Helvy, Hayya dan Palestina | Tugas Mata Kuliah Menulis Kreatif
Dalam Sajak Sebatang Lisong, Rendra berkata, “Aku bertanya? Tapi pertanyaanku Membentur Jidat Para Penyair Salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidak-adilan terjadi di sampingnya.” Berangkat dari potongan karya Rendra, puisi sejatinya dapat berteriak dengan keras seperti orasi. Kehadirannya adalah to give voice for the voiceless. Ia dapat mengambil peran untuk memberi advokasi atas isu-isu kemanusiaan yang berlaku pada tataran lokal hingga global. Lantas hal itulah yang kemudian secara nyata ditunjukan dalam puisi Hayya Karya Helvy Tiana Rosa. Kehadiran Puisi tersebut tak sekadar bicara soal asmara belaka, namun ada pesan lebih dalam yang berusaha menjangkau nurani para pembacanya. Sastrawan Muslimah senior itu menulis untaian puisinya sebagai berikut,
HAYYA
Tangan mungil itu
menggenggam batu
sepasang matanya sendu
menebas rindu
berlari lintasi pilu, hujan peluru
menerjang semua gemuruh,
tak tahu kemana harus berteduh
atau mengadu
Hayya kuatkanlah,
Kelopak mata semesta
telah terbuka
meneteskan doa doa
Hayya bertahanlah,
takkan kubiarkan kau
mendekap lara sendiri
di beranda Al Aqsha
( Jakarta, 8 Desember 2018)
Hayya atau lengkapnya Khalil
al-Hayya adalah sosok anak perempuan Palestina fiktif dalam imajinasi Helvy
Tiana Rosa. Figurnya menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina atas penjajahan
Israel. Bicara soal puisi Hayya bila kita dalami, maka ada tiga pesan yang
hendak disampaikan oleh sang penulis.
Pertama, pesan Perlawanan. Hayya adalah representasi dari perjuangan anak-anak Palestina di dunia nyata. Mereka berdiri sendirian, tak berdaya, tanpa senjata. Penjajahan membuat mereka bertindak layaknya para pejuangan dewasa. Tampil ke hadapan menghadapi segala marabahaya. Hal itu tampak pada bait,
Tangan mungil itu
menggenggam batu
sepasang matanya sendu
menebas rindu
berlari lintasi pilu, hujan peluru
menerjang semua gemuruh,
Bayangkan tangan-tangan mungil menggengam batu, lalu berhadapan dengan senjata laras panjang Tavor TAR-21 dan tank Merkava. Logika umum menyebutkan mereka tak akan memenangkan peperangan. Tapi bukan di sana poinnya. Semua orang tahu kondisinya serba tidak ideal. Sebagaimana juga Helvy menulis.
tak tahu kemana harus berteduh
atau mengadu
Pesan pentingnya adalah perlawanan
tak boleh padam. Ia musti terus menyala dari satu generasi ke generasi lainnya
hingga kemerdekaan menjadi nyata. Anak-anak Palestina yang melawan itu, ada
yang gugur ada pula yang menjadi tahanan penjajah. Tragis memang. Bikin
emosional tentu saja. Tapi dari sini kita juga dapat belajar soal keteguhan
hati dan jiwa yang tak pernah menyerah. Persis seperti Nyai Ontosoroh berkata
Pada Minke dalam Bumi Manusia,” Kita telah Melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya,
sehormat-hormatnya.”
Kedua, tiada kemenangan tanpa pertolongan dari Allah Subhanahu wataala. Doa adalah senjata bagi orang-orang beriman. Sombong manusia kalau cuma mengandalkan kemampuan diri sendiri tanpa melibatkan Sang Maha Pencipta. Padalah Hanya Allah yang dapat membolak-balikan takdir dan memberi pertolongan, Karena itu Helvy menulis,
Kelopak mata semesta
telah terbuka
meneteskan doa doa
Helvy menulis, “meneteskan doa
doa.” Artinya ada kolektifitas spiritual dengan tujuan yang sama. Doa tak
Cuma dipanjatkan oleh individu tapi oleh seisi dunia yang nuraninya terketuk.
Ketiga, dibutuhkan aksi nyata untuk mewujudkan palestina Merdeka. Ghandi berkata, “That thaw asi.” Aku adalah kamu. Solidaritas tak boleh berakhir hanya pada retorika di atas panggung orasi belaka. Dibutuhkan tindakan-tidakan nyata guna menggapainya. Sebagaimana Helvy menulis,
Hayya bertahanlah,
takkan kubiarkan kau
mendekap lara sendiri
di beranda Al Aqsha
Hayya akan bertahan dan tak lagi
sendiri bila kita benar-benar hadir. Dukungan secara moral atau materi amat
dibutuhkan. Terlebih pada saat ini, di tengah kondisi genosida yang terus
menggila. Sedikit yang keluar dari dompet kita bila digabungkan secara kolektif
akan sangat bermanfaat bagi saudara-saudara kita di sana. Bisa untuk membeli
makanan, obat-obatan, selimut, tenda dan lain sebagainnya.
Helvy Tiana Rosa telah membuat kata berteriak dengan keras dalam puisi Hayya. Ia memang tak meledak-ledak seperti panggung orasi. Namun lebih jauh dari itu, puisi tersebut bergaung dalam nurani para pembacanya. Memberikan pencerahan, membuka kesadaran, lantas menggerakan diri untuk berbuat sesuatu. Aktifis Mahasiswa Soe Hok Gie berkata dalam Catatan Seorang Demontsran, “Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.” Karena itu berangkat dari Helvy, Hayya dan Palestina, pada akhirnya pilihan ada pada kita, dan sebaik-baik pilihan adalah mengambil bagian dalam perjuangan Palestina Merdeka.



Komentar