18 November, 2011

Ingin Ku Kecup Kening Amak Sekali Lagi

Posted by Suguh Jumat, November 18, 2011, under | 4 comments



Padahal jangkar rantauku masih tertambat erat di dada amak
Melindapi kelok curam labirin asanya yang putih macam pohaci
Mencengkram muara cintanya yang harum bagai kesturi

Sungguh masih ingin kucumbu ia seperti kemarin lalu
Saat perlahan terbuai oleh senandung Anak Salido
dalam timangan legam sepasang tangan tembaganya
atau termangu menyimak kisah tinutur batu ajuang batu peti
lepas lampu surau mati dan anak anak pulang mengaji.

Tak gundahkan ia, waktu lamat lamat bunyi peluti merambat
antar perahu sandar di hadapan?
Sampai hatikah ia, tika melihat orang orang berhimpit
dalam sesak anjungan pula buritan?

Selembar kain sarung dan peci
Sebuah mushaf Qur’an dan pepata pepiti
dijejalkannya dalam kopor haji sisa umroh tetangga tujuh tahun lalu
Silat langkah tigo harimau campo menyertai
bertahun telah menjadi sungai garam, dalam sulur gerak dan langkahku.

“Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun…,”
Ia mengusap peluh di keningku
“Marantau Bujang dahulu, Di kampuang baguno balun.”
Ia mendekap dan mulai terisak di bahuku

Gemuruh dalam dadaku
menjadi pusaran gelombang karenanya.
Lantas ia semburat hingga langit berubah sendu
Wajah itu kini bersisipan bersama sapuan awan di atas sana,
Wajah yang telah mengkerut lantaran digerus usia
Wajah yang telah tiga puluh satu tahun bermimpi,
namun tak jua berangkat naik haji.

Ingin kukecup kening amak
meski hanya sekali
Sayang,
Belum lagi berbalik badan di ambang titian sauh
Ia lebih dulu pergi lalu menjauh.

(Ngilu di dada kukemas baik baik bersama mimpi amak menuju rantau)

14 November, 2011

Ziarah Sukma

Posted by Suguh Senin, November 14, 2011, under | No comments




Puisi ini menjadi juara kedua dalam lomba menulis puisi bertema Giver Spirit For Indonesia 2011 yang diselenggarakan oleh Eelaine Firdauza)

Selagi mihrab malam belum menyuraikan gulita
dan selintang lazuardi masih berwarna saga
Maka tetap Berjagalah kawan
Lantaran dalam amuk segara
Engkau adalah layar sampan yang meradang
menerabas didih gelombang dihadapan

Selagi hijab antara gelap dan terang masih menggenang
dan langit belum dicadari oleh kerlingan bintang
Maka tetap bersiagalah kawan,
Lantaran dalam gelegak awan panas
Engkau adalah setitik embun yang telanjang
matang digerus angin dan didera bara sejadinya

Dimuka tiada lagi pijakan tersisa buat kita
Tanah sudah becek oleh genangan darah
Luka luka lebam dari bangkai busuk manusia
menyeruakan bau kedukaan yang tak terkira nyerinya

Ini perih raca bumi kita
Ini pedih rajam langit kita


Arak arakan panjang
Tersaruk melangkahi jalanan beraspal api
Kaki kaki telanjang
Menapaki pelarian dalam karavan yang tak putus
dari wasior, mentawai hingga merapi.

Ini lara sekandung kita
Ini air mata sedarah kita


Berjaga dan bersiagalah kawan
Sebelum gelap menilam raga kita,
Kendati cuma dengan sebuluh perindu
dan seikat selendang usang
tuk menyaput air mata mereka,
Kita musti pula merasa gelayut duka
Lolong panjang tangis negri kita

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog