13 Desember, 2015

Serenada Asmarandana

Posted by Suguh Minggu, Desember 13, 2015, under | No comments


Salah bila kau anggap aku
adalah si peniup seruling dari Hamelin
atau Niccolo Paganini dengan rayuan biolanya
Senandung ku terlampau parau tuk kau simak
dengan gelayut unisono yang jauh dari merdu

Salah bila kau anggap aku
adalah ksatria berbaju besi dari Troya
atau Ares dengan tombak perunggu ditangannya
Lengan ku terlalu payah tuk mengayunkan pedang
gamang bila musti menerjang lawan dihadapan.

Bila kau ingin tahu siapa aku,
Aku sekadar burung Starling pemalu
yang beku mengatupkan sayap
saat salju menilam daun daun maple di Hutan Bialowieza Puszcza

Bila kau ingin tahu siapa aku
Aku cuma sebidang kota tua Craco,
terpencil dan terbuang
bersama kawanan hantu hantu

Ingatlah sayang,
Sebelum kau mencintaiku
Tanpa kau perlu tahu
aku lebih dulu mencintaimu
dalam segala rupa kesahajaan
dalam segala rupa ketelanjangan

09 Oktober, 2015

Kumpulan #talijiwo

Posted by Suguh Jumat, Oktober 09, 2015, under | No comments

  • Kekasih, sekali waktu cobalah berlari sambil menangis. Biar kau bisa bedakan, antara lelah berolah raga dan lelah meratapi kenangan.
  • Laut ini kekasih, Kibar layar sampanmu ke dermaga. Aku sauh, rela redam dihantam ombak di bawahnya.  
  • Seperti Bima mengurug laut demi mendapat tirta amerta, maka tak ada kata berlebihan dalam kamus cinta, kekasih. #talijiwo
  • kenapa aku suka naik gunung? karena bangsa ini surplus hasrat dan vitalitas tapi minus perenungan, kekasih.
  • jika dijah yellowpun tak sanggup membuatmu cemburu, lantas siapa lagi yang harus aku jadikan kompetitor buatmu, kekasih?
  • Seperti Dewi Kunti melahirkan Karna melalui telinga, begitu juga cinta, kekasih. Absurd datangnya, tragedi perginya.
  • kita harus lebih banyak mengunjungi muara bukan aliran sungai, kekasih. karena bangsa ini kebanyakan masalah tapi miskin solusi.  
  • Kekasih, karena melalui facebook dan instagram sudah terlalu mainstream, aku menstalking mu melalui doa.  
  • Kekasih, bukan kerena benci dulu Laila memecahkan piring Majnun. Tapi biar ia mengantri lagi dan mereka bisa bertemu lagi.
  • Kau tau persamaan nilai tukar rupiah dan kenangan? keduanya sama2 dapat membuat kita menangis. Kekasih,mungkin rupiah butuh tisu.  
  • Nilai tukar rupiah atas dollar melemah. Mungkin kurang perhatian. Coba ajak dia candle light dinner, kekasih.
  • Luka ini kekasih, luka ragaku sehabis perang. Tak sedalam luka jiwaku, sepanjang waktu meratapi pusaramu.
     
 

10 September, 2015

Kiamat Tercekat (Lagi)

Posted by Suguh Kamis, September 10, 2015, under | No comments

Kiamat tercekat lagi subuh ini
‘tika seorang pelacur bercadar lumpur
Dalam kesendirian laungkan ratap taubat
usai lampu pesta berpendar, redupi pusat edar

Kiamat tercekat lagi siang ini
‘tika seorang jagal berlumur darah
pasrah merundukan wajah
sembari menakari hitungan mizannya

kiamat tercekat lagi sore ini
‘tika seorang nabi palsu dan tuhan jadi-jadian
kembali terbata menderas kitab paling utama
mengeja lagi bacaan alif, ba, ta, tsa.

Kiamat tercekat lagi magrib ini,
‘tika seorang istri jelita berlapang dada
Sambuti hardikan suaminya yang berbau candu
dengan balur bening air wudhu.

Kiamat tercekat lagi malam ini
‘tika seorang suami tampan mengelak
dari rayu manis madu, ranjang beludru lokalisasi itu
lalu begegas pada kekasih halal diperaduan rindu

09 September, 2015

Patahan Lembang; Antara Pengalaman Baru dan De Javu

Posted by Suguh Rabu, September 09, 2015, under | No comments

Kamis 6 Austus 2015, awalnya saya dan Dhiora mau mendaki gunung Burangrang, tapi entah karena kepala dia kebentur pintu atau pura-pura khilaf Dhio merubah destinasi jadi ke Patahan Lembang. Saya sih ikut saja, yang penting bisa hiking. Semula saya menganggap patahan lembang itu di daerah gunung Batu Lembang dekat Sespimpol. Tapi tenyata bukan, kawan.

Dhiora Bilang patahan lembang itu ada di belakang bukit Moko. Kalau berjalan sekitar 45-1 jam ke lokasi. Entah dia sudah tahu atau cuma sok tahu karena kalau lihat gersturnya baru pertama kali ke sana.

Sekali kita pernah melewati bukit Moko. Beberapa tahun lalu kita jalan kali dari Bukit Unggul, masuk hutan kina. Waktu itu hujan baru saja reda. Kabut turun tebal sekali. Jarak pandang di jalan setapak hutan kina anatar 3-5 meter. Suasana gelap. Padahal masih sekitar jam 16:00. Kawan, melihat kabut tebal turun itu rasanya seperti jatuh cinta pada seseorang tapi masih ngambang sikapnya. Potensinya, bisa di tolak atau di terima. Kabut juga begitu, bisa mengantar kita pulang ke rumah dengan hati gembira atau mengantar kita pulang ke hadirat Ilahi karena masuk jurang. Maka waspadalah kalau kabut turun. Karena kamu bisa tewas padahal belum kawin. T_T

Dari hutan kami lanjut ke bukit Moko. Setelah puas lihat city view di sana, kita pulang ke Bandung via jalur satu-satunya, desa Cimenyam. Itulah salah satu perjalanan paling durjana yang pernah kita lakukan. Berangkat pagi dan sampai ke daerah saung Ujo sekitar jam 20:30. Seluruhnya full jalan kaki. Mengenaskan sekali kawan, kami waktu itu kelihatan bukan kaya pecinta alam tapi kaya gelandangan.

Oke, kembali ke Patahan lembang yang baru dikunjungi. Kita ke sana naik motor. Dari saung Ujo terus nanjak ke Bukit Moko. Jalurnya Cetar sekali ternyata.Nanjak terus tiada ampun. Saya kadang mikir, pake motor saja sampai Moko lama banget, pantesan dulu rasanya ga sampai sampai waktu lewat jalur yang sama dengan jalan kaki.

Sampai di Moko, suasana sudah berubah sekali. Sekarang fasilitas umum seperti mushola dan tempat wudhu sudah tersedia. Warung-warung lebih banyak dan area parkir juga lebih luas. Dari Moko kita berjalan ke gerbang Bukit Bintang. Dari gerbang bukit bintang itulah kita berjalan ke patahan lembang. Mungkin kawan, agak bingung waktu saya menyebut bukit Moko dan Bukit Bintang. Keduanya adalah dua tempat berbeda yang posisinya berdekatan. Bukit Moko terletak di depan Buki Bintang. Keduanya adalah destinasi untuk melihat city view. Para ABG kekinian biasanya Cuma mentok sampai dua tempat ini.

Setelah melewati gerbang dan membayar tiket masuk, kita memasuki hutan cemara yang jalan setapaknya dilapisi paving block. Nyaman sekali di awal tapi makin lama makin nanjak. Saya suka sekali waktu mencium bau tanah dan bau pohon cemara. Kawan, selain rindu pada kekasihmu, hal yang dapat membuatmu kecanduan adalah kembali pada alam terbuka.
Petunjuk arah menuju patahan Lembang

Jalan setapak lama-lama berganti kontur, tidak lagi paving block tapi menjadi tanah. Karena sedang kemarau
jalanan jadi berdebu. Alurnya berkelok-kelok dan terus menanjak. Hutan cemara juga terlihat makin lebat. Saya pikir untuk yang pertama kali mengunjungi Patah Lembang tidak perlu takut nyasar karena banyak papan penunjuk arah.
Jalur hutan cemara menuju lokasi
Setelah berjalan kira-kira 45-1 jam sampailah kita di area Patahan Lembang. Agak bingung juga waktu kita nyari lokasinya padahal sebetulnya sudah sampai. Karena bingung nanya ke warga yang lewat malah jadi tambah bingung. Waktu saya tanya kalau jalan terus ke lembah yang ada di bawah adalah arah menuju Patahan Lembang, jawabanya, iya. Terus Dhio nanya, kalau tempat kita berdiri ini Patahan Lembang atau bukan, jawabannya Iya juga. Dia Cuma jawab iya iya, ngga ngga aja. Akhirnya kita biarkan dia pergi dengan perasaan bingung. Sampai tibalah orang yang pakai motor trail. Kita kirain ojeg masuk hutan hahahaha. Ternyata bukan, itu orang mau lagi nyari lokasi Batu Lonceng. Dari dia baru kita tahu kalau posisi kita berdiri adalah patahan lembang.

View patahan menurut saya keren sekali. Di kejauhan hamparan gunung-gunung yang berlekuk-lekuk berwarna hijau. Gunung paling tinggi dan paling dekat adalah Bukit Unggul. Di bawah Patahan Lembang pada sisi sebelah kiri terdapat perkampungan dan petak petang sawah. Seementara di sebelah kri adalh hutan cemara yang rimbun.




Tanda bila kita sudah sampai di patahan lembang adalah ada sebuah batu yang lumayan lebar di tepi tebing. Di depannya ada pohon tua yang bentuknya eksotis sekali. Pohon itu tinggal batang sama dahan, tanpa daun, sedirian, gimana aja jomblo pada umumnya. Di atas itu kita bisa  berfoto dengan latar belakang pemandangan alam yang keren sekali. Cuma hati hati jatuh ke jurang. Kurang bonafit kalau kawan tewas di tempat itu. Lokasinya di keramaian, bisa jadi bahan tontonan banyak orang. Paling kata Tim SAR yang nolong, biar mayatnya yang ngurus diri sendiri, negerepotin.

Saya gantian sama Dhio foto-foto di sana. Lucky for us, suasana masih sepi. Jadi kita bebas bergaya dengan pose paling menjijikan sekalipun. Setelah puas baru kita pulang. Di jalan ketemu banyak orang yang bermaksud ke Patahan Lembang. Istirahat dan seolah sebentar di saung. Lanjut jalur ke bukit bintang. Pusing amat di sana karena banyak orang pacaran. Sementara kita cowo jalan berduaan, semoga waktu itu kita ga dianggap homo ya.

Catatan terakhir yang ingin saya bagi adalah soal Dhio yang ngeh pertama kali soal jalur jalan setapak. Awalnya dia lupa-lupa ingat tapi kemudian mulai sadar kalau jalur dari dan ke Patahan Lembang pernah kita lewati beberapa tahun lalu (seperti yang saya tulis di awal). Karena bila melihat kontur jalan, saung tua tempat kita shalat dulu, kontur bukit bintang yang dilihat dari bawah, bikin ingat kembali ke pengalam kita jalan di jalur durjana yang bikin capek banget itu. Saya yang agak lemot kalau mengingat juga mulai ngeh. Bedanya waktu kita lewat daerah ini belum di kelola perhutani. Sekarang sudah komersil. Saya seperti mengalami de javu.

Kita kembali ke Bandung sekitar jam 17:00. Sempat makan sedikit sama Dhio tapi ga Kenyang. Sampai di rumah mandi sebentar, terus ngajak Ira makan malam. Tapi Ira ternyata sudah makan. Jadi dia Cuma minum. Saya sendirian yang pesan makan. Ngoborol ke sana ke sini sampai ga nyadar di kantin sudah tidak ada siapa-siap dan kantinnya juga sudah tutup. Jam 21:30 Saya mengantar dia ke kosannya. Setelahnya baru pulang lagi ke rumah.

08 September, 2015

Bukan karena Putus Asa Aku

Posted by Suguh Selasa, September 08, 2015, under | 1 comment



Bukan karena putus asa
Aku menarik sauh
lalu mengayuh sampan
labuh ke dermaga

aku cuma butuh sandar sebentar
selagi berlayar.
Biar lindap rasa lelahku
di teduh pelupuk matamu

8/9/15

18 Agustus, 2015

Tapi Dia Bukan Kau

Posted by Suguh Selasa, Agustus 18, 2015, under | No comments

 
Ada perempuan berambut merah umpama bunga Lily
Duduk sendiri menunggu kekasihnya di Pont de Art
Temaram lampu senja terpantul ke permukaan sungai Sien
Air berkecipak dibelah laju perahu dan hembusan angin
Tapi dia bukan kau,
Karena Kau sendiri yang mencabut paksa gembok cinta kita
lalu dengan muram mencampaknnya di jalanan gelap dan buta

Ada Perempuan bermata biru umpama batu ruby
Melamun di bangku-bangku kosong Cafe Les Deux Magots
Memesan dua cangkir Chocolate Chaud untuknya dan kekasihnya yang belum datang
arwah Picasso, Camus, Sarte dan Hemingway gentayangan menggilainya
Tapi dia bukan kau,
Tegukan terakhir Chocolate Chaudmu tampak hambar di bibir
Langkahmu membelakangiku demikian rikuh waktu mengejar metro terakhir

Ada Perempuan berbibir kesumba umpama buah delima
Menderakkan sadel sepedanya di sepanjang Avenue Marc Sangnier
Dibelinya setengah harga sebuah music box tua di Porte de Vanves
Dibungkusnya hadiah itu buat kekasih dengan kenangan dan cinta
Tapi dia bukan kau,
Cinta dan kenangan kita seperti daun-daun maple, rontok pada musim dingin
Merayapi Paris dengan lengking parau hantu-hantu gunung dan aroma darah yang asin

Ada perempuan berwajah kesumba umpana purnama hari ke empat belas
Sedang membaca Dickens di depan Shakespeare And Co
Temaram malam merambat ke sela tumpukan kertas dan buku-buku
Kekasihnya tak kunjung datang hatinya menjadi pilu.
Tapi dia buka kau,
Kisah tentang kita telah tamat pada halaman terakhir
Tinta pengharapan telah kau tukar dengan cuka pahit dan getir

Wahai,
Kau yang kemarin mengancingkan pakaian musim dinginku
Kau yang kemarin merapatkan lilitan syal di leherku
Terbanglah dengan bebas seperti burung-burung starling menuju utara
Dunia masih begitu luas tuk dijelajahi,
waktu tangkup hatiku telah meluap oleh gelora anganmu.

Aku bukan apa-apa
Kau bukan siapa-siapa

03 Agustus, 2015

Menikmati City View di Area Tebing Keraton

Posted by Suguh Senin, Agustus 03, 2015, under | No comments

Karena 3 Agustus kemarin saya dapat cuti dadakan, akhirnya melakukan hiking dadakan juga. Waktu dapat info cuti kira-kira jam 7 pagi dari tempat kerja, saya belum tahu mau pergi ke mana. Masih bingung. Tidak ada tujuan, tidak ada referensi tempat yang recomendeed untuk dikunjungi hari itu. Tapi saya ga mau kalau seharian membusuk di rumah. Lagi pula saya orangnnya ga betahan. Saya ingin keluar. Kemana saja.

Ide buat pergi ke Tebing keraton kemudian muncul begitu saja. Saya sudah lama ingin ke sana, tapi suka ada saja alasan buat ga jadi pergi. Infonya hits banget di medsos. Kalau lihat foto-fotonya bikin saya amaze.

Setelah packing dan menyiapkan carrier saya berangkat.  Dari sekitar terminal Dago, niatnya ingin hiking sampai tujuan. Saya menghindari naik motor atau mobil. Maybe, just may be ya, karena saya ingin merasakan art of jouney. Melakukan perjalanan itu bukan soal tujuan akhir tapi proses menuju ke sana. Kalau Cuma instan seperti itu, orang bisa saja mencapai puncak Mahameru bukan dengan mendaki tapi naik helikopter. Apa menariknya?

Perjalanan dimulai jam 10:00. Saya ga tahu di mana letak Tebing Keraton . Waktu pergi, ga sempat googling informasinya apalagi ngeprint peta menuju ke sana. Modal saya cuma informasi sepotong-sepotong kalau tebing keraton letaknya setelah gerbang Goa Pakar. Dari sana masih jauh. Jauh banget (Katanya) Saya pernah baca Quote, lupa siapa yang bilang, kalau traveler yang baik itu tidak merencanakan perjalanannya dengan sempurna. Karena hal-hal yang tak terpredeiksi sebelumnya akan meningkatkan antusiasme, membuat diri terbiasa menyikapi masalah dan berani menghadapi bahaya yang mungkin akan terjadi dalam perjalanan,

Dengan modal tanya-tanya ke penduduk saya coba cari letak Tebing Keraton. Setiap bertanya, jawaban dari penduduk nyaris sama, kira-kira mereka bilang, jalurnya sudah benar cuma masih jauh.” Oke, saya berusaha tegar tiap kali mendengar jawaban masih jauh. Masalahnya kalau tracknya jalan setapak di hutan sih mungkin tidak terlalu jenuh. Tapi jalan yang dilewati adalah jalan aspal, melewati kompleks yang rumah rumahnya gede banget kaya kantor kecamatan Sukasari, lanjut ke jalanan rusak yang dirimbuni pohon di kanan kirinya. Tiap kali ada motor atau mobil yang nyusul saya, jalanan itu jadi berdebu, bikin saya sesak napas.

Gerbang masuk Tebing Keraton


Kira-kira satu jam empat puluh lima menit saya sampai ke lokasi tebig keraton. Jam menunjukan pukul 11:45. Setelah beli dan masuk lokasi perasaan saya sih yaaa gitu aja. Gimana ya. Kalau untuk keluarga atau couple yang ingin vakansi, Tebing Keraton bisa jadi salah satu reverensi buat dikunjungi. Tapi kalau niatnya ingin hiking dan bertualang ke alam bebas, maka kamu salah lokasi ahahaha. Kontur hutan pinus yang ada di depan mata, backgroud gunung tangkuban perahu dan burangrang, serta view terbuka menuju daerah berbukit-bukit yang bikin tebing keraton menarik buat sebagian orang untuk dikunjungi.

Waktu datang banyak sekali orang. Kebanyakan keluarga dan dan couple. Ga lebih dari 15 menit saya di sana. Ambil beberapa foto, lalu pulang. Perasaanya kaya nonton film Cinta Segitiga Bang Haji Rhoma Irama, seru di awal tapi endingnya anti klimaks.

Di luar Tebing Keraton (Jauh) Lebih Menarik
Saya justru jauh lebih amaze saya view keren di luar tebing keraton. You have to belive me. Pertama,
seandainnya Cuma ingin foto geje di tebing keraton, kalau jeli ada lokasi gratisan yang bisa digunakan sebagai spot berfoto, yang viewnya ga jauh beda kalau kita masuk ke lokasi.
Kedua, city view di luar Tebing Karaton jauh lebih menakjubkan (kata saya gitu, tapi ga tau ya kalau kata mas anang). Memang waktu hiking menuju tebing keraton, viewnya makin lama makin keren. Kalau kita melihat ke sebelah kanan jalan maka akan tambak kota bandung dari kejauhan.


Sebelum pulang saya lihat saung saung di dekat gerbang Tebing Keraton. Sepertinya sih dikelola sama pemikil café itu. Tapi saya juga kurang tahu, apakah cafenya tutup atau memang sudah bangkrut, ga ada siapa-siapa di sana. Sekalian istirahat sama shalat Dzuhur saya singgah ke salah satu saung itu, dan ouch, pemandangan dari saung itu bikin saya terpana. Orang-orang banyak membahas sol bukit bintang buat melihat City view Bandung dari ketinggian. Tempat ini juga sama. Nyaris sama. Saya membayangkan kalau di sini malam-malam, pasti viewnya lebih keren karena lampu-lampu kota sudah menyala di bawah sana.


Mood saya jadi naik lagi setelah itu. Saya dapat tempat istirahay yang nyaman, bisa duduk-duduk dan tiduran, saya juga dapat air bersih gratis buat cuci muka karena ada kamar mandi yang kayanya ditinggal begitu saja sama yang punya. Selain itu yang paling penting saya bisa sendirian, Cuma sendiri melihat viewkota yang keren. Saya heran kenapa orang-orang fokus pada satu titik dan menghiraukan titik lain yang jauh lebih besar. Mereka Cuma fokos pada tebing keraton tapi melupakan city view.

Karena saya mood lagi, tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba nulis puisi. Saya sih kalau melakukan perjalanan suka nulis. Semacam Diary gitu. Saya ga tau alasannya kenapa, mungkin karena passion saja.

Ini puisi yang saya tulis di saung itu. Iya, iaya… buat para gadis siapkan dulu kantong muntahnya ya sebelum baca puisinya. Hahahaha

Yang Mengerti Aku

Yang mengerti kalau aku sedang jatuh cinta
Adalah pokok-pokok pinus
Terserak di jalanan setapak
Waktu para pendaki menginjak-injaknya selagi menuju puncak
Rumput kering dan rimbun belukar demikian erat memeluknya
Seperti memeluk seorang kekasih.

Yang mengerti kalau aku sedang jatuh cinta
Adalah rimbun pohon-pohon cemara
Angin tipis bersiutan
Umpama rancak tabuh tambur lagu lama
Daun-daun gemersik membisikan asmarandana

Yang mengerti kalau aku sedang jatuh cinta
Adalah semburat mentari pagi di depan tenda
Sepatu basah, tubuh megigil lelah
hujan semalam menyisakan kristal-krislta embun
berderai-derai lembab dan rimbun
dipapahnya aku pulang
dibawanya aku bersandar
jauh di relung hatinya.


Jam satu lebih saya pulang. Goodbye Tebing Keraton. Jalan kaki lagi. Kena panas dan debu lagi. Tapi hati saya senang. Seperti yang saya katakan diawal ini bukan soal tujuan tapi soal proses. Kalau Kawan main ke Tebing Keraton, jangan Cuma fokos di satu tempat aja ya, ada tempat lain di sana yang juga keren. Tengok kiri kanan siapa tau dapat sesuatu yang baru buat diexplor :)




09 Juli, 2015

Ternyata Bukan Kau

Posted by Suguh Kamis, Juli 09, 2015, under | No comments



Ternyata bukan kau,
yang menyelamatkanku
waktu aku tergelincir di pancuran
dan kepalaku hendak membentur batu

Kumbang pohon dan kupu-kupulah
yang telah memeringatkanku
soal licin jalan berliku
temaram senja berwarna ungu

Ternyata bukan kau,
yang menyebrangkanku ke tepi kali
Riak air mendidih jadi api
Ikan-ikan murung berkasidah parau

Desir angin dan bisik dedaunanlah
yang telah mengabarkan padaku
Soal sampan lain di muara
tempat sauh terangkut menuju hatimu.

Wahai engkau, yang manis seperti Kamaratih
bukankah esok masih telanjang?
Gunung-gunung dan bebukitan bergumam soal harapan
Lihat kini, bunga-bunga beterbangan dicerabut angin utara
rerumputan menguning digerus masa
Kiranya lain jalan di muka
Kita ambil arah berlainan saja.


Guh 9/7/15

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog