26 Juni, 2010

MEMBEDAH FENOMENA SASTRA MAYA

Posted by Suguh Sabtu, Juni 26, 2010, under | No comments


diterbitkan juga di Inioke, Media Online Remaja

Oleh Suguh Kurniawan

Media mainstream seperti koran, majalah atau industri penerbitan buku dirasa masih belum bersikap akomodatif terhadap para penulis pemula. Selain skill yang masih terbatas, mereka pun jauh dari hingar bingar 'nama besar'. Oleh karenanya, sering karya yang telah dikirim mendapat penolakan. Meskipun demikian, banyak penulis yang termasuk dalam kelompok ini tak patah arang. Mereka melirik dunia maya. Jaringan internet dijadikan wahana dalam berekspresi.

Metropolitan Sastra Maya
Ibarat rumah, jaringan sosial seperti facebook dan friendster atau blog seperti wordpress, multiply dan blogspot menjadi tempat yang nyaman untuk berekspresi. Seperti rumah pada umunya, tuan rumah memiliki otoritas penuh atas apa yang mereka kehendaki terhadap tempatnya bernaung. Tak seorangpun dapat menggangu aktifitas mereka bila sudah menginjak 'ranah privacy'.

Di internet, 'rumah sastra maya' tumbuh dan berkembang. Sebelum aksesnya ngetrend, skalanya masih berupa 'perumahan sederhana'. Namun, seiring perjalanan waktu dengan akses yang semakin mudah serta biaya yang relatif murah, telah membuatnya menjadi 'mertopolitan' tak berbatas. Para peminat sastra dari berbagai kalangan dan profesi ramai-ramai memposting karya. Cerpen, puisi, esai bahkan kritik sastra, kini begitu mudah diperoleh hanya dengan sekali klik.

Dalam hal ini, karena sifatnya sangat personal, tak terdapat pakem-pakem bahasa atau editor yang biasanya 'galak' terhadap mereka. Tiap orang punya hak untuk menuangkan gagasan menurut selera masing-masing. Segalanya pun dilakukan sendiri, baik menulis, mempublikasi sampai balik mengomentari pendapat kawan atas suatu karya.

Kendati demikian, mereka tak serta merta menjadi ekstrovert terhadap lingkungan, khususnya lingkungan maya. Apalagi, jaringan semakin luas, disertai dengan bertambahnya kawan dari berbagai tempat. Akibatnya, tampaklah para penulis pemula ini semakin mapan dengan komunitasnya. Mereka melakukan sosialsisasi dengan cara sendiri. Melakukan blog walking atau berkunjung ke blog orang lain, dengan tujuan saling memberi apresiasi atas karya masing-masing. Selain itu, mereka juga menshare notes kepada kawan di facebook, karena cara ini dianggap efektif dalam mempublikasikan tulisan.

Lebih jauh, dalam dunia maya ini terdapat pula komunitas-komunitas sastra yang menjadi tempat berkumpul sekaligus berwacana bagi para penulis pemula, misalnya, kemudian.com dan penulismuda.com.

Merumus Sastra

Bila mengkalkulasikan dengan rumusan matematika, menulis diinternet memang tak memberikan keuntungan finansial secara langsung. Namun demikian, hal tersebut memberi sinyal positif atas perkembangan dunia sastra tanah air. Apa pasal? Karena seperti dikatakan di atas, ketika akses untuk menembus media mainstream masih dianggap sebagai suatu kemustahilan, internet justru memberikan kesempatan selebar-lebarnya untuk berkarya. Seseorang yang nothing berpotensi menjadi something bila terus berkarya secara intens. Proses learning by doing dapat membuat kualitas tulisannya semakin matang. Bukan tak mungkin bila kelak terdapat penerbitan yang tertarik atas postingan atau notes untuk ditebitkan dalam bentuk buku. 

Selain itu, dengan semakin banyaknya masyarakat menulis sastra di dunia maya, ini meruntuhkan pendapat yang mengatakan bila minat baca tulis di Indonesia masih rendah. Indikatornya dapat terlihat dari jumlah peserta lomba menulis yang dipublikasikan di internet. Pada sayembara cerita anak, yang diselenggarakan oleh penerbit Aerlangga, panitia musti mengundur pengumuman pemenang karena membludaknya jumlah peserta. Di bloggagas.net pun demikian, kendati hanya berhadiah paket buku. Antusiame partisipan terbilang tinggi.

Namun ini menjadi catatan. Idealnya, koran, majalah atau industri penerbitan memberikan ruang khusus bagi para penulis pemula. Dengan demikian mereka dapat berkontribusi untuk menambah khazanah kesusastraan Indonesia. Artinya, mari mentransfer karya maya menjadi karya nyata.

Mereka yang selama ini aktif menulis di internet semestinya dapat menerbitkan antologi puisi atau cerpen independen. Dengan dana yang digalang secara swadaya, ini menjadi peluang untuk melakukan hal serupa seperti dilakukankan para penulis mapan. Keuntungan tak melulu diukur dengan materi. Kendati honornya sudah tak menjanjikan seperti royalti yang diberi oleh penerbit, tapi hal ini dapat menjadi pijakan awal untuk berkarya lebih besar di masa depan.

Fenomena sastra maya musti mendapat apresiasi positif. Bangunannya yang telah menjadi 'metropolitan' harus terus digarap dan dikembangkan oleh para 'insinyur maya' sendiri. Bila proses pembelajaran terus berlangsung secara kontinue dan jalinan pertemanan makin sinergis, bukan tak mungkin kebangkitan sastra Indonesia bermula dari dunia 'tak kasat mata' ini. (*)

0 komentar:

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags