19 November, 2012

Konsep Idealisasi Perpustakaan Kita

Posted by Suguh Senin, November 19, 2012, under | No comments


Menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang ramah bagi siapapun untuk dikunjungi merupakan tantangan tersendiri. Bukan rahasia, jika kenyataanya perpustakaan diidentikan dengan tempat yang kolot dan kaku seperti museum. Hanya orang orang memiliki kepentingan tertentu seperti mencari bahan untuk menulis artikel, mengerjakan tugas kuliah atau skripsi yang mengunjunginya.

Sedang masyarakat umum, dari segala profesi seperti ibu rumah tangga, anak anak, orang tua, pedagang, buruh dan pekerja sepertinya amat langka dijumpai di perpustakaan. Kita tentu tak menghendaki perpustakaan hanya ‘dimiliki’oleh sebagian pihak saja’. Musti ada upgrading kualitas agar kehadirannya dapat mengakomodasi kepentingan semua kalangan.

 Problema Minat Baca
Lesunya tingkat kunjungan ke perpustakaan tercermin dari Laporan Human Development Report yang dikeluarkan UNDP pada 2008/2009.  Di mana disebutkan bila minat baca bangsa Indonesia menduduki peringkat 96 dari negara negara di seluruh dunia. Hal yang dapat membuat miris tentu saja. Karena terjadi saat pemerintah sedang gencar mengkampanyekan wajib belajar 9 tahun.

Memang terdapat alasan mengapa budaya baca jadi demikian lesu di Indonesia. Faktor kemiskinan berada pada urutan pertama. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data pada 2008, di Indonesia terdapat 32,8 juta rakyat miskin. Seperti disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya, aktiftas baca memilki kaitan dengan kemampuan masyarkat dalam membeli buku atau koran.

Hal lain adalah faktor ekspansi informsi. Ekspansi informasi yang menyerang melalui media mainstream dapat menyebabkan blunder bagi mereka yang tak dapat waspada. Sifatnya yang audio visual jauh lebih menarik ketimbang lembaran buku yang tebal dan kaku. Terbukti berdasarkan data BPS yang dirilis pada 2006, masyarakat kita lebih banyak menonton televisi TV (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) dalam mengakses informasi.

Adapun faktor terakhir adalah karena mandulnya fungsi perpustakaan sendiri. Masih terdapat anasir anasir negatif bila kita mendengar kata perpustakaan. Seperti disampaikan di atas, kesan kolot dan kaku langsung tergambar bila langunjungi tempat yang satu ini. Kemudian masalahnya diperparah dengan minimnya program alternative yang digagas oleh pengelola.

Perpustakaan Ideal
Bila menghendaki perubahan sudah selaiknya perpustakaan perpustakaan kita berbenah. Hal paling esensial yang mula mula musti direalisasikan ialah mengubah paradigma. Ikhtiar yang dapat ditembuh ialah menjadikan perpustakan bukan hanya sebagai tempat menyimpan dan membaca buku tapi juga sebagai learning center  atau pusat belajar. Harapan besarnya adalah tercipta kesadaran di masyarakat bila perubahan bisa digagas dan diraih dengan cara meningkatkan pengetahuan. Pencerahan intelektual menjadi sasaran utamanya. Mereka yang datang tak lagi bersifat insdental tapi benar benar menjadi pengunjung yang loyal karena dapat menemukan solusi atas persolan persoalan yang sedang mereka hadapi. Dengan begitu setiap orang merasa terwakili kepentingannya.

Karenanya guna mewujudkan cita cita tersebut, selaiknya perpustakaan di tanah air mengejawantahkan tindakan nyata dalam tiga hal berikut,

1. Pembenahan Sarana Fisik
Dalam hal ini kita dapat belajar dari Perpustakaan Iskandariah Mesir. Setelah 20 abad porak porandari lantaran dibakar pasukan Julius Caesar, kini Isknadariah berdiri lebih megah dibanding sebelumnya. Yang menarik, selain dapat menampung delapan juta judul buku, terdapat pula berbagai fasilitas pendukung yang lengkap. Seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk mempermudah mencari katalog buku. Adappun pada ruang bacanya dapat menampung sebanyak 1700 orang. Fasilitas tambahan lain adalah ruang konfrensi, ruang Khusus tuna netra, pustaka bagi anak-anak dan museum manuskrip kuno.

Dari Iskadariah kita dapat belajar bila totalitas dan dedikasi yang utuh dapat mewujudkan cita-cita memiliki perpustakaan ideal. Meski levelnya tak serta merta menyamai perpustakaan tertua di dunia itu,  paling tidak kita dapat mengambil ancang ancang soal langkah apa yang dapat dilakukan untuk membenahi perpustakaan perpustakaan kita. Klaim pemerintah soal 20% anggaran pendidikan musti diwujudkan dalam bentuk investasi jangka panjang dibidang kepustakaan.



2. Meningkatkan Kualitas Pustakawan
Sebagai front liners pustakawan musti sadar akan esensi sigma kepuasan pelanggan, meski perpustakaan adalah lembaga nonprofit, tapi membuat pengunjung loyal untuk datang perpustakaan adalah tantangan tersendiri bagi mereka.  Guna mewujudkan hal itu, para pustakawan dapat bercermin dari filosofi The Pike Place Fish, tempat perdagangan ikan di pasar rakyat Seatle Amerika Serikat.  Di sana terdapat empat nilai motivasi yang selalu dipraktikan oleh para pekerjanya.  Diantaranya,

• Kesenangan
Profesionalitas muncul dari antusiasme. Sedang antusiasme muncul dari rasa senang. Seorang pustakawan adalah ia yang gembira melaksanakan tugas tugas kepustakaanya. Karena sadar bila dirinya adalah bagian dari perubahan atas bangsanya menuju arah yang lebih cerdas dan kreatif.

• Cerahkan hari-hari pengunjung
Dengan pelayanan yang penuh dedikasi, total dan ramah membuat potensi pengunjung datang kembali keperpustakaan amat besar. Bisa jadi koleksi perpustakaan masih minim, tapi dengan sikap positif yang ditunjukan pustakawan, pengunjung akan merasa amat nyaman karena orang yang melayani mereka begitu akrab, ramah dan simpatik.

• Siap melayani
Seorang pustakawan musti menempatkan dirinya pada posisi pengunjung. Kesan berbelit belit dan birokratis musti pula dihapuskan. Selain menambah jumlah pustakawan profesional untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung yang akan meminjam atau mengembalikan buku, merekapun sejak dini mesti menyadari prinsip dasar pelayanan, “Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit.”

• Tentukan sikap sebagai pustakawan
  Pustakawan mempunyai komitmen serta visi dan misi untuk selalu mengembangkan perpustakaan. Darinya diharapkan muncul gagasan gagasan menerobos untuk menjaga eksistensi Perpustakaan agar tetap bisa bersaing dengan pengaruh media mainstream. Perubahan disikapi dengan kecakapan berpikir dan berwacana hingga kesan dinamis tak lekang dari Perpustaan meski waktu terus berputar.

3. Membuat Program Alternatif
Undang undang Republik Indonesia Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 pasal 3 tentang perpustakaan menyebut bahwa perpustakaan tak hanya berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian dan informasi semata tapi juga wahana untuk berekreasi, di mana tujuannya ialah untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Karena itu kesan fun musti dikembangkan oleh pihak Perpustakaan. Perlu dibuat program program alternatif yang dapat meningkatkan kunjungan dan minat baca. Tiap segmen usia memiliki programnya masing masing. Untuk kalangan anak anak kita dapat mencontoh perpustakaan di Delf Belanda. disana anak anak selain membaca buku, dapat pula mengikuti sejumlah aktifitas. seperti lomba menggambar dengan tema tertentu. Di lain kesempatan untuk memperingati wafatnya pengarang Annie M.G. Schmidt, diadakan lomba mewarnai tokoh Floddertje yang merupakan figur karangan Annie.

Hal ini dapat kita terapkan di tanah air agar kunjungan pada segmen anak anak dapat meningkat dan menepis anggapan selama ini bila yang datang ke Perpusnas hanya kalangan tertentu saja.

Sedang untuk segemntasi orang dewasa, Kita dapat belajar dari YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia). Dengan mendirikan 13 TBM (Taman Bacaan Mayarakat) fungsinya bukan hanya menjadi tempat mengkaji ilmu. Tapi juga memiliki usaha produktif, seperti membuat makanan kecil, pupuk organik, kerajinan tangan dan sebagainya. Selain dapat menambah ilmu, masyarakat yang datang dapat pula menambah penghasilan.

Pihat perpustakaan tentu tak dapat bergerak sendiri. Kontribusi dari berbagai kalangan musti digalang, baik dari pihak individu ataupun LSM LSM penggiat pendidikan. Dedikasi para aktifis LSM misalnya tak dapat diragukan lagi. Selama ini, meski tanpa ada yang meminta dan membayar mereka dengan penuh kesadaran sudah bergerak sendiri untuk berbuat nyata bagi lingkungan.

Menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang ramah bagi siapapun tak lagi sebatas asa. Bila ada itikat dari semua pihak hal tersebut dapat segera diwujudkan. Dengan begitu kehadirannya tak sebatas untuk tempat membaca, tapi juga menjadi pusat belajar. Tempat menemukan solusi atas segala permasalahan dengan tetap menjaga keramahan dan semangat funnya.







Daftar Pustaka
1. Al-Malaky,Ekky.2003.Remaja Doyan Filsafat? Why Not.Bandung. Penerbit DAR, Mizan
2. http://oase.kompas.com/read/2010/10/29/01404039/Faktor.Ekonomi.Pengaruhi.Minat.Baca
3. http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/17/18153173/Nasib.Perpustakaan.Daerah.
4. http://www.dapunta.com/teknologi-informasi-dan-citra-pendidikan.html
5. http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2010/05/02/92540/Perpustakaan-Nasional-Makin-Dilupakan-Orang
6. http://writingsdy.wordpress.com/2007/06/01/mengatasi-rendahnya-minat-baca-di-indonesia/
7. http://duniaperpustakaan.com/2010/03/14/menggagas-perpustakaan-modern-di-masa-depan-strategi-pemanfaatan-teknologi-informasi-melalui-kreativitas-pustakawan/
8. http://hendrinova.blogspot.com/2010/09/koin-ilmu-untuk-membangun-perpustakaan.html
9. http://emakannisa.multiply.com/journal/item/4/Perpustakaan_dan_Minat_Baca_di_Belanda
10. http://pritahw.multiply.com/journal/item/25
11. http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/06/08/brk,20100608-253596,id.html
12. http://blog.unsri.ac.id/admin/sumatera-selatan/galakkan-minat-baca-bangun-perpustakaan-lingkungan/mrdetail/1011/

09 November, 2012

Tips Nonton Sepak Bola di Stadion

Posted by Suguh Jumat, November 09, 2012, under | No comments

Menyaksikan pertandingan sepak bola langsung di stadion memberikan sensasi berbeda bila dibanding dengan menyaksikannya hanya melalui televisi. Eufororia masa, antraksi suporter dan bisa melihat para pemain dari jarak dekat, menjadi asalan bagi para suporter tuk datang berbondong-bondong memenuhi tiap sisi tribun. Lebih dari itu, seperti dikatakan Andera Hirata dalam novel Sebelas Patriot, hal ini terjadi karena sepak bola merupakan bentuk ungkapan cinta buta yang menyenangkan. Tak perlu perlu alasan logis kenapa orang-orang jadi demikian ‘gila’ pada dunia kulit bundar. Karena sepak bola bukan soal hitungan eksakta dan matematika, tapi soal cinta tanpa syarat pada tim kesayangan.

 Hanya kemudian ada hal-hal yang laik diperhatikan saat menonton di stadion agar kita merasa nyaman sekaligus aman. Berikut tips-tips ringan bila Anda bermaksud menonton langsung di Stadion. Catatan ini diambil dari pengalaman pribadi saya.

1. Membawa makanan ringan dan minuman
Menunggu kick off dan menyaksikan pertandingan hingga usai memakan waktu lama. Energi akan banyak terkuras saat mendukung tim kesayangan. Menikmati makanan ringan seperti roti, gorengan atau biskuit bisa jadi solusi menghindari rasa lapar untuk sementara waktu. Sedang membawa makanan dari rumah lebih tejamin kesehatannya dibanding membeli di luar. Selain itu bisa menghemat uang.

 Adapun minuman, disarankan jangan membawa minuman bersoda karena akan membuat kita selalu ingin buang air kecil. Lebih baik membawa air mineral. Sudah mahfum adanya, bila saat ini di stadion-stadion kita fasilitas umum seperti toilet belum (bahkan tidak) tersedia (terlebih di tribun ‘ekonomi)’.

  2. Membawa Jas Hujan
Pertandingan Persib VS Makasar United pada 3 November 2012 dalam laga Celebes Cup II di Stadion Siliwangi Bandung, di tengah pertandingan diguyur hujan ringan. Penonton yang duduk di tribun terbuka, dan tak melakukan persiapan dengan baik sibuk mencari cara agar tak kebasahan. Harga plastik kecil penutup kepala dijual Rp 2000 dan mereka pun saling berebut membelinya. Sementara sebagain ibu-ibu yang membawa balita keluar stadion lebih awal.

 Mereka yang tetap tenang pada saat itu adalah yang dari rumah membawa jas hujan. Baik yang terbuat dari bahan parasit atau jas hujan sekali pakai yang terbuat dari kantong plastik. Disaranakan membawa perlengkapan yang satu ini ke stadion, apalagi saat ini sudah memasuki musim hujan.

 3. Parkir Kendaraan di Tempat Aman
Keramaian kerap mengundang kejahatan. Tak semua orang yang berbaur dalam kerumunan memiliki itikad baik. Mengantisipasi kejadian buruk adalah hal pertama yang musti dilakukan. Mencari solusi untuk mengamankan barang berharga dari ancaman kejahatan adalah suatu keutamaan. Bila ada kawan yang rumahnya kebetulan dekat dengan stadion, maka titipkanlah kendaraan kita padanya. Hal tersebut akan lebih aman.

Tapi bila dekat stadion ada semacam super market dengan karcis berbayar resmi, titipkan lah di sana. Bila terjadi kejadian buruk dengan kendaraan kita, dan kita memegang karcis resmi, maka akan ada konpensasi sepadan yang diberikan pengelola parkir sebagai bentuk tanggung jawabnya.

 4. Naik Kendaraan Umum Bila tak mau direpotkan dengan masalah parkir, kita bisa menggunakan kendaraan umum seperti angkot atau bis kota. Keuntungannya kita bisa langsung masuk dan kelur stadion kemudian pulang dengan nyaman saat yang lain saling mendahului mengeluarkan kendaraan mereka dari area Parkir stadion.

 5. Datang Lebih Awal Pulang Belakangan
 Kalau ingin menadapatkan spot terbaik di mana kita bisa melihat setiap sisi lapangan, maka datanglah lebih awal. Sebeum para supporter berdatangan, kita bisa memilih-milih tempat duduk lebih dulu hingga benar-benar mendapat posisi yang pas. Risikonya kita menunggu kick off lebih lama.

Adapun setelah pertandingan usai, khususnya bagi Anda yang membawa anak atau balita disarankan untuk menahan diri beberapa saat. Jangan langsung meninggalkan stadion karena di pintu keluar massa sedang berdesak-desakan. Bila keadaan sudah terlihat lebih lengang baru lah kita berkemas dan pulang.

6. Datang Berkelompok
Paling tidak bawa lah satu atau dua orang kawan ke stadion. Dengan begitu kita tak akan mati gaya selama nonton pertandingan. Selain itu lebih aman juga. Bila terjadi yang tak diinginkan kita dan kawan kita bisa saling jaga.

 7. Hal-hal umum
Belilah tiket resmi, jangan di calo. Penjualan tiket sekarang tidak hanya di stadion tapi juga di distrik-distrik supporter club, fan shop dan lain-lain. Beli tiket ke calo harganya bisa dua kali lipat.

Kemudian pakai artibut klub. Jangan sampai salah kostum khususnya bagi Anda yang datang ke stadion sebagai supporter netral. Misalnya pakai kostum Persija di kandang Persib atau pakai kostum Arema di kandang Persebaya dan sebaliknya.

Agar lebih meriah, bergabunglah dengan suppoter klub yang telah terkordinir. Mereka punya lagu dan koreografi tari yang di lakukan sama-sama. And last but not least, kick racism from foot ball. Mendukung dengan hati bukan anarki.

 Sepak bola adalah pesta besar yang paling egaliter. Siapapun bebas berpesta tanpa memandang usia, status, warna kulit, agama dan sebagainnya. Tiap orang di satukan dalam isme yang sama, semangat mendukung tim tuk meraih kemenangan. Bila semua bisa saling toleran dan menjaga, stadion bukan hanya jadi ajang tuk orang-orang berkerumun. Lebih dari itu bisa jadi area rekreasi.


YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog