18 Agustus, 2015

Tapi Dia Bukan Kau

Posted by Suguh Selasa, Agustus 18, 2015, under | No comments

 
Ada perempuan berambut merah umpama bunga Lily
Duduk sendiri menunggu kekasihnya di Pont de Art
Temaram lampu senja terpantul ke permukaan sungai Sien
Air berkecipak dibelah laju perahu dan hembusan angin
Tapi dia bukan kau,
Karena Kau sendiri yang mencabut paksa gembok cinta kita
lalu dengan muram mencampaknnya di jalanan gelap dan buta

Ada Perempuan bermata biru umpama batu ruby
Melamun di bangku-bangku kosong Cafe Les Deux Magots
Memesan dua cangkir Chocolate Chaud untuknya dan kekasihnya yang belum datang
arwah Picasso, Camus, Sarte dan Hemingway gentayangan menggilainya
Tapi dia bukan kau,
Tegukan terakhir Chocolate Chaudmu tampak hambar di bibir
Langkahmu membelakangiku demikian rikuh waktu mengejar metro terakhir

Ada Perempuan berbibir kesumba umpama buah delima
Menderakkan sadel sepedanya di sepanjang Avenue Marc Sangnier
Dibelinya setengah harga sebuah music box tua di Porte de Vanves
Dibungkusnya hadiah itu buat kekasih dengan kenangan dan cinta
Tapi dia bukan kau,
Cinta dan kenangan kita seperti daun-daun maple, rontok pada musim dingin
Merayapi Paris dengan lengking parau hantu-hantu gunung dan aroma darah yang asin

Ada perempuan berwajah kesumba umpana purnama hari ke empat belas
Sedang membaca Dickens di depan Shakespeare And Co
Temaram malam merambat ke sela tumpukan kertas dan buku-buku
Kekasihnya tak kunjung datang hatinya menjadi pilu.
Tapi dia buka kau,
Kisah tentang kita telah tamat pada halaman terakhir
Tinta pengharapan telah kau tukar dengan cuka pahit dan getir

Wahai,
Kau yang kemarin mengancingkan pakaian musim dinginku
Kau yang kemarin merapatkan lilitan syal di leherku
Terbanglah dengan bebas seperti burung-burung starling menuju utara
Dunia masih begitu luas tuk dijelajahi,
waktu tangkup hatiku telah meluap oleh gelora anganmu.

Aku bukan apa-apa
Kau bukan siapa-siapa

03 Agustus, 2015

Menikmati City View di Area Tebing Keraton

Posted by Suguh Senin, Agustus 03, 2015, under | No comments

Karena 3 Agustus kemarin saya dapat cuti dadakan, akhirnya melakukan hiking dadakan juga. Waktu dapat info cuti kira-kira jam 7 pagi dari tempat kerja, saya belum tahu mau pergi ke mana. Masih bingung. Tidak ada tujuan, tidak ada referensi tempat yang recomendeed untuk dikunjungi hari itu. Tapi saya ga mau kalau seharian membusuk di rumah. Lagi pula saya orangnnya ga betahan. Saya ingin keluar. Kemana saja.

Ide buat pergi ke Tebing keraton kemudian muncul begitu saja. Saya sudah lama ingin ke sana, tapi suka ada saja alasan buat ga jadi pergi. Infonya hits banget di medsos. Kalau lihat foto-fotonya bikin saya amaze.

Setelah packing dan menyiapkan carrier saya berangkat.  Dari sekitar terminal Dago, niatnya ingin hiking sampai tujuan. Saya menghindari naik motor atau mobil. Maybe, just may be ya, karena saya ingin merasakan art of jouney. Melakukan perjalanan itu bukan soal tujuan akhir tapi proses menuju ke sana. Kalau Cuma instan seperti itu, orang bisa saja mencapai puncak Mahameru bukan dengan mendaki tapi naik helikopter. Apa menariknya?

Perjalanan dimulai jam 10:00. Saya ga tahu di mana letak Tebing Keraton . Waktu pergi, ga sempat googling informasinya apalagi ngeprint peta menuju ke sana. Modal saya cuma informasi sepotong-sepotong kalau tebing keraton letaknya setelah gerbang Goa Pakar. Dari sana masih jauh. Jauh banget (Katanya) Saya pernah baca Quote, lupa siapa yang bilang, kalau traveler yang baik itu tidak merencanakan perjalanannya dengan sempurna. Karena hal-hal yang tak terpredeiksi sebelumnya akan meningkatkan antusiasme, membuat diri terbiasa menyikapi masalah dan berani menghadapi bahaya yang mungkin akan terjadi dalam perjalanan,

Dengan modal tanya-tanya ke penduduk saya coba cari letak Tebing Keraton. Setiap bertanya, jawaban dari penduduk nyaris sama, kira-kira mereka bilang, jalurnya sudah benar cuma masih jauh.” Oke, saya berusaha tegar tiap kali mendengar jawaban masih jauh. Masalahnya kalau tracknya jalan setapak di hutan sih mungkin tidak terlalu jenuh. Tapi jalan yang dilewati adalah jalan aspal, melewati kompleks yang rumah rumahnya gede banget kaya kantor kecamatan Sukasari, lanjut ke jalanan rusak yang dirimbuni pohon di kanan kirinya. Tiap kali ada motor atau mobil yang nyusul saya, jalanan itu jadi berdebu, bikin saya sesak napas.

Gerbang masuk Tebing Keraton


Kira-kira satu jam empat puluh lima menit saya sampai ke lokasi tebig keraton. Jam menunjukan pukul 11:45. Setelah beli dan masuk lokasi perasaan saya sih yaaa gitu aja. Gimana ya. Kalau untuk keluarga atau couple yang ingin vakansi, Tebing Keraton bisa jadi salah satu reverensi buat dikunjungi. Tapi kalau niatnya ingin hiking dan bertualang ke alam bebas, maka kamu salah lokasi ahahaha. Kontur hutan pinus yang ada di depan mata, backgroud gunung tangkuban perahu dan burangrang, serta view terbuka menuju daerah berbukit-bukit yang bikin tebing keraton menarik buat sebagian orang untuk dikunjungi.

Waktu datang banyak sekali orang. Kebanyakan keluarga dan dan couple. Ga lebih dari 15 menit saya di sana. Ambil beberapa foto, lalu pulang. Perasaanya kaya nonton film Cinta Segitiga Bang Haji Rhoma Irama, seru di awal tapi endingnya anti klimaks.

Di luar Tebing Keraton (Jauh) Lebih Menarik
Saya justru jauh lebih amaze saya view keren di luar tebing keraton. You have to belive me. Pertama,
seandainnya Cuma ingin foto geje di tebing keraton, kalau jeli ada lokasi gratisan yang bisa digunakan sebagai spot berfoto, yang viewnya ga jauh beda kalau kita masuk ke lokasi.
Kedua, city view di luar Tebing Karaton jauh lebih menakjubkan (kata saya gitu, tapi ga tau ya kalau kata mas anang). Memang waktu hiking menuju tebing keraton, viewnya makin lama makin keren. Kalau kita melihat ke sebelah kanan jalan maka akan tambak kota bandung dari kejauhan.


Sebelum pulang saya lihat saung saung di dekat gerbang Tebing Keraton. Sepertinya sih dikelola sama pemikil café itu. Tapi saya juga kurang tahu, apakah cafenya tutup atau memang sudah bangkrut, ga ada siapa-siapa di sana. Sekalian istirahat sama shalat Dzuhur saya singgah ke salah satu saung itu, dan ouch, pemandangan dari saung itu bikin saya terpana. Orang-orang banyak membahas sol bukit bintang buat melihat City view Bandung dari ketinggian. Tempat ini juga sama. Nyaris sama. Saya membayangkan kalau di sini malam-malam, pasti viewnya lebih keren karena lampu-lampu kota sudah menyala di bawah sana.


Mood saya jadi naik lagi setelah itu. Saya dapat tempat istirahay yang nyaman, bisa duduk-duduk dan tiduran, saya juga dapat air bersih gratis buat cuci muka karena ada kamar mandi yang kayanya ditinggal begitu saja sama yang punya. Selain itu yang paling penting saya bisa sendirian, Cuma sendiri melihat viewkota yang keren. Saya heran kenapa orang-orang fokus pada satu titik dan menghiraukan titik lain yang jauh lebih besar. Mereka Cuma fokos pada tebing keraton tapi melupakan city view.

Karena saya mood lagi, tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba nulis puisi. Saya sih kalau melakukan perjalanan suka nulis. Semacam Diary gitu. Saya ga tau alasannya kenapa, mungkin karena passion saja.

Ini puisi yang saya tulis di saung itu. Iya, iaya… buat para gadis siapkan dulu kantong muntahnya ya sebelum baca puisinya. Hahahaha

Yang Mengerti Aku

Yang mengerti kalau aku sedang jatuh cinta
Adalah pokok-pokok pinus
Terserak di jalanan setapak
Waktu para pendaki menginjak-injaknya selagi menuju puncak
Rumput kering dan rimbun belukar demikian erat memeluknya
Seperti memeluk seorang kekasih.

Yang mengerti kalau aku sedang jatuh cinta
Adalah rimbun pohon-pohon cemara
Angin tipis bersiutan
Umpama rancak tabuh tambur lagu lama
Daun-daun gemersik membisikan asmarandana

Yang mengerti kalau aku sedang jatuh cinta
Adalah semburat mentari pagi di depan tenda
Sepatu basah, tubuh megigil lelah
hujan semalam menyisakan kristal-krislta embun
berderai-derai lembab dan rimbun
dipapahnya aku pulang
dibawanya aku bersandar
jauh di relung hatinya.


Jam satu lebih saya pulang. Goodbye Tebing Keraton. Jalan kaki lagi. Kena panas dan debu lagi. Tapi hati saya senang. Seperti yang saya katakan diawal ini bukan soal tujuan tapi soal proses. Kalau Kawan main ke Tebing Keraton, jangan Cuma fokos di satu tempat aja ya, ada tempat lain di sana yang juga keren. Tengok kiri kanan siapa tau dapat sesuatu yang baru buat diexplor :)




YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog