28 April, 2012

Filosofi Berperang Ala Samurai Sejati

Posted by Suguh Sabtu, April 28, 2012, under | No comments


Samurai sejati selalu menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Kemenangan tak melulu diartikan dengan terhempaskan musuh di medan perang. Bukankah segalanya musti dimulai dan diakhiri dengan etika serta rasa hormat pada lawan apa lagi kawan? Bukankah amarah hanya akan membuat seorang raja menjadi budak, sedang pengampunan dapat merubah seorang budak menjadi raja?
Toyotomi Hideyoshi, pemimpin legedaris Jepang pada abad ke 16 berujar, “Prajurit terbaik tidak pernah menyerang, prajurit terhebat berhasil tanpa kekerasan, dan penakluk terbesar menang tanpa perang.” Pemimpin yang datang dari kalangan petani miskin kebanyakan itu menambahkan, “Meski dikenal karena kemampuan kemiliteran, aku masih lebih bangga dengan keterampilanku sebagai seorang negarawan. Aku lebih memilih berdiplomasi daripada bertempur. Sebagian besar penaklukan yang kulakukan terjadi tanpa pertumpahan darah, dan banyak orang berkata bahwa aku adalah diplomat terbaik dalam sejarah Jepang. Jika kau ingin mencapai kesepakatan yang menguntungkan dengan mereka yang berseberangan denganmu –tanpa harus memenggal kepala mereka- maka kau akan merasakan manfaat dari pendekatan yang kulakukan.”
Akar yang menjadi cikal bakal dari pandangan Hideyoshi adalah rasio yang dapat berdiri dengan koheren antara akal sehat dan emosi. Antara perhitungan yang matang dengan semangat bertempur yang menggebu-gebu. Ia dapat menyeimbangkan kumparan magnet hari ini dan esok hingga tak bertindak terburu-buru, ceroboh bahkan mengundang petaka. Dengan demikian visi yang sifatnya membangun dapat ajek guna mencapai kemenangan yang sifatnya jangka panjang bahkan abadi.
Sedang buah darinya, adalah tindakan nyata yang sama sama menguntungkan semua pihak. Toyotomi Hideyoshi, yang kerap diledek berwajah mirip monyet itu, yang udik dan berperawakan kecil itu, berhasil menyatukan Jepang pada masa paling gawat di mana antar klan saling menghabisi satu sama lainnnya, sedang perang dijunjung tinggi tinggi sebagai panglima. Selain itu filosofi kepemimpinannya pun masih relevan sampai saat ini hingga dirinya mendapat julukan mulia, samurai tanpa pedang.
Bila ingin melihat contoh lain, samurai sejati adalah seperti Uesugi Kenshin(18 Februari 1530-19 April 1578) yang jarang melibatkan diri dalam peperangan bila peperangan tersebut bermuatan politis. Dirinya selalu menjunjung tinggi nilai nilai keadilan. Bila terjadi sesuatu yang tak adil maka ia tak ambil bagian didalamnnya. Dirinya selalu mampu meyakinkan rekan rekannya bila perang bukanlah cara terbaik untuk mencapai tujuan.
Samurai sejati adalah seperti Takeda Harunobu (1 Desember 1521–13 Mei 1573) yang berkata, “Memenangkan ratusan peperangan bukanlah kebanggaan. Tapi, kemenangan tanpa peperangan adalah kebanggaan yang sesungguhnya.”
Prinsip para samurai sejati seperti didedahkan di atas, yang datang dari masa lalu, yang dalam pandangan pragmatis anak muda masa kini sering dianggap kuno, seolah meledek habis habisan tesis Hobbesis. Homo homini lupus ujarrnya, bila manusia berprilaku umpama serigala yang saling memangsa untuk membuktikan siapa diantara mereka yang terkuat. Jika demikian tak ada lah bedanya manusia dengan binatang?
Tapi samurai sejati tak berpikir demikian. Lebih dulu menyarungkan pedang bukan berati tak lagi punya nyali tuk terjun langsung ke medang perang. Mengutamakan dialog bukan berarti pula tak lagi sanggup bertempur mati matian hingga ajal menjemput. Bukan! Ini sama sekali bukan tanda kepengecutan! Justru mereka melakukannya sebagai strategi untuk mencapai tujuan jangka panjang yang keuntungannya jauh lebih besar. Pedang baru dicabut dan genderang perang ditabuh keras keras saat segala macam upaya diplomasi berujung pada kegagalan.

20 April, 2012

Menderas Impian Meraih Keniscayaan

Posted by Suguh Jumat, April 20, 2012, under | No comments


“Hargailah cita cita dan impianmu, karena kedua hal ini
adalah anak jiwamu dan cetak biru prestasi puncakmu.”
(Napoleon Hill, dikutip dari‘Chicken Soup ForThe College Soul’ hal 270)

Seorang filsuf berkata, “Waktu tak’ kan pernah kalah oleh orang yang hendak menaklukannya dan tak kan pernah terdahului oleh orang yang hendak mengejarnya”. Ia meninggalkan masa lalu dengan segala kenangan di belakangnya dan menyongsong masa depan dengan kegaiban di hadapannya. Rugi lah mereka yang menjadi lalai karenanya. Sebab, “ia seperti kilatan pedang” ujar pepatah Arab. Barang siapa tak waspada, besiaplah tuk ‘terpenggal’. Tebasan waktu, sejatinya lebih mematikan dari tebasan pedang. Karena saat mata pedang merobek kulit, dalam dua tiga minggu lukanya segera kering. Tapi jika seseorang sudah terpenggal oleh waktu, tak ada obat dapat menyembuhkan, kecuali penyesalan panjang yang tersisa.

Berkejaran dengan kesia siaan
Saking cepat waktu berlalu, banyak orang tak menyadarinya. Kalau tak percaya mari perhatikan diri masing masing. Ketika baru masuk sekolah dasar, kita tak sabar menunggu masa dimana kita dapat mengenakan seragam SMP. Sambil menunggu masa itu kita mengisi hidup dengan bermain dan bercanda. Tapi seperti mengejapkan mata, tiba tiba kita sudah menjadi remaja dan telah masuk SMP. Enam tahun masa SD begitu saja berlalu. Ketika di SMP kita ingin melihat kakak kakak kelas memakai seragam putih abu abu. Kini Kita tak sabar ingin menjadi anak SMA. Tak harus menunggu lama, kita bukan hanya menjadi siswa SMA, malah akan segera lulus dan mulai menyusun rencana melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Masa SMApun terlewati dengan segala kenangannya. Sambil menunggu perkuliahan dimulai, apa salahnya bersenang senang dulu, bukankah masa muda adalah masa untuk mencari jati diri? Tentu segala hal perlu dicoba dan dirasakan? Namun lagi lagi kita terkejut karena kenyataanya sekarang kita sedang kuliah. Sebagian kawan baru masuk kampus dan sebagian lagi akan segera diwisuda. Begitu seterusnya, hingga kita bekerja, menikah, mempunyai anak dan menjadi tua.

Setelah melewati sederetan peristiwa dalam kurun waktu tertentu, yang muncul kemudian adalah orang orang yang shock karena kenyatanya belum bisa melakukan sesuatu yang berarti sepanjang hisup Tak ada prestasi membanggakan yang telah diukirnya. Padahal kawan kawan seangkatannya sudah juara ini dan itu, sahabat masa SDnya sudah menyusun program riset tentang ini dan itu, rekan sepermainannya sudah menjelajah hingga ke negeri negeri jauh. Sementara ia masih berkutat di rumah. Terasing, terbuang, terpencil dari jibaku medan peperangan meraih prestasi. “Katak dalam tempurung”, ujar pepatah lama hingga muncul pertanyaan besar dalam dirinya, “Apa yang salah ?”

Mereka yang berduka ialah mereka yang lalai memanfaatkan waktu. Hidupnya habis untuk memenuhi kepuasan sesaat dan pragmatis. Dalam sebuah ungkapan filosofis, kelalaian membuatnya menjadi manusia yang hidup namun secara hakikat sebenarnya telah mati. Ada atau tiada mereka seperti tak pernah ada karena tak ada yang bisa dibanggakan dan dihaparkan darinya. Orang orang seperti ini hidup tanpa visi, misi, tujuan dan cita cita. Mereka kini banyak berkeliaran, mendominasi bahkan memengaruhi. Kadang kita takut seandainya mereka menularkan sikap buruknya pada kita, dan kita menjadi jauh lebih takut seandainnya mereka ternyata adalah diri kita sendiri.

Siapa yang hanya ingin menjadi pemain figuran, pemeran pembantu, aktor murahan, bahkan hanya menjadi penonton dalam hidup? Tak pernah melakukan sesuatu yang monumental padalah umur semakin tua? Sudah beranak banyak tapi tak ada pengalaman membanggakan untuk diceritakan pada anak cucu? Kita semua tentu ingin menjadi pemeran utama. Ingin membuat sejarah dan kelak orang orang mengenang karya karya kita. Oleh karena itu mulai sekarang stop bermain main dengan waktu. Jangan lewatkan tiap detik berlalu kecuali dibarengi dengan kebaikan, ilmu, dan manfaat pada orang lain.

karena itu pula, ketika Allah menakdirkan kita hidup pada hari ini maka genggamlah ia. Rebut kesempatan dariNya dengan membangun visi bila waktu bagi kita sangat berharga. Jadikan saat ini adalah saat yang seolah olah, kita tak akan pernah lagi berjumpa dengannya esok hari. Berkaitan dengan hal ini, Jhon C Maxwell menulis,

Untuk mengetahui nilai satu tahun,
Tanyakanlah pada murid yang gagal dalam ujian akhir.
Untuk mengetahui nilai satu bulan,
Tanyakanlah pada ibu yang lahirnya prematur.
Untuk mengetahui nilai satu minggu,
Tanyakanlah pada editor sebuah berita mingguan
Untuk mengetahi nilai satu hari,
Tanyakanlah pada buruh harian yang memunyai enam orang anak
Untuk mengetahui nilai satu menit,
Tanyakanlah pada kekasih yang sedang menanti waktu untuk berjumpa
Untuk mengtahui nilai satu detik
Tanyakanlah pada orang yang selamat dari kecelakaan
Untuk mengetahui nilai sepersekian detik,
Tanyakanlah pada peraih medali perak olimpiade

Menderas Kekuatan Mimpi
Setelah memahami betapa berartinya tiap detik yang berlalu, mari segera kita rapikan barisan, kuatkan niatan, petakan harapan. Zig ziglar membantu dengan tipsnya. Untuk menyongsong masa depan dengan kemenangan dan kegemilangan, sang empunya teori pengembangan diri itu, mendedahkan tiga perkara, yakni,

a. Jangan takut bermimpi
Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Mereka yang berhasil bukanlah mereka yang mengikuti jalan hidup orang lain yang sudah berhasil yang sudah berhasil terlebih dahulu, melainkan yang membuka jalan baru yang belum pernah dilakukan orang lain. Penetapan jalan menuju masa depan dimulai dengan impian. Pertanyaanya, kenapa pula harus bermimpi? bukankah mimpi hanya bunga tidur? Bagaimana bisa sukses kalau kita terus bermimpi?

Mimpi dalam hal ini adalah sinonim dari cita cita. Harapan harapan di alam bawah sadar yang kemudian diwujudkan dengan perjuangan. Toh tokoh mahsyur sepanjang sejarah umat manusiapun memulai karir mereka dari mimpi. Ide ide, karya karya, bangunan bangunan, penaklukan penaklukan semua dimulai dari mimpi. Sedang sebaik baik mimpi adalah impian yang besar. seperti ungkapan asing berujar, “bermimpilah meraih bulan, karena kalau kita jatuh setidaknya masih berada diantara bintang bintang.” Ia adalah representasi dari kenyataan di masa depan. Karena itu jangan takut merumuskannya. Bukan kah Hasan Al Banna mengatakan Kita pada hari ini adalah hasil perbuatan kita pada hari kemarin. Sedang kita esok hari adalah hasil dari perbuatan kita pada hari ini.

b. Identfikasi Rintangan
Fitrah perjuangan adalah menghadapi sederet rintangan. Namun rintangan yang paling berpotensi untuk menjegal keberhasilan, bukanlah dating dari orang lain tapi diri kita sendiri. George Washington Carver mengatakan 99 % kegagalan datang dari orang orang yang mencari alasan. Mereka yang gagal adalah mereka yang mencari cari alasan dengan menyalahkan orang lain daripada melakukan introspeksi. Mereka berlindung di balik kalimat kalimat penyangkalan untuk menutupi ketidak-suksesannya, misalkan, “jelas saja ia sukses karena ayahnya kaya, patas dia berhasil kan jaringan bisnis keluarganya luas, tentu ia bisa seperti itu, lantaran pendidikannya tinggi”, Padahal kegagalan sejati adalah bukan ketika langkah anda terjegal oleh orang lain tapi kita sendiri menolak tuk bangkit dari keterpurukan. Berlama lama dengan keputus-asaan adalah suatu kesiaan. Ketimbang menjadi pesakitan dengan menjadi pribadi putus asa, jauh lebih sehat untuk bangkit dan hadapi kenyataan.

c. Jangan Takut Gagal
Semakin besar kegagalan semakin besar peluang kita untuk meraih keberhasilan. Dalam sebuah training billy Ps Lim pernah bertanya pada para peserta pelatihan, mengapa orang akan tenggelam bila jatuh kedalam air ? masing masing pesrta jawaban diberikan, tapi yang paling sering adalah, “Dia tidak dapat berenang”. Yang lain heran karena Lim menyalahkan jawaban itu. Yang lainnya lagi mengira kalau Lim bercanda. Untuk meyakinkah hadirin, ia memberi contoh kejadian orang tenggelam sedalam tiga inci. Akhirnya ia memberi tahu jawabannya dengan berkata, “orang tenggelam karena ia menetap di situ dan tidak menggerakan dirinya ke tempat lain”. Seberapa sering kita gagal itu bukan masalah karena yang terpenting adalah berikhtiar tuk bangkit kembali dari kegagalan tersebut.

Jangan takut gagal setiap kegagalan akan mematangkan, menguatkan bahkan membuat seseorang menjadi lebih berharga ketika sukses melewatinya. Ia seperti lempengan besi yang ditempa berkali kali lalu menjadikannya pedang. Ia seperti sebongkah batu gunung yang dibakar api lalu menjadikannya emas. Pepatah Prancis berkata “ketika lapis demi lapis bawang dikupas, pada setiap lapisannya akan memaksa kita untuk meneteskan air mata”. Kegagalan memang meyakitkan tapi dibaliknya niscaya telah menanti keberhasilan. Michael jordan sebagai contoh, gagal dalam usaha pertamanya menjadi anggota tim bola basket SMU. Lain lagi dengan Abraham Lincoln, yang pernah bangkrut dalam usahanya, sudah berjuang setengah mati untuk sukses tapi lebih sering mengalami kekalahan, kemudian karena keteguhan jiwanyalah ia terpilih menjadi pemimpin Amerika.

It’s Show Time
Para pemimpi sejati selalu merasa yakin, terdapat lubang cahaya di ujung labirin yang gelap. Sedang pada tiap hempasan badai niscaya kan berakhir dengan menyingsinya fajar dengan membawa sinar matahari yang menghangatkan. Tak masalah berapa lama ia akan menemukan cahaya itu, yang paling penting dirinya telah menjejakan langkah pertama dalam menggapai keniscayaan.

Menjadi pemenangpun bukan lagi sebatas angan angan. Harapan menjadi mungkin diraih bila dibarengi ikhtiar. Para pahlawan memulai kemenangan mereka dengan melakukan hal hal kecil namun nyata bentuknya. Karena itu, jangan lagi menunggu ‘nanti’. Tapi mulai bergeraklah saat ini tuk menjadi pemenang yang berarti bagi diri sekaligus bermanfaat bagi lingkungan.

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog