19 Juni, 2009

KAYA MISKIN JAKARTA DALAM DELAPAN BELAS JAM

Posted by Suguh Jumat, Juni 19, 2009, under | 3 comments


Nulis nulis nulis lagi. inginnya sih nulis banyak tapi tidak bisa kalau tidak baca. Nulis dan baca memang satu paket. Orang bisa nulis bagus karena didukung bahan. Bahan dari mana ? salah satunya dari buku dan tentu aja buku harus dibaca. Minggu ini hanya menulis dua puisi plus nulis ulang teks pidato bahasa jepang tahun 2007. Memang seminggu ini saya tidak baca buku sama sekali. Mungkin capek, malas , jenuh. Padahal diluar ada banyak isu tapi tidak saya tulis. Bisa jadi juga efek pulang dari jakarta hari selasa lalu. Begitu pulang langsung masuk angin berat. Maklum orang katro seperti saya bakal gampang sekali batuk batuk walau kena AC bus sedikit saja. Waktu sampai rumah memang tidak terasa apa apa tapi dua hari kemudian saya langsung dikerok didada, dipunggung dibahu. Begitu liat hasilnya nauzubillah mirip yang orang abis dihukum cambuk lantaran mencabuli anak tetangga. Merah semua.

Setelah memberi kenang kenangan masuk angin berat, Jakarta juga merampok seluruh isi dompet saya buat ongkos pulang pergi dan tiket masuk Dufan. Tapi jakarta jugalah telah memesona orang udik dan kampungan seperti saya. Buktinya begitu memasuki kawasan Jakarta pusat saya seolah sedang memasuki negri asing yang hanya ada dalam dongeng dongeng fantasi. Gedung gedung menjulang tinggi seperti dalam film sky hawk, saking tingginya puncaknya tak terlihat karena ditutupi awan. Bermilyar milyar uang berputar dijalan jalannya. Setiap orang seperti sedang tergesa mengejar kemewahan. Anak anak mudanya selalu tampil necis bak mau kondangan, harum dan berkelas. Tempat main, makanan , minuman dan kesenangan mereka sangat berbeda dengan budaya saya dikampung. Saya tak begitu akrab dengan istilah istilah makmur mereka sepeti jacuzzi, shisa, pub, karaoke, tequila, lady escort, penari striptease, kucing dan gigolo. Yang ada dalam pikiran saya, karena istilah istlah itu asing pasti untuk mendapatkannya harus mengeruk lebih banyak rupiah. Orang orang tuanya selalu tampil perlente karena karir menuntuk mereka berdandan demikian. Mereka tinggal ditempat tempat komunal. Di apartemen apartemen mewah dengan fasilitas yang bisa mengajak saudara dan kemenakan gratis masuk dufan, berenang di water boom sesuka hati, menikmati pemandangan laut sekenyangnya dari balkon apartemen atau meniduri selingkuhan didalam kamar mereka yang sangat prifat. Banyak nian bangunan macam ini, dalam iklan real estate seorang perempuan yang sudah tidak muda lagi dengan ekspresi yang dibuat buat enteng sekali menyebut harganya hanya satu miliaran saja. Tingkahnya yang mengatakan “saja” sangat mirip dengan gaya jualan tukang jualan kerak telor di Monas. Melihat gaya hidup mereka saya seperti tersesat dibelantara Manhatthan, Singapura, London atau Tokyoo.

Namun kekaguman saya tak berlangsung lama karena begitu memasuki daerah daerah pinggiran, utopia muncul dari Orang orang yang bicara dengan aksen berbeda, ganjil dan menggelikan. Seorang urban dari pelosok desa yang terserak dilembah Sangiran, tempat ditemukannnya fosil fosil manusia purba itu, ketika sampai di ibukota akan menggunakan istilah elu dan gua. Dipikirnya dengan berbicara seperti itu ia telah menjadi bagian dari kemewahan jakarta. Dipinggiran Ciliwung orang berak, mandi dan sikat gigi dengan menggunakan air yang sama. Jangan terlalu heran kalau ketika bersih bersih badan seseorang bisa berdekatan dengan kotoran manusia, karena kadang kadang hanyut juga mayat manusia disana. Para pendatang haram, gongli, waria, buruh kasar, homo seksual, lesbian dan pengangguran berhimpitan tinggal dalam bedeng bedeng sempit berukuran empat kali empat meter. Tiap hari mereka tersaruk, tebopoh, terengan engah untuk mengepuli periuk nasi masing masing. Tiap hari juga mereka berkelahi bukan dengan musuh yang menyerang dari luar, tapi dengan sesamanya. Dengan satpol PP yang menggusur gerobak bakso mereka, dengan pungutan liar yang memereteli jerih payah angkot angkot mereka, dengan kemiskinan dan kelaparan. Orang orang ini selalu bermimpi bisa merasakan satu hal dalam hidup yang tidak pernah meraka dapat dari pemerintah daerah, “kemakmuran”. Inilah mereka yang termarjinalkan di negri sendiri, tersebat dipemukiman pemukiman kumuh yang berharap dan berjuang demi mempertahankan keganasan Jakarta. Kekaguman saya serta merta berubah karena kini saya seperti memasuki pedalaman kampung di Rwanda, Etiopia, Zambia atau Senegal

kaya miskin jakarta tidak seperti putaran roulet, tidak pula seperti gelindingan bola salju, dimana istilah klasik selalu mengatakan, nasib akan berganti, hanya persoalan giliran atau kehidupan selalu dipertukarkan. Yang ada adalah stagnasi kehidupan. kemiskinan makin tersungkur diatas dominasi para pemodal besar. Yang kaya akan semakin kaya yang miskin akan semakim miskin. Persis seperti ratusan tahun lalu ketika para pendatang bermodal besar dari eropa datang dan mendominasi suku indian amerika. Kehidupan terasa sangat naif karena karena kemiskinan dan kekayaan ibarat minyak dan air. Jumlah orang yang peduli belum berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan. Tinggal sehari disana saya lngsung ingin pulang. Membuat saya Ingin kembali ke kampung. Hidup bahagia apa adanya sambil terus menulis lagi.. lagi… lagi.

Sumber foto : http://www.flickr.com/photos/27827857@N04/3509214639/

3 komentar:

laen kali maen k smg yah ^^

yuu...asal ditemenin yaaa......q kan katro jarang maen..jauh dikit nyasar deh hhehehe

wab sob,cb maen ke rumahku waktu ke jakarta khan dh ga jauh lag he..he..

kl kita lihat apa yg terjd di ibukota ni emng kontras banget,ada yg melaju hidup dengan gaya jensetnya,tp ad jua sdr kita yg terongok di bantaran sungai dengan kekumuhannya.

smg ja nasib bangsa ni lebih baik,fan kemiskinan bisa teratasi

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog