12 November, 2014

Ode Untuk Selenia

Posted by Suguh Rabu, November 12, 2014, under | 2 comments


 Bahkan kawanan burung nightangel terus bernyanyi, Selenia
Waktu mereka meninggalkan celah-celah lubang angin
katedral Norte Dame yang masai dibekukan salju
menuju timur, menuju mentari nan semburat semanis madu
tapi kau,
kau begitu saja berhenti memainkan Mon amant de saint Jean
dirimu dan akordeonmu menguap di penggala langit Paris
meninggalkanku terkapar sendiri digerogoti musim dingin

Bahkan Joan D’arc masih bisa tersenyum, Selenia
Waktu hulubalang hendak membakarnya hidup-hidup.
Semerbaklah wangi abu La Pucelle dari Rouen hingga Domremy
Tersibaklah air mata rakyat Prancis yang berduka
Lalu ia membawanya terbang ke penghujung cakrawala ,tuk djadikan bunga-bunga
Tapi kau,
Kau adalah anak panah cupid yang melesat ke jantung Narcisus
Tak berbalas, tak terjawab, hanya menjadi kecipak dan lenyap di telaga

Jika cinta adalah laju
Maka kembalilah ke belakang
Kayuh sauhmu belum terlalu jauh meninggalkan dermaga
Mari tambatkan lagi rantai jangkarmu di lubuk hatiku

Jika cinta adalah waktu
Maka mundurkanlah kembali putaran jarumnya
Belum tiba masa bagimu tuk berhenti
Mari kita bergandengan tangan lagi mengejar mimpi-mimpi

Di puncak Eiffel, di tepi sungai Siene
Di sendu jalanan L’Avenue des Champs-Elysees
Sama samar masih dapat aku dengar derak suara sepedamu
Perlahan mendekat
Senyummu turut hambur umpama bunga lantana,
“Mon mignon,” katamu sembari tersipu
Aku terperanjat lalu yang kudapati hanya debu-debu

Di Jantung Paris, pada kemarin aku menunggu
Kembalilah, wahai pedang dan tamengku
Hanya jika bersamamu, aku berani menyambut esok


Nb
Mon Mignon: Manisku (bahasa Prancis)


03 November, 2014

Memaknai Kontemplasi Prestatif

Posted by Suguh Senin, November 03, 2014, under | 1 comment

Memulai apa yang telah lama ditinggalkan dari awal lagi adalah tantangan. Melangkah lagi setelah lama duduk beristirahat adalah keharusan. Bukan, bukan di sini kawan statsiun pemberhentianmu yang terakhir.

Jeda adalah untuk menghela napas. Kau bukan mesin yang tanpa pikir dan rasa terus berderak dalam pabrik. Kau bukan kincir angin yang terus berputar sepanjang musim semi. Rehat adalah suatu kewajaran, umpama pergantian siang dan malam. Batrei saja perlu dichage apalagi tenaga dan pikiran manusia.

Berkontemplasi adalah rehat kita. Bukan melamun, bukan pula membuang-buang waktu dalam kemalasan di atas tempat tidur. Berkontemplasi adalah bertafakur seperti Rasululloh dengan cara mengasingkan diri di Gua Hira. Atau seperti Pramoedaya Ananta Toer yang menulis buku dalam pembungangan politik di pulau Buru. Oleh sebab itu yang didapat tak sekadar kesia-siaan. Tapi juga hikmah.

karenanya tenaga kembali prima. Pikiran kembali jernih. Semangat kembali menggelora. Rasul memperoleh risalah kenabian setelahnya. Pram merampungkan novel Bumi manusia.
Bekontemplasi adalah untuk mengevaluasi apa yang kurang, merumuskan apa yang hendak dicapai, lalu bergerak penuh antusiame.

Karena bergerak tanpa evaluasi adalah suatu kecerobohan. Bermimpi tanpa rencana adalah angan-angan. Keduanya musti dilakukan bersamaan. Segala terkonsep dan terstruktur. Tak ada yang dapat meramalkan masa depan. Tapi paling tidak dengannya kau bisa memiliki arahan.

Kalau diammu saja prestasi, apalagi bergerakmu. Berkontemplasi berarti melakukan percepatan. Mundur beberapa langkah untuk melesat pada langkah-langkah yang lebih jauh. Maka biarkan badan dan jiwamu rehat.

Tapi jangan sampai terlena. berapa banyak pendaki gunung yang urung sampai ke puncak padahal hanya beberapa depa lagi. Bepa banyak para pelari yang urung menyentuh garis finish padahal tinggal beberapa langkah lagi. Terlalu lama beristirahat juga tak sehat. Umpama minum sirup, nikmat kalau hanya segelas. Tapi kalau bergelas-gelas bisa membuat sariawan.

Rehatmu bukan zona nyamanmu. Sekali lagi jangan terlena. segara bangkit dan rebut lagi mimpi-mimpimu, kawan.

22 Oktober, 2014

Dalam Bahasa Kami

Posted by Suguh Rabu, Oktober 22, 2014, under | 1 comment


Bicaralah pada kami dengan bahasa tanah
Ibu kandung dari segala rupa yang bernyawa
Di dasarnya kami dididik tuk menjadi rendah hati

Bicaralah pada kami dengan bahasa awan
Gelayut sendu melaju berarak arak
Di atasnya kami diajari makin sabar dan mawas diri

Bicaralah pada kami dengan bahasa langit
Melintang pandang tanpa sekat dan batas
Di antaranya kami digurui tuk selalu bermimpi

Bicaralah pada kami dengan bahasa matahari
sembur lidah api menjilat jilat
Di hadapannya kami dilatih tuk meradang, melawan, berani

30 Juni, 2014

Today Joyful

Posted by Suguh Senin, Juni 30, 2014, under | 4 comments


Who can see tomorrow?
Oh boat sail without winds
Oh poor fisherman without paddle
your wisful fly with the seagulls
and never return to the dock

Who can guess somebody hearts wishper
Oh soul who always ask about love
Oh body those shaking couse of longing
Your hope was burried on a grave
and never rise till end of day

Only for today you must belive
light of hearth turn and spirit life
Tomorrow just Tomorrow
Today is joyful wasted your sorrow


15 Juni, 2014

Asa Penulis Pemula di Jagat Maya

Posted by Suguh Minggu, Juni 15, 2014, under | 1 comment

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Para penulis pemula nyatanya masih tersisih dari kancah industri penerbitan. Tanpa pengalaman dan nama besar, mereka musti bersaing dengan para penulis yang jauh lebih berpengalaman. Naskah yang telah kirim tak jarang pula musti dikembalikan dengan beragam alasan, seperti tak memenuhi standar, tak memiliki prospek pasar, momen yang tidak pas, dan sebagainnya. Karena itu tak mengherenkan bila pada akhirnya banyak penulis pemula yang putus asa. Mereka tak lagi produktif menghasilkan karya.

Pepatah asing lawas berdedah, “there is a will, there is a way.” Selalu ada kesempatan jika mau berusaha. Peluang belum sepenuhnya tertutup. Ketika media mainstream dirasa belum cukup bersahabat pada karya para penulis pemula, internet justu membuka ruang seluas luasnya untuk berekspresi. Lebih jauh, bukan tak mungkin karya karya yang sebelumnya dipublikasikan di dunia maya dapat eksis pula di dunia nyata.

Internet dan Potensinya
Beradarkan riset sindikasi MarkPlus Insight pada 2011 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang. Jumlahnya meningkat signifikan bila dibanding tahun sebelumnya yang berada pada kisaran angka 42 juta. Dalam hal pemanfaatan jejaring media sosial, angkanya pun dapat dibilang menggembirakan. Di Indonesia kini, terdapat 35 juta pengguna facebook, hal ini menjadikan Indonesia berada di urutan ke dua sebagai negara pengguna facebook terbanyak di dunia.

Sedang hingga Mei 2011 Indonesia menjadi negara ketiga setelah Amerika dan Brazil sebagai pengguna twitter teraktif dengan menghasilkan 95 juta tweet. Adapun hingga Januari 2011 terdapat 4,131,861 blog. Dari angka tersebut, 80,65 persen atau 3,3 juta blog menggunakan domain Blogspot,14,5 persen atau 599 ribu menggunakan domain Wordpress, dan sisanya, 4,85 persen atau 200 ribu menggunakan domain blog lain.

Berangkat dari data di atas, terdapat peluang yang amat potensial bagi para penulis pemula untuk meniti karir menulis. Mulai membiasakan menulis di internet nyatanya memiliki manfaat yang bersifat multi dimensi. Keuntungan keuntungan tersebut diantaranya,


1. Meningkatkan Kemampuan Menulis
Mulai menulis di blog atau note facebook dapat mengupgrade skill. Seperti dikatakan Sean Connery saat berperan sebagai penulis pemenang Pulitzer Award di film Finding Forrester, “The key to writing is writing.” (kunci menulis adalah menulis). Praktik langsung adalah sebaik baik latihan setelah menderas segala macam teori.

Adapun setelahnya adalah menjaga konsistensi. Para penulis pemula hendaknya kontiniu melakukan posting tulisan. karena latihan yang terus menerus dapat membuat kemampuan jadi lebih sempurna. Tidak perlu bingung memikirkan apa yang akan ditulis dalam blog. Segalanya dapat dimulai dengan hal hal sederhana. Seperti dikatakan Novelis JK Rowling, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”.

2. Publikasi Tanpa Batas
Internet dapat merentas sekat teritori. Tulisan yang dipublikasikan di dunia maya dapat diakses oleh siapapun di tempat yang terpisah sangat jauh. Penulis pemula dapat memperkenalkan tulisan mereka pada pembaca yang tak terbatas jumlahnya. Karena itu tak heran bila kemudian muncul grup grup menulis online. Beberapa diantaranya adalah Komunitas Penulis Muda Indonesia, UNSA (Untuk Sahabat), Ayo Menulis, Klub Menulis, Komunitas Penulis atau Penulis Pemula.

Tujuannya tak lain adalah untuk menjalin komunikasi antar para netters yang memiliki hobi serupa. Saling memberi komentar atas karya yang dipublikasikan menjadi hal yang jamak. Trend positif ini membuat para penulis saling menyemangati untuk terus berkarya.

3. Belajar dari Penulis Berpengalaman
Dengan berselanjar di jagad maya, penulis pemula dapat belajar dari penulis penulis yang lebih berpengalaman. Bagi mereka yang tertarik untuk menulis tema sosial politik dapat langsung membaca tulisan tulisan wartawan senior Budhiarto Shambazy, bagi mereka yang tertarik menulis tutorial internet dapat belajar dari Constantin Potorac, atau bagi mereka yang tertarik untuk menulis tentang desain dapat membaca artikel artikel di smashingmagazine dan webdesigndeport.

Belajar tentu bukan menjiplak. Hal paling esensial adalah dapat mengail inspirasi. Lantas penulis pemula dapat berkembang dengan corak tulisannya sendiri di masa yang akan datang.

4. Menyusun Buku Jadi Lebih Mudah
Pendapat ini disampaikan oleh praktisi multimedia Onno W Purbo. Onno menandaskan menulis buku akan jadi sangat mudah jika memiliki catatan catatan pendek tentang berbagai hal. Karena pada dasarnya adalah tulisan panjang yang di rangkum dari tulisan tulisan pendek.

Para blogger memiliki keuntungan dalam hal ini. Dengan konsisten memposting tulisan di blog baik personal atau komunitas secara tidak langsung telah menjadi modal besar dalam menyusun sebuah karya buku. Terlebih bila tulisan tulisan tersebut bersifat tematik seperti pengembangan diri, aneka kuliner atau turorial dengan berbagai macam dimensi ilmu pengetahuan.

Mederas Eksistensi di Dunia Nyata
“No pain no gain,” ujar pepatah asing lawas. Kesuksesan terang tak bisa diraih dengan cara instan. Keuntungan jangka panjang hanya bisa didapat bila disertai dengan kerja keras dan konstensi. Menggapai asa untuk menjadi penulis mapan bukan lagi hanya sebatas asa bagi para penulis pemula. Istilah blook barangkali belum terlalu familiar. Secara sederhana blook merupakan blog yang dibukukan. Mulanya pada 2002 Tony Pierce berinisiatif untuk menghimpun postingan di blognya untuk menjadi sebuah buku, yang kemudian diberi judul ‘Blook’

Fenomena ini tampak pula di tanah air. Penulis muda Raditnya Dika bisa dikatakan sebagai pelopor dengan buku Kambing Jantannya. Atau ada pula Jurnalis Wicaksono alias Ndoro Kakung. Berkat kegemarannya ngeblog lantas ia mengupas segala hal tentang blog seperti seperti cara memulai blog, trik membuat tampilan blog agar jadi lebih menarik, sampai cara menyiasati ‘penyakit’ yang terdapat dalam blog. Tulisan tulisan tersebut mulanya di muat di koran Tempo. Lantas dalam perkembangnnya diterbitkan pula dalam bentuk buku dengan judul ‘Nge-blog dengan Hati’.

Belakangan trend ini juga merambah jejaring sosial lain. Grup anjing gombal di twitter misalnya, berhasil merilis buku berkat tweet gombal para anggotanya. Buku tersebut diberi judul ‘Anjing Gombal Aku Padamu’. Atau penulis kawakan Asma Nadia yang menyusun buku dari tweetnya dengan judul ‘twitografi’.

Ketika peluang sudah terbuka, tinggal pintar pintar para penulis pemula untuk meraihnya. Bila tulisan di internet diibaratkan sebagai produk. Maka pembaca adalah konsumen. Cara terbaik agar tulisan mendapat perhatian adalah memasarkannya. Blogwalking menjadi suatu keharusan karena dengan demikian para penulis telah menjadi marketer atas tulisan mereka.

Bukan tak mungkin terdapat penerbit yang tertarik untuk menerbitkan konten sebuah blog. Hal tersebut ditakar dari kualitas tulisan, Jumlah pengunjung dan tanggapan di blog tersebut. Ramainya trafick blog merupakan potensi yang dapat dibilang seksi bagi penerbit. Cara lain yang bisa di tempuh adalah menawarkan naskah langsung ke penerbit. Naskah yang tematis, unik, punya potensi pasar dan bisa memberi pencerahan menjadi alasan naskah tersebut layak untuk diterima atau ditolak.

Internet merupakan jembatan bagi para penulis pemula dalam meniti karir kepenulisan. Karya yang dipublikasikan di dunia maya bila digarap dengan serius dapat pula mendapat tempat di dunia nyata. Tinggal kemudian, masalahnya kembali pada para penulis pemula. Apakah mereka punya itikat untuk menggapai asa atau sekadar ingin have fun saja. Bila potensi internet bisa dimanfaatkan secara optimal, maka hal tersebut dapat memberi pengaruh positif pada karir menulis mereka. Namun bila sekadar ingin have fun, tentu tak ada nilai tambah yang bisa diraih.

Sumber Pustaka

  • http://the-marketeers.com/archives/survey-markplus-insight-majalah-marketeers-pengguna-internet-di-indonesia-55-juta-pengguna-mobile-internet-29-juta.html
  •  http://www.untukku.com/artikel-untukku/blook-jalan-pintas-blogger-jadi-penulis-buku-terkenal-untukku.html
  •  http://blog.tempointeraktif.com/digital/berharap-pada-virus-pak-blogger/#more-750
  •   http://www.tokovirtual.com/news/12/Indonesia-Pengguna-Facebook-No-2-terbesar-di-Dunia
  •  http://www.jagatreview.com/2011/06/indonesia-mengalahkan-inggris-dari-segi-jumlah-pengguna-facebook/
  •  http://pelitaku.sabda.org/pemanfaatan_media_internet_untuk_menulis
  •  http://www.diptara.com/2011/01/inilah-3-keuntungan-yang-akan-anda.html
  •  http://sibukforever.blogspot.com/2011/02/jumlah-blog-di-indonesia-capai-4-juta.html
  •  http://alymerenung.wordpress.com/2009/11/11/kata-kata-bijak-tentang-menulis/
  •  http://www.goodreads.com/author/quotes/101823.Pramoedya_Ananta_Toer
  •  http://alixwijaya.com/2010/membentuk-klub-komunitas-menulis-online-menjaring-kemampuan-para-penulis-di-internet.html#ixzz1kzGTp6cN


29 Mei, 2014

Jelajah Papandayan: Bertanya Verbal Lebih Canggih dari GPS

Posted by Suguh Kamis, Mei 29, 2014, under | 2 comments


Tak ada ganjaran yang gratis. Tak ada apresiasi tanpa perjuangan. Gunung Papandayan adalah manifetasi bila rasa puas musti diraih dengan cara berpayah-payah. Sedang persaudaraan berada di atas segalanya. Dengan saling mendukung dan membantu kita bisa mencapai apa-apa yang hendak kita capai.

Saya bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat ke kosan Dhiora.  Barang-barang sudah saya packing sehari sebelumnya. Baru berangkat jam 9:30  menuju garut dengan menggunakan motor.

Sampai sekitar jam 14:00.di lokasi, kami musti melewati perjalanan panjang. Dari jalan raya menuju gerbang, musti nanjak lagi sepanjang 10 km. jalan yang rusak parah membuat saya harus turun beberapa kali dari motor. Bila ditotal waktu tempuh Banung Garut 3-3,5 Jam.

Suasana sekitar Camp David
Ratusan Pendaki Turun Gunung 
Suasana ramai sekali saat kami sampai di gerbang depan. Musim hujan tak menyurutkan para pendaki yang
sedang berliburan panjang. Saat itu momennya bersamaan dengan tanggal merah hari Jumat dan libur akhir pekan Sabtu-Minggu. Beruntung bagi kami, saat mereka pulang pada hari minggu, justru kami baru datang. Dengan begitu keadaan Papandayan sudah sepi. Menurut menjapa pos jumlah pendaki yang datang  sebanyak 2000an orang.

Di sambut hujan, kami menaiki punggungan gunung berbatu. kembali kami lihat sepanjang perjalanan para pendaki turun beriringan dari arah atas. Mereka tak habis-habis,  banyak sekali. Suasana awal Papandayan sendiri berupa jalur menanjak dengan batuan sepanjang jalan. Di sini kita bisa melihat kawah yang menyemburkan asap. Sungai bercampur belerang mengalir di pinggiran tebing. berdasarkan informasi, Papandayan pada 1772 mengalami letusan besar yang menyebabkan 3000 orang tewas.

Menurut penjaga di pos, ada longsor di tengah jalan. Karena itu kami harus mengambil jalan memutar ke arah bawah yang berupa jalan tanah setapak. Ada sungai kecil yang musti dilintasi untuk kemudian memasuki jalan lebar berbatu yang mengatar ke arah Pondok Salada. Saat di jalan berbatu itu, dari kejauhan tampak asap belerang membumbung dari kawah. kembali para pendaki yang turun kami temui di sini.


Pondok Salada adalah spot camping yang digunakan para pendaki. Areanya berupa lapangan dengan pohon pohon berdiri di sekelilingnya. Waktu sampai hanya ada satu tenda. Karena tidak tahu, dari Pondok Salada kami lanjut, maksudnya hendak menuju Tegal Alun, tempat bunga-bunga edelwise tumbuh. Padahal saat itu hari sudah magrib dan hujan turun makin deras.Kami memasuki kawasan hutan. kemudian mengambil jalur menanjak. Makin tinggi naik, makin berat medannya. Melihat waktu hari yang sudah terlalu gelap, kami memutuskan kembali ke Pondok Salada.

Kalau Tidak Tahu, Tanya
Suasana Pondok Salada
Hujan terus turun di Pondok Salada. Otomatis kami lebih banyak menghabiskan waktu dalam tenda. Suasana lapangan di kelilingi kabut, pada saat-saat tertentu jarak pandang jadi sangat pendek. Ada kejadian aneh waktu kami beristirahat. Saya medengar suara kucing mengelilingi tenda. Entah datang dari mana kucing itu. Suarannya menggeram-geram. kadang muncul kadang hilang. Padahal pemukiman warga amat jauh.

Sedang Dhiora bilang, ada orang-orang ngobrol di tengah Pondok Salada. Kami kira itu pendaki yang tendanya kira-kira terpisah sejauh 100an meter dari tenda kami. besoknya para pendaki itu justru menyangka jika kami lah yang ribut semalam.

Tak ada yang bisa memperdiski kehendak alam. Menjelang subuh cuaca membaik. Langit cerah tanpa awan dan bintang-bintang terlihat bertaburan. Pemandangan indah sekali. Melihat langit yang luas di lapangan terbuka.

Tapi Api unggun yang di buat sia sia. Menyala hanya sebentar karena kayunya basah. Sekitar jam 6:00 kami berkemas. Kami juga berkenalan dengan rombongan pendaki yang juga bermalam di Pondok Sadalan. Jumlahnya 6 atau 7 orang. Saya lupa-lupa ingat. yang pasti satu dianatara mereka adalah perempuan. Bila meliah dari syalnya mereka dari UNJ. katanya sih semua sudah lulus. semacam kawan lama yang bertemu kembali sekadar buat camping.

Bersama rombongan ini pula kami diberi tahu jalan menuju Tegal Alun. Jalurnya ternyata tidak menanjak ke arah tebing.  Tapi melingkat ke arah kiri menuju hutan mati. Hutan mati adalah tempai di mana pohon-pohon kering berwarna kehitaman berdiri. Tak ada daun, tak ada kehidupan karena sudah mati lantaran erupsi.
Hutan Mati
Perjalanan berlanjut memasuki area hutan rimbun. Jalurnya berkelok-kelok dan menanjak. Tanjakan yang paling curam adalah Tanjakan Mamang. Musti berpayah-payah saat menapakinya. Beban bagi kami tambah berat, lantaran musti menggendong ransel.

Tapi semua rasa lelah terbayar waktu sampai di area Tegal Alun. Sepanjang mata memandang terlihat bunga-bunga edelwise, mirip di film Gie. Indah sekali. Tegal Alun adalah pencapaian tertinggi kami di Papandayan. Besama kelompok UNJ kami banyak berpoto sama-sama di sini.
 
Area Tegal Aun

Waktu pulang kami berpisah dengan rombongan UNJ di hutan. mati. Mereka kembali ke tenda, kami mangambil arah ke hutan mati pada sisi yang lain, untuk kemudian langsung tembus ke kawah. kami tahu jalur ini pun dari mereka.

Tapi mengituki jalur pulang memasuki hutan mati tak semudah yang dibayangkan. Bekas langkah kaki yang tak jelas membuat kami untuk beberapa saat berputar-putar di area itu. Setelah mencari agak lama barulah kami menemukan jalur turun melalui tebing. adapun tebing itu sangat tinggi dan terjal. Harus sangat berhati-hati waktu melewatinya. terbayang seandainnya terpeleset bisa tewas salah satu dari kami ke dasar jurang.

Jalan menurun membuat kaki pegal. Pada bagian-bagian tertentu kami musti turun dengan cara meluncur. artinya pantat harus menggilas pasir kering. sampai di ujung jalur. terdapat sebuah plang yang membelakangi kami. setelah dicari tahu, palng itu bertuliskan Tanda bahaya. Rupanya kami mengambil jalur pulang yang keliru.

Gunung Papandayan memberi saya secara pribadi pelajaran. Soal bertanya. Kalau tidak bertanya pada kelompk lain mungkin kami sudah tersesat. Bertanya secara verbal  menurut saya lebih canggih dibanding menggunakan bantuan GPS. Efektif, efisien, jelas. Bandung sampai Papandayan kami lebih banyak bertanya langsung ke warga setempat agar tak tersesat. Menuju lokasi camping kami juga bertanya.

25 Maret, 2014

Puncak Mega, Menguak Esensi Mendaki Gunung

Posted by Suguh Selasa, Maret 25, 2014, under | 4 comments

Tanpa memaksakan diri kita tak kan pernah mengetahui titik tertinggi capaian prestasi kita. Tanpa berikhtiar sungguh-sunggguh impian cuma jadi retorika, omong kosong. Butuh real action untuk merubah angan-angan yang gentayangan di atas kelapa agar menjadi nyata. "Tanpa berani menanggung risiko, Anda tak akan pernah menang," ujar Richard Nixon. Dalam hal ini gunung jadi guru bijak untuk menjawab keraguan-keraguan dalam diri kita. Ia menggantinya dengan hikmah.

Puntang selama ini sekadar jadi utopia buat saya. Saya hanya melihat puncaknya dari arah reruntuhan bangunan Belanda, kolam cinta atau sungai Cigeureh. Namun pada 16 Maret 2014, setelah berpayah-payah mendaki, akhirnya dapat juga menjejakan kaki di titik tertingginya.

Gunung Puntang sendiri terletak di kawasan Bandung Selatan, tepatnya di desa Cimaung, Banjaran. butuh waktu 2,5 sampai 3 jam untuk mencapainya dari arah Bandung. Area Puntang merupakan objek wisata alam di mana pengunjung bisa menikmati sejuk dan indahnya suasana sekitar gunung Puntang. Di sini terdapat sejumlah objek wisata seperti curug Siliwangi, sungai Cigeureh, dan penangkaran owa jawa. Selain itu ada pula rerutuhan bangunan statsiun radio dan gua yang merupakan peninggalan Belanda.

Bangunan Belanda. Diambil setahun lalu

Gua Belanda. Diambil setahun lalu

Sungai Cigeuruh. Diambil setahun lalu


Fasilitas di sini terbilang lengkap. Akses jalan menuju lokasi sudah diaspal mulus. Sebagai penunjang sarana rekreasi, terdapat kolam renang dan sejumlah penginapan di sekitarnya.

Tak sekadar Puncak
Menuju Puncak
Mendaki Gunung Puntang buat saya bukan soal penaklukan-penaklukan. Bukan soal capaian menjejakan
kaki di puncak. Lebih dari itu ada pelajaran besar yang bisa didapat. Di mana pelajaran itu memberikan efek domino pada kehidupan sehari-hari.

Ini soal semangat pantang menyerah. Waktu kaki sudah melangkah, maka pantang mundur ke belakang. Di depan ada banyak kemungkinan-kemungkinan, sedang di belakang adalah balik arah, pulang tanpa mendapatkan apa-apa. Adalah benar jalan terjal musti didaki. Adalah benar tebing dan jurang jadi ancaman. Tapi di sanalah pointnya. Kalau mau bersantai-santai diam di rumah saja, jangan naik gunung.

Kontur hutan gunung Puntang lebih lebat dari kontur hutan gunung Burangrang. Suasana gelap karena kabut dan daun-daun rimbun. Sedang pendakinya tak seramai pendaki di gunung Manglayang. Waktu naik, hanya ada tiga grup yang saya temui, yaitu Grup Mapala (entah adi kampus mana) yang terdiri dari 5 sampai 6 orang, Grup pendaki personal dengan jumlah 2 orang (saat kami temui sedang camping), dan Grup saya yang juga 2 orang.

Menuju puncak Mega harus keluar area hutan yang lebat. Setelah itu kita akan memasuki area menanjak yang konturnya jauh lebih curam. Pada area ini di penuhi ilalang. Di kanan kiri jalan setapak yang berbatu, terdapat jurang terjal. Mencapai satu pos ke pos lain butuh perjuangan. Sedang mencapai puncak kita perlu mengeluarkan usaha lebih besar lagi.

Puncak mega

Saya nyaris berhenti, sebab karena kebodohan sendiri yang minim sarapan. Padahal butuh enegi ekstra untuk mendaki gunung. Saya sampai berhenti sebelum pos pertama atau shelter zuhur hanya untuk makan dulu, itupun hanya bebepara potong roti ukuran kecil. Setelah itu kedaaan bedan terasa lebih baik. Energi bertambah, saya lanjut jalan.

Saya juga nyaris berhenti saat memasuki area berbatu dengan kontur yang jauh lebih menanjak menuju puncak. Dari beberapa sumber yang saya baca di internet, hanpir semua pendaki melakukan dua tahap pendakian. Pertama mendaki sampai salah satu shelter dan membuat tenda. Kedua pada dini atau pagi harinya lanjut ke puncak Mega. Sedang yang kami lakukan naik sekali hantam. Hanya berhenti beberapa menit pada shelter shelter yang ada untuk kemudian melangkan lagi untuk menggapai titik tertinggi.

Kalau tak memaksan diri untuk terus maju, bisa jadi saya sudah mundur, bisa jadi tak akan mendapatkan apa-apa. Tapi syukur Alhamdulillah puncak Mega dengan ketingian 223 mpdl dapat digapai juga.

Soal lain yang memberikan saya hikmah besar bagi saya adalah seorang kawan yang menyertai berpengaruh besar untuk menggapai suatu tujuan. Beberapa kali saya tracking dan camping bersama Dhiora, kawan waktu di kampus. Kawan Tiongoa saya ini punya stamina yang jauh lebih prima. He is unstopable, terus saja naik seperti tanpa beban.

Saya jadi ingat saat SMA. Saat itu masih aktif latihan atletik di klub Atletik Bumi Siliwangi Bandung. Spesialisasi saya adalah lari jarak jauh, dengan nomor 5000 m atau 10000 m. Saat awal-awal latihan atetik, untuk meningkatkan stamina dan speed, ada seorang senior yang ‘menarik’ saya. Ia berlari beberapa meter di depan, sedang saya sebisa mungkin harus mengikutinya dari arah belakang. Tetap menjaga kerapatan jarak dan tak tertinggal jauh.


Dalam hal ini Dhiora melakukan hal yang sama pada saya, ia ‘menarik’ saya di depan dan saya mengkuti dari belakang. Kadang ada jeda kadang tanpa ampun. Tapi dengannya saya bisa mencapai puncak. kawan dalam perjalanan tak akan membuatmu merasa sendirian. Kita dapat saling menolong dan menyemalamatkan. Sinergi menjadi hal utama sebab kerja tim jauh lebih efektif dalam menggapai suatu tujuan ketimbang kerja solo.

Hal terakhir yang dapat saya pelajari adalah, bila di alam bebas semua orang menjadi saudara. Kami tak pernah kenal sebelumnya, bahkan kami tak saling tahu nama masing-masing. Tapi jadi demikian akrab saat bertemu. Saat naik ke puncak Mega, saya berpapasan dengan para pendaki baik yang akan turun atau yang sedang camping. Sikapnya selalu sama, akrab, ramah, hangat. Mungkin karena kami mengalami kesusahan dan penderitaan yang sama. Bukankah dalam cobaan tiap orang dapat menjadi kawan akrab?
Berjumpa dengan pendaki lain

Esensi Pendakian
Mendaki gunung adalah satu hal. Mendapatkan pelajaran darinya adalah hal lain. Karena kalau tak hati-hati yang kita dapat cuma lelah dan nihil nilai-nilai. Mendaki harusnya mendewasakan diri, di mana prespekif berpikir jadi berambah luas, spiritual makin matang, mental makin teruji dan jaringan pertemanan bertambah luas. “Unusual travel suggestions are dancing lessons from God,” ujar penulis Amerika Kurt Vonnegut, dan dengannya kita terus berkembang menjadi pribadi lebih baik.





YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog