21 Februari, 2016

Gunung Cikurai dan Esensi Puncak Sejati

Posted by Suguh Minggu, Februari 21, 2016, under | 1 comment

Pada 22-23 Januari 2016 saya dan Dhiora mendaki gunung Cikuray.  Berawal dari obrolan singkat di Kineruku sore-sore, kemudian berujung pada perjalanan panjang yang melelahkan. Mungkin obrolan itu tidak lebih dari 10 menit. Hal paling penting adalah membicarakan tanggal pergi dan pulang. Selebihnya masing-masing kami tahu hal-hal apa saja yang musti disiapkan.

Menuju Cikuray ditempuh dengan motor. Berangkat dari Bandung sekitar pukul 10:00 dan sampai di lokasi pukul 13:30. Terbilang cepat. Mungkin karena saya ngebut sampai Dhio yang dibonceng ngomel-ngomel di belakang karena motor beberapa kali nyaris jatuh dan nyerempet orang. Perjalanan kira kira sejauh 60 Km dari Bandung menuju Garut.

Kami mengambil jalur pendakian resmi melalui Cilawu via pos pemancar. Dekat menara pemancar tersebut terletak pos 1 pendakian gunung Cikuray. Setelahnya adalah 'neraka'. Karena dari pos 1 sampai Pos 7 kemudian menuju puncak rutenya sangat sulit. Nyaris tidak jalur mendatar sepanjang pendakian. Kalaupun ada, itu setelah pos 6, dan panjangnya hanya 20 langkah. 20 langkah yang sangat berharga di mana kita bisa rehat sebentar dari jalur yang terus menanjak. Saking lelahnya, kami yang biasanya jarang jeda waktu mendaki, sekarang cukup banyak mengambil jeda. Saya lihat Dhio terkapar saat istirahat, apalagi saya.

Pendakian dimulai pada pukul 14:00. Kami menitipkan motor di warga. Itu karena faktor ketidaktahuan. Padahal sebagian pendaki biasanya menumpang mobil colt bak terbuka menuju pos 1 dengan membayar Rp 25.000 sekali jalan. Sebagian lagi membawa motornya ke sana. Sedang kami berjalan kaki. Hanya jalan kaki. Melewati jalur menanjak dengan view pekebunan teh di kanan kiri. Kira-kira setelah berjalan sekitar 20 Menit, kami menemukan pos tiket. Harga tiket Rp 10.000/orang. Setelah membayar perjalanan kembali dilanjutkan. Bila ditotal menempuh waktu selama 2 jam. Melalui jalur berbatu yang menanjak, berkelok-kelok dan ternyata jauh, kami dapat melihat view kota Garut di bawah sana. Makin jauh melangkah, cuaca semakin gelap. Hujanpun turun. Mula-mula gerimis, kemudian menderas disertai petir. Di kejauhan mulai terlihat Gunung Cikuray yang menjulang tinggi. Puncak diselimuti awan dan kabut. petir berkilatan beberapa kali di sekelilingnya. Kami ngeri.

View kebun teh. Sebelum pos 1
View kebun teh. Sebelum pos 1
Pos 1 Gunung Cikurai via Pos pemnacar

Sampai di Pos 1 Pemancar, kami menemukan pos penjagaan. Tapi pos itu kosong. Di dalamnya banyak sampah plastik dan botol gas sisa memasak para pendaki. Kami berteduh di sana sampai hujan reda. setelah makan dan menjama' sholat, perjalanan di lanjutkan sekitar pukul 16:00. Di titik inilah perjalanan yang sebenarnya di mulai. Dari pos ke pos nyaris tak ada jalur mendatar. Cuaca tidak menentu. Kadang hujan reda, kadang jalur tertutup kabut, tapi tak lama hujan turun kembali. Udara terasa sangat dingin.

Jalur pendakian cikurai. Diambil saat turun: Terjal
Makin larut, suasana semakin gelap. sedang suhu semakin turun. Menurut saya Jalur pendakian Cikuray adalah gabungan jalur Manglayang dan Burangrang. Menanjaknya sama seperti Manglayang, sedang kontur hutannya seperti Burangrang. Dengan catatan jalur Cikurai lebih jauh dan terjal. Saya yang biasanya paling banyak bicara, lama-lama diam juga. Begitu juga dengan Dhiora. Dia tidak menjawab omongan-omongan ngwur saya. Walau beberapa kali menjawab sih, mungkin buat menghidupkan suasana. Terlebih setelah melewati pos 3, Kami hanya ngobrol sekali-kali. Makin tinggi mendaki, kami lama-lama sadar bila ada kejanggalan. perkiraan pendakian dapat ditempuh antara 2 sampai 3 jam, ternyata belum selesai juga.

Benar-benar di luar perkiraan. Tak seperti pendakian-pendakian sebelumnya, kami banyak mengambil break. Saya melihat Dhiora terkapar. Apalagi saya. Pendakian ini seolah-olah tidak pernah selasai. Hujan yang kembali turun dan kabut menambah buruk keadaan. Hal tersebut membuat jalur pendakian makin licin. Dalam kegelapan kami harus lebih berhati-hati menjaga keseimbangan saat berjalan. Menghindar sebisa mungkin agar tak terantuk batu apalagi jatuh ke jurang.

Jalaur Pendakian Cikurai. Diambil saat turun
Jalur pendakian cikurai. Diambil saat turun
Group pendaki yg ditemui di tengah jalan. akrab seperti kawan lama. Mereka turn. Kami naik

Puncak Cikurai. Diambil saat pagi
Kira-kira Pukul 23:00, kami melihat area hutan yang makin lama makin jarang pepohonannya. Jalurnya menanjak curam berbatu. setelah mendaki kira kira sekitar 5 menit area berbatu itu. Maka sampailah kami di puncak. Suasana di sekilingnya berkabut. gelap sekali. Cuaca semakin dingin. Kami melihat suasana sekeliling. Sepi sekali. Tampak di sebelah barat di bawah puncak, ada beberapa tenda. Sepertinya para pendakinya sudah tidur karena kedinginan. Sekitar pukul 23:00 Kami mendirikan tenda di sebelah timur di bawah puncak. Kembali naik ke pada pagi harinya.

Bahaya Hipotermia
Waktu memulai mendaki di pos 1, di area kebun teh, kami melihat seorang pendaki laki-laki turun terburu-buru dengan membawa dua ransel. Satu di punggung satu di dada. firasat mengatakan ada yang tidak beres. Waktu ditanya apa ada temannya ada yang sakit? Dia menjawab, ya, posisi kawannya di belakang. Diapun berlalu meninggalkan kami.

Kami pikir kawannya itu perempuan. Tapi dugaan itu keliru. Sekitar 5 menit kemudian muncul dua orang pendaki laki-laki lain turun dengan langkah yang pelan. Satu pendaki memapah pendaki kawannya. Saat berpapasan kami melihat pendaki yang dipapah itu rupanya terkena gejala hipotermia. Wajahnya pucat, tubuhnya menggigil. Kondisinya tampak lemah. Hal tersebut diperparah dengan pakaian berlapis lapis dan basah. Kemudian makin diperparah dengan dengan lapisan jas hujan yang basah juga. Begitu juga celana dan sepatunya. Mereka kira hal tersebut akan membuat tubuh jadi hangat. Padahal tidak. Justru sebaliknya.

Bila melihat cuaca, kondisi di atas gunung saat hujan lebih buruk dengan kondisi yang sama tapi di bawah. Cuaca bisa turun ke titik terendah. Salah menyikapi kondisi seperti itu, dapat menyebabkan bencana.

Kami sarankan untuk segara mengganti kaos basah dengan kaos kering. Bukan hanya satu, tapi dua lapis.  Sambil berganti baju, kami baluri tubuh pendaki yang kedinginan itu, baik punggung, dada, perut dan kakinya, dengan balsem. Diberikan juga kaos kaki kami yang baru untuk mengganti kaos kakinya yang basah. Untuk menambah energi kami sarankan untuk segara makan makanan yang masih mereka punya. Kami sumbangkan madu saset buatnya.

Setelah pakaiannya berganti dan makan lumayan banyak, kami berpisah. Mereka pulang sedang kami melanjutkan pendakian.

Mendadak (gejala) Hipotermia
Antara pukul 19:00-20:00 kami mengambil istirahat. Saya lupa itu dipos berapa. Mungkin pos 4 atau pos 5. Hujan sejak dari turun. Tidak terlalu deras tapi ritmenya tak putus-putus. Kami duduk untuk rehat. Ada dua pendaki lain yang mendaki pada malam itu. sebelumnya kami dan mereka saling bersusulan, kadang kami duluan, kadang mereka duluan. Kadang kami jalan beriringan. Mereka pendaki dari Garut. Saya lupa nama mereka. Tapi orang-orangnya welcome dan ramah.

Pada saat mengambil rehat bersama kami ngobrol-ngobrol. Mungkin sekitar 15 menit. Kemudian mereka jalan duluan sementara saya dan Dhiora mengambil rehat lebih lama. Saat rehat tambahan tersebut suhu badan yang semula panas menjadi dingin. Sementara gerimis dan kabut tebal terus turun. Suhu drop. Rasanya dingin sekali. Tubuh saya mengigil. Hal tersebut diperparah dengan pakaian yang basah. Baik kaos dan celana. Gigi saya gemeretak, tangan saya berguncang-guncang.

Pada saat seperti itu, saya ingat kembali pada pendaki yang di temui di awal pendakian. Tubuhnya yang membiru, tangannya yang mengigil, kondisinya yang lemah. Pada saat seperti itu, saya mengatakan dalam hati, saya tidak mau mengalami nasib yang sama. Nyawa orang siapa yang tahu. Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya mau tetap hidup.

Saya meminta Dhiora untuk memegangkan senter saya. Saya Keluarkan kaos dan jaket kering. Pakain basah saya ganti. Saya baluri tubuh dengan balsem. Pada saat itu saya masih mengigil. Buruk sekali cuaca yang dirasakan. Sayapun mengeluarkan makanan. Saya makan sebanyak mungkin. kue-kue, lemper, sate kulit semua saya makan. Di atas semua itu hal paling penting adalah kembali bergerak agar suhu badan kembali hangat. Waktu kembali berjalan rasanya berat. Tapi tetap saya paksa. Dua sampai empat menit menit tubuh saya masih menggigil, tapi setelah itu, walau kondisi hujan dan kabut turun, kondisi saya berangbbsur pulih.

Mencari Puncak Sejati
Dua pendaki yang mengoborol dengan kami bilang saat sama-sama rehat, kalau puncak sekitar dua jam lagi. Benarkah? Kondisi kami sudah sangat drop. Tenaga nyaris habis, napas nyaris habis, semangat nyaris habis. Dua jam bukan waktu sebentar bagi orang-orang yang nayis putus asa. Sempat terpikir mendirikan tenda di pos 6. Tapi Dhio bilang tanggung. Sudah terlanjur capek, lanjut saja sampai puncak.

Dengan sisa sisa tenaga kami berjalan. terseok-seok, kelelahan, pucat seperti walker dalam walking Dead. Tapi tak lama kemudian seperti disampaikan di awal, puncak yang kami tuju itu dapat kami capai. Kami berkeliling area puncak gelap. Dua pendaki itu menjahili kami. nyatanya tidak sampai dua jam menuju puncak. Kami agak kesal, tapi rasa kesal itu tertutupi oleh rasa bahagia yang lebih besar. Lain kali kami ketemu pendaki lain, dan menayakan jarak, akan kami sampaikan jarak tempuh yang sebenarnya.

Di bawah pundak kami mendirikan tenda. Besoknya kami naik lagi. Suasana di sana sudah ramai oleh para pendaki. View lautan awan tampak di sebelah utara. Putih. putih menghampar seperti kapas. Ini pemanadangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat seumur hidup. Di atas ketinggian, kita adalah mahluk kecil yang lemah. Kesombongan macam apa yang mau kita pertontokan pada dunia. Kalau dengan mendaki saja kita nayris mati dan ketika berada di puncak serasa diri ini kecil sekali. Tubuh ini, diri ini, hati ini terlampau kerdil.




Lalu pulang kembali ke rumah lebih penting dari sekadar puncak. Karena puncak adalah pilihan. sedang pulang adalah kewajiban. Ada orang orang tercinta yang sedang menunggu dengan hati cemas nun jauh di sana. Hadiah paling berharga adalah kabar gembira yang membuat mereka kembali tersenyum bila kita pulang dengan selamat.

Sekitar pukul 08:30 Saya dan Dhiora turun. Melalui jalur yang sama. Bila saat naik harus merangkak-rangkak. Maka turunya harus ngesot. Saat keadaan terang baru terlihat bila jalur yang dilalui semalam sangat curam. Kami berpapasan dengan para pendaki yang akan naik. Saat dalam penderitaan yang sama tiap orang menjadi solider. Kami saling menyapa dan menyemangati. Saling tersenyum dan tertawa. Walau para pendaki itu terlihat sangat kepayahan, walau wajah mereka kemerahan dan berkeringat, bila berpapasan kami saling tersenyum.


Pendakian Cikurai amat membekas dalam memori saya. Jalurnya yang terjal, suhunya yang dingin, hujan, petir dan kabutnya, hamparan lautan awannya. Hal-hal tersebut akan menjadi tapal batas kenangan yang kelak akan diceritakan pada anak-anak saya. Bila hidup tak selalu sejalan dengan harapan dan keinginan. Kadang musti menanjak, bahkan menanjaknya amat tinggi sekali. Kadang musti meringis dan menangis. Sesuatu yang tak di perjuangangkan, sesuatu yang didapat dengan cuma-cuma lama-lama akan hambar dan hilang, baik di tangan ataupun di hati. Pencapaian akan terasa indah bila digapai dengan segenap tenaga, usaha, keringat. Di atas segalanya adalah kejujuran. Puncak bukan tujuan akhir. Tujuan akhir kita adalah pulang ke rumah. Cinta, kawan, cinta dari mereka menunggu kita di sana. Puncak sejati yang kita cari-cari, titik tertinggi pendakian kita, di mana kita bisa berdekatan, akrab, merasa sentimentil, jatuh cinta lagi, pada orang-orang yang kita sayangi.





13 Desember, 2015

Serenada Asmarandana

Posted by Suguh Minggu, Desember 13, 2015, under | No comments


Salah bila kau anggap aku
adalah si peniup seruling dari Hamelin
atau Niccolo Paganini dengan rayuan biolanya
Senandung ku terlampau parau tuk kau simak
dengan gelayut unisono yang jauh dari merdu

Salah bila kau anggap aku
adalah ksatria berbaju besi dari Troya
atau Ares dengan tombak perunggu ditangannya
Lengan ku terlalu payah tuk mengayunkan pedang
gamang bila musti menerjang lawan dihadapan.

Bila kau ingin tahu siapa aku,
Aku sekadar burung Starling pemalu
yang beku mengatupkan sayap
saat salju menilam daun daun maple di Hutan Bialowieza Puszcza

Bila kau ingin tahu siapa aku
Aku cuma sebidang kota tua Craco,
terpencil dan terbuang
bersama kawanan hantu hantu

Ingatlah sayang,
Sebelum kau mencintaiku
Tanpa kau perlu tahu
aku lebih dulu mencintaimu
dalam segala rupa kesahajaan
dalam segala rupa ketelanjangan

09 Oktober, 2015

Kumpulan #talijiwo

Posted by Suguh Jumat, Oktober 09, 2015, under | No comments

  • Kekasih, sekali waktu cobalah berlari sambil menangis. Biar kau bisa bedakan, antara lelah berolah raga dan lelah meratapi kenangan.
  • Laut ini kekasih, Kibar layar sampanmu ke dermaga. Aku sauh, rela redam dihantam ombak di bawahnya.  
  • Seperti Bima mengurug laut demi mendapat tirta amerta, maka tak ada kata berlebihan dalam kamus cinta, kekasih. #talijiwo
  • kenapa aku suka naik gunung? karena bangsa ini surplus hasrat dan vitalitas tapi minus perenungan, kekasih.
  • jika dijah yellowpun tak sanggup membuatmu cemburu, lantas siapa lagi yang harus aku jadikan kompetitor buatmu, kekasih?
  • Seperti Dewi Kunti melahirkan Karna melalui telinga, begitu juga cinta, kekasih. Absurd datangnya, tragedi perginya.
  • kita harus lebih banyak mengunjungi muara bukan aliran sungai, kekasih. karena bangsa ini kebanyakan masalah tapi miskin solusi.  
  • Kekasih, karena melalui facebook dan instagram sudah terlalu mainstream, aku menstalking mu melalui doa.  
  • Kekasih, bukan kerena benci dulu Laila memecahkan piring Majnun. Tapi biar ia mengantri lagi dan mereka bisa bertemu lagi.
  • Kau tau persamaan nilai tukar rupiah dan kenangan? keduanya sama2 dapat membuat kita menangis. Kekasih,mungkin rupiah butuh tisu.  
  • Nilai tukar rupiah atas dollar melemah. Mungkin kurang perhatian. Coba ajak dia candle light dinner, kekasih.
  • Luka ini kekasih, luka ragaku sehabis perang. Tak sedalam luka jiwaku, sepanjang waktu meratapi pusaramu.
     
 

10 September, 2015

Kiamat Tercekat (Lagi)

Posted by Suguh Kamis, September 10, 2015, under | No comments

Kiamat tercekat lagi subuh ini
‘tika seorang pelacur bercadar lumpur
Dalam kesendirian laungkan ratap taubat
usai lampu pesta berpendar, redupi pusat edar

Kiamat tercekat lagi siang ini
‘tika seorang jagal berlumur darah
pasrah merundukan wajah
sembari menakari hitungan mizannya

kiamat tercekat lagi sore ini
‘tika seorang nabi palsu dan tuhan jadi-jadian
kembali terbata menderas kitab paling utama
mengeja lagi bacaan alif, ba, ta, tsa.

Kiamat tercekat lagi magrib ini,
‘tika seorang istri jelita berlapang dada
Sambuti hardikan suaminya yang berbau candu
dengan balur bening air wudhu.

Kiamat tercekat lagi malam ini
‘tika seorang suami tampan mengelak
dari rayu manis madu, ranjang beludru lokalisasi itu
lalu begegas pada kekasih halal diperaduan rindu

09 September, 2015

Patahan Lembang; Antara Pengalaman Baru dan De Javu

Posted by Suguh Rabu, September 09, 2015, under | No comments

Kamis 6 Austus 2015, awalnya saya dan Dhiora mau mendaki gunung Burangrang, tapi entah karena kepala dia kebentur pintu atau pura-pura khilaf Dhio merubah destinasi jadi ke Patahan Lembang. Saya sih ikut saja, yang penting bisa hiking. Semula saya menganggap patahan lembang itu di daerah gunung Batu Lembang dekat Sespimpol. Tapi tenyata bukan, kawan.

Dhiora Bilang patahan lembang itu ada di belakang bukit Moko. Kalau berjalan sekitar 45-1 jam ke lokasi. Entah dia sudah tahu atau cuma sok tahu karena kalau lihat gersturnya baru pertama kali ke sana.

Sekali kita pernah melewati bukit Moko. Beberapa tahun lalu kita jalan kali dari Bukit Unggul, masuk hutan kina. Waktu itu hujan baru saja reda. Kabut turun tebal sekali. Jarak pandang di jalan setapak hutan kina anatar 3-5 meter. Suasana gelap. Padahal masih sekitar jam 16:00. Kawan, melihat kabut tebal turun itu rasanya seperti jatuh cinta pada seseorang tapi masih ngambang sikapnya. Potensinya, bisa di tolak atau di terima. Kabut juga begitu, bisa mengantar kita pulang ke rumah dengan hati gembira atau mengantar kita pulang ke hadirat Ilahi karena masuk jurang. Maka waspadalah kalau kabut turun. Karena kamu bisa tewas padahal belum kawin. T_T

Dari hutan kami lanjut ke bukit Moko. Setelah puas lihat city view di sana, kita pulang ke Bandung via jalur satu-satunya, desa Cimenyam. Itulah salah satu perjalanan paling durjana yang pernah kita lakukan. Berangkat pagi dan sampai ke daerah saung Ujo sekitar jam 20:30. Seluruhnya full jalan kaki. Mengenaskan sekali kawan, kami waktu itu kelihatan bukan kaya pecinta alam tapi kaya gelandangan.

Oke, kembali ke Patahan lembang yang baru dikunjungi. Kita ke sana naik motor. Dari saung Ujo terus nanjak ke Bukit Moko. Jalurnya Cetar sekali ternyata.Nanjak terus tiada ampun. Saya kadang mikir, pake motor saja sampai Moko lama banget, pantesan dulu rasanya ga sampai sampai waktu lewat jalur yang sama dengan jalan kaki.

Sampai di Moko, suasana sudah berubah sekali. Sekarang fasilitas umum seperti mushola dan tempat wudhu sudah tersedia. Warung-warung lebih banyak dan area parkir juga lebih luas. Dari Moko kita berjalan ke gerbang Bukit Bintang. Dari gerbang bukit bintang itulah kita berjalan ke patahan lembang. Mungkin kawan, agak bingung waktu saya menyebut bukit Moko dan Bukit Bintang. Keduanya adalah dua tempat berbeda yang posisinya berdekatan. Bukit Moko terletak di depan Buki Bintang. Keduanya adalah destinasi untuk melihat city view. Para ABG kekinian biasanya Cuma mentok sampai dua tempat ini.

Setelah melewati gerbang dan membayar tiket masuk, kita memasuki hutan cemara yang jalan setapaknya dilapisi paving block. Nyaman sekali di awal tapi makin lama makin nanjak. Saya suka sekali waktu mencium bau tanah dan bau pohon cemara. Kawan, selain rindu pada kekasihmu, hal yang dapat membuatmu kecanduan adalah kembali pada alam terbuka.
Petunjuk arah menuju patahan Lembang

Jalan setapak lama-lama berganti kontur, tidak lagi paving block tapi menjadi tanah. Karena sedang kemarau
jalanan jadi berdebu. Alurnya berkelok-kelok dan terus menanjak. Hutan cemara juga terlihat makin lebat. Saya pikir untuk yang pertama kali mengunjungi Patah Lembang tidak perlu takut nyasar karena banyak papan penunjuk arah.
Jalur hutan cemara menuju lokasi
Setelah berjalan kira-kira 45-1 jam sampailah kita di area Patahan Lembang. Agak bingung juga waktu kita nyari lokasinya padahal sebetulnya sudah sampai. Karena bingung nanya ke warga yang lewat malah jadi tambah bingung. Waktu saya tanya kalau jalan terus ke lembah yang ada di bawah adalah arah menuju Patahan Lembang, jawabanya, iya. Terus Dhio nanya, kalau tempat kita berdiri ini Patahan Lembang atau bukan, jawabannya Iya juga. Dia Cuma jawab iya iya, ngga ngga aja. Akhirnya kita biarkan dia pergi dengan perasaan bingung. Sampai tibalah orang yang pakai motor trail. Kita kirain ojeg masuk hutan hahahaha. Ternyata bukan, itu orang mau lagi nyari lokasi Batu Lonceng. Dari dia baru kita tahu kalau posisi kita berdiri adalah patahan lembang.

View patahan menurut saya keren sekali. Di kejauhan hamparan gunung-gunung yang berlekuk-lekuk berwarna hijau. Gunung paling tinggi dan paling dekat adalah Bukit Unggul. Di bawah Patahan Lembang pada sisi sebelah kiri terdapat perkampungan dan petak petang sawah. Seementara di sebelah kri adalh hutan cemara yang rimbun.




Tanda bila kita sudah sampai di patahan lembang adalah ada sebuah batu yang lumayan lebar di tepi tebing. Di depannya ada pohon tua yang bentuknya eksotis sekali. Pohon itu tinggal batang sama dahan, tanpa daun, sedirian, gimana aja jomblo pada umumnya. Di atas itu kita bisa  berfoto dengan latar belakang pemandangan alam yang keren sekali. Cuma hati hati jatuh ke jurang. Kurang bonafit kalau kawan tewas di tempat itu. Lokasinya di keramaian, bisa jadi bahan tontonan banyak orang. Paling kata Tim SAR yang nolong, biar mayatnya yang ngurus diri sendiri, negerepotin.

Saya gantian sama Dhio foto-foto di sana. Lucky for us, suasana masih sepi. Jadi kita bebas bergaya dengan pose paling menjijikan sekalipun. Setelah puas baru kita pulang. Di jalan ketemu banyak orang yang bermaksud ke Patahan Lembang. Istirahat dan seolah sebentar di saung. Lanjut jalur ke bukit bintang. Pusing amat di sana karena banyak orang pacaran. Sementara kita cowo jalan berduaan, semoga waktu itu kita ga dianggap homo ya.

Catatan terakhir yang ingin saya bagi adalah soal Dhio yang ngeh pertama kali soal jalur jalan setapak. Awalnya dia lupa-lupa ingat tapi kemudian mulai sadar kalau jalur dari dan ke Patahan Lembang pernah kita lewati beberapa tahun lalu (seperti yang saya tulis di awal). Karena bila melihat kontur jalan, saung tua tempat kita shalat dulu, kontur bukit bintang yang dilihat dari bawah, bikin ingat kembali ke pengalam kita jalan di jalur durjana yang bikin capek banget itu. Saya yang agak lemot kalau mengingat juga mulai ngeh. Bedanya waktu kita lewat daerah ini belum di kelola perhutani. Sekarang sudah komersil. Saya seperti mengalami de javu.

Kita kembali ke Bandung sekitar jam 17:00. Sempat makan sedikit sama Dhio tapi ga Kenyang. Sampai di rumah mandi sebentar, terus ngajak Ira makan malam. Tapi Ira ternyata sudah makan. Jadi dia Cuma minum. Saya sendirian yang pesan makan. Ngoborol ke sana ke sini sampai ga nyadar di kantin sudah tidak ada siapa-siap dan kantinnya juga sudah tutup. Jam 21:30 Saya mengantar dia ke kosannya. Setelahnya baru pulang lagi ke rumah.

08 September, 2015

Bukan karena Putus Asa Aku

Posted by Suguh Selasa, September 08, 2015, under | 1 comment



Bukan karena putus asa
Aku menarik sauh
lalu mengayuh sampan
labuh ke dermaga

aku cuma butuh sandar sebentar
selagi berlayar.
Biar lindap rasa lelahku
di teduh pelupuk matamu

8/9/15

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive