16 Februari, 2014

Gunung Putri: Pendaki Tersesat, Lampu dan Kabut

Posted by Suguh Minggu, Februari 16, 2014, under | 1 comment

Akhirnya saya berangkat juga untuk camping ke Gunung Putri. Tempat ini berupa bukit berumput yang di tengahnya terdapat sebuah tugu yang di kenal dengan Tugu Sespim. Tak banyak orang tahu Gunung Putri karena kalah pamor dengan tetangganya, Gunung Tangkuban Parahu. Tapi bagi para pendaki gunung atau penggemar hiking yang ingin merasakan pengalaman baru sekaligu berbeda, maka gunung putri merupakan pilihan tepat. Tempat ini juga amat cocok bagi para pendaki pemula.

Selain dapat menikmati udara bersih di area pegunungan, mata kita juga akan dimanjakan dengan pemandangan kota yang tampak dari ketinggian. City view akan mencapai klimaks jika sampai pada malam hari. karena gemerlap lampu-lampu kota terhampar dengan sangat indah di depan mata.

Dhiora menjemput saya sepulang kerja. Seminggu sebelumnya kami survey tempat lebih dulu. Hanya dengan obrolan pendek, kemudian rencana campingpun diputuskan Pada 7 Februari 2014. Setelah packing alat alat camping, dari Bandung kami berangkat naik angkot ST Hall-Lembang. Kami sadar kami terlmbat pergi karena begitu sampai di lembang sudag pukul 5:50. Angkot berhenti di jalan jaya giri. Dari sana kami jalan kaki menuju gerbang hutan jaya giri.

Mereka yang Tersesat
Perjalanan terus berlanjut dengan porsi yang jauh lebih berat. Kontur hutan Jayagiri yang menanjak menambah beban kami. Ransel terasa jadi jauh lebih berat. Selagi berjalan lambat laun hari menjadi gelap. Kami mulai menyalakan senter. Ada hal tak tertuga saat kamu sedang berjalan. Pada bagian-bagian tertentu, track Jayagiri memiliki dua jalur. Saat kami berjalan di jalur kanan, di sebelah kami di jalur kiri (yang terpisah oleh semak belukat dan tumbuhan liar) ada bapak-bapak memanggil kami. Karena hari keadaan sudah sangat gelap, kami tak dapat melihat bapak itu dengan jelas. Hanya dengan teriakan kami berkomunikasi.
Kontur Jalan Koral

Mengingat beban berat dipundak dan jalan terus menanjak, saya dan Dhiora sepakat menunggu bapak tersebut di ujung hutan Jayagiri atau pertigaan Jayagiri. Setelah menunggu beberapa lama, tampaklah bapak tersebut yang ternyata tidak sendiri tapi dengan keenam kawannya. belakangan kami tahu kalau mereka ingin mengunjungi gunung Tangkuban Perahu.

Hanya masalahnya mereka tidak tahu jalur karena baru pertama kali melintasi jalur ini. Lebih parah mereka juga tak membawa perbekalan memadai seperti senter, makanan lebih, ponco atau tenda. Karena menurut pengakuan salah satu dari
Bunga Manis di samping jalan koral
mereka, niat awalnya memang hanya untuk jalan kaki, untuk menghirup udara segar pegunungan di malam hari.

Bila hari masih terang, mudah bagi kami menunjukan jalan. Arah menuju tangkuban perahu Dari jalan koral adalah lurus, masuk lagi ke dalam hutan pinus sampai menemukan jalan raya. Dari sana terus nanjak menuju kawah Domas yang terkenal itu. Tapi karena sudah sangat gelap, kami khawatir mereka tersesat. Banyak belokan dalam hutan tersebut. Alih alih menemukan Tangkuban Parahu, mereka malah tak menemukan jalan pulang. Maka kami sampaikan jalur lain yang lebih mudah namun dengan risiko lebih jauh.

Dari pertigaan jayagiri, kami belok kanan. Terus berjalan menapaki jalan koral, jalan berbatu yang membuat telapak kaki sakit saat menjejakinya. Kami berjalan lebih dulu sedang mereka mngikuti dari belakang. Saya dengar kadang mereka terus ngobrol. Bicara ini dan itu. Tapi kadang suasana jadi sepi sekali sebab tak ada yang bicara.

Sampai menemukan pertigaan kami berpisah. Mereka ambil jalur kiri, menuju jalan aspal. Dari jalan itu, bila belok kiri menuju Tangkuban Parahu dengan rute terus menanjak, bila belok kanan akan sampai di Gerbang Cikole. sedang kami belok kanan menuju gunung Putri.

Lampu Kota dan Kabut
Kami kembali jalan berdua. Memasuki kembali hutan Pinus yang gelap dan dingin. Kabut tipis turun di depan kami. Sampai kami menemukan pertigaan lagi. Dari area berumput, bila belok ke kiri menuju Benteng Belanda yang tak terawat dan dipenuhi tumbuhan liar, bila belok kanan maka akan langsung menuju Gunung Putri. Kami belok kanan dan mengikuti jalan setapak. Beberapa saat kemudian sampailah kami di tempat tujuan kami.
Benteng Belanda. foto ini diambil saat survei

Benteng Belanda. foto ini diambil saat survei
Bagian dalam Benteng Belanda

Pemandangan Gunung Putri sangat luar bisa apalagi pada malam hari. Di atas bukit berumput itu, dari ketinggian dapat terlihat suasana malam kota Bandung yang sangat indah. Lampu-lampu gemerlap di mana-mana. menurut saya pribadi view kota di gunung putri jauh lebih baik di banding view di cartil atau caringin tilu.

Gunung Putri-Mnghadap Kota
Tapi kegembiraan saya dan Dhiora tak lama. karena kabut turun dengan sangat pekat. Pemandangan kota tiba-tiba tertutup dan udara terasa jauh lebih dingin. Kami buru-buru membuat bivak, menyalakan api dan memasak. Keadaan jadi semakin buruk saat hujan turun. Mula mula Cuma gerimis tapi lama kelamaan jadi makin deras. Hujan itu nyatanya tak berhenti sampai subuh. Praktis setelah hujan turun kami berlindung dalam bivak. Sempat kira-kira pada jam 3:00 dini hari saya melihat keluar, dan kabut amat tebal menjelaga disekeliling kami. Jarak pandang hanya sampai 10 atau 15 meter. Udara dingin sampai pada puncaknya.

Saat bangun di waktu subuh, hujan belum berhenti. Meski kini tak sederas tadi malam. Makin lama hujan itu makin reda dan kabut yang semula tebal mulai menitip. Karenanya, mulai tampak kembalilah pemadangan kota yang gemerlap. Saya rasa ini adalah klimaks dari camping hari itu. bagi saya hal ini adalah pemandangan langka. Hujan semalam, kabut tebal yang dingin, tanah yang becek dan lembab, jalan menanjak yang melelahkan, semua terbayar dengan menyaksikan pemandangan yang luar biasa itu.

Kira-kira pukul 8:00 kami pulang dengan jalur yang sama. Besok lusa ingin kesini lagi. Semoga tidak hujan.

Pemandangan belakang Gunung Putri: Hutan Cemara
Pemandangan kota saat subuh

Sisa Kabut semalam

Pemandangan kota




Rute Menuju Gunung Putri
  • Dari ledengan naik angkot ST Hall-Lembang, turun di Jalan Jayagiri.
  • Dari Jalan Jayagiri jalan kaki menuju gerbang Jayagiri
  • Di gerbang bayar Rp 5000/orang. Masuk area hutan yang menanjak sampai menemukan jalan berbatu/ jalan koral. Bila lurus akan masuk kembali ke dalam hutan menuju Tangkuban Perahu. Bila belok kiri menuju perkebunan teh. Sedang belok kanan menuju gunung Putri.Ambil jalur kanan. 
  • Jalan kaki kembali sampai menemukan pertigaan ke dua. Ingat jangan sampai terkecoh. Ada pertigaan yang sangat mirip dengan pertigaan menuju Gunung putri. Pertigaan yang mengecoh itu, bila ambil jalur kanan akan masuk jalan tanah. Sedang ke kanan masih jalan koral. Maka ambil lagi arah kanan sampi menemukan jalur menuju gunung putri yang benar.
  • Bila telah sampai pertigaan, ambil jalur kanan yang berupa tanah. Bila hujan jalannya penuh dengan kubangan dan lumpur. Bila belok kiri akan tembus ke gerbang cikole.
  • Di sebelah kiri jalan berlumpur ada jalan setapak yang menanjak masuk hutan pinus. Ikuti saja jalan itu sampai menemukan lahan datar berumput. Dari lahan datar tersebut bila belok kanan akan menuju Benteng Belanda. Bila bekol kiri akan menemukan jalan setapak yang langsung menuju Gunung Putri.

Gunung Purti. Di puncaknya kami camping

Ini yang disebut Tugu Sespim

Selamat Mencoba Kawan

1 komentar:

Bismillah, saya besok berdua sama teman saya ingin ke gunung putri, semoga selamat sampai tujuan dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog