04 Januari, 2013

Subcomandante Marcos: Inspirasi Di Balik Topeng

Posted by Suguh Jumat, Januari 04, 2013, under | No comments


Tulisan ini dipublikasikan juga di situs berita mjeducation

Nama subcomandante Marcos mulai mencuat dan dikenal luas oleh publik pada 1 Januari 1994. Saat itu bersama sekitar tiga ribu orang Indian Maya bersenjata yang menyebut diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejecito Zapatista De Liberacion Nacional-EZLN), Marcos menyerbu negara bagian Chiapas Meksiko dari pengunungan Lacandon. Dalam serbuan itu tujuh kota berhasil mereka duduki, diantaranya San Cristobal de las Casas, Ocosingo, Las Margaritas, Altamirano, Chanal, Oxchuc dan Huixan. Istilah Zapatista sendiri memiliki arti orang orang Zapata, merujuk keterkaitan emosi mereka dengan pejuang Meksiko pada 1911 Emiliano Zapata.

Dalam balutan balaclava (topeng ski hitam) mereka menyatakan perang pada pemerintah atas segala kebijakan yang tak populis. Saat itu pemerintah Meksiko, Kanada dan Amerika Serikat sepakat menandatangani draft perdagangan bebas NAFTA (North America Free Trade Agreement). Sebuah draft yang nyatanya menjadi preseden buruk bagi para petani adat. Karena dengan alat pertanian alakadarnya, kini mereka harus bersaing dengan perusahaan perusahaan pertanian raksasa yang menggunakan peralatan canggih dan lengkap.

Lebih jauh Carlos Salinas De Gorgoti, orang nomor satu Meksiko pada periode itu melakukan langkah langkah pro pasar bebas, seperti mengamademen pasal 27 UUD 1917 yang memberi dampak tanah adat bisa secara bebas diperjual belikan, hingga masyarakat penggarapnya bisa dengan mudah digusur. Selain itu pemerintah menjual 8% BUMN pada swasta, hingga terjadi pemangkasan subsidi yang menurunkan daya beli rakyat.

Ketika Kata Menjadi Senjata
Tak ayal serangan mendadak tersebut memicu konflik bersenjata. Namun sebelum berkembang makin luas, rakyat Meksiko lebih dulu tergerak untuk menyerukan perdamian. Perangpun hanya berlangsung 14 hari dengan 40 korban tewas di pihak pejuang dan 100 di pihak tentara pemerintah. Sejak itu Zapatista kembali ke Pegunungan Lacandon dan melancarkan perang gaya baru. Suatu perang yang justru lebih efektif bila dibanding dentuman bom dan rentetan tembakan, dimana kata kata menjadi senjatanya. Dalam hal ini sosok Subcomandante Marcospun menjadi tokoh sentral.

Berbicara soal Marcos maka kita akan berhadapan dengan kemisteriusan yang seolah tak berujung. Dikatakan demikian lantaran tak seorangpun tahu siapa Marcos sebenarnya. Karena seperti para pejuang EZLN lain ia selalu menyembunyikan wajah dan identitas di balik balaclava yang selalu dikenakannya.

Secara personal hanya sedikit informasi dapat dikorek dari sang komandan. Dalam sebuah wawancara Marcos sempat berkata kalau ia berasal dari keluarga mengah di Meksiko. Dimana ia diajarkan bila hal paling penting dalam hidup adalah melakukan aksi nyata dalam memerangi ketidak-adilan atau El Camino Del Verdad (jalan kebenaran) dalam istilah Marcos sendiri.

Sejak kecil Marcos merupakan sosok yang sudah gemar membaca. Ia menderas karya karya Cervantes, Neruda, dan Shakespeare. Biografi tokoh tokoh dunia seperti Lenin, Karl Marx, Benito Musslolini dan Adolf Hitler pun dilahapnya. Bahasa asing terutama Prancis, Italia dan Portugis dipelajarinya saat memasuki jenjang universitas. Bermacam macam buku yang ia baca memperkaya keberagaman genre tulisannya kelak.

Saat tumbuh dewasa, jiwanya terpanggil untuk mengabdi pada kemanusiaan. Marcos memutuskan untuk bergabung dengan para pejuang di pegunungan Lacandon pada 1983. Alih alih tampil dengan kesan berangasan dan sangar, sejak awal Marcos mencitrakan diri sebagai tukang guyon. Tiap tindakan serta ucapannya yang kocak membuat kepribadiannya lebih mendekati tukang banyol ketimbang seorang komandan.

Sebagai contoh saat pemerintah Meksiko menunjukan foto lelaki brewok di televisi dan menyebut ia sebenarnya adalah Rafael Sebastian Guillen Vicente, mantan profesor filsafat di UNAM (National Autonomous University of Mexico). Dengan enteng Marcos menjawab jika cerita itu sama sekali keliru. Kilahnya tuduhan serampangan pemerintah dapat mengacaukan aktifitas surat menyuratnya dengan gadis gadis penggemarnya. Di lain waktu saat bicara soal topeng yang selalu dikenakannya, Marcos berkata bila dengan memakai topeng ia dianggap lebih tampan  dari kenyataannya oleh orang orang.

Namun di balik kekocakannya, hal paling inspirasional dari sosok Subcomadante Marcos adalah daya gugah kata katanya. Sejak 1992 hingga 2006, ia telah menulis lebih dari 200 esai, cerita, serta 21 jilid buku dengan total 33 edisi. Pencapaian yang dapat dikatakan fenomenal karena aktifitas literasi dilakukan pada masa konflik.

Ia menggubah bermacam macam genre yang telah dipublikasikan melalui internet, koran dan buku. Ia ‘menyapa’ berbagai kalangan pembaca mulai dari kelas terdidik seperti sarjana atau pekerja perkotaan dengan pemaparan ilmiah soal ekses negatif neoliberalisasi. Sampai segmen buruh tani pedesaan dan anak anak dengan dongeng, hikayat, fantasi dan fabel. Hal tersebut dapat dilihat dari cerita pendek berjudul ‘kisah seuntai awan kecil’ atau ‘Mengolah Roti Bernama Hari Esok’ yang sarat pesan moral.

Marcos melakukan ‘akrobat kata’ dengan cara mengkrtik, merayu, menggoda sampai membanyol. Kekeritisan pikiran ia sisipkan melalui kejenakaan bahkan kejorokan kalimat namun hal tersebut tak menghilangkan pesan positif di dalamnnya.

Selain itu Marcospun menciptakan tokoh tokoh khalayan dalam menyampaikan ide idenya pada publik. Yang paling terkenal adalah Don Durito De Lacandona (Don Durito dari pegunungan Lacandon) seekor kumbang pengembara yang cerdas, ia merupkan gabungan dari karakter Don Quixote, Sherlock holmes, Raja Artur, Bajak Laut Si Janggut Merah dan Umberto Eco sang kritikus anti neoliberalisme.

Dalam pemahaman Marcos, agar seorang pemimpin bisa melek sosial, tak melulu musti menderas kajian politik yang benar berat, tapi  juga musti mengkhatamkan paling tidak tujuh buku yaitu puisi, cerpen, novel, teater, esai, filsafat dan tata bahasa. Hal tersebut ia buktikan sendiri saat pertama kali tiba di Pegunungan Lacandon. Ranselnya penuh dengan buku buku sastra karya penulis mahyur macam Garcia Marques, Vargas Liosa, Julio Cortazar dan lain lain.

Marcos mengungkapkan hal yang membuat Zapatista dan dirinya berbeda kelompok lain adalah ia mengenal dunia lewat puisi, esai dan novel, ketika kebanyakan orang mengenalnya melalui media komersil televisi. Tak heran jika Shakespeare didaulat menjadi sebagai analis paling piawai dalam sistem politik modern Meksiko. Sedang adalah Don Quixote, Hamlet serta Machbet adalah buku teori politik terbaik.

Karena keunikan perjuangan tersebut Marcospun mendulang simpati dari masyarakat. Pada maret 1994 ia kepayahan menggotong 2000 pucuk surat dari para penggemarnya dari sebuah katedral. Lebih jauh Zapatista secara organisasi berhasil memenangkan perang opini di seantero Meksiko dan seluruh penjuru dunia. Mata tiap orang terbuka atas kenyataan kelam yang dialami petani Chiapas. Karenanya sejumlah organisasi HAM internasional, utusan PBB hingga klub sepak bola nomor wahid Inter Milan berduyun duyun mengulurkan bantuan.

Marcos berhasil membangun jembatan antara ‘Meksiko sungguhan’ yaitu berkubang kemiskinan dan gizi buruk dengan ‘Meksiko pura pura’ yang berlipah glamoritas, pesta dan limpahan uang. Kehadirannya membuat siapapun tersadar bahwa terdapat ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin yang musti dicari jalan keluar terbaiknya.


Meraih Inspirasi
Idealnya, ketika ‘tangan kanan berbuat kebaikan maka tangan kiri sebisa mungkin jangan sampai mengetahuinya’. Tak semustinya tiap kontribusi dan prestasi disombongkan. Marcos adalah prototipe ideal dalam hal ini. Ia terus berkarya dengan tak direcoki oleh masalah pencitraan  juga puja puji. Ia justru tetap konsisten pada rel pejuangannya.

Karena itu, belajar dari pribadi Subcomandante Marcos adalah suatu keniscayaan. Meraih inspirasi tentu itu hal yang amat diharapkan. Namun bisa berkarya nyata di masyarakat seperti Marcos ialah hal yang lebih utama. Lantaran hal tersebutlah yang membuat seseorang memiliki nilai tambah dibanding yang lain

Daftar Pustaka
  Marcos,Subcomandante.2005.Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan.Yogyakarta,Resist         Book
  Marcos,Subcomandante.2005.Kata adalah Senjata. Yogyakarta, Resist Book
  http://septiaku.multiply.com/reviews/item/3
  http://wapedia.mobi/id/Tentara_Pembebasan_Nasional_Zapatista
  http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1104360
  http://pemberontakmerdeka.blog.friendster.com/
  http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Pembebasan_Nasional_Zapatista
  http://readresist.wordpress.com/2008/05/10/cara-lain-melawan-neoliberalisme/
  http://septiaku.multiply.com/reviews/item/3

0 komentar:

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog