20 Mei, 2012

Mengenang Jejak-Jejak Sepatu Kemenangan

Posted by Suguh Minggu, Mei 20, 2012, under | No comments



kalau bukan karena sepatu Kodachi murahan yang dipakai pada lomba lari tempo hari, mungkin tak ada hal manis yang layak buat dikenang. Kalau bukan karena sepatu sebelah kirinya yang jebol lantaran tak tahan terus-menerus mengilas lintasan atletik, tak kan mungkin saya menggapai mimpi yang tak pernah terpikir sebelumnya, jadi seorang pelari jarak jauh.
           
Waktu itu saya masih kelas satu SMA, dan untuk kali pertama musti bertanding di lintasan lari Stadion Pajajran Bandung pada kejuaraan Atletik pelajar sekota Bandung. Bersama saya terdapat atlet-atlet yang lebih berpengalaman. Mereka tampak percaya diri dengan menggunakan spike, yang merupakan sepatu khusus bagi para pelari. Sepatu jenis ini amat ringan saat dipakai dan memiliki paku paku yang berjajar rapi di bagian bawahnya. Karenanya bisa membuat hentakan kaki seorang pelari lebih kuat dan langkahnya bertambah lebar.
         
   Adapun saya, menggunakan sepatu murahan merek Kodachi. Ini lah sepatu multi fungsi, karena selain dipakai untuk olah raga, juga telah menemani saya selama satu terakhir buat ke sekolah. Warnanya putih, alasnya dari karet. Kalau karet itu menggilas lantai, maka akan mengeluarkan bunyi berdecit yang khas.
           
Lalu, wasitpun mengangkat pistol berpeluru hampa di pinggir lintasan. Kami semua bersiap. Saat pelatuk ditarik, serta merta kami mulai bersaing tuk jadi yang pertama pada lari jarak menengah 1500 meter putra tingkat SMA. Saya yang tak punya pengalaman langsung memacu kecepatan tinggi-tinggi. Seperti roket, saya melesat ke depan, meninggalkan atlet-atlet itu di belakang. Mulanya saya percaya diri dan membuat asumsi kasar, bila untuk jadi juara ternyata tak susah-susah amat.
           
Namun kejadiannya jadi anti klimaks. Lantaran setelah melewati 400 meter pertama, saya mulai kepayahan. Napas saya mulai sesak, tarikan napas jadi tak teratur. Sedang kedua kaki terasa amat berat. Perlahan kecepatan saya melambat. Sedang atlet-atlet itu sekarang mulai mendahului saya. Mula-mula jaraknya cuma satu-dua langkah, tapi kemudian main jauh saja. 
           
Saya berusaha mengejar mereka. Tapi hingga menginjak garis finish urutan saya malah melorot di bagian belakang. Saya kalah total waktu itu. Adapun saat pertandingan usai, saya melihat sepatu bagian kiri mulai koyak. Namun saya tak memedulikannya dan memaksakannya lagi tuk bertanding. Kini pada lari jarak pendek, 200 meter dan 400 meter. Hasilnya? Naas. Senaas sepatu saya yang kini benar-benar koyak. Pelindung bagian depannya terlepas amat lebar.
           
Sore itu saya pulang dengan langkah tertahan-tahan. Kalau bergerak lebih cepat saya khawatir sepatu itu akan tambah jebol. Kekalahan dalam tiga nomor berturut-turut memang menyakitkan. Sedang teman-teman satu sekolah saya berhasil mendapat medali. Tampak demikian bagus mendali-medali itu. Terang, berkilauan dan membuat pemiliknya selalu tersenyum.
          
  Setelah pertandingan, sempat terpikir untuk berhenti latihan lari. Saya merasa tak cukup berbakat tuk jadi pelari. Tapi bila mengingat sepatu Kodachi itu, saya merasa ada panggilan yang membuat saya tuk kembali ke lintasan lari. Panggilan yang datang dari alam bawah sadar, yang membuat saya merasa perlu tuk melakukan refleksi diri. Kalau saya kurang rajin berlatih, tak punya stategi dan masih minim pengalaman.
           
Akhirnya sepatu itu saya simpan di rumah. Sering saya lirik ia, untuk mengingatkan ke masa lalu bila saya telah mengamami kekalahan yang amat menyakitkan. Sekaligus melihat ke masa depan bila saya harus meraih prestasi yang lebih baik.
           
Kemudian saya kembali berlatih dengan kawan-kawan satu klub atletik di sekolah, Atletik Bumi Siliwangi namanya. Saya lebih rajin datang ke lintasan lari. Setelah lewat beberapa bulan sayapun diberi program latihan oleh pelatih atletik kami, Pak Sudjarwo Kuncoro Djati. Kini latihah jadi lebih terstruktur, sebab dilakukan  tak cuma dua-tiga kali dalam seminggu, tapi enam hari berturut-turut. Ketika satu program latihan selesai dalam satu bulan. Maka akan ada program lain yang lebih berat pada bulan berikutnya.
           
Hingga datang lah kabar dari pak Sudjarwo akan ada pertandingan atletik sekota Bandung lagi. Sayapun kembali bertanding, tentu tidak dengan sepatu lama, tapi dengan sepatu baru. Pada pertandingan itu, terbuktilah hasil latihan berat yang dilakukan selama berbulan bulan. Untuk kali pertama, saya mendapat medali perunggu pada nomor lari 1500 meter. Tak sampai di sana pada lomba-lomba lain saya mendapatkan medali  pada nomor 5000 meter, halang rintang 3000 meter, estafet 4000 meter dan sebagainnya.
           
Berlari, telah memberikan saya pencerahan bila tak ada yang tak mungkin untuk bisa di raih. Sedang kemenangan, bisa dimulai dengan modal yang sedernaha. Meski dengan sepatu murahan, bila tekun kita dapat pula meraih prestasi. Sepatu murahan itu memang penuh kenangan, sepatu kemenangan atas segala keputus-asaan, rasa frustasi dan pesimisme. Untuk kemudian menggapai keniscayaan mimpi yang paling mustahil sekalipun.





14 Mei, 2012

Antara Bisnis Online, Sarjana dan Lapangan Kerja

Posted by Suguh Senin, Mei 14, 2012, under | No comments

Lulusan perguruan tinggi menghadapi dilema. Selepas merampungkan studi, tak serta-merta mereka segera mendapat pekerjaan. Ilmu yang dipelajari tak jarang bertolak belakang pula dengan kebutuhan dunia usaha. Karenanya dalam persaingan dengan kompetitor lain yang lebih berpengalaman, mereka lebih sering terpinggirkan. Para sarjana sebagian musti gigit jari lantaran tak kunjung mendapat pekerjaan yang didambakan.

Sejatinya, seperti dikatakan aktivis mahasiswa angkatan 66 Soe Hok Gie, bidang seorang sarjana adalah mencipta sesuatu yang baru. Segala solusi musti dirumuskan agar bisa keluar dari himpitan masalah. Pada saat ini, ketika internet kian mudah diakses, bisnis online dapat dijadikan solusi alternatif. Aktifitas jual beli di dunia maya ini berpotensi menghasilkan keuntungan signifikan di dunia nyata. Pepatah asing lawas berujar, “There is a will, there is a way.” Selalu ada harapan bila para sarjana mau berusaha.

Potensi Bisnis Online
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat sekitar 600 ribu (7,6 persen) sarjana penganggur di antara 8,12 juta angkatan kerja terbuka per Februari 2011. Jumlah ini sedikit lebih baik bila dibanding dengan data pada Agustus 2010, di mana angkanya mencapai 700 ribu (8,5 persen)

Tentu hal ini merupakan bentuk otokritik bagi para sarjana. Banyaknya jumlah penganggur terdidik menurut pakar ekonomi dari National University of Singapore Profesor Aris Ananta, karena generasi muda saat ini bersikap manja dan terlalu bergantung pada orang tua dalam mencukupi kebutuhan hidup. Dengan demikian mereka merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena segalanya sudah serba terjamin. Sikap seperti ini menjadi suatu preseden buruk. Lantaran yang lahir kelak adalah pribadi pribadi yang lembek, labil dan apatis.

Karena itu para sarjana tak bisa terus menerus berpangku sebelah tangan. Perubahan musti dirumuskan jika menghendaki perubahan. Bila para sarjana jeli, bisnis online dapat menjadi solusi. Pengusaha James T Riady menandaskan, “Pada dasarnya semua orang bisa menjadi pengusaha online, dengan berbagai kreativitas produk yang mereka miliki maka usaha online ini akan jauh lebih menguntungkan."

Apa yang dipaparkan James tentu bukan tanpa Alasan. Seperti yang dimuat dalam Deloitte Access Economics: The Connected Archipelago: The Role of the Internet in Indonesia's Economic Development pada 2011, UKM yang memanfaatkan internet dapat berkembang dan meningkatkan ekspor produk dua kali lipat lebih besar bila dibanding UKM yang melakukan promosi secara konvensional. Hasil penelitian menunjukan sebuah perusahaan dapat meningkatkan produktivitasnya setelah menggunakan internet. Reno Andam Suri telah membuktikannya. Pemilik usaha Rendang Uni Farah ini mengatatakan, “Semenjak go online, usaha saya meningkat, baik dalam jumlah pesanan maupun pendapatan, baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Saya juga bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak."

Terdapat beragam keuntungan dalam menjalankan binis secara online. Yang pertama karena jumlah investasi yang relatif kecil bila di banding bisnis kovensional. Seseorang hanya berinvestasi untuk barang yang akan di jual saja tanpa perlu memikirkan tempat. Internet menyediakan ruang yang amat luas untuk menggantikan toko dalam bentuk fisik. Website atau blog adalah toko toko maya yang potensial untuk memasarkan produk.

Kedua, sarana pendukung yang low cost (biaya rendah). Seseorang sudah dapat melakukan bisnis online hanya dengan bermodal komputer, laptop atau notebook yang dilengkapi dengan jaringan internet. Sedang biaya untuk berlangganan internet sendiri terbilang murah saat ini. Hanya dengan bermodal Rp 100 Ribu per bulan, kita sudah bisa mendapat layanan internet yang baik.

Ketiga, terdapat pangsa pasar yang luas. Ketika produk sudah dipasarkan melalui internet maka akan diketahui bukan hanya mereka yang ada di indonesia tapi juga dunia. Adapun yang keempat adalah sifatnya yang fleksibel. Karena bisnis semacam ini dapat dijalankan kapan dan dimana saja.

Sarjana VS Anak anak
Kegagalan lebih sering terjadi bukan karena seseorang tak memiliki potensi namun karena terlalu banyak alasan. Sedang sukses adalah momentum ketika ikhtiar dan modal diperjuangkan hingga limit yang maksimal.

Sarjana sudah memiliki cukup modal dalam hal penguasaan teknologi internet. Data Mark Plus Sight menyebutkan Pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang.  Dimana 50-80 persen penggunanya ialah kaum muda, yang juga termasuk para sarjana.

Bila ada kemauan binis online sudah dapat dimulai tanpa lagi musti menunda waktu. Penguasaan internet seperti berinteraksi melalui jejaring media sosial seperti facebook, twitter atau blog untuk membuat toko online dapat dilakukan secara otodidak. Kalaupun toh sarjana masih merasa kebingungan, terutama dalam hal hal yang lebih spesifik seperti membuat toko online melalui blog, mereka dapat membeli buku atau mengikuti pendidikan singkat cara membuat blog yang dilaksanakan oleh lembaga lembaga pendidikan baik formal maupun non formal.

Masalah lain yang muncul adalah produk apa yang akan dipasarkan. Dalam hal ini sarjana jangan kalah trengginas oleh para pebisnis online yang berusia lebih muda. Di Inggris seorang anak delapan tahun bernama Harli Jordean sukses menjalankan binis online dengan website marbleking.co.uk-nya. Jenis barang yang dijual Harli di dunia maya terbilang unik, yakni kelereng.

Mulanya ia berjualan kelereng di taman bermain. Namun karena kerap direbut oleh anak anak yang lebih besar ia meminta ibunya membelikan kelereng kembali melalui internet. Sayang, benda yang dicari Harli amat jarang ditemukan di dunia maya. Dari sana ide bisnisnya muncul.

 Ia meminta izin pada sang ibu untuk memulai usaha sendiri dengan mendirikan perusahaan Marble King. Ia mewakili anak anak dari seluruh dunia untuk mendapatkan kelereng via internet. Harli menjual kelereng biasa hingga Duke of York, kelereng langka dengan bandrol dengan harga sekitar Rp 8,5 juta. Ibu dan kakaknya membantu Harli karena kini musti melayani pesanan dari negara negara lain termasuk Amerika. Keuntungan bisnis onlinenya telah mencapai puluhan juta per tahun. Harli berujar, "Mimpi saya adalah memiliki jaringan toko seperti Hamleys. Itu akan menjadi salah satu toko mainan terbesar di dunia tetapi (hanya) menjual segala jenis kelereng."

Adapun di Indonesia, para Sarjana bisa belajar dari Arief Rizky Ramadhan pengelola website ariefrizky.com. Siapa sangka siswa SMP yang satu ini amat tenar di kaskus. Pada website itu Arief membuka lapak (istilah jual beli) dengan menawarkan desain baju kaskus yang bekerja sama dengan keluarganya. Selain itu karena kegemarannya bermain game di warnet membuat jangkauan insting bisnisnya makin luas. Iapun berjualan voucer game. Arief yang bercita cita tampil di acara kick Andy dengan topik “Pebisnis Online Cilik yang Sukses” ini, tak lagi meminta uang jajan dari orang tuanya sekaligus dapat mengatasi kebutuhan sekolahnya secara mandiri.

Dari dua contoh di atas, para sarjana hendaknya dapat belajar. Bila keuntungan dapat diraih dengan melakukan hal hal yang  amat sederhana. Sarjana dapat memanfaatkan segala potensi yang dimiliki. Bisnis dapat berhubungan dengan ilmu yang dipelajari. Sarjana jurusan jurnalistik misalnya, dapat membuka jasa content writer untuk perusahaan atau media online. Sarjana jurusan pariwisata dapat membuka toko online yang menangani urusan tiket pejalanan dalam dan luar negeri, jasa guiding atau paket tour. Sarjana jurusan desain grafis dapat membuka toko online yang melayani jasa pembuatan web site, segala jenis desain mulai cover buku, kartu nama hingga kaos.

Kalaupun toh tak berhubungan dengan jurusan dapat binis pula berhubungan dengan hobi. Misalnya memasarkan busana korean style yang sedang digandrungi remaja saat ini seperti dilakukan bajukorea.com. Atau menjual figur miniatur super hero seperti yang dilakukan indotoy.blogspot.com.

Memulai bisnis online bagi para sarjana dapat menjadi alternatif saat peluang kerja belum diraih. Kesuksesan bukan tak mungkin berawal dari aktifitas jual beli via internet ini. Harli dan Arief telah dapat menjadi inspirasi. Dengan begitu beban moral yang selama ini menindih pundak mereka dapat diganti dengan pencapaian prestasi bisnis yang inspiratif.


Sumber Pustaka
  •  http://health.kompas.com/read/2011/05/28/03021893/Jejaring.Sosial.Menarik.
  • http://www.belajaraffiliasi.com/bisnis-online-ala-anak-smp/
  • http://www.indowebster.web.id/showthread.phpt=204117&s=8b3c1fc3543e467da49e76b518d69e19
  • http://tekno.kompas.com/read/2011/10/28/16534635/Naik.13.Juta..Pengguna.Internet.Indonesia.55.Juta.Orang
  • http://female.kompas.com/read/2011l/11/01/16170771/Bisnis.Online.Modal.Minimal.Keuntungan.Maksimal
  • http://female.kompas.com/read/2012/01/12/14520378/Keuntungan.Menjadi.Pebisnis.Online
  • http://kampus.okezone.com/read/2011/12/07/95/539203/sarjana-pengangguran-mengapa#

07 Mei, 2012

Menulis: Antara Kultur dan Persepsi

Posted by Suguh Senin, Mei 07, 2012, under | No comments

Dalam buku A Complate Guide For Writerpreneurship karya kang Arul, saya menemukan tips tips menulis yang inspiratif. Dari sekian lembar yang sudah dibaca, hal yang paling berkesan diantaranya adalah soal membangun kultur dan pesepsi. Inilah dua hal mendasar yang membuat aktifitas kreatif menulis bukan sekadar hobi, tapi lebih dari itu dapat pula menjadi pijakan awal untuk meniti karir menjadi seorang writerpreneur.


Kultur (Calon) Penulis
Seorang (calon) penulis hendaknya membangun kultur para penulis profesional yaitu membaca dan menulis. Keduanya hendaklah dilakukan secara konsisten. Adapun soal konsistensi menulis, saya jadi ingat dengan apa yang pernah disampaikan pakar menulis Dana Gordon. Dana bilang siapkan sebuah buku tulis lalu tulislah apa saja tiap hari sebanyak mungkin. Ini bukan soal kualitas tapi kuantitas. Menulis banyak membuat kita tak canggung lagi untuk menuangankan ide di atas kertas atau dalam laptop. Ketika punya tema untuk ditulis maka kita akan menulisnya dengan lancar. Paling tidak kita musti meluangkan satu atau dua jam untuk menulis dan membaca setiap hari.

 Hal lain soal banyak menulis adalah dapat mengasah kemampuan. Skill ada proses ‘evolusi’ yang terus diasah menuju grade yang lebih tinggi. Seperti pisau, latihan menulis akan membuat karya jadi tajam, berkaraker dan bernyawa. Bila tak pernah di asah apalagi dipakai, tulisan jadi tumpul adanya. Practice make perfect ujar pepatah asing lawas.

Kemudian soal membaca, Stephen King berkata, “Writing is the creative center of a writer’s life.” Saya jadi ingat juga dengan apa yang dikatakan Politisi Budiman sudjatmiko. Menurut Budiman, membaca bukan hanya behubungan dengan buku, tapi juga lingkungan. Membaca lingkungan berarti turun langsung ke tengah masyarakat. Lantas berbaur, merasakan dan merumuskan konsepsi atas persoalan persoalan yang tumbuh di tengah tenganya. Seperti Andrea hirata yang melakukan riset di Belitong selama berbulan bulan sebelum menulis novel Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas. Seperti Langit Kresna Hariadi yang datang langsung ke tempat tempat bersejarah waktu menulis novel Gajah Mada.

 Tentu baca buku sama pentingnya. Karena kita bisa belajar dari tulisan orang lain bagaimana mereka mengungkapkan ide, mengatur irama dan karakter karya masing masing penulis itu sendiri. Biasanya penggemar akan mengikuti gaya idolanya. Penggemar Anderea Hirata bisa jadi tertantang untuk menulis karya karya bermuatan motivasi dan harapan. Penggemar Helvy Tiana Rossa bisa jadi tertantang untuk menuls cerpen atau puisi bertema pembelaan pada bangsa bangsa terjajah sepeti Palestina. Namun lembat laun tentu kita musti punya karakter kita sendiri. Dan karakter tulisan yang sifatnya amat personal baru didapat dengan latihan yang terus menerus.



Persepsi
Masih dari buku Writerpreneurship, saya belajar juga soal presepsi seorang (calon) penulis. Hal ini lah yang membedakan antara penulis profesional dan mereka yang menjadikan menulis sekedar mengisi waktu belaka. Mereka yang menganggap menulis sekadar untuk mengisi waktu, tidak punya deadline. Proses kreatif baru dilakukan setelah aktfitas utama selesai dilakukan, seperti bekerja, mengurus anak, kuliah dan sebagainnya. Tak ada keseriusan untuk mengolah tulisan secara matang hingga menjadikannya tak layak untuk dipublikasikan secara komersil.

 Namun mereka yang profesional menganggap menulis adalah pekerjaan. Karena mereka bekerja maka hasil terbaiklah yang musti diberikan pada pembaca. Oleh sebab itu mereka melakukan riset dengan matang, banyak membaca bahan baik dari buku, koran atau media online. Naskah diolah dengan tidak terburu buru karena yang hendak dicapai bukan hanya kuantitas tapi juga kualitas. Target harus dipenuhi tepat pada waktunya, deadline tak bisa ditunda tunda dan ditawar lagi.

 Para profesional adalah mereka yang sukses mengenyahkan macam amacam alasan seperti tidak mood lah, banyak pekerjaan lah, capek lah, sedang mengalami writing block lah. Lantas menggantinya dengan karya terbaik yang sebelumnya telah dikristalkan melalui proses riset yang baik. Selain itu mereka kapabel disegala bidang. Artinya baik tulisan fiksi ataupun ilmiah dapat dikuasai. Dengan begitu kesempatan berkarya menjadi lebih terbuka.

 Saya memang harus banyak baca buku tips nulis. Kalau saya sendiri sih selama ini belajar nulis dari proses learning by doing. Berjalan begitu saja. Berprosesnya cuma dari jalur coba dan gagal. Kalau gagal ya coba lagi, kalau gagal lagi ya coba lagi, begitu terus. Kadang nyerah, kadang bisa bertahan. Buku seperti witerpreneur banyak membantu, karena saya masih harus terus belajar.

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi

SHARE