28 Januari, 2013

MEI 98 (2)

Posted by Suguh Senin, Januari 28, 2013, under | No comments


Apa harus kuruapkan dulu
darah ku kewajahmu?
Biar lekas siuman engkau
dari igau panjang mimpi panjang itu ?

Matahari telah redup sinarnya
dilindapkan asap mesiu
Kabut pagi telah burai jelaganya
digerus popor bedil dan peluru

Kucing-kucing hitam
dengan mata nyalang
merangseki lorong pasar
menjarah isi rumah
Serta mencabik selaput dara
perawan perawan nan durja

Jilat bara amuk dimuka
Legam warnanya rajami mereka
yang lunglai julurkan tangan
‘Tika kau pulas mendengkur
hingga tiba fajar berikutnya

20 Januari, 2013

Peran Mahasiswa Bahasa Jepang Dalam Memberdayakan Masyarakat Sekitar Kampus

Posted by Suguh Minggu, Januari 20, 2013, under | 3 comments

Makalah saya yang dibantai dewan juri dulu, daripada mubazir diposting aja di sini sekarang

Sudah selaiknya kampus tak menempatkan diri pada posisi menara gading. Segala macam materi perkuliahan, diktat dan postulat kan sia sia bila sekadar berkutat di dalam kelas. Padahal Tri Dharma Pendidikan Tinggi jauh jauh hari telah menggrariskan kalau pengabdian pada masyarkat jadi salah satu unsur yang musti dipenuhi oleh segenap civitas akademika selain pendidikan dan penelitian.

Fakultas Bahasa Jepang dalam hal ini menanggung beban moral seperti fakultas fakultas lain. Apakah ilmu ilmu yang didapat bisa berguna bukan hanya untuk diri tapi juga lingkungan? Atau seperti lagu lama yang sering didengar, mahasiswa sekadar kuliah, memenuhi absen, ujian dan lulus. Dengan begitu segala perkara dianggap tuntas.

Peta Masyarakat Kita
Salah satu elemen yang sering luput dari perhatian mahasiswa adalah masyarakat yang tinggal di sekitar perguruan tinggi. Padahal masyarakat dapat dijadikan partner untuk merepresentasikan kerja kerja sosial mereka. Masyarakat sekitar kampus ibarat miniatur Indonesia dengan segala kompleksitas masalahnya. Adapuun masalah yang dapat dikatakan masih memeroleh lebel ‘laten’, itu itu melulu dan tak kunjung tuntas ialah soal pengangguran dan pendidikan.

 Dua masalah ini memang setali tiga uang. Kepala BPS Rusman Heriawan menandaskan per Maret 2011 jumlah warga miskin di Indonesia sebesar 30,02 juta jiwa. Faktor pendidikan yang rendah, skill yang belum mumpuni, kurangnya akses informasi serta tak adanya sokongan modal untuk merinris usaha mandiri membuat mereka gelagapan bila musti bersaing dengan entitas masyarakat tertentu, yang lebih terdidik macam lulus peguruan tinggi. Mereka terpaksa harus terpental dari persaingan dunia kerja secara formal yang ketat.

Ekses paling kentara dari masalah di atas ialah melonjaknya jumlah pengangguran. Masih menurut BPS,  hingga Februari 2011 terdapat 8,59 juta jiwa orang yang tak memiliki pekerjaan. Lebih jauh secara umum pada tahun ini jumlah angkatan kerja di tanah air mencapai 119,4 juta orang. Angkanya naik 2,9 juta bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni 116,5 juta.

 Ekses lain adalah tetap tingginya jumlah angka putus sekolah atau tak sanggup melanjukan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Seperti diungkapkan Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendiknas Nono Adya Supriatno, saat ini terdapat  hampir 50 juta siswa miskin di Indonesia. Adapun detailnya adalah, 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Nono menandaskan, “Siswa di SMP, hanya 23 persen yang mampu meneruskan ke tingkat SMA. Sisanya tidak bisa meneruskan, di antaranya ada yang terpaksa bekerja."  Hal ini senada dengan pengalaman penulis saat melakukan wawancara infomal ketika akan merintis sekolah alternatif di kawasan Cikutra bandung. Ketua RW setempat mengatakan bila warganya kebanyakan hanya lulusan SMA dan tak sanggup melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Peran Nyata Mahasiswa Bahasa Jepang
Perubahan mustahil terjadi bila entitas terdidik macam mahasiswa hanya diam. Dibutuhkan pioneer pioneer yang berani bergerak saat yang lain masih bersikap apatis. Mahasiswa Bahasa Jepang punya modal lebih dari cukup tuk berbuat nyata bagi masyarakat sekitar kampus. Adapun berbuat bukan berarti menggurui, mendominasi apalagi memonopoli. Lantaran hal yang paling penting adalah sinergi saling menuntungkan di antara kedua belah pihak. Seperti diungkapkan Rektor Universitas Muhamadiyan Malang Drs Muhadjir Effendy, MAP, "Saya memang mengharapkan hubungan antara kampus dengan masyarakat merupakan hubungan yang sangat baik, dalam arti ada mutual benefit dan juga ada mutual understanding. Saling memahami keberadaan masing-masing, tetapi juga ada saling berbagi manfaat. Itu yang menjadi komitmen saya sejak semula." Karena itu konsepsi harus segera dirumuskan. Rencana dan program kerja harus pula menyertainya.

1. Sumber Dana
Apabila kita petakan terdapat sejumlah masalah yang musti dihadapi oleh para mahasiswa. Yang pertama adalah masalah dana. Tidak jarang suatu konsep kerja sudah matang dari LSM atau komunitas kemahasiswaan harus mentah bila berhadapan dengan masalah finansial.

Dalam hal ini mahasiswa bahasa Jepang dapat bekerjasa dengan pihak Kedutaan besar negara matahari terbit itu. Melalui program NGO (Non Goverment Organisation), pemerintah Jepang getol menyalurkan bantuan hibah untuk proyek kerja sama pemangunan sosial dan ekonomi tingkat akar rumput (Grass Root). Jumlah dananya pun tak tanggung tanggung yakni sebesar 10 juta Yen atau sekitar lebih kurang 750-800 juta rupiah. Seperti dilansir web id.emb-japan.go.jp pihak yang berhak menerima bantuan tersebut adalah lembaga nirlaba yang beregerak di bidang pembangunan sosial dan ekonomi massyarakat.

Sebagai contoh adalah apa yang terjadi di Jakarta. Yaitu saat kedutaan besar Jepang memberikan dana hibah bagi sejumlah proyek sosial. Dalam paparannya duta besar Jepang untuk Indonesia Yohsinori Katori mengatakan, "Pemberian program hibah ini difokuskan terhadap ibukota Jakarta sebagai bentuk rasa terima kasih Jepang karena warga Jakarta telah banyak membantu warga kami." Seperti diketahui terdapat 12000 warga Jepang tinggal di Indoesia saat ini dan 8000 diantara menetap di Jakarta. Adapun organisasi yang menandatangai kontrak diantaranya, Forum Komunikasi Pengelolaan Kualitas Air Minum Indonesia (FORKAMI), Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Jakarta Timur, Jakarta Green Monster, dan Yayasan Rahmatan Lil Alamin Jakarta Timur.

Apabila dapat mengajukan proposal dengan apik, dapat dipetanggung jawabkan dan trasparan, dana tersebut bisa langsung disalurkan melalui pihak kampus dalam hal ini Jurusan Bahasa Jepang. Kemudian Jurusan menyalurkannya lagi pada mahasiswa untuk diberdayakan pada masyarakat. Posisi tawar mahasiswa jurusan Bahasa Jepang lebih tinggi bila dibanding dengan jurusan atau organisasi lain. Apa pasal? Lantaran baik mahasiswa dan pihak pemerintah Jepang memiliki ikatan emosional lebih kuat baik secara kultur, bahasa dan budaya. Selain itu mahasiswa dapat dibilang entitas yang kredibel ketika penyelewengan dana merajalela di kalangan lembaga pemerintah di tanah air.

2. Pendidikan Skill vs Pendidikan Karakter
 Pada tahap selanjutnya, sebagai langkah nyata mahasiswa dapat mendirikan sekolah alternatif. Secara teknis sebelum mendirikan sekolah mahasiswa dapat berkomunikasi lebih dulu dengan tokoh masyarakat setempat seperti ketua RT, RW atau Lurah untuk mendata masyarakat yang belum bekerja, putus sekolah dan tergolong miskin.
         
 Ruang kelas apabila memungkinkan dapat menggunakan aula serba guna karang taruna. Kalaupun tidak, kosan atau rumah warga yang disewa dapat dijadikan pilihan lain. Hal paling penting adalah sekolah tersebut musti benar benar berpihak pada kepentingan masyarakat. Mereka tak perlu lagi membayar atas materi pendidikan yang didapat. Adapun jenis materi yang diberikan harus benar benar aplikatif bila kelak digunakan baik di dunia kerja atau dalam usaha mandiri. Misalnya kemampuan komputer, sablon, keahlian bengkel dan lain lain.
         
Tentu mahasiswa dalam hal ini tak dapat bergerak sendiri. Bekerja sama dengan ahli dalam bidang bidang tersebut adalah pilihan bijak. Ada banyak lembaga lembaga pendidikan skill yang saat ini hadir dipelbagai tempat. Mahasiswa dengan dana yang didapat dapat membelanjakannya pada tolls atau alat, seperti komputer, alat sablon, atau alat alat yang berkaitan dengan dunia bengkel. Sedang para mentor mengajar dengan segenap kopentensinya. Mahasiswa pun dapat menggaet sponsor untuk melaksanakan pelatihan. Untuk usaha bengkel misalnya, mereka dapat menjalin jejaring dengan industri otomotif Jepang yang ada ditanah air. Pabrik motor atau mobil Jepang diharap dapat mengirim mekaniknya atau alat peraga untuk kemudian dijarkan pada masyarakat.

Adapun program yang telah berjalan musti pula berkelanjutan. Setelah peserta didik selesai mengikuti materi, mereka tak dilepas begitu saja. Mahasiswa dapat menyalurkan masyarakat yang belum bekerja namun memiliki potensi untuk bergabung di perusaan perusahaan industri otomotif Jepang sebagai tenaga mekanik. Bukankah saat ini terdapat dealer dealer perusahaan itu di tiap kota? Tentu masih terbuka peluang yang sangat lebar bagi masyarakat untuk bergabung dengan dealer tesebut. Atau memodali mereka untuk membuka usaha mandiri. Dengan dana hibah yang didapat akan banyak masyarakat yang bisa merasakan dampak positifnya bila disalurkan dengan cara yang benar.

Di lain waktu mahasiswa dapat pula mengadakan semacam pelatihan bisnis bagi para pedagang kaki lima di sekitar kampus. Nyatanya para pedagang ini sudah memiliki usaha sendiri meski maskih berskala kecil. Dengan pelatihan yang diberikan, baik secara langsung atau melalui para pembicara yang diundang secra khusus diharapkan para pedagang dapat meningkatkan kualitas barang dagangannya dan kuantitas pendapatannya. Pada pedagang dapat diajari misalnya cara mengemas makanan agar tampak lebih menari. Gerobak yang digunakan bisa juga dimodifikasi hingga tampilannya menjadi lebih menarik. Sedang dari segi pemasaran, mahasiswa dapat membantu melalui jejaring sosial di internet pada kawan kawan sekampusnya.
         
Adapun hal yang sama pentingnya dengan pendidikan skill adalah pendidikan karakter. Berkaitan dengan hal ini, dalam kurikulum pendidikan Fakultas Bahasa Jepang terdapat mata kuliah Nihon Jijo atau sejarah kebudayaan Jepang. Sejarah kebudayaan tak melulu berkutat pada urutan tahun dan angka angka. Lebih dari itu nilai nilai keJepangan pun layak diterapkan. Sebagai contoh mahasiswa bahasa jepang dapat menyampaikan mengenai semangat Gambaru. Gambaru sendiri dalam idiom Jepang adalah, “Doko made mo nintai shite doryoku suru.” Yang artinya  bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan. Dengan memegang pandangan ini orang jepang menjadi tak manja dan mudah menyerah. Persoalan dianggap sebagai kewajaran dalam hidup yang dinamis. Mereka tidak berharap menerima kemudahan dengan cuma cuma  karena hidup pada dasarnya memang sulit.

 Di Jepang sendiri, hal itu tercermin dari sikap anak sekolah yang didik untuk tak mendramatisir masalah. Bila hanya mengalami pilek ringan atau demam 37 derajat mereka tidak usah boles sekolah. Jadwal belajar diimbau untuk diikuti seperti biasa, dari pagi sampai sore. Alasannya mereka akan kuat menghadapi penyakit jika berani melawannya. Kaisar memberi teladan yang lain. Pasca tsunami beberapa waktu lalau ia berucap, “Motto gambatte kudasai, taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (Jangan menyerah, ayo berjuang lebih keras lagi. Saya tahu ini sulit, tapi ayolah berjuang bersama-sama!).” Tak ada lagu lagu melankolis ditelevisi. Tak ada tayangan dramatis dengan gambar orang menangis tersedu sedu. Baik pemerintah dan rakyat bergerak dalam satu napas yang sama. Napas untuk kembali bangkit tanpa kenal menyerah.

  Pendidikan karakter nyatanya masih terpinggirkan di negeri ini. Lembaga pendidikan formal macam sekolah dan kampus lebih mengutamakan kepandaian integensia. Nilai akademik menjadi prioritas utama. Bisa jadi mereka menjadi pintar, nilai nilai merekapun baik tapi yang lahir kemudian adalah sosok manja, kolokan dan mudah menyerah bila menghadapi persoalan yang real di masyarakat. Hal tersebut tak kita kehendaki di sekolah alternatif. Mahasiswa dapat menjadi mentor mentor yang aktif dalam menularkan semangat pantang meyerah pada peserta didik. Di lain waktu mahasiswa juga dapat mengundang mahasiswa asing atau dosen dari Jepang untuk memberi materi. Dengan begitu peserta didik dapat berkomunikasi dan menggali informasi dengan pihak yang memang kompeten.
         
Penulis Asma Nadia berkata, “Jangan menunggu sempurna, karena selalu ada yang lebih baik atas segala hal. Langsung action apa adanya!.” Memberdayakan masyarakat sekitar kampus adalah suatu tuntutna bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Bahasa Jepang. Dengan segala potensi yang ada mereka menjadi tak hanya pandai secara personal tapi juga sosial. Bila dua kecerdasan itu sudah bersinergi maka harapan untuk menyongsung perubahan yang lebih besar baik secara sosial dan ekonomi semakin terbuka.

Sumber
http://www.id.embjapan.go.jp/oda/id/projects/grassroot/odaprojects_grassroot_application.htm
http://m.detik.com/read/2011/05/05/124514/1633086/4/jumlah-pengangguran-di-indonesia-tersisa-812-juta-orang
http://www.gemari.or.id/artikel/1011.shtml
http://finance.detik.com/read/2011/07/01/122502/1672520/4/bps-jumlah-orang-miskin-berkurang-1-juta?f990101mainnews

15 Januari, 2013

Seandainya Saya Hidup di Jaman NAZI

Posted by Suguh Selasa, Januari 15, 2013, under | No comments

Apa jadinya bila saya lahir pada medio 1940an, saat NAZI sedang menggila di Eropa? Apa jadinya saya jika saya dilahirkan sebagai yahudi, gipsi, sosialis, demokrat, atau secara fisik mengalami difabelitas?

Saya mungkin akan menjadi objek pemurnian etnis  yang dilakukan NAZI pada saat itu. Sang Furher demikin getol mengkapanyekan suatu isu bila  Aria, Ras sang Furher, adalah ras terunggul di antara ras-ras lain. Oleh karena itu darah aria tak selaiknya dinodai oleh darah lain yang  dipandang lebih rendah.  Dalam pandangan chauvanistik Hitler, aria hanya untuk aria. Ia  memimpikan suatu hegemoni global di mana rasnya ada pada mata rantai tertinggi evolusi umat manusia, sebagai penguasa, sebagai pemuncak peradaban.

Bila saya hidup pada jaman itu, bisa jadi saya cepat atau lambat akan diciduk pihat berwenang.  Saya bisa membayangkan bila dua atau tiga orang tentara Nazi berpakain gelap dengan senapan laras panjang Karabine 86k yang terdandang di pundak mereka, mendobrak pintu rumah di suatu desa antah berantah di polandia sana, seperti di Birkenau, atau bahkan jauh di Austria atau Romania. Sebelumnya seorang tetangga yang usil, melaporkan saya secara diam-diam pada tentara-tentara itu. Sudah mahfum adanya pada saat itu tiap orang saling curiga satu sama lain dan sibuk menyelamatkan diri serta keluarga mereka.

Bila pihak NAZI tahu ada musuh negara menjadi tetangga mereka, dan mereka tak  segera melaporkannya, maka bukan hanya si tetangga yang akan mendapat hukuman berat tapi juga mereka. Saya bisa membayangkan tangan saya diikat ke belakang. Tentara-tentara itu membawa saya bahkan saat saya masih mengenakan baju tidur biru tua, hadiah seorang kawan saat ulang tahun saya musim panas lalu. Sedang kedua telapak kaki saya telanjang.  Tubuh saya mengigil karena di luar suhu anjlok ke titik minus dan salju bertumpuk-tumpuk hingga ke lutut. Pintu dan jendela rumah-rumah tetangga tertutup rapat. Kendati begitu saya tahu, diam-diam mereka mengintip di balik tirai yang disibakkan. Bisa jadi mereka turut prihatin melihat saya diperlakukan macam itu. Tapi bisa jadi juga mereka lega lantaran berkurang satu orang tuk mereka curigai.

Kini, dengan moncong karabin 86k tertempel di kepala tentara-tentara itu menggiring saya pada sebuah truk bak terbuka yang telah terparkir di jalan desa, berwarna hitam dengan bentuk kekar seperti seekor kumbang Augosome male raksasa.  Pada truk itu terdapat berpuluh orang dengan wajah masai dan bibir bergetar lantaran sudah terlalu lama menahan dingin. Sebagian dari mereka setengah telanjang dan sebagian lain memperlihatkan luka di dahi dan pipi dengan darah megering membaluri wajah.

Truk itu melaju, berderak, berat dan malas. berjam-jam melewati jalan berkelok dan panjang, berjam-jam diikuti hantu-hantu musim dingin yang genayangan hendak mencabut nyawa manusia malang yang sedang kedinginan. Hingga saya dan yang lain tiba pada sebuah kamp konsentrasi yang sudah kami duga sebelumnya bila kami memang memang kan di bawa ke sana. Suatu tempat yang menjadi muara bagi para tawanan, seperti air laut bermuara ke lautan. Itu lah Auschwitz. Pada gerbangnya terpasang slogan yang berbunyi, “Arbeit  macht frei” atau kerja akan membuat Anda bebas. Suatu omong kosong lantaran sebagain besar tawanan justru mati mengenaskan di sana.

Pagar kawat menjulang demikian tinggi, jalanan hitam yang tepinya di selimuti salju terhampat di hadapan. Saya dan yang lainnya digiring macam kawanan kambing bodoh. Tentara-tentara berpakain gelap dan bersenjata lengkap menyambut kami. Jelas mereka tak memerlakukan kami selaiknya tamu, karena kami adalah tawanan perang.

Kami berjalan menapaki jalan tanah itu. Sebuah lapangan luas menjelaga di depan saja. Selagi melangkah, saya melihat ada sesuatu yang lain di tepi kiri dan kanan jalan dan pagar kawat yang melintang di dekatnya. Di antara salju yang bertumpuk-tumpuk, di antara hembusa angin yang menerbangkan butir-butir putih Kristal hingga membuat pandangan kabur, saya melihat mayat-mayat bertumpuk. Mereka semua telanjang.  Laki-laki, perempuan, tua, muda, anak,anak.  Saya melihat seorang anak perempuan, mukin usianya sekitar tiga atau empat tahun, seusia dengan sepupu perempuan saya, terhimpit oleh mayat-mayat orang dewasa. Wajahnya pucat seperti terigu dan matanya tertutup dengan damai. Sedang mulut mungilnya tampak sedikit terbuka. Saya melihat sebuah lubang bulat kecil di dahinya. Sebutir peluru telah mengoyak batu kepalanya yang rapuh dan darah mengalir deras hingga ke tepian jalan. Demikian merah, demikian segar. Di mata saya darah itu seolah memancarkan cahaya.  Saat melewati bocah itu, saya menginjak darahnya dan meninggalkannya dengan napas yang tecekat di kerongkongan.

Saat sampai di lapangan itu, saya akan dibariskan dengan tawanan lain yang jumlahnya lebih banyak. mereka datang dari seluruh penjuru negeri dengan memikul masing-masing kisah pilu di pundak mereka. Dengan hanya mengenakan baju tidut tipis dan bertelanjang kaki membuat saya makin menggigil menahan dingin. Di depan saja, seorang opsir di balik meja menanyai para tawanan seorang dokter dengan wajah sedingin Frankenstein dan dua orang perawat perempuan berkaki jenjang dab berambut merah (yang bisa jadi keduanya adalah anggota Hitler Jungen, barisa pemuda hitler) mendampingi.

Dalam proses interogasi itu, tawanan yang dinyatakan lulus baik dari sisi intelektual, asal usul, ras, kesehatan fisik dan mental akan diberi nomor register, yang angkanya berderet-deret panjangnya. Kini orang-orang malang itu mengalami semacam personal brain washing. Mereka dikenal tak lagi dengan nama, asal-usul, ras atau agama. Satu-satunya identitas yang disandang adalah nomor register itu.
Saya dapat membayangkan, saya dengan perasaan gamang melangkah setapak dmi setapak mendekati opsir itu. kepala saya sesekali menyembul dari arah kiri dan kanan barisan, sembari menebak-nebak kira-kira apa yang kan terjadi pada diri saya? Hingga akhirnya tibalah giliran saya. Sang opsir memiringkan kepala. Alisnya terangkat dan dahinya ikut mengkerut.  Ia kemudian melirik ke arah sang dokter dan sang dokter melirik kembali ke arah kedua Hiler Jungen. Para Hitler Jungen menggelengkan kepala. Sang dokter mahfum, ia telah menduganya sejak awal. Lantas dirinya balik menggelengkan kepala ke arah sang opsir.

“Well nak,” ucapnya. “ku kira tak sulit untuk menentukan nasibmu.” Ia memerhatikan wajah saya lekat lekat. Semakin lama pandangannya semakin fokus pada mata saya. saya jadi makin gugup dibuatnya. Terlebih saat ia berkata, “Nak, kutaksir sebelah matu buta.”

Saya terkesiap.  Dari awal saya berusaha sebisa mungkin agar kebutaan saya tak diketahui oleh mereka.  saya lebih banyak menunduk dan meemjamkan mata. Tapi sipir dan dokter sialan itu lebih jeli. Mereka tahu saya setengah buta setelah melihat hal janggal pada  mata kanan saya yang hanya berupa bola mata hitam tanpa retina. Hitam sehitam-hitamnya karena memang sudah begitu adanya sejak saya lahir. Saya berusaha menyangah dengan mengatakan mata saya baik-baik saja. Tapi mereka bergeming, dingin, dan tak ambil peduli sekeras apapun saya berargumen.

Saya berharap mendapat nomor gegister itu, tapi nasib buruk yang justru datang mendekat. Salah seorang Hitler jungen itu berteriak. “Soldaat! ada seekor anjing berulah di sini!” ujarnya. Empat orang tentara tak lama berdatangan.  Mereka menarik saya dengan kasar. Dua orang mendorong dari belakang, dua orang lain menodongkan senjata. Reflex saya hendak mengangkat tangan, tapi hal itu urung dilakukan lantaran kedua tangan saya masih dalam keadaan terikat. “Jalan bangsat!” ujar salah satu dari mereka. saya terhuyung dan jatuh tersungkur ke tanah.

Saya kemudian terpisah dari barisan, dan kembali berjalan melewati tanah hitam yang dingin serta pagar kawat yang melintang di sebelah kanan dan kiri jalan itu. lajurnya berkelok-kelok seperti labirin. Kadang memanjang kadang pula melingkar-lingkar. Sembari berjalan saya melihat kamp-kamp menjelaga, tempat di mana para tawanan dijejalkan tanpa sanitasi yang layak. Tanpa jendela, tanpa ventilasi udara.

Hingga sampailah saya pada barisan lain yan terdapat di depan sana, sekitar dua puluh tentara bersenjata lengkap mengawal mereka.

“kalian ketinggalan yang satu ini soldat!!”

“Masih ada yang lain?” jawab salah satu dari mereka.

“Untuk sementara, kurasa cukup sampai yang ini dulu.”

Keempat tentara itu menyerahkan saya pada mereka, dan saya seperti seekor kambing bodoh dibariskan kembali. Tak ada lagi interogasi di sini. Wajah para tentara itu sepertinya juga tak menunjukan ikikat sikap beramah tamah laiknya seorang petugas front office pada seorang pelancong asing yang berkunjung ke hotelnya. Tak ada sapaan ceria, “ Wie geht is Ihnen?" apa kabar?  Atau “woher mommen sie?” Dari mana asal Anda? Atau sekadar mengucapkan, “Guten Morgen”, selamat pagi. tak ada sama sekali.

Tidak lama kemudian saya menemukan hal lain pada tawanan-tawanan yang ada di depan saya. Setelah saya perhatikan mereka adalah sosok yang secara fisik dan mental bisa dikatakan mengalami difabelitas. Mereka adalah yang sungsang sbelah kaki dan tangannya, tuli pendengarannya, tak dapat bicara mulutnya atau secara mental mengalami keterbelakangan.

Saya dapat membayangkan jika kemudian kami digiring pada sebuah tempat yang terpencil dari kamp-kamp lain. Pada sebuah ruangan terisolasi tanpa lubang udara. Itulah tempat yang akan menjadi krematorium kami, sebuah ruang gas beracun yang biasa digunakan untuk membunuh manusia secara masal dalam tempo singkat.  Menjadi bagian dari promram T4 atau euthanasia adalah gambaran mengerikan dalam sejara umat manusia.

Terbayang, kami akan berjalan dengan langkah gontai, wajah masai dan bibir bergetar. Selangkah demi selangkah kami mendekati ruang itu. Seiring dengan hal tersebut sebagaian para tawanan mulai panik. Jiwa mereka menolah tuk diperlakukan macam demikian, tapi raga mereka tak kuasa untuk melawan.  Sedang sebagain lain hanya pasrah. Mereka justru berharap kematian dapat mengakhiri  penderitaan yang panjang selama ini.

Satu persatu para tawanan yang malang itu memasuki ruangan gas beracun.  Suasana mulai gaduh. Sayup-sayup suara tangis yang lirih dan erangan panjang terdengar dari arah barisan. Mereka makin mengigil, makin ketakutan. Demikian mengerikankah kematian? Kalau saya ditakdirkan lahir pada jaman itu, saya bisa jadi akan melakukan hal serupa dengan apa yang para tawanan itu lakukan.  Kendati raga saya tak berdaya tapi jiwa saya niscaya berontak. Saya bukan seekor anak lembu seperti dalam lagu Donna-Donnanya Joan Beaz, yang pasrah saja saat akan di penggal di rumah jagal. Saya akan berargumen bahwa saya tak pantas mendapat perlakukan macam ini, kebutaan saya tidak pada dijadikan alasan untuk menjadikan saya sebagai pesakitan. Saya akan berusaha meski hasilnya sia-sia.

Setelah semua tawanan masuk ruangan, pintu kemudian ditutup. Keadaan berubah menjadi serba gelap.  Untuk beberapa saat  keadaan berubah senyap. Hanya keheningan yang membayangi kemudian. Saya dapat mendengar napas saya sendiri dan napas tawanan lain yang terengah engah.  Kemudian, saya mendengar suara seperti gas bocor dari tiap sudut ruangan. Suasana lalu berubah menjadi gaduh. Para tawanan mulai terbatuk-batuk, tersedak dan mulai menutupi hidung mereka.  Gas beracun itu merayap seperti hantu. Mendekat setapak demi setapak dengan gerakan diam-diam, lantas mencekik leher kami dari arah belakang.  Tanpa di sadari, gas itu lalu memenuhi ruangan. Meski tak dapat melihat dengan jelas, saya dapat merasakan para tawanan mulai berjatuhan. Mereka menggelepar dan terguling-guling di lantai.

Demikian mengerikankah kematian? Hingga saya seperti halnya yang lain, musti berakhir di ruangan gas beracun itu? Saya bisa membayangkan bila perlahan tubuh saya lemas. Saya menggeliat sembari menarik napas berat, mulut saya tergagap seperti hendak mengucapkan sesuatu dan saya merasakan hawa dingin mulai merangkak dari ujung kaki ke lutut, ke perut, ke dada, ke ubun-ubun. Inikah yang sering dikatakan orang dengan proses keluarnya roh dari tubuh.  setelah itu segalanya menjadi gelap, menjadi hitam, menjadi hening.

Seandainnya saya hidup di jaman NAZI, mungkin saya akan mati seperti itu. Memang itu hanya suatu kemungkinan dari banyak kemungkinan nasib yang akan dijalani oleh seorang manusia. Tapi sah saja bila membayangkan hal macam itu. Melihat ke belakang adalah bercermin pada sejarah, kembali belajar dari masa lalu untuk menatap hari esok yang masih gaib. Lantaran seandainnya kita tidak bisa merubah dunia, paling tidak kita bisa merubah diri. Sedang itulah pangkal dari segala pngkal perubahan.  Untuk menjadi makin mawas diri, makin merasa, makin peka. Seperti NAZI pada masa lalu, kenyataanya tiap kekuasaan kecil, bisa berpotensi melahirkan tirani besar pada masa kini.

04 Januari, 2013

Subcomandante Marcos: Inspirasi Di Balik Topeng

Posted by Suguh Jumat, Januari 04, 2013, under | No comments


Tulisan ini dipublikasikan juga di situs berita mjeducation

Nama subcomandante Marcos mulai mencuat dan dikenal luas oleh publik pada 1 Januari 1994. Saat itu bersama sekitar tiga ribu orang Indian Maya bersenjata yang menyebut diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejecito Zapatista De Liberacion Nacional-EZLN), Marcos menyerbu negara bagian Chiapas Meksiko dari pengunungan Lacandon. Dalam serbuan itu tujuh kota berhasil mereka duduki, diantaranya San Cristobal de las Casas, Ocosingo, Las Margaritas, Altamirano, Chanal, Oxchuc dan Huixan. Istilah Zapatista sendiri memiliki arti orang orang Zapata, merujuk keterkaitan emosi mereka dengan pejuang Meksiko pada 1911 Emiliano Zapata.

Dalam balutan balaclava (topeng ski hitam) mereka menyatakan perang pada pemerintah atas segala kebijakan yang tak populis. Saat itu pemerintah Meksiko, Kanada dan Amerika Serikat sepakat menandatangani draft perdagangan bebas NAFTA (North America Free Trade Agreement). Sebuah draft yang nyatanya menjadi preseden buruk bagi para petani adat. Karena dengan alat pertanian alakadarnya, kini mereka harus bersaing dengan perusahaan perusahaan pertanian raksasa yang menggunakan peralatan canggih dan lengkap.

Lebih jauh Carlos Salinas De Gorgoti, orang nomor satu Meksiko pada periode itu melakukan langkah langkah pro pasar bebas, seperti mengamademen pasal 27 UUD 1917 yang memberi dampak tanah adat bisa secara bebas diperjual belikan, hingga masyarakat penggarapnya bisa dengan mudah digusur. Selain itu pemerintah menjual 8% BUMN pada swasta, hingga terjadi pemangkasan subsidi yang menurunkan daya beli rakyat.

Ketika Kata Menjadi Senjata
Tak ayal serangan mendadak tersebut memicu konflik bersenjata. Namun sebelum berkembang makin luas, rakyat Meksiko lebih dulu tergerak untuk menyerukan perdamian. Perangpun hanya berlangsung 14 hari dengan 40 korban tewas di pihak pejuang dan 100 di pihak tentara pemerintah. Sejak itu Zapatista kembali ke Pegunungan Lacandon dan melancarkan perang gaya baru. Suatu perang yang justru lebih efektif bila dibanding dentuman bom dan rentetan tembakan, dimana kata kata menjadi senjatanya. Dalam hal ini sosok Subcomandante Marcospun menjadi tokoh sentral.

Berbicara soal Marcos maka kita akan berhadapan dengan kemisteriusan yang seolah tak berujung. Dikatakan demikian lantaran tak seorangpun tahu siapa Marcos sebenarnya. Karena seperti para pejuang EZLN lain ia selalu menyembunyikan wajah dan identitas di balik balaclava yang selalu dikenakannya.

Secara personal hanya sedikit informasi dapat dikorek dari sang komandan. Dalam sebuah wawancara Marcos sempat berkata kalau ia berasal dari keluarga mengah di Meksiko. Dimana ia diajarkan bila hal paling penting dalam hidup adalah melakukan aksi nyata dalam memerangi ketidak-adilan atau El Camino Del Verdad (jalan kebenaran) dalam istilah Marcos sendiri.

Sejak kecil Marcos merupakan sosok yang sudah gemar membaca. Ia menderas karya karya Cervantes, Neruda, dan Shakespeare. Biografi tokoh tokoh dunia seperti Lenin, Karl Marx, Benito Musslolini dan Adolf Hitler pun dilahapnya. Bahasa asing terutama Prancis, Italia dan Portugis dipelajarinya saat memasuki jenjang universitas. Bermacam macam buku yang ia baca memperkaya keberagaman genre tulisannya kelak.

Saat tumbuh dewasa, jiwanya terpanggil untuk mengabdi pada kemanusiaan. Marcos memutuskan untuk bergabung dengan para pejuang di pegunungan Lacandon pada 1983. Alih alih tampil dengan kesan berangasan dan sangar, sejak awal Marcos mencitrakan diri sebagai tukang guyon. Tiap tindakan serta ucapannya yang kocak membuat kepribadiannya lebih mendekati tukang banyol ketimbang seorang komandan.

Sebagai contoh saat pemerintah Meksiko menunjukan foto lelaki brewok di televisi dan menyebut ia sebenarnya adalah Rafael Sebastian Guillen Vicente, mantan profesor filsafat di UNAM (National Autonomous University of Mexico). Dengan enteng Marcos menjawab jika cerita itu sama sekali keliru. Kilahnya tuduhan serampangan pemerintah dapat mengacaukan aktifitas surat menyuratnya dengan gadis gadis penggemarnya. Di lain waktu saat bicara soal topeng yang selalu dikenakannya, Marcos berkata bila dengan memakai topeng ia dianggap lebih tampan  dari kenyataannya oleh orang orang.

Namun di balik kekocakannya, hal paling inspirasional dari sosok Subcomadante Marcos adalah daya gugah kata katanya. Sejak 1992 hingga 2006, ia telah menulis lebih dari 200 esai, cerita, serta 21 jilid buku dengan total 33 edisi. Pencapaian yang dapat dikatakan fenomenal karena aktifitas literasi dilakukan pada masa konflik.

Ia menggubah bermacam macam genre yang telah dipublikasikan melalui internet, koran dan buku. Ia ‘menyapa’ berbagai kalangan pembaca mulai dari kelas terdidik seperti sarjana atau pekerja perkotaan dengan pemaparan ilmiah soal ekses negatif neoliberalisasi. Sampai segmen buruh tani pedesaan dan anak anak dengan dongeng, hikayat, fantasi dan fabel. Hal tersebut dapat dilihat dari cerita pendek berjudul ‘kisah seuntai awan kecil’ atau ‘Mengolah Roti Bernama Hari Esok’ yang sarat pesan moral.

Marcos melakukan ‘akrobat kata’ dengan cara mengkrtik, merayu, menggoda sampai membanyol. Kekeritisan pikiran ia sisipkan melalui kejenakaan bahkan kejorokan kalimat namun hal tersebut tak menghilangkan pesan positif di dalamnnya.

Selain itu Marcospun menciptakan tokoh tokoh khalayan dalam menyampaikan ide idenya pada publik. Yang paling terkenal adalah Don Durito De Lacandona (Don Durito dari pegunungan Lacandon) seekor kumbang pengembara yang cerdas, ia merupkan gabungan dari karakter Don Quixote, Sherlock holmes, Raja Artur, Bajak Laut Si Janggut Merah dan Umberto Eco sang kritikus anti neoliberalisme.

Dalam pemahaman Marcos, agar seorang pemimpin bisa melek sosial, tak melulu musti menderas kajian politik yang benar berat, tapi  juga musti mengkhatamkan paling tidak tujuh buku yaitu puisi, cerpen, novel, teater, esai, filsafat dan tata bahasa. Hal tersebut ia buktikan sendiri saat pertama kali tiba di Pegunungan Lacandon. Ranselnya penuh dengan buku buku sastra karya penulis mahyur macam Garcia Marques, Vargas Liosa, Julio Cortazar dan lain lain.

Marcos mengungkapkan hal yang membuat Zapatista dan dirinya berbeda kelompok lain adalah ia mengenal dunia lewat puisi, esai dan novel, ketika kebanyakan orang mengenalnya melalui media komersil televisi. Tak heran jika Shakespeare didaulat menjadi sebagai analis paling piawai dalam sistem politik modern Meksiko. Sedang adalah Don Quixote, Hamlet serta Machbet adalah buku teori politik terbaik.

Karena keunikan perjuangan tersebut Marcospun mendulang simpati dari masyarakat. Pada maret 1994 ia kepayahan menggotong 2000 pucuk surat dari para penggemarnya dari sebuah katedral. Lebih jauh Zapatista secara organisasi berhasil memenangkan perang opini di seantero Meksiko dan seluruh penjuru dunia. Mata tiap orang terbuka atas kenyataan kelam yang dialami petani Chiapas. Karenanya sejumlah organisasi HAM internasional, utusan PBB hingga klub sepak bola nomor wahid Inter Milan berduyun duyun mengulurkan bantuan.

Marcos berhasil membangun jembatan antara ‘Meksiko sungguhan’ yaitu berkubang kemiskinan dan gizi buruk dengan ‘Meksiko pura pura’ yang berlipah glamoritas, pesta dan limpahan uang. Kehadirannya membuat siapapun tersadar bahwa terdapat ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin yang musti dicari jalan keluar terbaiknya.


Meraih Inspirasi
Idealnya, ketika ‘tangan kanan berbuat kebaikan maka tangan kiri sebisa mungkin jangan sampai mengetahuinya’. Tak semustinya tiap kontribusi dan prestasi disombongkan. Marcos adalah prototipe ideal dalam hal ini. Ia terus berkarya dengan tak direcoki oleh masalah pencitraan  juga puja puji. Ia justru tetap konsisten pada rel pejuangannya.

Karena itu, belajar dari pribadi Subcomandante Marcos adalah suatu keniscayaan. Meraih inspirasi tentu itu hal yang amat diharapkan. Namun bisa berkarya nyata di masyarakat seperti Marcos ialah hal yang lebih utama. Lantaran hal tersebutlah yang membuat seseorang memiliki nilai tambah dibanding yang lain

Daftar Pustaka
  Marcos,Subcomandante.2005.Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan.Yogyakarta,Resist         Book
  Marcos,Subcomandante.2005.Kata adalah Senjata. Yogyakarta, Resist Book
  http://septiaku.multiply.com/reviews/item/3
  http://wapedia.mobi/id/Tentara_Pembebasan_Nasional_Zapatista
  http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1104360
  http://pemberontakmerdeka.blog.friendster.com/
  http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Pembebasan_Nasional_Zapatista
  http://readresist.wordpress.com/2008/05/10/cara-lain-melawan-neoliberalisme/
  http://septiaku.multiply.com/reviews/item/3

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog