26 Juli, 2013

Hakikat Pengebaraan

Posted by Suguh Jumat, Juli 26, 2013, under | No comments

Wahai jiwa, obat gelisahmu adalah ziarah. Pelamur nyeri lukamu adalah pengembaraan. Hati yang sakit umpama sungai yang alirannya mampet tertahan sampah dan kotoran. Airnya menjadi statis, kaku, diam. Ia menggenang tanpa gairah. Hingga lama-lama warnanya menjadi kelam dan berbau busuk. Apalah artinya hidup yang tak hidup? Apalah Artinya hidup tanpa dinamika?

Buah dari diam berkepanjangan adalah kekosongan. Muara dari kekosongan adalah kesepian. Sedang sayap-sayap kesepian adalah kesediahan yang niscaya mengantarmu pada maut. Sejarah umat manusia adalah rangkaian panjang rantai kekalahan zaman. Mata-mata rantainya adalah bangkai mereka yang mati penasaran menanggung tanda tanya besar dalam diri mereka, hasrat yang belum tercapai, angan yang belum di raih dan mimpi-mimpi yang masih menganggu dalam benak. Mereka gentayangan menjadi hantu. Melolong-lolong sepanjang waktu bersama kawanan serigala dan bururung gagak. Meyebarkan teror pada mu agar kau menjadi bagian dari mereka.

Duhai engkau yang sedang gelisah. Bukalah sumbat-sumpat penutup yang menghalangi cahaya masuk jiwamu. Perubahan mustahil terjadi dengan cara yang biasa. Kau perlu mendobraknya dengan cara yang paling keras sekalipun. Bila jiwamu umpama air yang tersumbat, maka sulur-sulur sungai adalah ladang kembara yang akan membebaskanmu.

Mengembaralah, paling tidak sekali dalam hidup. Pengembaraan pertama akan melamurkan luka jiwamu. Kemudian mengobati kesepian hatimu.kemudian  menggelorakan semangatmu. Dunia bukan hanya lingkup sempit atap rumahmu. Di luar sana ada dunia lain yang jauh lebih luas, lebih menarik, lebih kaya. Mengebaralah karena kau akan bermetamorfosa menjadi sosok yang baru. Bila kau sekali waktu ingin merasakan deraan gelombang laut yang dahsyat, gigitan udara gunung yang liat atau kelok curam jalan penuh duri, onak pula bau-batu, maka jawabannya adlah dengan mengebara. Jika sekali waktu kau ingin menemukan saudara-saudara baru, pohon-pohon yang menjulang hingga ke langit, sisa bangunan yang tua di makan zaman, maka jawabannya adalah dengan mengebara.

Buat apa pula itu semua? Kau musti sadarkan dirimu sendiri bila kau buka kebanyakan orang yang seharian membusuk di depan televisi menonton acara yang katanya realty show tapi ternyata bohongan. Kau adalah jiwa yang lain. Jiwa yang selalu tergoda untuk menemukan hal-hal baru. Itulah yang membedakanmu dengan mereka. kau memiliki antusuame.  tengoklah! Mustahil Marcopollo menemukan India dan Persia jika hanya melabuhkan kapalnya di tepi pantai. Mustahil bangsa Viking dapat menemukan Benua Amerika jauh sebelum Collombus jika hanya mendengkur di skandinavia. Mustahil Tan Malaka akrab dengan budaya Eropa dan Asia jika hanya diam saja di rumahnya di Padang sana.

Syarat pengebaraan adalah keberanian. Tanpa keberaniah semua mimpi-mimpi besar cuma jadi wacana. Tulang punggungnya adalah rencana yang matang. Sedang kedua lengannya adalah biaya yang patut di perhitungkan. Tak perlu risau memikirkan hal ini. Pengorbanan yang besar akan membuahkan hasil yang besar pula. Percayalah. Jika diumpamakan dengan berniaga, maka mimpimu, rencanamu, dan sebesar apapun biaya yang kaku keluarkan jumlahnya tak kan sepadan dengan pengalaman yang kan kau alami.

Keluar rumah lah!
Mengebara lah!

  

16 Juli, 2013

TAN Malaka: Sang Penulis, Sang Agitator

Posted by Suguh Selasa, Juli 16, 2013, under | 1 comment

"Orang Tak akan berunding dengan maling di rumahnya" (Tan Malaka menanggapi agresi militer Belanda) 

Saya baru selesai baca buku TAN MALAKA Bapak Republik yang Dilupakan terbitan Tempo. Saya agak terlambat baca buku ini. Selain terlambat mendapat info terbitnya, saya juga kesulitan mendapatkannya karena buku itusudah jarang dijual di toko-toko buku besar seperti Gramedia. Tan Malaka sendiri adalah figur yang saya 'kenal' belakangan, jauh setelah saya membaca dan menganggumi Soekarno sejak SMP atau Soe Hok Gie dan Sub Comandante Marcos saat kuliah.

Buku tersebut, menurut saya menyampaikan biografi Tan Malaka (juga biografi-biografi lain seperti Jederal Soedirman dan Douwes Dekker) dengan prespektif berbeda jika dibanding dengan buku-buku sejarah lainnya. Tempo menampilkan figur Tan Malaka dalam bukunya secara random. Bawa awalnya justru dimulai dengan informasi kematian sang geriliawan di Gunung Wilis.  kemudian berlanjut pada bab-bab lain seperti kontribusinya pada rapat akbar pemuda di Jakarta pada September 1945, kiprahnya sebagai guru, pelarian-pelariannya hingga mengelilingi dunia, perjalanan asmaranya yang kering dan sebagainnya.

Dari buku tersebut saya mencatat beberapa hal penting berkaitan dengan kontribusi Tan Malaka dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.  Bagi kawan-kawan yang sama sekali belum mengenal figur Tan Malaka, dapat membaca profilnya di sini.

Sang Penulis Sang Agitator 
Di kancah politik nasional, Tan Malaka adalah sosok yang getol menyampaikan gagasan-gagasan
kemerdekaanyanya melalui tulisan. Menulis adalah salah satu cara Tan Malaka mengagitasi massa selain berorasi. Hingga karenannya ia musti mengalami pelarian politik dari kejaran intel-intel asing.

sebagai Contoh, Naar De Republiek Indonesia yang ditulisnya pada 1925, dalam pelarian diluar negeri, merupakan buku pertama yang mengagas konsep Republik Indonesia. Buku tersebut lebih dulu terbit dibanding Indonesia Vriej (Indonesia Merdeka) karya Hatta sebagai pledoi di depan pengadilan Belanda pada 1928. Atau 'Indonesia Menggugat'nya bung Karno  pada 1933 di pengadilan Belanda di Bandung.
 
Tulisan-tulisan Tan Malaka memberi pengaruh bagi aktivis kemerdekaan pada masanya. Sayuti Melik  (Sleman, 22 November 1908–Jakarta, 27 Februari 1989) tokoh pemuda radikal mengenang, bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal-hal penting dalam buku Massa Actie (Aksi Massa). Saat itu Bung Karno masih memimpin Klub Debat Bandung. Saat menjalani proses pengadilan Lanraad, salah satu tuduhan yang memberatkan bung Karno karena ia menyimpan buku yang oleh pemerintah kolonial Belanda dianggap terlarang itu. lebih jauh, Massa Actie menjadi inspirasi dalam buku Indonesia Menggugat

Lain lagi dengan WR Supratman yang juga telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukan kalimat, "Indonesia tanah tumpah darahku." ke dalam lagu Indoensia Raya setelah diilhami bagian akhir Massa Actie pada bab Khayal Seorang Revolusioner.. Di mana pada bab tersebut tertulis, "Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri. Kewajiban seorang yang tahu, kewajiban putra tumpah darah."

Adapun Jenderal Besar Abdul Haris Nsution mengatakan dalam memeringati hilangnya Tan Malaka pada 19 Frbruari 1957 (Saat itu pangkatnya masih Mayor Jenderal dan KASAD), mengatakan jika pikiran Tan Malaka dalam buku GERPOLEK (Geriliya Politik dan Ekonomi) serta gagasan-gagasannya dalam kongres Persatuan Pejuang pada 4 Juni 1946, telah menyuburkan perang rakyat semesta.Perang in lanjut Nasution sukses saat melawan dua agresi militer Belanda pasca Proklamasi Kemerdekaan. Nasution berkomentar, terlepas dari pandangan politiknya, Tan Malaka harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.

Massa actie, GERPOLEK atau Naar de Republiek Indonesia merupakan sebagain kecil dari berpuluh buku yang di tulis oleh Tan Malaka. Menjabarkan figurnya dalam satu kali posting dalam blog dirasa amat kurang. hal ini berkaitan dengan perjalanan hidup Tan Malaka yang amat kompleks, yang menurutnya sendiri jauh lebih seru dibanding kisah fiksi. Tapi paling tidak tulisan ini bisa memberi gambaran meskipun samar-samar soal sosok yang justru dilupakan oleh bangsa yang iaperjuangkan kemerdekaanya. Pada tulisan selanjutnya mungkin kembali saya akan memposting soal Tan Malaka dengan tema yang lain






09 Juli, 2013

MELAHIRKAN PEMUDA ISLAM PRESTATIF DENGAN KARAKTER BAKU (Bagian II)

Posted by Suguh Selasa, Juli 09, 2013, under | No comments

Selanjutnya, mari kita uraikan lebih dalam karakter Baik dan kuat pada sub bab selanjutnya.

2.2.1 Karakter Baik
Karakter baik melambangkan kearifan pribadi. Bagaimana dengannya kita diajak untuk melakukan koreksi diri. Pembenahan pribadi wajib dilakukan bila kita menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik. Akhlaqul karimah adalah tujuannya. Seperti disampaikan Aa Gym, karakter baik memiliki tiga ciri sebagai berikut,

• Ikhlas
Ikhlas secara bahasa memiliki arti membersihkan. Sedang secara istilah ialah membersihkan hati supaya
menuju kepada Allah semata. Dengan kata lain ibadah baik yang sifatnya vertikal pada Allah SWT ataupun horizoltal pada sesama mahluk tak boleh diniatkan selain pada Allah.

Dalam riwayat, Umar bin Abdul Aziz sempat tiba-tiba turun dari mimbar saat sedang berkhutbah. Pada kesempatan lain, beliau sempat pula merobek kertasnya ketika sedang menulis kitab. Setelah dicari tahu, ternyata hal tersebut dilakukan karena sempat muncul perasaan riya dalam dirinya. Timbul lintasan hati ingin mendapat pujian karena memiliki kepandaian dalam berbicara dan menulis kitab. Beliau kemudian berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejelekkan diriku sendiri.”

Ikhlas menjadi pondasi penting dalam amal. Ia mencerminkan niat, apakah dilakukan tulus karena Allah atau ingin mendapat pujian mahluk? Salah dalam berniat maka akan sia-sia pula amal. Hal ini tercermin dalam hadist Rasulullah Mummad saw yang berbunyi, “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya,”Apa syirik kecil itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab,”Riya.” (HR Ahmad) .

Ciri selanjutnya pribadi ikhlas adalah tidak berduka karena cobaan dan tidak ujub karena mendapat nikmat. Peristiwa yang menurut mahluk baik atau buruk baginya sama saja,. Adanya rizki tak menjadi lupa diri, hilangnya rizki tak membuat bersedih.

Hal ini tercermin dari sikap nabi Ayub yang tak luntur kecintaannya meski telah dicabut segala kemewahan dunia dan ditimpa ujian berupa penyakit selama bertahun-tahun. Contoh lain bisa kita teladani dari Khalid bin Walid, yang tak protes saat Umar bin Khattab menurunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa. Padahal sebelumnya ia adalah seorang panglima besar yang memimpin 46.000 pasukan Islam dalam melawan 240.000 orang tentara Bizantium, dan berhasil menaklukan pasukan Romawi yang jauh lebih terlatih dan bersenjata lebih lengkap.

Khalid berkata, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!" kemudian iapun kembali melanjutkan perjuangannya tanpa memikirkan tanda pangkat dan kedudukan. Karakter Ikhlas adalah jalan menuju kemerdekaan, membebaskan belenggu, menanggalkan segala niat yang keliru dalam hati. Tak lagi tertinggal beban dalam hati, karena segala amalan hanya untuk Allah Swt.

Sedang latihan untuk menjadi pribadi Ikhlas seperti disampaikan oleh Yahya bin Abi Katsir berkata, “Belajarlah niat, karena niat lebih penting daripada amal.” Hal ini dikuatkan oleh Muththarif bin Abdullah yang berkata,”Kebaikan hati tergantung kepada kebaikan amal, dan kebaikan amal bergantung kepada kebaikan niat.” Sudah masanya untuk merubah orentasi amal kita. ibadah mustinya tak lagi karena ingin dilihat mahluk tapi karena Allah Swt. Bilapun toh masih ada lintasan hati ingin dinilai mahluk, maka mohonlah perlindungan dari Allah, karena Dia maha menyelamatkan.

• Jujur
Karakter jujur bagi seorang pemuda Islam bukan sekadar menjadi topeng. Lebih dari itu, ia adalah lambang dari kehormatan dan integritas yang terjaga dari hal-hal khianat.

Jujur bermakna keselarasan antara kata dan perbuatan. Dalam sebuah hadist Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Selalulah kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga. Sedangkan dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka.” (Hadits: Mutafaqun Alaih)

Sejarah gemilang Islam dikenal bukan hanya karena kisah para pejuanganya di medan perang, tapi juga karena riwayat kejujurannya yang terjaga. Rasulullah saat masih muda mendapat julukan Al-Amin atau yang dipercaya. Hal itu diakui bukan hanya oleh kawan tapi juga lawan. Sempat Abu Jahal berkata di hadapan kaum Quraisy, “Sesungguhnya kami tidak mendustaimu (Muhammad), hanya saja kami mendustai ajaran yang kamu bawa. (mahluktermulia.wordpress.com: 21 April 2013)

Kejujuran Rasul tercermin saat beliau berniaga. Bila berjanji beliau selalu menepati janji. Sedang bila mengantarkan barang dagangan selalu tepat waktu dengan kualitas sesuai pesanan. Karena itu pelangganya tak pernah merasa kecewa atau mengeluh. Integritas dan tanggung jawab terhadap tiap transaksi beliau perlihatkan pada siapapun. Berkat kejujurannya Rasulullah SAW, meminjam ungkapan Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio, telah “membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manager, dan kemudian menjadi investor.” (m-alwi.com: 21 April 2013)

Karena itu mulai saat ini, tak ada lagi perkataan bohong terucap dari mulut kita. Tak ada lagi janji yang tak ditepati dan kepercayaan yang dikhianati. Sekali orang tak percaya karena khianat maka selamanya kita mencorengkan noda hitam pada sejarah hidup kita. Bukankah pepatah lama telah berdedah, “Sekali lancung ketujuan, seumur hidup tak dipercaya lagi.” Lebih sulit mengembalikan kepercayaan orang lain dari pada menyembuhkan luka di tubuh. Berjuang menjadi pribadi berintergritas musti menjadi resolusi hidup. Jaga ia baik-baik, karena intergritas adalah pertaruhan atas kehormatan kita sebagai seorang Muslim.

• Tawadhu
Tawahdu menurut Abu Yazid Al Bushtami adalah karakter pada diri seseorang yang tidak memandang jika ia lebih baik dari orang lain dan tidak memandang ada orang lain yang lebih buruk dibanding dirinya. sedang Ibnu Atha’ berkata, “Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dari siapapun. Kemuliaan itu ada di dalam tawadhu’, barangsiapa yang mencari kemuliaan di dalam kesombongan maka seolah-olah dia mencari air di dalam api.”

Tawadhu bukan dramatisasi penampilan dengan mengenakan pakaian jelek dan lusuh. Bukan pula prilaku yang dibuat-buat hingga orang lain merasa iba. Tawadhu adalah cermin dari sikap proporsional. Tidak di lebih-lebihkan tidak juga dikurang-kurangkan.

Ada kalanya karakter tawadhu dimiliki seorang kaya serpeti nabi Sulaiman. Beliau memberi makan mahluk hidup dalam jumlah yang banyak, tapi hatinya tetap terjaga dari kesombongan. Namun, ada kalanya karakter tawadhu dimiliki pribadi sederhana seperti sahabat Rasul, Zuwaibar, yang karena kemiskinan dan penampilan fisiknya yang buruk rupa tak lantas mendramatisir masalah dengan jadi peminta-minta, ingin dikasihani atau menjadi beban.

Karenanya jadi tak lagi penting mencari perhatian dari mahluk. Segera melupakan kebaikan setelah melaksanakannya dan segera bertaubat bila melakukan kesalahan. Dengan melakukannya tidak untuk ingin mendapat pujian mahluk, tapi memang Allah saja yang memerintakan untuk berbuat demikian. Seperti sabda Rasulullah saw, “Barang siapa rendah hati kepada saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengangkat derajatnya, dan barang siapa mengangkat diri terhadapnya maka Allah akan merendahkannya.” (HR Ath-Thabrani)

Untuk menjadi pribadi tawadhu, kita dapat mengkaji konsep 2B 2L yang digagas oleh Aa Gym. Konsep 2B 2L ini terdiri dari,
  1. Bijak mengakui jasa dan kelebihan orang lain. selalu ada langit di atas langit. Belajar dari kelebihan orang lain adalah ciri ketawadhuan.
  2. Bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Tak ada orang yang sempurna. Tugas kita adalah membantu orang lain agar sama-sama tumbuh menjadi pribadi lebih baik.
  3. Lihat kekurangan dan kesahalan diri sendiri. Instrospeksi diri musti dilakukan. Tak perlu merasa diri memiliki kelebihan di hadapan mahluk. Karena pada dasarnya kita cuma mengaku-ngaku punya sesuatu padahal semua hanya pinjaman dan kan kembali pada Allah SWT.
  4. Lupakan jasa dan kebaikan diri sendiri. Bukankah amal yang baik itu saat tangan kanan berbuat, tangan kiri tak mengetahuinya? Allah maha menilai dan memberi balasan. Cukup ia yang jadi Tujuan.(Trim, 2005: 54)
2.2.2. Karakter Kuat
Karakter kuat merupakan cermin dari pribadi yang bersungguh-sungguh menggapai suatu tujuan. Ikhitiar menjadi syarat wajib, sedang doa musti pula menyertai tiap laju dan langkahnya. Karakter kuat menegaskan bila impian tak begitu saja dapat diraih dengan gratis. Ia perlu diperjuangkan dengan sebagap kemampuan.percayalah, segala hal yang didapat secara gratis tak kan ada gregetnya.

Sama halnya seperti karakter baik, karakter kuatpun memiliki tiga cirri sebagai berikut,
• Disiplin
Apabila diibaratkan dengan otot, maka disiplin tiap orang memilki tenaga berbeda-beda. Agar memiliki disiplin kuat, maka diperlukan latihan kuat pula. Definisi disiplin sendiri adalah, “melatih diri melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur secara berkesinambungan untuk meraih impian dan tujuan yang ingin dicapai dalam hidup.” (belajarpsikologi.com: 21 April 2013)

Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bila disiplin tak dapat dibentuk dengan cara instan. Ia adalah aktifitas yang dilakukan secara berulang-ulang hingga membentuk karakter kuat. Dengannya perlahan akan tergerus kemalasan, membuat pembenaran dan menunda-nunda pekerjaan.

Kesimpulan lain yang dapat diambil adalah bila disiplin dapat terbentuk jika memiliki target yang hendak dicapai. Menyadari benar manfaat atas aktifitas yang sedang dilakukan akan membentuk kedisiplinan. Sebagai contoh, bila sadar shalat lima waktu dapat mendekatkan kita dengan Allah, maka kita akan mati-matian berusaha untuk tidak meninggalkannya. Jika sadar dengan shadaqah dapat mengundang lebih banyak rizki, maka tak akan luput satu haripun bagi kita untuk bersedekah.

Berkaitan dengan membentuk karakter disiplin, mari kita tengok bagaimana rakyat Jepang mempraktekannya. Bagi mereka terlambat tanpa keterangan akan membuat orang lain khawatir dan berpikir pada hal-hal buruk seperti kecelakaan, sakit atau ada halangan yang menyulitkan. Sengaja terlambat atau mengkingkari janji berarti menyakiti perasaan orang lain. Karena itu bila memang benar-benar tak bisa menepati janji mereka selalu memberi informasi. Sedang bila sudah membuat janji maka sekuat tenaga berusaha untuk datang lebih cepat dari jadwal yang telah disepakati. Pepatah Jepang berkata “Kunshi wa hitori otsutsa shinu” (orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri), dan dengan kedisplinan Jepang berdiri dengan rasa hormat.

Contoh lain, meski terkenal rapi dan bersih, orang Jepang getol mengkampayekan negara mereka sebagai utsukushii kuni (Negara yang cantik). Di Universitas Chukyo misalnya, telah terbentuk grup sukarelawan Gomihiroi-tai atau pasukan pemungut sampah. Relawan yang bergabung diharapkan dapat membantu menjaga kebersihan kampus. Bila menemukan sampah seperti puntung rokok atau permen karet relawan tak boleh berpura-pura tak melihat atau mengumpat dengan berkata, “Dare ga tsuteta?” (siapa sih yang buang?), tapi dengan penuh kesadaran harus langsung memungutnya.

Jepang memulai disiplin dari hal-hal sederhana dan kecil tapi dilakukan secara konsisten. Sudah selaiknya kita mencontoh. Berjuang untuk senantiasa shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an setelahnya, menunaikan puasa sunnah, bersedakah adalah beberapa contoh nyatanya.

• Berani
Berani seperti yang dikatakan Anis Matta dalam buku ‘Mencari Pahlawan Indonesia’ adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa yang mendorong seseorang maju untuk menunaikan tugas baik tindakan maupun perkataan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan menyadari semua kemungkinan risioko yang akan diterima.

keberanian adalah energi yang merubah angan-angan menjadi nyata. Ia adalah bensin yang ditumpahkan ke atas bara api yang tengah redup hingga menyala kembali. Prestasi dunia akhirat hanya milik para pemberani karena tak semua orang memiliki nyali menghadapi risiko. Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, ada orang yang berani berjalan kaki hingga ke Mekah untuk menjalankan ibadah Haji, tapi ada juga orang yang demikian berat untuk berangkat ke masjid meski masjid itu ada di dekat rumahnya.

Para pemberani menyikapi risiko bukan sebagai halangan apalagi musuh. Tapi menjadikannya sebagai tantangan. Semakin tinggi tantangan, semakin mereka bersemangat. Adapun musuh utama dari keberanian bukanlah rasa takut. Karena takut adalah karater manusiawi yang dimiliki tiap insan. Musuh keberanian sesungguhnya adalah sifat malas. Sebab malas seperti kanker, yang bila didiamkan terlalu lama akan menjalar ke seluruh tubuh. Ia merontokan semangat, meruntuhkan harapan dan memupus cita-cita.


Cara satu-satunya tuk menggalahkan kemalasan adalah melawannya. Kemalasan dapat berganti keberanian jika kita sadar akan manfaat yang ada dibaliknya. Tentu jalan yang harus ditempuh terasa berat, melelahkan dan pahit. Tapi seperti seperti mendaki gunung yang amat tinggi, semua rasa sakit itu kan berganti dengan kebahagiaan bila telah sampai di puncaknya.

Karena itu, Rasulullah berani bangun malam dan menunaikan Qiyamul lail ketimbang tidur. Dengan begitu beliau semakin bisa ma’rifat pada Allah SWT. Karena itu, Evliya Celebi, petualang muslim legendaris di era Turki Usmani pada abad ke 17, berani untuk menjelajah ke belahan bumi yang jauh ketimbang berleha-leha di rumah. Sebab dengan menjelajah, ilmunya akan bertambah, wawasannya semakin luas dan hikmah dapat mematangkan pribadinya. Karena itu, Andrea Hirata berani menuntun sepeda motornya berpuluh kilo meter di Belitong, untuk benar-benar menjiwai kisah masa kecilnya yang kemudian ditulis menjadi novel Laskar Pelangi. Muslim sejati adalah pemberani. Dengan begitu ia dapat meraih prestasi luar biasa saat yang lain masih sibuk mencari alasan dan menjadi biasa-biasa.

• Tangguh

Ming-ming memang bukan mahasiswi biasa. Gadis kelahiran 18 April 1990 ini adalah pribadi pantang menyerah. Kondisi keluarga yang serba kekurangan tak menyurutkan semangatnya menggapai pendidikan tinggi. Oleh karena itu, aktifitasnya telah dimulai sejak pukul tiga pagi pagi, saat sebagian besar orang masih tertidur pulas. Ia melaksanakan shalat malam, lantas membantu pekerjaan rumah tangga. Pukul delapan, ia bersiap menuju kampus Universitas Pamulang yang berjarak 40 km dari rumahnya di kampung Sukasirna Desa Rumpin Bogor.

Ming Ming musti berpikir keras guna membiayai kuliahnya secara mandiri. Tanpa canggung ia memungut botol plastik yang ia temui di jalan saat pulang kuliah. Ia tak memungkiri bila kerap mendapat ejekan dari orang-orang yang ditemuinya. Meski begitu tak seorangpun sanggup meruntuhkan semangat belajarnya.

Dari pribadi Ming Ming kita bisa mengambil hikmah, bila keberanian saja belum cukup jika tidak dibarengi karakter tangguh. Berani yang berdiri sendiri, bila tak hati-hati akan membuat semangat menggebu pada langkah awal namun kemudian berpotensi padam pada langkah-langkah selanjutnya begitu menghadapi rintangan. Mundur sebelum bertempur, menyerah sebelum ‘berkelahi. Semangat itu menjadi tak berarti lantaran belum matang diuji.

Sedang jika keberanian dibarengi ketangguhan, maka seseorang akan konsisten dalam menggapai tujuannya. Tangguh adalah simbol dari keuletan, kegigihan dan kesabaran. Sukar memang, melelahkan memang. Namun perlahan tapi pasti keduanya kan mengatar pada kemenangan. Seperti air yang menetes di atas batu kemudian membuat lubang yang tembus hingga ke bawahnya. Seperti bara api yang membakar batu kemudian mengeluarkan kilau emas dari baliknya. Karena itu bila menghadapai ujian bertubi-tubi, masalah yang tak kunjung tuntas, ujian yang dirasa luar biasa berat, maka hadapilah seperti Ming ming menghadapi semuanya itu. Melangkah mundur hanya akan membuat diri kita jadi bahan tertawaan. Sedang maju dengan gigih kan membuka pintu-pintu harapan.

Untuk menjadi pribadi tangguh terdapat tiga syarat seperti disampaikan dalam situs motivasi-islam.com. Di antaranya adalah,
  1. Berpikir Positif, karena dengannya kita seolah sudah bersiaga sebelum genderang perang ditabuh. Akan muncul keyakinan dan optimisme bila tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan bila gigih menjalaninya.
  2. Semangat Belajar yang Tinggi, dengan belajar hal-hal baru bukan hanya dapat menambah wawasan tapi juga mematangkan kedewasaan pribadi. Perlu penanganan berbeda untuk masalah yang berbeda. Bila manajemen penyikapan masalah masih berantakan, hasilnyapun pasti akan berantakan.
  3.  Manajemen Diri, mengatur aktifitas agar terus produktif. Tak ada detik tersia-sia kecuali dilewatkan dengan hal-hal manfaat. Dengan begitu kita akan selalu siap untuk menghadapi perubahan dan rintangan macam apapun.

III
KESIMPULAN
Dalam Islam, prestasi tak sekadar menjadi retorika atau wacana. Prestasi justru telah menjadi budaya. Hal itu dibuktikan dengan Karya-karya bermanfaat bagi umat manusia ditemukan oleh para intelektual Muslim.

Saat budaya prestatif ini meredup, dan budaya konsumtif telah mendominasi, diperlukan aksi nyata untuk mengembalikannya. Konsep BAKU merupakan suatu ikhtiar yang dapat dikaji dan dipraktekan. Merubah karakter lemah dan buruk menjadi karakter kuat dan baik adalah tugas para pemuda Islam. Prestasi dunia dan akhirat mustahil diraih dengan berleha-leha. Diperlukan tenaga eksta baik tenaga, harta dan waktu tuk menggapainnya.

Dengan begitu, melahirkan kembali generasi muda Islam prestatif tak lagi jadi sekadar angan-angan. Pemuda Islam dengan karya-karyanya, tak sekadar latah mengikuti arus, terbawa hanyu dan pudar ditelan sejarah. Sebaiknya mereka dapat tampil dibarisan paling depan sebagai pioneer perubahan, leader sekaligus inspirator.

IV
SUMBER PUSTAKA
Buku
• Gymnastiar,Abdullah,2004.7B BANGKIT! Mannajemen Qolbu Untuk Meraih Sukses.Bandung,Khas MQ
• Gymnastiar, Abdullah,2004.Jagalah Hati MQ For Beginners.Bandung,MQS
• Matta, Anis,2004.Mencari Pahlawan Indonesia.Jakarta,The Tarbawi Center
• Trim, Bambang,2005.Meng-install Nyali.Bandung,MQS Publishing

Website
• http://mandiri.dpudt-jogja.org/2012/05/12/kisah-inspiratif-ming-ming-sari-nuryanti-mahasiswi-yang-juga-pemulung/
• http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/09/lpnl8x-kisah-sahabat-nabi-khalid-bin-walid-si-pedang-allah
• http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jujur-kiat-menuju-selamat.html
• http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/9988-evliya-celebi-petualang-muslim-tangguh-di-era-turki-usmani.html
• http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=2785
• http://www.motivasi-islami.com/menjadi-pribadi-tangguh-menghadapi-perubahan-hidup/
• http://dunia.news.viva.co.id/news/read/339918-bunuh-diri-karena-bullying--hantui--jepang
• http://belajarpsikologi.com/menumbuhkan-sikap-disiplin-diri/
• http://abumushlih.com/ma’rifatullah.html/
• http://tanbihun.com/tasawwuf/definisi-riya-dan-penjelasannya/#.udwxyac9gsq
• http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ikhlas-dalam-ilmu-tasawuf/#.uezq_bjltcy
• http://lead.sabda.org/11/oct/2007/kepemimpinan_membangun_disiplin_diri
• http://saputra51.wordpress.com/2012/06/09/jujur-dan-amanah-dalam-islam/
• http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/02/22/kejujuran-rasulullah/
• http://m-alwi.com/bisnis-ala-rasulullah-saw-uang-bukan-modal-utama.html
• http://anwararis.wordpress.com/2010/02/22/hikmah-dari-sang-sahabat-buruk-rupa-dan-miskin/
• http://zilzaal.blogspot.com/2012/07/ming-ming-mahasiswi-pemulung.html
• http://harapanumat.wordpress.com/2007/05/11/menjadi-pribadi-yang-ikhlas/
• http://anggakusumaw.wordpress.com/2013/01/24/ingin-hidup-mewah-25-pelacur-sukabumi-adalah-siswi-sekolah/
• http://forum.kompas.com/teras/235294-tokoh-tokoh-penemu-muslim.html
• http://www.psikologi-islam.com/detail-refleksi-38-mari-menuju-prestasi-yang-hakiki.html

Video
• http://www.youtube.com/watch?v=gYUtfInsiPM



05 Juli, 2013

MELAHIRKAN PEMUDA ISLAM PRESTATIF DENGAN KARAKTER BAKU (Bagian I)

Posted by Suguh Jumat, Juli 05, 2013, under | No comments

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang


Sejak berabad silam, Sejarahwan Muslim Ibnu Khaldun telah menegaskan jika kebudayaan para pemenang akan mendominasi kebudayaan para pecundang. Sejalan dengan pernyataan itu, kenyataanya kini generasi muda Islam khususnya di Indonesia, tak cukup cekatan menangkal migrasi informasi yang berdatangan dari segala arah. Internet, televisi, radio, majalah, koran menjadi corong kepentingan pihak tertentu, yang isinya kadang tak dipilah dulu bahkan ada pula yang malah ditelan mentah-mentah.

Akibatnya para pemuda Islam jadi bulan-bulanan pengaruh sampah kebudayaan yang masuk dari luar. Ibarat kacang lupa kulit, mereka melupakan pula asal-usulnya Sebagai seorang Muslim. Nilai-nilai keIslaman tak nampak dalam pribadi mereka. Karena kini telah digantikan oleh budaya populer yang dianggap serba lux dan berkelas. Kebanggan artifisial tercermin dalam prilaku sehari-hari. Sudah jamak jika para pemuda rela mengatri sejak dini hari untuk mendapat tiket konser boy band dari luar negeri dengan meninggalkan shalat. Sudah jamak pula bila mereka bergaya, berlaku dan bersikap mirip idola mereka. prestasi tak lagi diukur dari nilai-nilai akademik atau jumlah hafalan Al Qur’an. Seorang pemuda baru dikatakan berpretasi jika sudah punya gadget terbaru, bergaul di cafe-cafe mahal, tempat hiburan malam dan sebagainnya. Di luar itu maka akan di anggap kuno dan ketinggalan jaman.

Dampak negatif lain dari hal ini adalah munculnya generasi yang labil, mudah menyerah, pesimis dan tak visoner. Konsumerisme telah mengajarkan pola hidup instan, di mana segalanya ingin di dapatkan dengan mudah tanpa kerja keras hingga batas kemampuan maksimum. Tak heran jika sekitar 25 persen dari 239 pekerja seks komersial di Sukabumi Jawa Barat adalah pelajar yang ingin hidup mewah (antarawens-Jakarta-2 Desember 2009). Tak heran pula siswa SMP kelas VIII berinisial HD di Gresik sampai nekat mencuri karena ingin memiliki sepda motor (surabayapagi.com: 18 April2013).

Dua kejadian di atas sekadar puncak gunung es bila dibanding kejadian sebenarnya. Artinya terdapat peristiwa perstiwa lebih besar namun tak nampak ke ruang publik. Tak dapat dibayangkan jika generasi macam ini yang kelak yang menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan. Harapan membangkitkan kebangkitan Islam, rasanya hanya sekadar mimpi.

1.2.Tujuan
Tujuan dari disusunnya artikel ini adalah suatu bentuk ikhtiar untuk mengembalikan budaya Islam yang mulai redup. Budaya prestatif para pendahulunya yang teruntai dengan karya-karya agung. Pengertian budaya di sini tak berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya artistik misalnya musik, tarian atau nyanyian. Namun lebih condong pada aktifitas sehari-hari yang menjadi kebiasaan, Kemudian dari kebiasaan tersebut menjadi karakter yang mempengaruhi diri dan lingkungan.

Adapun manfaatnya dapat dirasakan bukan cuma oleh kaum Muslimin tapi juga non Muslim. Hal itu sesuai dengan visi Islam sebagai dien Ramatan lil alamiin. Tengoklah bagaimana Al Farabi menjadi ahli musik dah ahli filsafat Yunani, Ibu Sina yang mengusai ilmu kedokteran dan psikologi, Al Battani yang ahli metematika dan astonomi, Ibnu Khaldu yang sejarawan dan ahli ilmu pendidikan dan banyak nama lain.

Berangkat dari latar belakang di atas, menarik untuk mengkaji lebih dalam konsep BAKU yang digagas oleh KH Abdullah Gymnastiar pimpinan pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung. BAKU merupakan singkatan dari Baik dan Kuat, dua karakter yang selaiknya dimiliki oleh pemuda Islam. Diharapkan dengannya para pemuda Islam dapat mengembalikan budaya prestatif diennya, bukan hanya pada bida duniawi tapi juga ukhrowi.

1.3.Rumusan
Dengan menggunakan metode dekriptif kuantitatif, maka rumusan masalah Artikel ini dapat dijabarkan adalah sebagai berikut,

Seperti apakah kriteria prestasi yang bersifat hakiki dalam pandangan Islam?
Bila dikombinasikan satu dengan lainnya, apa pengaruh karakter Buruk-Lemah dan Baik-Kuat dalam diri manusia?
Apa saja ciri karakter BAKU (Baik dan Kuat)?
Bagaimana cara menggapai karatker BAKU, yang menjadi jalan ikhtiar untuk membangkitkan kembali budaya prestatif kaum muslimin.


PEMBAHASAN
2.1 Prestasi dalam Prespaktif Islam

Tiap manusia memiliki naluri untuk berprestasi. Dalam bahasa psikologi disebut dengan istilah power motive. Di mana seseorang akan berkorban segalanya termasuk harta, waktu dan tenaga agar keinginannya dapat meraih sukses atas apa yang diinginkan (psikologi-islam.com: 20 April 2013) .

Hanya kemudian prespektifnya berbeda-beda. Tak jarang seseorang terjebak dalam raihan prestasi semu. Uang, pendidikan, aksesoris mewah menjadi tolok ukur meski tuk meraihnya menggunakan cara yang tidak halal. Sedang Islam memiliki formula tersendiri mengenai prestasi. Hal ini terkandung dalam Al Quran surat 28 Al Qashash ayat 77 yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Bila ayat di atas kita interpretasikan maka jelaslah jika ukuran prestasi dalam Islam bersifat hakiki. Kesuksesan akhirat menjadi tujuan utama. Karena dengan prestasi tersebutlah yang berupa amal salih, yang kelak kan mengantar kita pada kehidupan kekal di Surga. Kendati begitu jangan pula kita mengabaikan pretasi di dunia. Karena dunia umpama ladang tuk bercocok taman, ranah tempat bekerja keras tuk mengumpulkan bekal sebelum maut menjemput dan kehidupan kekal menanti.

Islam mempersilahkan tiap hambanya untuk berprestasi setinggi mungkin di bidang yang masing-masing mereka geluti, asal tetap dalam koridor Ibadah. Tiada ikhtiar yang dilakukan kecuali dengan hararapan menjadi amal saleh. Karena itu ibadah ruhiyahnya mengundang pahala. Sedang ikhtiar duniawinya mendatangkan ridho Allah SWT. Dengan begitu, bila tiap amal perbuatan diniatkan untuk ibadah maka pada satu sisi seorang muslim akan bersemangat mengejar impiannya, dan pada sisi lain akan selektif dalam bertindak. Ikhtiar yang dilakukannya hanya dengan niat, cara dan jalan yang dirhidhoi Allah SWT.

2.2. Kuadran Karakter Manusia
Perubahan mustahil terjadi hanya dengan menunggu dan berdiam diri. Ibarat air, bila hanya berdiam pada satu tempat dalam waktu lama, maka ia akan menjadi busuk. Begitu pula manusia. Ia akan kehilangan eksistensinya, memudar dan hilang ditelan pusaran sejarah. Sedang generasi prestatif yang mewarnai dunia dengan karya-karyanya tak datang dengan ditunggu. Ia musti dilahirkan meski harus melewati proses panjang yang memeras keringat, waktu dan harta. Ia lahir tidak dengan gratis, tapi musti berkelahi dulu melawan sifat-sifat buruk dalam diri seperti kemalasan, kesombongan, riya, dengki dan sebagainnya.

Guna melahirkan generasi prestatif tersebut, menarik untuk mengkaji konsep BAKU yang digagas oleh KH Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Aa Gym menyampaikan bila karakter manusia dibagi menjadi dua kelompok. kelompok pertama terdiri dari karakter baik dan karakter kuat. Sedang karakter Kedua terdiri dari karakter buruk dan karakterm lemah.

Bila karakter baik digabung dengan karakter lemah, maka pribadi dengan karakter ini memiliki sifat jujur, tawadhu, amanah, ikhlas tapi sayang ia tidak punya kekuatan. Dirinya didominasi oleh sifat penakut, ragu-ragu, mudah menyerah dan sifat-sifat lemah lainnya. Maka yang timbul kemudian adalah orang-orang baik yang selalu ditindas dan tak mampu membela diri. Contohnya seperti kasus bulyying yang marak terjadi di sekolah. Saking mengerikannya kasus Bullying ini membuat Yumi, seorang anak berusia 12 tahun asal Jepang putus asa lantas bunuh diri dengan cara melompat dari sebuah kondominium

Lain lagi bila karakter buruk digabung dengan karakter lemah. Pribadi dengan karakter seperti ini adanya tidak berbahaya, tidak adanya tak memberi pengaruh pada orang-orang sekitar. Dia khianat, riya, sombong, pendusta. Sekaligus malas, penakut, ragu-ragu dan mudah menyerah. Sikapnya umpama katak dalam tempurung. Menganggap tempurung itu sebagai langit yang luas, padahal terdapat langit sesungguhnya di luar sana.

Selanjutnya karakter Buruk digabung dengan karakter kuat maka yang lahir adalah bencana, penjajahan, penindasan dan tirani. Pribadi dengan karakter ini memiliki sifat pembohong, sombong, riya, ujub, takabur, sekaligus ia juga pintar, berani, disiplin. Orang macam Hitler yang menyiksa ribuan tawanan perang hingga mati kehabisan napas di ruang gas beracun di kamp konsetrasi auswitch Polandia atau Polpot yang membunuhi satu juta rakyat sipil Kamboja adalah contohnya.

Karakter terbaik adalah gabungan antara karakter baik dan karakter kuat yang melahirkan karakter baku (baik sekaligus kuat). Pribadi baku memiliki sifat jujur, amanah, tawadhu. Sekaligus berani, ulet, disiplin. Maka yang lahir adalah sosok-sosok inspiratif seperti Jenderal Soedirman. Meski menjabat sebagai panglima perang revolusi kemerdekaan tapi beliau tetap menjaga ketawadhuannya dengan kosisten melaksanakan amal-amalan shalih seperti shalat malam. Meski bergrilya dengan paru paru sebelah karena mengidap TBC, beliau tetap bertahan. Sempat Jenderal Soedirman disarankan untuk berhenti berjuang. Tapi simaklah jawaban sang Jenderal “Soedirman yang sakit, palima besar tak pernah sakit.”

(Bersambung ke Bagian dua-Minggu depan diposting ya)

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog