09 September, 2015

Patahan Lembang; Antara Pengalaman Baru dan De Javu

Posted by Suguh Rabu, September 09, 2015, under | No comments

Kamis 6 Austus 2015, awalnya saya dan Dhiora mau mendaki gunung Burangrang, tapi entah karena kepala dia kebentur pintu atau pura-pura khilaf Dhio merubah destinasi jadi ke Patahan Lembang. Saya sih ikut saja, yang penting bisa hiking. Semula saya menganggap patahan lembang itu di daerah gunung Batu Lembang dekat Sespimpol. Tapi tenyata bukan, kawan.

Dhiora Bilang patahan lembang itu ada di belakang bukit Moko. Kalau berjalan sekitar 45-1 jam ke lokasi. Entah dia sudah tahu atau cuma sok tahu karena kalau lihat gersturnya baru pertama kali ke sana.

Sekali kita pernah melewati bukit Moko. Beberapa tahun lalu kita jalan kali dari Bukit Unggul, masuk hutan kina. Waktu itu hujan baru saja reda. Kabut turun tebal sekali. Jarak pandang di jalan setapak hutan kina anatar 3-5 meter. Suasana gelap. Padahal masih sekitar jam 16:00. Kawan, melihat kabut tebal turun itu rasanya seperti jatuh cinta pada seseorang tapi masih ngambang sikapnya. Potensinya, bisa di tolak atau di terima. Kabut juga begitu, bisa mengantar kita pulang ke rumah dengan hati gembira atau mengantar kita pulang ke hadirat Ilahi karena masuk jurang. Maka waspadalah kalau kabut turun. Karena kamu bisa tewas padahal belum kawin. T_T

Dari hutan kami lanjut ke bukit Moko. Setelah puas lihat city view di sana, kita pulang ke Bandung via jalur satu-satunya, desa Cimenyam. Itulah salah satu perjalanan paling durjana yang pernah kita lakukan. Berangkat pagi dan sampai ke daerah saung Ujo sekitar jam 20:30. Seluruhnya full jalan kaki. Mengenaskan sekali kawan, kami waktu itu kelihatan bukan kaya pecinta alam tapi kaya gelandangan.

Oke, kembali ke Patahan lembang yang baru dikunjungi. Kita ke sana naik motor. Dari saung Ujo terus nanjak ke Bukit Moko. Jalurnya Cetar sekali ternyata.Nanjak terus tiada ampun. Saya kadang mikir, pake motor saja sampai Moko lama banget, pantesan dulu rasanya ga sampai sampai waktu lewat jalur yang sama dengan jalan kaki.

Sampai di Moko, suasana sudah berubah sekali. Sekarang fasilitas umum seperti mushola dan tempat wudhu sudah tersedia. Warung-warung lebih banyak dan area parkir juga lebih luas. Dari Moko kita berjalan ke gerbang Bukit Bintang. Dari gerbang bukit bintang itulah kita berjalan ke patahan lembang. Mungkin kawan, agak bingung waktu saya menyebut bukit Moko dan Bukit Bintang. Keduanya adalah dua tempat berbeda yang posisinya berdekatan. Bukit Moko terletak di depan Buki Bintang. Keduanya adalah destinasi untuk melihat city view. Para ABG kekinian biasanya Cuma mentok sampai dua tempat ini.

Setelah melewati gerbang dan membayar tiket masuk, kita memasuki hutan cemara yang jalan setapaknya dilapisi paving block. Nyaman sekali di awal tapi makin lama makin nanjak. Saya suka sekali waktu mencium bau tanah dan bau pohon cemara. Kawan, selain rindu pada kekasihmu, hal yang dapat membuatmu kecanduan adalah kembali pada alam terbuka.
Petunjuk arah menuju patahan Lembang

Jalan setapak lama-lama berganti kontur, tidak lagi paving block tapi menjadi tanah. Karena sedang kemarau
jalanan jadi berdebu. Alurnya berkelok-kelok dan terus menanjak. Hutan cemara juga terlihat makin lebat. Saya pikir untuk yang pertama kali mengunjungi Patah Lembang tidak perlu takut nyasar karena banyak papan penunjuk arah.
Jalur hutan cemara menuju lokasi
Setelah berjalan kira-kira 45-1 jam sampailah kita di area Patahan Lembang. Agak bingung juga waktu kita nyari lokasinya padahal sebetulnya sudah sampai. Karena bingung nanya ke warga yang lewat malah jadi tambah bingung. Waktu saya tanya kalau jalan terus ke lembah yang ada di bawah adalah arah menuju Patahan Lembang, jawabanya, iya. Terus Dhio nanya, kalau tempat kita berdiri ini Patahan Lembang atau bukan, jawabannya Iya juga. Dia Cuma jawab iya iya, ngga ngga aja. Akhirnya kita biarkan dia pergi dengan perasaan bingung. Sampai tibalah orang yang pakai motor trail. Kita kirain ojeg masuk hutan hahahaha. Ternyata bukan, itu orang mau lagi nyari lokasi Batu Lonceng. Dari dia baru kita tahu kalau posisi kita berdiri adalah patahan lembang.

View patahan menurut saya keren sekali. Di kejauhan hamparan gunung-gunung yang berlekuk-lekuk berwarna hijau. Gunung paling tinggi dan paling dekat adalah Bukit Unggul. Di bawah Patahan Lembang pada sisi sebelah kiri terdapat perkampungan dan petak petang sawah. Seementara di sebelah kri adalh hutan cemara yang rimbun.




Tanda bila kita sudah sampai di patahan lembang adalah ada sebuah batu yang lumayan lebar di tepi tebing. Di depannya ada pohon tua yang bentuknya eksotis sekali. Pohon itu tinggal batang sama dahan, tanpa daun, sedirian, gimana aja jomblo pada umumnya. Di atas itu kita bisa  berfoto dengan latar belakang pemandangan alam yang keren sekali. Cuma hati hati jatuh ke jurang. Kurang bonafit kalau kawan tewas di tempat itu. Lokasinya di keramaian, bisa jadi bahan tontonan banyak orang. Paling kata Tim SAR yang nolong, biar mayatnya yang ngurus diri sendiri, negerepotin.

Saya gantian sama Dhio foto-foto di sana. Lucky for us, suasana masih sepi. Jadi kita bebas bergaya dengan pose paling menjijikan sekalipun. Setelah puas baru kita pulang. Di jalan ketemu banyak orang yang bermaksud ke Patahan Lembang. Istirahat dan seolah sebentar di saung. Lanjut jalur ke bukit bintang. Pusing amat di sana karena banyak orang pacaran. Sementara kita cowo jalan berduaan, semoga waktu itu kita ga dianggap homo ya.

Catatan terakhir yang ingin saya bagi adalah soal Dhio yang ngeh pertama kali soal jalur jalan setapak. Awalnya dia lupa-lupa ingat tapi kemudian mulai sadar kalau jalur dari dan ke Patahan Lembang pernah kita lewati beberapa tahun lalu (seperti yang saya tulis di awal). Karena bila melihat kontur jalan, saung tua tempat kita shalat dulu, kontur bukit bintang yang dilihat dari bawah, bikin ingat kembali ke pengalam kita jalan di jalur durjana yang bikin capek banget itu. Saya yang agak lemot kalau mengingat juga mulai ngeh. Bedanya waktu kita lewat daerah ini belum di kelola perhutani. Sekarang sudah komersil. Saya seperti mengalami de javu.

Kita kembali ke Bandung sekitar jam 17:00. Sempat makan sedikit sama Dhio tapi ga Kenyang. Sampai di rumah mandi sebentar, terus ngajak Ira makan malam. Tapi Ira ternyata sudah makan. Jadi dia Cuma minum. Saya sendirian yang pesan makan. Ngoborol ke sana ke sini sampai ga nyadar di kantin sudah tidak ada siapa-siap dan kantinnya juga sudah tutup. Jam 21:30 Saya mengantar dia ke kosannya. Setelahnya baru pulang lagi ke rumah.

0 komentar:

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog