAHASISWA MENGGUGAT: Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998, Bandung. Pustaka Hidayah
4. http://www.facebook.com/note.php?note_id=86528033415
5. http://jendelapemikiran.wordpress.com/2008/05/12/bercermin-pada-kearifan-lokal/
6. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20070127193606
7. http://pangasuhbumi.com/article/20582/pemulihan-lingkungan-dengan-kearifan-lokal.html
8. http://suguh-kurniawan.blogspot.com/kemahasiswaan
9. http://www.opensubscriber.com/message/urangsunda@yahoogroups.com/11902024.html

25 Oktober, 2011

Melawan Pelanggaran HAM Terhadap ODHA

Posted by Suguh Selasa, Oktober 25, 2011, under | No comments


Esai ini menjadi pemenang ke tiga seIndonesia dalam Lomba Penulisan Diskursus AIDS Tahap III yang diselenggarakan oleh JOTHI dengan tema "HAM dan orang terinfeksi HIV” pada 2010.

Oleh Suguh Kurniawan

Sesungguhnya penyakit yang paling berbahaya di dunia ini bukanlah AIDS, kanker, tumor ataupun antraks. Tetapi menghina dan merendahkan potensi diri sendirilah penyakit yang sebenarnya paling berbahya di dunia ini.
(Din, dikutip dari buku ‘Selalu Ada Harapan’ hal 16)

Sejak kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada 1987, tindakan pencegahan dan perawatan digalakan baik oleh pemerintah atau LSM LSM penggiat AIDS dan kemanusiaan. Kendati demikian, setelah duapuluh tiga tahun menjadi bagian dari problema medis Indonesia, jumlah penderitanya terus meningkat. Selain itu perlakuan diskriminatif tak surut ditujukan pada ODHA. Nilai nilai kemanusiaan yang dilanggar menjadi preseden buruk bagi para penderita hingga beban fisik dan psikologis yang harus mereka tanggung makin berat, dan karenanya penegakan HAM Indonesia pun berada dalam dilema.

Diskriminasi Multidimendional
HAM ungkap paus Yohanes Paulus II sebagai, “salah satu dari ekspresi hati nurani manusia tertinggi.” Hak dasar yang melekat pada diri manusia ini, bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah tuhan yang harus dihormati dan dijaga (wahyuforlife.blogspot.com). Pilar utamanya adalah saling menghargai, melindungi, membantu serta mendukung manusia atas manusia lain tanpa membeda bedakan asal usul, warna kulit, agama atau status sosial. Dengan demikian diharapkan tercipta tatanan masyarakat sirnegis yang bebas dari cela diskriminasi.

Namun bagi penderita HIV/AIDS faktanya tak demikian. Sampai saat ini masih sering terdengar kabar tak sedap soal tindakan tak manusiawi yang masyarakat tujukan pada mereka disegala lini. Pada ranah terkecil yakni keluarga sebagai contoh, karena minimnya pemahaman mengenai proses penularan HIV/AIDS, keluarga yang harusnya memberi dukungan moril justru melakukan pengucilan. Pada April 2009, di Bali terdapat dua ODHA yang tidak bisa pulang kerumah dari perawatan rumah sakit karena ditolak oleh keluarga mereka. "Estimasi orang terinfeksi HIV sekitar 4000 kasus di Bali. Apa yang terjadi kalau semua ditolak keluarganya? Siapa yang mengurus? Saya juga berpikir dengan nasib saya nanti,” papar Dodi, aktivis AIDS setempat. (satuportal.net/07/09/09).

Sementara dimasyarakat dikriminasi makin kentara. Teman, tetangga, dan lingkungan menjadi hakim yang menjatuhkan vonis pada ODHA secara tidak adil. Orang orang terdekat yang semula akrab, berbalik menjauhi ketika seseorang didiagnosa HIV positif. Peristiwa miris terjadi di Mengi, Badung, Bali. Terdapat suami istri positif HIV, memutuskan untuk membuka status mereka. Namun saat sang suami meninggal, masyarakat melakukan diskriminasi. (satuportal.net/07/09/10). contoh lain adalah penolakan masyarakat atas tujuh jenazah ODHA oleh warga seperti disampaikan Istiana Dewi, aktivis dari lembaga Bali Plus.

Pihak rumah sakit yang mulanya diharap dapat memberi layanan maksimal pun justru melakukan kekeliruan serupa. Padahal secara logika rumah sakitlah yang memiliki pemahaman paling luas mengenai masalh HIV/AIDS dengan segala komplesitasnya dibanding keluarga dan masyarakat. Hal memilukan dapat kita simak dari Sartika Nasmar, Jurnalis dari Makasar. Berdasarkan wawancara yang dilakukannya bersama seorang ODHA berinisial Dedes, diketahui Dedes mendapat anjuran dari dokter yang menanganinya untuk tutup kandungan agar bayi yang ia kandung tak terinfeksi HIV. Padahal seperti diyakininya, dengan memanfaatkan program Preventing Mother To Child Treathmen (PMTCT) hal tersebut dapat dicegah (kesehatan.kompasiana.com//09/01/10).

Begitupun dikalangan penggiat medis lain seperti perawat. “Stigma dan diskriminasi dari dokter atau perawat tidak hanya dialami pasien ODHA saja, tapi kami juga mengalaminya.”, kata Suster berinisial Rima, Salah satu perawat pasien HIV dan AIDS di sebuah rumah sakit di Makassar. Karena dedikasi besarnya untuk merawat ODHA, ia selalu mendengar perawat lain bergunjing atau berteriak memanggilnya dengan sebutan Suster HIV (kesehatan.kompasiana.co/21/09/09). Namun hal tersebut tak memupuskan semangatnya untuk memberikan pelayan terbaik, “Saya nda peduli ji. Saya sudah bikin komitmen berbakti sama pasien HIV sampai habis masa pensiunku.”, Ungkapnya dengan logat Makasar (kesehatan.kompasiana.com//09/01/10).

Tindakan dikriminatif hanya menjadikan kasus HIV/AIDS seperti gunung es, Nampak kecil dipermukaan namun sebenarnya berpotensi menimbulkan bencana besar dimasa depan. Karena takut mendapat stigma buruk dan perlakuan tidak manusiawi dari lingkungan, banyak ODHA yang merahasiakan status mereka. Diluar data rersmi, Departemen Kesehatan memperkirakan saat ini jumlah orang terjangkit HIV sekitar 300.000 kasus (bataviase.co.id/04/12/09), dan bila hal tersebut terus terjadi, para ahli epidemologi memproyeksikan pada 2015 terdapat 1000.000 jiwa penderita HIV/AIDS di Indonesia (bidansmart.wordpress.com/21/12/09).

Solusi: Penegakan HAM
Membiarkan orang terinveksi HIV/AIDS terus dikucilkan dan mendapat berbagai stigma buruk merupakan pelanggaran HAM. Hak hak dasar yang dirampas, membuat mereka asing dilingkungan mereka sendiri. Dibutuhkan solusi tepat guna mengentaskan masalah pelik tersebut. Karena dikriminasi selama ini bersifat multi dimensional, maka solusi penanggulangan dan penyelesaiannyapun harus bersifat multidimensional.

Untuk keluarga dan masyarakat, mereka harus sadar bahwa orang dengan HIV/AIDS bukanlah ancaman yang harus dikucilkan. Pergaulan dan komunikasi baik verbal dan nonverbal harus dijaga dengan baik. Selebriti Christian Sugiono dapat dijadikan teladan. "Gue mulai bisa berteman dengan penderita AIDS karena pengetahuan tentang AIDS bertambah berkat kampanye AIDS. Gue punya teman yang AIDS, santai saja. Bahkan, sering hang out bareng.", ungkapnya (celebrity.okezone.com/12/04/08).

Karena itu Kampanye Anti dikriminasi harus terus digalakan. Selain mengadakan seminar dan simposium, sistem jemput bola dapat menjadi solusi dalam masalah ini. para aktifis penggiat HAM dan AIDS dapat turun langsung kemasyarakat, seperti bekerja sama dengan karang taruna atau aktivis pemuda pada skup masyarakat terkecil, RT dan RW. Dengan menyampaikan pemahaman sederhana bahwa HIV tidak akan menular melalui hubungan sosial seperti jabatan tangan, bersentuhan, berpelukan, penggunaan alat makan, WC, Kamar mandi dan kolam renang bersama, lambat laun perubahan dari bawah ke atas dapat terjadi. Selain itu terbuka pula pemahaman lebih luas yang memungkinkan ODHA untuk terlibat lebih aktif dalam setiap kegiatan dimasyarakat.

Sedang bagi rumah sakit, tindakan dikriminatif apapun harus diganjar dengan sanksi. LSM AIDS dan Kemanusiaan harus memonitor dengan objektif. Karena kebanyakan kasus terjadi lantaran pasien enggan mengungkapnya kepermukaan, saat ini telah tiba masa bagi mereka untuk melaporkan sikap buruk tersebut pada LSM besangkutan agar dapat diambil langkah hukum. Dibutuhkan keberanian lebih dari ODHA untuk mengungkap jati diri mereka atas tindakan tindakan tak menyenangkan yang mereka terima. Bila hal ini dapat mereka lakukan maka lubang dikriminasi dapat ditutup dengan rapat.

Selain itu fungsi pelayanan juga harus dijaga kualitasnya. Berdasarkan SK No.1190/MENKES/2004 mengenai pemberian obat gratis Anti Retroviral (ARV) dan SK No.760/MENKES/SK/VI/2007 mengenai ditunjuknya 237 RS Rujukan bagi ODHA dengan akselerasi program konseling dan testing sukarela, pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dan perawatan, pengobatan serta dukungan (bidansmart.wordpress.com/21/12/09), jangan sampai terdengar lagi keluhan soal minimnya dana pengobatan dimasa depan. Subsidi pengobatan cuma cuma harus ditambah jumlahnya. Apa yang dikampanyekan pemerintah saat pemilu soal kesehatan gratis jangan hanya sekedar menjadi gelembung politik yang terbang kelangit dan tak kembali lagi. Inilah saatnya untuk membuktikan kalau pengobatan gratis itu benar benar bisa dirasakan terutama bagi pasien HIV/AIDS.

Bila pemerintah alpa melaksanakan pelayanan dan gagal mencegah tindakan dikriminatif, maka hal tersebut merupakan suatu pelanggaran kemanusiaan. Nur Kholis, wakil Ketua II Bidang Eksternal KOMNAS HAM menguatkan dengan berkata, "diksriminasi terhadap ODHA dalam mendapatkan layanan kesehatan diindikasikan sebagai pelanggaran HAM." (satudunia.net/24/02/10). Sebagai pihak terdzalimi, pasien dengan bantuan advokasi dari LSM terkait dapat melaporkan tiap tindakan tak menyenangkan pada PBB. Apalagi Indonesia telah meratifikasi konvensi Internasional. Sebagai contoh Konvensi hak-hak sipil dan politik (The International Covenant on Civil and Political Rights-disingkat ICCPR-terdiri dari 53 pasal) yang telah diadaptasi oleh pemerintah Indonesia dengan UUNo.12 Tahun 2005 (satuportal.net/23/03/10). Sudah sepantasknya pemerintah bersikap konsekuen dan siap menerima segala sanksi dari PBB bila mereka lalai melaksanakan undang undang tersebut.

Menggapai Kemengan Monumental
Ditengah ujian yang menimpa mereka orang terinfeksi HIV/AIDS adalah manusia luar biasa. Tidak sepantasnya mereka dijauhi, dikutuk dan dibatasi kesempatannya untuk berkarya dimasyarakat. Pengakuan eksistensi dan mendapat perlakuan manusiawi seperti dicintai, dihargai, dijaga dan dilindungi merupakan sebuah kemengan monumental yang mereka raih ditengah segala tekanan fisik serta psikologis maha berat. Sementara diskriminasi sudah waktunya ditanggalkan oleh mereka yang non ODHA. “live must go on”, kata pemeo lama. Bersama nilai nilai HAM yang dijalankan secara konsekuen oleh pihak pihak yang bersentuhan langsung ataupun tidak dengan ODHA, mereka dapat menjadi manusia dalam arti sesungguhnya.

11 Oktober, 2011

METAMORFOSA SASTRA PERUBAHAN

Posted by Suguh Selasa, Oktober 11, 2011, under | No comments


Esai ini menjadi Pemenang ke Dua pada lomba menulis esai sastra yang diselenggrakan oleh komunitas penulis muda (penulismuda.com) dalam rangka memeringati wafatnya Chairil Anwar pada 2010. Judul Asli: Metamorfosa Sastra Hingga Menggugah dan Mengubah

Oleh Suguh Kurniawan

“Tidak satu pun diantara mereka akan langeng. Yang langgeng adalah mereka yang menulis hanya karena jika tidak melakukannya mereka seakan-akan meledak.”
(Anthony de Mello)

Apabila sastra diibaratkan dengan pesawat, maka penulis adalah pilotnya dan pembaca adalah penumpangnya. Akan dibawa kemana pesawat? bergantung kehendak sang pilot. Ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan para penumpang hingga burung besi tersebut landing dilandasan. Berangkat dari ilustrasi singkat itu, ‘pesawat sastra’ memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan kehidupan bangsanya. “A drop of ink can move billion peoples to think.”, kata idiom lama, sementara Subcomandante Marcos, Pemimpin geriliawan Zapatista berujar, “nuestra palabra es nuestra arma.” (kata adalah senjata)

Lebih dari Segurat Kata
Sebagaimana diungkapkan Horace, sastra berfungsi sebagai Dulce et utile yaitu penghibur sekaligus berguna. Dua ‘hulu ledak’ ini, sejak awal harus disadari dengan jernih oleh para penulis sebelum berkarya. Karena efek ledakannya bukan hanya bersifat insidental tapi multidimensional.

Menghibur bukan berarti latah ikut ikutan trend, Terjebak dalam perangkap kapitalisme penerbitan yang membabi buta memenuhi selera pasar tapi tidak menghiraukan ekses negatifnya. Bila hal tersebut menjadi prioritas utama, maka yang muncul kemudian adalah buku buku dangkal filosofis, kering pesan moral dan meaningless kecuali hanya untuk menuaskan selera sesaat. Penulis Montgomery Belgion menyebutnya sebagai Irresponsible propagandist (propagandis tidak bertanggung jawab), karena disadari atau tidak tulisan seperti halnya cat dan kuas dapat memulas ‘kanvas’ para pembaca dengan ide ide yang dikandungnya.

Hal tersebut dikuatkan dengan realita generasi muda kita yang miskin militansi, kering idealisme dan buta nilai nilai. Budaya hedon telah menyulap mereka menjadi konsumen sampah kebudayaan barat yang rakus. Kebebasan tanpa kontrol telah menghilangkan jati diri ketimuran, dimana moralitas tidak lagi menjadi rambu dalam hubungan antar manusia dan norma norma tak risih lagi untuk dilanggar. Hal ini terefleksi dari Gaya hidup bermewah mewah anak muda kita dalam novel, cerpen, esai yang sangat kontras dengan nasib tiga puluh dua juta rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Suatu preseden buruk bagi hubungan kelas sosial antar kaya miskin, kuat lemah, kuasa tak berkuasa. Edy Firmansyah, Esais sekaligus pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Jakarta mengatakan, “Mencipta karya sastra yang melangit dan eksklusif secara tak langsung berarti memaksa masyarakat alpa terhadap perubahan.”

Menyikapi hal tersebut dibutuhkan fungsi kedua, yaitu ‘dapat berguna’. terlepas dari genre masing masing penulis, dibutuhkan karya karya yang berani melawan mainstream. Pesan moral, kemanusiaan, sosial dan pendidikan dapat diusung menjadi tema utama sebagai bentuk refleksi masyarakat kita yang sebenarnya. Karya monumental seperti tetralogi laskar pelangi karya Andrea Hirata, Ayat Ayat Cinta karya Habiburahman Al Shirazy atau Manusia Manusia Langit karya Helvy Tiana Rosa bisa dijadikan acuan. Kendati semula dianggap aneh, tidak populer dan asing tapi kemudian karya karya tersebut dapat merajai bursa buku nasional. Pembacapun mendapat nilai plus menuju arah yang lebih positif atas apa yang telah mereka deras dan telaah. Buku cerdas niscaya dapat mencerdaskan dan seperti dikatakan oleh aktifis kemanusiaan Chico mendez, perubahan terstruktur hanya tinggal menunggu waktu.

Semangat itulah yang dirasa sangat relevan guna menghadapi realita saat ini dan masa datang. Kedepan, mendirikan penerbit independen yang dapat menampung karya karya para penulis idealis wajib hukumnya. Hal ini telah dibuktikan oleh resist book yang berani beda dengan meluncurkan buku buku bertema perlawanan. Sokongan dana dari penulis mapan, sponsor dan pihak pihak yang peduli terhadap perubahan mesti digalang. Dengan demikian, dari penerbitan tersebut dapat muncul sejumlah karya yang dapat meredusi terbitan yang sifatnya merusak. Selain itu membuka jalan pula bagi para penulis berbakat pemula yang selama ini tidak mendapat kesempatan mengorbitkan naskah mereka karena terisisih oleh sistem.

Save to landing
Perubaham bukan cuma mimpi bila ada sinergi dari semua kalangan. ‘Pesawat sastra’ yang kelak akan landing dilintasanpun dipastikan dapat membawa para penumpangnya dengan selamat. Landasan yang dimaksud adalah terbentuknya suatu pemahaman global bahwa tiap manusia musti menjalankan fungsi fungsi sosial untuk manusia dan lingkungannnya. Melalui sastra kita menjadi peka terhadap realita kemudian tergerak untuk melakukan perbahan.

“I have a dream”, kata Martin Luther King, ketimbang meributkan rute penerbangan yang dipastikan sangat panjang, lebih baik kita mengencangkan sabuk pengaman, mengatur kemudi dilintasan dan mulai membawa pesawat sastra kita pada jalurnya yang benar. Entah sampai kapan ia melayang layang diudara dalam mencari landasannya, yang paling penting adalah para penulis (termasuk kita barangkali), sebagai pilot telah membuka jalan menuju landasan itu. Tabik !

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog