21 Februari, 2016

Gunung Cikurai dan Esensi Puncak Sejati

Posted by Suguh Minggu, Februari 21, 2016, under | 1 comment

Pada 22-23 Januari 2016 saya dan Dhiora mendaki gunung Cikuray.  Berawal dari obrolan singkat di Kineruku sore-sore, kemudian berujung pada perjalanan panjang yang melelahkan. Mungkin obrolan itu tidak lebih dari 10 menit. Hal paling penting adalah membicarakan tanggal pergi dan pulang. Selebihnya masing-masing kami tahu hal-hal apa saja yang musti disiapkan.

Menuju Cikuray ditempuh dengan motor. Berangkat dari Bandung sekitar pukul 10:00 dan sampai di lokasi pukul 13:30. Terbilang cepat. Mungkin karena saya ngebut sampai Dhio yang dibonceng ngomel-ngomel di belakang karena motor beberapa kali nyaris jatuh dan nyerempet orang. Perjalanan kira kira sejauh 60 Km dari Bandung menuju Garut.

Kami mengambil jalur pendakian resmi melalui Cilawu via pos pemancar. Dekat menara pemancar tersebut terletak pos 1 pendakian gunung Cikuray. Setelahnya adalah 'neraka'. Karena dari pos 1 sampai Pos 7 kemudian menuju puncak rutenya sangat sulit. Nyaris tidak jalur mendatar sepanjang pendakian. Kalaupun ada, itu setelah pos 6, dan panjangnya hanya 20 langkah. 20 langkah yang sangat berharga di mana kita bisa rehat sebentar dari jalur yang terus menanjak. Saking lelahnya, kami yang biasanya jarang jeda waktu mendaki, sekarang cukup banyak mengambil jeda. Saya lihat Dhio terkapar saat istirahat, apalagi saya.

Pendakian dimulai pada pukul 14:00. Kami menitipkan motor di warga. Itu karena faktor ketidaktahuan. Padahal sebagian pendaki biasanya menumpang mobil colt bak terbuka menuju pos 1 dengan membayar Rp 25.000 sekali jalan. Sebagian lagi membawa motornya ke sana. Sedang kami berjalan kaki. Hanya jalan kaki. Melewati jalur menanjak dengan view pekebunan teh di kanan kiri. Kira-kira setelah berjalan sekitar 20 Menit, kami menemukan pos tiket. Harga tiket Rp 10.000/orang. Setelah membayar perjalanan kembali dilanjutkan. Bila ditotal menempuh waktu selama 2 jam. Melalui jalur berbatu yang menanjak, berkelok-kelok dan ternyata jauh, kami dapat melihat view kota Garut di bawah sana. Makin jauh melangkah, cuaca semakin gelap. Hujanpun turun. Mula-mula gerimis, kemudian menderas disertai petir. Di kejauhan mulai terlihat Gunung Cikuray yang menjulang tinggi. Puncak diselimuti awan dan kabut. petir berkilatan beberapa kali di sekelilingnya. Kami ngeri.

View kebun teh. Sebelum pos 1
View kebun teh. Sebelum pos 1
Pos 1 Gunung Cikurai via Pos pemnacar

Sampai di Pos 1 Pemancar, kami menemukan pos penjagaan. Tapi pos itu kosong. Di dalamnya banyak sampah plastik dan botol gas sisa memasak para pendaki. Kami berteduh di sana sampai hujan reda. setelah makan dan menjama' sholat, perjalanan di lanjutkan sekitar pukul 16:00. Di titik inilah perjalanan yang sebenarnya di mulai. Dari pos ke pos nyaris tak ada jalur mendatar. Cuaca tidak menentu. Kadang hujan reda, kadang jalur tertutup kabut, tapi tak lama hujan turun kembali. Udara terasa sangat dingin.

Jalur pendakian cikurai. Diambil saat turun: Terjal
Makin larut, suasana semakin gelap. sedang suhu semakin turun. Menurut saya Jalur pendakian Cikuray adalah gabungan jalur Manglayang dan Burangrang. Menanjaknya sama seperti Manglayang, sedang kontur hutannya seperti Burangrang. Dengan catatan jalur Cikurai lebih jauh dan terjal. Saya yang biasanya paling banyak bicara, lama-lama diam juga. Begitu juga dengan Dhiora. Dia tidak menjawab omongan-omongan ngwur saya. Walau beberapa kali menjawab sih, mungkin buat menghidupkan suasana. Terlebih setelah melewati pos 3, Kami hanya ngobrol sekali-kali. Makin tinggi mendaki, kami lama-lama sadar bila ada kejanggalan. perkiraan pendakian dapat ditempuh antara 2 sampai 3 jam, ternyata belum selesai juga.

Benar-benar di luar perkiraan. Tak seperti pendakian-pendakian sebelumnya, kami banyak mengambil break. Saya melihat Dhiora terkapar. Apalagi saya. Pendakian ini seolah-olah tidak pernah selasai. Hujan yang kembali turun dan kabut menambah buruk keadaan. Hal tersebut membuat jalur pendakian makin licin. Dalam kegelapan kami harus lebih berhati-hati menjaga keseimbangan saat berjalan. Menghindar sebisa mungkin agar tak terantuk batu apalagi jatuh ke jurang.

Jalaur Pendakian Cikurai. Diambil saat turun
Jalur pendakian cikurai. Diambil saat turun
Group pendaki yg ditemui di tengah jalan. akrab seperti kawan lama. Mereka turn. Kami naik

Puncak Cikurai. Diambil saat pagi
Kira-kira Pukul 23:00, kami melihat area hutan yang makin lama makin jarang pepohonannya. Jalurnya menanjak curam berbatu. setelah mendaki kira kira sekitar 5 menit area berbatu itu. Maka sampailah kami di puncak. Suasana di sekilingnya berkabut. gelap sekali. Cuaca semakin dingin. Kami melihat suasana sekeliling. Sepi sekali. Tampak di sebelah barat di bawah puncak, ada beberapa tenda. Sepertinya para pendakinya sudah tidur karena kedinginan. Sekitar pukul 23:00 Kami mendirikan tenda di sebelah timur di bawah puncak. Kembali naik ke pada pagi harinya.

Bahaya Hipotermia
Waktu memulai mendaki di pos 1, di area kebun teh, kami melihat seorang pendaki laki-laki turun terburu-buru dengan membawa dua ransel. Satu di punggung satu di dada. firasat mengatakan ada yang tidak beres. Waktu ditanya apa ada temannya ada yang sakit? Dia menjawab, ya, posisi kawannya di belakang. Diapun berlalu meninggalkan kami.

Kami pikir kawannya itu perempuan. Tapi dugaan itu keliru. Sekitar 5 menit kemudian muncul dua orang pendaki laki-laki lain turun dengan langkah yang pelan. Satu pendaki memapah pendaki kawannya. Saat berpapasan kami melihat pendaki yang dipapah itu rupanya terkena gejala hipotermia. Wajahnya pucat, tubuhnya menggigil. Kondisinya tampak lemah. Hal tersebut diperparah dengan pakaian berlapis lapis dan basah. Kemudian makin diperparah dengan dengan lapisan jas hujan yang basah juga. Begitu juga celana dan sepatunya. Mereka kira hal tersebut akan membuat tubuh jadi hangat. Padahal tidak. Justru sebaliknya.

Bila melihat cuaca, kondisi di atas gunung saat hujan lebih buruk dengan kondisi yang sama tapi di bawah. Cuaca bisa turun ke titik terendah. Salah menyikapi kondisi seperti itu, dapat menyebabkan bencana.

Kami sarankan untuk segara mengganti kaos basah dengan kaos kering. Bukan hanya satu, tapi dua lapis.  Sambil berganti baju, kami baluri tubuh pendaki yang kedinginan itu, baik punggung, dada, perut dan kakinya, dengan balsem. Diberikan juga kaos kaki kami yang baru untuk mengganti kaos kakinya yang basah. Untuk menambah energi kami sarankan untuk segara makan makanan yang masih mereka punya. Kami sumbangkan madu saset buatnya.

Setelah pakaiannya berganti dan makan lumayan banyak, kami berpisah. Mereka pulang sedang kami melanjutkan pendakian.

Mendadak (gejala) Hipotermia
Antara pukul 19:00-20:00 kami mengambil istirahat. Saya lupa itu dipos berapa. Mungkin pos 4 atau pos 5. Hujan sejak dari turun. Tidak terlalu deras tapi ritmenya tak putus-putus. Kami duduk untuk rehat. Ada dua pendaki lain yang mendaki pada malam itu. sebelumnya kami dan mereka saling bersusulan, kadang kami duluan, kadang mereka duluan. Kadang kami jalan beriringan. Mereka pendaki dari Garut. Saya lupa nama mereka. Tapi orang-orangnya welcome dan ramah.

Pada saat mengambil rehat bersama kami ngobrol-ngobrol. Mungkin sekitar 15 menit. Kemudian mereka jalan duluan sementara saya dan Dhiora mengambil rehat lebih lama. Saat rehat tambahan tersebut suhu badan yang semula panas menjadi dingin. Sementara gerimis dan kabut tebal terus turun. Suhu drop. Rasanya dingin sekali. Tubuh saya mengigil. Hal tersebut diperparah dengan pakaian yang basah. Baik kaos dan celana. Gigi saya gemeretak, tangan saya berguncang-guncang.

Pada saat seperti itu, saya ingat kembali pada pendaki yang di temui di awal pendakian. Tubuhnya yang membiru, tangannya yang mengigil, kondisinya yang lemah. Pada saat seperti itu, saya mengatakan dalam hati, saya tidak mau mengalami nasib yang sama. Nyawa orang siapa yang tahu. Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya mau tetap hidup.

Saya meminta Dhiora untuk memegangkan senter saya. Saya Keluarkan kaos dan jaket kering. Pakain basah saya ganti. Saya baluri tubuh dengan balsem. Pada saat itu saya masih mengigil. Buruk sekali cuaca yang dirasakan. Sayapun mengeluarkan makanan. Saya makan sebanyak mungkin. kue-kue, lemper, sate kulit semua saya makan. Di atas semua itu hal paling penting adalah kembali bergerak agar suhu badan kembali hangat. Waktu kembali berjalan rasanya berat. Tapi tetap saya paksa. Dua sampai empat menit menit tubuh saya masih menggigil, tapi setelah itu, walau kondisi hujan dan kabut turun, kondisi saya berangbbsur pulih.

Mencari Puncak Sejati
Dua pendaki yang mengoborol dengan kami bilang saat sama-sama rehat, kalau puncak sekitar dua jam lagi. Benarkah? Kondisi kami sudah sangat drop. Tenaga nyaris habis, napas nyaris habis, semangat nyaris habis. Dua jam bukan waktu sebentar bagi orang-orang yang nayis putus asa. Sempat terpikir mendirikan tenda di pos 6. Tapi Dhio bilang tanggung. Sudah terlanjur capek, lanjut saja sampai puncak.

Dengan sisa sisa tenaga kami berjalan. terseok-seok, kelelahan, pucat seperti walker dalam walking Dead. Tapi tak lama kemudian seperti disampaikan di awal, puncak yang kami tuju itu dapat kami capai. Kami berkeliling area puncak gelap. Dua pendaki itu menjahili kami. nyatanya tidak sampai dua jam menuju puncak. Kami agak kesal, tapi rasa kesal itu tertutupi oleh rasa bahagia yang lebih besar. Lain kali kami ketemu pendaki lain, dan menayakan jarak, akan kami sampaikan jarak tempuh yang sebenarnya.

Di bawah pundak kami mendirikan tenda. Besoknya kami naik lagi. Suasana di sana sudah ramai oleh para pendaki. View lautan awan tampak di sebelah utara. Putih. putih menghampar seperti kapas. Ini pemanadangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat seumur hidup. Di atas ketinggian, kita adalah mahluk kecil yang lemah. Kesombongan macam apa yang mau kita pertontokan pada dunia. Kalau dengan mendaki saja kita nayris mati dan ketika berada di puncak serasa diri ini kecil sekali. Tubuh ini, diri ini, hati ini terlampau kerdil.




Lalu pulang kembali ke rumah lebih penting dari sekadar puncak. Karena puncak adalah pilihan. sedang pulang adalah kewajiban. Ada orang orang tercinta yang sedang menunggu dengan hati cemas nun jauh di sana. Hadiah paling berharga adalah kabar gembira yang membuat mereka kembali tersenyum bila kita pulang dengan selamat.

Sekitar pukul 08:30 Saya dan Dhiora turun. Melalui jalur yang sama. Bila saat naik harus merangkak-rangkak. Maka turunya harus ngesot. Saat keadaan terang baru terlihat bila jalur yang dilalui semalam sangat curam. Kami berpapasan dengan para pendaki yang akan naik. Saat dalam penderitaan yang sama tiap orang menjadi solider. Kami saling menyapa dan menyemangati. Saling tersenyum dan tertawa. Walau para pendaki itu terlihat sangat kepayahan, walau wajah mereka kemerahan dan berkeringat, bila berpapasan kami saling tersenyum.


Pendakian Cikurai amat membekas dalam memori saya. Jalurnya yang terjal, suhunya yang dingin, hujan, petir dan kabutnya, hamparan lautan awannya. Hal-hal tersebut akan menjadi tapal batas kenangan yang kelak akan diceritakan pada anak-anak saya. Bila hidup tak selalu sejalan dengan harapan dan keinginan. Kadang musti menanjak, bahkan menanjaknya amat tinggi sekali. Kadang musti meringis dan menangis. Sesuatu yang tak di perjuangangkan, sesuatu yang didapat dengan cuma-cuma lama-lama akan hambar dan hilang, baik di tangan ataupun di hati. Pencapaian akan terasa indah bila digapai dengan segenap tenaga, usaha, keringat. Di atas segalanya adalah kejujuran. Puncak bukan tujuan akhir. Tujuan akhir kita adalah pulang ke rumah. Cinta, kawan, cinta dari mereka menunggu kita di sana. Puncak sejati yang kita cari-cari, titik tertinggi pendakian kita, di mana kita bisa berdekatan, akrab, merasa sentimentil, jatuh cinta lagi, pada orang-orang yang kita sayangi.





1 komentar:

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website kami www.kumpulbagi.com atau www.facebook.com/kumpulbagi/ untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog