12 November, 2014

Ode Untuk Selenia

Posted by Suguh Rabu, November 12, 2014, under | 2 comments


 Bahkan kawanan burung nightangel terus bernyanyi, Selenia
Waktu mereka meninggalkan celah-celah lubang angin
katedral Norte Dame yang masai dibekukan salju
menuju timur, menuju mentari nan semburat semanis madu
tapi kau,
kau begitu saja berhenti memainkan Mon amant de saint Jean
dirimu dan akordeonmu menguap di penggala langit Paris
meninggalkanku terkapar sendiri digerogoti musim dingin

Bahkan Joan D’arc masih bisa tersenyum, Selenia
Waktu hulubalang hendak membakarnya hidup-hidup.
Semerbaklah wangi abu La Pucelle dari Rouen hingga Domremy
Tersibaklah air mata rakyat Prancis yang berduka
Lalu ia membawanya terbang ke penghujung cakrawala ,tuk djadikan bunga-bunga
Tapi kau,
Kau adalah anak panah cupid yang melesat ke jantung Narcisus
Tak berbalas, tak terjawab, hanya menjadi kecipak dan lenyap di telaga

Jika cinta adalah laju
Maka kembalilah ke belakang
Kayuh sauhmu belum terlalu jauh meninggalkan dermaga
Mari tambatkan lagi rantai jangkarmu di lubuk hatiku

Jika cinta adalah waktu
Maka mundurkanlah kembali putaran jarumnya
Belum tiba masa bagimu tuk berhenti
Mari kita bergandengan tangan lagi mengejar mimpi-mimpi

Di puncak Eiffel, di tepi sungai Siene
Di sendu jalanan L’Avenue des Champs-Elysees
Sama samar masih dapat aku dengar derak suara sepedamu
Perlahan mendekat
Senyummu turut hambur umpama bunga lantana,
“Mon mignon,” katamu sembari tersipu
Aku terperanjat lalu yang kudapati hanya debu-debu

Di Jantung Paris, pada kemarin aku menunggu
Kembalilah, wahai pedang dan tamengku
Hanya jika bersamamu, aku berani menyambut esok


Nb
Mon Mignon: Manisku (bahasa Prancis)


03 November, 2014

Memaknai Kontemplasi Prestatif

Posted by Suguh Senin, November 03, 2014, under | 1 comment

Memulai apa yang telah lama ditinggalkan dari awal lagi adalah tantangan. Melangkah lagi setelah lama duduk beristirahat adalah keharusan. Bukan, bukan di sini kawan statsiun pemberhentianmu yang terakhir.

Jeda adalah untuk menghela napas. Kau bukan mesin yang tanpa pikir dan rasa terus berderak dalam pabrik. Kau bukan kincir angin yang terus berputar sepanjang musim semi. Rehat adalah suatu kewajaran, umpama pergantian siang dan malam. Batrei saja perlu dichage apalagi tenaga dan pikiran manusia.

Berkontemplasi adalah rehat kita. Bukan melamun, bukan pula membuang-buang waktu dalam kemalasan di atas tempat tidur. Berkontemplasi adalah bertafakur seperti Rasululloh dengan cara mengasingkan diri di Gua Hira. Atau seperti Pramoedaya Ananta Toer yang menulis buku dalam pembungangan politik di pulau Buru. Oleh sebab itu yang didapat tak sekadar kesia-siaan. Tapi juga hikmah.

karenanya tenaga kembali prima. Pikiran kembali jernih. Semangat kembali menggelora. Rasul memperoleh risalah kenabian setelahnya. Pram merampungkan novel Bumi manusia.
Bekontemplasi adalah untuk mengevaluasi apa yang kurang, merumuskan apa yang hendak dicapai, lalu bergerak penuh antusiame.

Karena bergerak tanpa evaluasi adalah suatu kecerobohan. Bermimpi tanpa rencana adalah angan-angan. Keduanya musti dilakukan bersamaan. Segala terkonsep dan terstruktur. Tak ada yang dapat meramalkan masa depan. Tapi paling tidak dengannya kau bisa memiliki arahan.

Kalau diammu saja prestasi, apalagi bergerakmu. Berkontemplasi berarti melakukan percepatan. Mundur beberapa langkah untuk melesat pada langkah-langkah yang lebih jauh. Maka biarkan badan dan jiwamu rehat.

Tapi jangan sampai terlena. berapa banyak pendaki gunung yang urung sampai ke puncak padahal hanya beberapa depa lagi. Bepa banyak para pelari yang urung menyentuh garis finish padahal tinggal beberapa langkah lagi. Terlalu lama beristirahat juga tak sehat. Umpama minum sirup, nikmat kalau hanya segelas. Tapi kalau bergelas-gelas bisa membuat sariawan.

Rehatmu bukan zona nyamanmu. Sekali lagi jangan terlena. segara bangkit dan rebut lagi mimpi-mimpimu, kawan.

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog