14 Desember, 2008

MEMORI 1

Posted by Suguh Minggu, Desember 14, 2008, under | No comments




PINTU CINTA TERBUKA DIBALIK GERBANG PENJARA AUSWITCH

Seperti biasa, sepanjang pengawal tahun, tak peduli pagi, siang, sore atau malam, langit selalu bermaskara gumpalan awan hitam. Rupanya menjelaga bagai kawanan kelelawar yang belingsatan dari mulut gua untuk beranak pinak didahan pohon nangka atau sekedar mencari makan. Sayap sayap yang merentang lebar itu telah menggelapkan hari, membuat bulu kuduk tiap orang berigidik kemudian cepat cepat menyelamatkan diri dibawah ranjang untuk menjauhi bala. Selaras dengan gumpalan awan hitam tadi, angin semilir berhembus. Awalnya terasa ramah, menyejukan, menyenangkan bagai tandukan manja seekor anak kucing persia dimata kaki majikannya, merayu ingin diberi susu, tapi kemudian tak dinyana ia berubah menjadi singa jantan raksasa yang lapar. Ia mencabik, merobek, bahkan melumat tiap jengkal tubuh dengan cakar dan taringnya. Angin tersebut telah membuat sebagian orang meringkuk diranjang rumah sakit berbulan bulan lamanya karena gejala thypus atau sesengukan karena terkena influenza berat. Ketika manusia mulai goyah, sekonyong konyong hujan berhamburan dari langit. Nun jauh diatas sana barangkali bendungan kahyangan telah jebol. Berton ton air tumpah begitu saja, mencerabut pepohonan dihutan hutan, mengenangi jalan jalan diperkotaan, menenggelamkan rumah rumah diperkampungan. entah berapa juta janji harus urung karenanya. Entah berapa banyak agenda terpaksa harus ditunda. Pada titik ini manusia benar benar porakporanda.

Sungguh aku menciut sore itu kawan. Gigiku bergetar tak kuat menahan dingin. Menurut ramalan cuaca tadi pagi, suhu turun sampai 18 derajat.aku bersandar digerbang sekolah sambil menyilakang kedua tangan didada, sekuat tenaga berusaha menghangatkan diri. Dua orang kawan sekelasku berdiri rapat disamping kanan dan kiri, Kami persis sekelompok berang berang yang tidur bertumpukan ketika berhibernasi. Ganjar saftari disebelah kananku adalah fenomena. Tingginya hanya seratus lima puluh lima cm. pria kecil berhidung panjang seperti Mr Bean ini berkulit bersih. wajahnya cerah luar biasa memancarkan letupan letupan intelektual yang mengagumkan . Binar binar kepandaian tercermin dari kacamata minus tiga yang tak lepas ia pakai dan karenanya juga ia mendapat julukan dari kawan kawan sekelas, ”pro-fe-sor”. Sebuah statement tak tertulis dari kami, menandakan kalau ialah penguasa tertinggi ranah ilmu pengetahuan disini, apapun itu, mulai dari matematika, fisika, biologi, ekomomi sampai bahasa semua diserap oleh otak luar biasa encer milik Ganjar, dan seperti halnya para fro-fe-sor dimanapun, ia adalah “jomlo” sejati.

Sementara pangeran Angling dharma, si tampan rupawan, kawan lain yang berdiri disebelah kiriku adalah Deni Sudrajat. Melihat wajahnya langsung membuat khayalanku belingsatan kepuluhan abad silam. Setahun akrab dengan Deni serasa ingin kembali membaca sirah nabi Yusuf yang pada suatu ketika diperintahkan oleh majiknnya siti zulaikha untuk berjalan dihadapan para wanita bangasawan arab. Sebelumnya masing masing dari wanita tersebut diberikan sebilah pisau dan aneka buah. Zulaikha meminta agar mereka mengelupas buah buah itu lalu memakannya. Ketika Yusuf melintasi mereka, tak alang kepalang “tante tante arab “ ini seperti tersedot oleh medan magnet ketampanan yang bukan hanya menarik perasaan namun lebih dari itu, ia menyedot segala galanya. Pandangan mereka tak lepas dari Yusuf, seperti pandangan manusia purba kala mengintai mamouth dalam 1000 year BC, saking terpesona, sampai sampai mereka tak sadar menyayat jari mereka sendiri. begitulah kawanku Deni, sikulit kuning langsat dengan tatapan secalem Alpachino sekaligus memiliki senyum manis bagai Bradpit. Rajin benar ia sembahyang, taat pada nasehat ibu bapak, seratus persen idaman calon mertua. Kalau Deni berjalan rembulanpun padam barangkali begitu kata Iwan fals. Namun sayang seperti juga Ganjar, Deni adalah jomlo sejati. bukan lantaran tak lalu tapi karena ia selalu bersikap imperior kalau berhadapan dengan banyak orang. Deni adalah jenis orang yang tak sadar kalau dirinya rupawan.

gerbang sandaran kami bertiga menjulang hampir tiga meter. Warnanya hitam legam mengitkanku pada pintu pintu penjara di Auswitch. warnanya yang hitam legam membuat para orang tua murid dan anak anak mereka bertanya, "apakah ini gerbang sekolah atau gerbang sebuah tangsi "? . Terdapat lubang kecil berukuran sepuluh kali tiga puluh cm ditengahnya. Bagi petugas keamanan sekolah ia berfungsi untuk menerima surat dari pak pos, bagi guru BP, beliau menjadikannya sebagai buker spionase. Dari sini sang guru dapat mengintai murid murid bengal yang sering terlambat atau sengaja kabur. Sedangkan bagi siswa siswa pria lubang itu menjadi semacam whole In the earth, lubang dimana kami dapat melihat wajah wajah rupawan siswi SMP dan SMA yang masih berkeliaran diluar sekolah kami. Tentunya mereka tak sadar kalau sedang dilihat bahkan dikagumi, karena murid murid pria aman bersembunyi dibalik lubang multi guna ini.

“Lima menit lagi guh”, si tampan mengingatkan. Hari ini adalah hari rabu, setelah istirahat ada pelajaran yang menjadi phobia bagi sebagian siswa berotak kanan, matematika. Ganjar mengelap kacamatanya, ia meyeringai. Terbayang olehku betapa membosankan pelajaran setelah ini. Aku sejak kecil sudah alergi dengan hitungan. Angka angka yang berderet dibuku, papatulis, LKS membuat jaringan otakku semburat kehilangan fungsi dan daya nalar. Dalam persoalan hitung menghitung, aku seolah menjadi bandar sial yang dimarahi oleh istrinya habis habisan karena seluruh uang taruhan ludes dicurangi para pejudi ulung. Aku seolah menjadi looser nomor satu. Pelajaran membosankan pada saat tidak tepat hanya akan membuatku tidur nyenyak dikelas. Sang profesor tersenyum, dalam hati barangkali ia berkata,”its show time, nilai tampang boleh 5,5 tapi soal eksakta, kaliah bukan tangdinganku”.

Kami masih berhimpitan sambil melihat kawan kawan sebaya kami, laki laki perempuan lalu lalang menghabiskan waktu istirahat mereka. Udara semakin dingin kendati hujan tak kunjung turun. Saat itulah semangatku runtuh. Ingin rasanya aku kabur dari sekolah diam diam, pulang kerumah, minum susu kemudian tidur. Benar benar aku telah kehilangan semangat. Tugas tugasku belum selesai dan pak hendra guru matematika tak kan senang akan hal itu. Kawan, celakanya kalau ada PR aku selalu mendapat giriran paling pertama untuk mengerjakannya di papan tulis. Pak hendra sudah punya firasat akan ketololanku dan untuk kesekian kali ia akan mempemalukanku dihadapan teman teman. Tapi tak apalah akan kupaksakan juga masuk kelas betapapun membosankan suasana nantinya, karena aku punya dua alasan kuat. Satu, aku bukan type orang yang suka bolos, dan dua, sedang tumbuh perasaan ganjil dalam diriku pada seseorang. Perasaan dimana libido berada pada tahap transisi. aku sedang menjalani proses pematangan emosi dari anak anak menuju remaja. gejala gejalanya dapat dilihat mulai dari berubahan warna suara, pelebaran bidang dada dan bahu, mulai tumbuh jakun dan kumis. pada saat itu mulai tumbuh something I’ve never fell before, sebuah bentuk ketertarikan pada kawan perempuan. khususnya pada kawan sekelas.

Siapakah perempuan pujaanku waktu kecil ? kenapa pula aku bisa jatuh cinta padanya ? Namanya santi hartati. ia setahun lebih tua. Gadis berambut hitam tebal sebahu itu selalu menyembunyikan kecantikannya di bangku paling belakang. ia seolah menjadi mercusuar digulita malam. Kendati terasing pria pria selalu melabuhkan lirikan padanya. Mencuri curi pandang, seolah ingin meyakinkan kesangsian mereka sendiri kalau santi memang sebuah anomali dibanding gadis gadis lain dikelas kami. Ketika kawan kawanku datang padanya dengan lirikan lirikan singkat seperti kumpulan tongkang kecil yang bersandar ke suatu dermaga kemudian tak lama mereka berlayar lagi, maka aku datang dengan tatapan nanar. Tatapan pasrah seorang pelaut yang telah terkatung berbulan bulan disamudra lepas, terpancar rona penuh pengharapan yang menggebu padanya. Aku mendatangi santi dengan kapal keruk raksasa. ingin rasanya tinggal berlama lama didermaga kosong santi lalu mengangkut seluruh cintanya kesebuah pulau tak berpenghuni jauh didalam hatiku.

Ah kawan, bagaimana tidak, santi itu adalah master peace ciptaan tuhan. sepasang batu pualam tersimpan dibalik retina matanya. coklat berkilauan, kalau terkena matahari senja, warnanya semarak bagai kembang api tahun baru. Kendati bukan musim hujan disana selalu terbit pelangi, melintang setengah lingkaran bagai bulan sabit, menjadi jembatan bagi bidadari bidadari kahyangan kalau mereka hendak mandi disalah satu pancuran dibumi. Dilirik sepintas lalu Santi sudah cukup untuk membuat sekujur tubuh panas dingin apalagi langsung bertatapan mata, aku yakin pak Sukadi kepala sekolah SMP kami akan memanggil ambulance karena salah satu murid prianya terkena serangan jantung ringan. Seperti halnya bidadari, santi memiliki hidung bangir menggemaskan. Hidung santi adalah Edensor dalam mimpi mimpi andrea hirata. sketsa kubisme dalam imajinasi nakal Pablo picassso, jagat raya dalam realisme leonardo davinchi. Terbentanglah disana sabana hijau dengan landscape landai. bunga lilly, mawar, dan beberapa batang pohon willow tumbuh tak dilekang musim. Mereka berharomni dengan lebah, kupu kupu, aneka kumbang dan sekawanan kancil kemudian membentuk sismbosis mutualisme. Siapapun yang melihatnya pasti ingin segera merasakan sensasi keindahan sabana yang tersimpan abadi dihidung tirus cantik itu. Tak kalah menggetarkan adalah bibir merah jambu tipis yang kalau ia tersenyum selalu membuat pria meleleh. Ketika ia tersenyum dikedua pipinya muncul serupa danau kecil nan indah. Disana ada genangan air yang terkesan diam namum sebernarnya dapat menhanyutkan akal sehat. Untuk mendapatkan bibir purnama itu, aku jamin tiap pria rela mengarungi tujuh samudra, meradang hamparan sangar gurun afrika, diremukan oleh badai salju dieropa, bertarung sengit melawan naga raksasa bahkan sampai mencuri celana dalam punya istri tetangga. Semua kesempurnaan itu tersimpan pada sebidang wajah bulat dengan rahang menonjol. Ada sedikit luka didagunya tapi bagiku luka itu tak sedikitpun menjadi cela.

Wanita bunga seroja ini cenderung pendiam. ia seolah menyimpan misteri dibalik segala pesonanya. jarang ia berdekatan dengan lelaki. pergaulannya itu itu saja, antara Elis handayani, pipit nurmala dewi, kusmayati atau meli. Di organisasipun ia tak terlalu aktif. Ketika cinta berdatangan, santi menjadi batu karang. beribu ribu ombak kasih hendak menggerus hatinya namun tak seditpun membuat ia goyah. Memang tabiat perempuan cantik memang suka pilih pilih pikirku. Mereka suka memasang kriteria aneh aneh yang kisarannya hanya berkutat pada tampang dan kerebalan isi dompet. Makanya walaupun aku cinta mati, aku mencoba realistis. kekagumanku hanya sebatas puisi puisi gombal disetiap bagian belakang buku pejaran sekolah. Aku tak berharap banyak, ketika ada semacam kompetisi antara pria pria disekolah kami untuk medapatkannya aku tak ikutan. Pertama karena aku tahu diri, kedua aku menganggap geli persaingan semacam itu. Kekanak kanakan pikirku yang kala itu sok menjadi orang dewasa.
Maka santi yang memesona terus jadi rebutan. Kedua kawanku sudah lebih dulu masuk kelas meniggalkanku sendirian yang makin menciut dipermainkan rasa gamang. Bel tanda masuk sudah berbunyi. Siswa siswa kembali kemeja dan kursi mereka. Pelajaran pelajaran akan segera dimulai lagi. Guru guru bersiap dengan segudang ilmu pengetahuan yang akan mereka tularkan pada kami semua. Aku menarik nafas panjang sekedar ingin menguatkan hati. Bersiap untuk seratus duapuluh menit yang menyebalkan. Tapi belum sempat aku lepas dari sandaran, tiba tiba terdengar suara ketukan digerbang. Pikirku, siapa sibodoh diluar sana ?, berani berani berkeliaran diluar area sekolah tanpa izin. Kalau ketahuan bang Wahyu pasti bisa kena damprat Lebih parah lagi ia tak akan bisa lagi masuk kelas sampai jam pelajaran terakhir selesai. pasti si bloon ini minta dibukakan pintu olehku. Huh enak saja, salah sendiri siapa suruh keluar area sekolah diam diam ?.
“suguh…..suguh…”. Suara perempuan memanggilku pelan sekali seperti tidak memiliki daya. hah perempuan ?. Pasti dia anak perempuan bengal yang sukanya kabur padalah pelajaran belum selesai. Dasar anak tidak tahu diuntung. Apa dia tidak berfikir bagaimana susahnya orang tua mencari uang untuk mendapat biaya sekolah. Dari lubang multi guna, tiba tiba meluncur selembar kertas berwarna jingga dengan backgournd dua ekor kucing berpipi tembem. tulisan diwahnya terkesan renyah, “hello kity”. Kertas itu tak langsung aku terima karena lebih dulu jatuh ketanah. Setelah kupungut, ada seuntai kalimat singkat disana, “anter qu pulang ya….qu lagi sakit”

kubaca kembali kertas tersebut, lama…., lama sekali. Kini seperti ada perasaan campur aduk dalam diriku. Detak jantungku mendadak berdegup kencang. Hal itu diikuti oleh keringat dingin yang bercucuran didahiku. Mataku menjadi nanar, seperti ada ribuan kunang kunang beterbangan dihadapanku. Terdapat tanda tangan seseorang disana. Semula aku tak percaya, benarkah ia ada diluar sana ? Setelah itu tak menunggu lama, aku berlari sejadi jadinya menuju kelas. Sebelum guru datang kukemas cepat cepat tas dan jaketku. Aku memutuskan tak ikut pelajaran matematika membosankan hari ini.Tanpa sepengetahuan bang Wahyu aku meloncati pagar penjara Auswitch sekolahku seperti kera jantan yang ingin menyegerakan hajat Setelah kutemui orang diluar sana, fellingku mengggelembung bagai buih buih busa, terbang kelangit dan tak kembali lagi. inilah yang menurut para politikus disebut sebagai momentum. terbuka kesempatan bagiku melakukan pendekatan personal pada seseorang.

Setelah aku turun dari pagar, langsung ia menyambutku. kami saling bertatapan kemudian berjabat tangan. Waktu kulit kami bersentuhan, aku merasa ada semacam sensasi luar bisaya yang belum pernah kurasakan sebelumnya. kawan, kulit itu halus benar bagai bedak bayi tapi dingin seperti bongkahan es di Siberia.
“ngga salah kamu minta dianterin sama suguh ?”
“ngga”,
sahutnya. Ia menerangkan, sengaja dirinya memilihku karena aku dianggap paling netral. Ah tuhan, ia telah menggangapku seperti pasukan keamanan PBB saja rupanya. Selain itu sebagai perempuan, ia memiliki felling alami yang dapat membedakan bahasa tubuh seorang pria yang sedang jatuh cinta atau hanya sekedar ingin menjadi teman. Dari pengamatan sederhana itu mulai tumbuh perasaan sama dalam dirinya pada diriku. suatu perasaan rindu.

Perkiraanku meleset. Meleset seratus delapan buluh derajat. kalau waktu boleh diputar kemasa lalu seperti jam pasir akan kutarik kembali semua sumpah serapah barusan dan menggantinya dengan beribu ribu syair, gurindam, rima atau apapunlah asal dapat menemani ia yang sedang didera lara. Perempuan yang kucaci maki habis habisan karena kebengalan dan kebodohannya tak disangka sangka ternyata adalah simata pelangi, sihidung Edensor, perempuan dengan bibir menggetarkan yang kalau dia tersenyum pria bisa mendapat serangan jantung ringan, “Santi hartati”.

0 komentar:

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog