22 November, 2008

MENGGALI IDENTITAS MAHASISWA YANG HILANG

Posted by Suguh Sabtu, November 22, 2008, under | 4 comments


MENGGALI IDENTITAS MAHASISWA YANG HILANG
Oleh : Sanur Sukur

“saya akan dengan senang hati mengorbankan hidup jika hidup itu akan memajukan kebenaran”, kata penulis Rusia Alexander Solzhenitsyn. Ia yang karena keberaniannya menentang perlakuan kejam terhadap pria dan wanita didalam kamp kamp penjara, harus menanggung resiko mulai dari ancaman, penahanan sampai harus melarikan ke Swizerland mengingat kondisi di Rusia sudah tidak lagi kondusif bagi keselamatan jiwanya. ketika ada orang meyebut perjuangannya merupakan suatu kesia-siaan, Solzhenitsyn justru semakin giat menulis. tidaklah ia ingin disebut sebagai pahlawan kemanusiaan tapi hal tersebut dilakukan semata mata sebagai wujud kekritisannya untuk menyatakan kalau yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

apabila kisah Solzhenitsyn diparalelkan dengan kehidupan kampus, maka kita berharap mahasiswa dapat menyadari fungsi fungsi dasarnya sebagai the happy selected view, sebagian kecil masyarakat yang beruntung karena bisa kuliah ketika pada saat bersamaan terdapat ratusan ribu pemuda pemudi Indonesia harus gigit jari karena tidak memiliki kesempatan serupa seperti mereka.

Dalam Zaman peralihan, Soe Hoek gie menulis fungsi utama mahasiswa adalah belajar. hakikat belajar sendiri adalah Journey (perjalanan) bukan race (balapan). mereka yang memahami definisi belajar sebagai race, akan terjebak pada pencapaian nilai nilai. IPK tertinggi menjadi tolok ukur kepandaian seorang mahasiswa. segala cara dihalalkan untuk mencapinya dan disinilah pangkal ketidakjujuran dimulai. mencontek adalah istilah paling ngepop bagi mereka yang berada dalam kelompok ini. pertanyaanya kemudian, kalau masih jadi mahasiswa saja sudah mencontek, bagaimana nanti jika terpilih menjadi pejabat negara ? bisa bisa korupsi.
tapi bagi mereka yang memahami definisi belajar sebagai journey, hal terpenting adalah mendapatkan pemahaman mendalam atas materi materi perkuliahan dikelas kemudian kelak setelah lulus dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. bagai mereka apalah artinya mendapat nilai bagus tapi membohongi diri sendiri. apalah artinya lulus tapi sebenarnya tidak mendapatkan apa apa.

fungsi kedua adalah sosoalisasi didalam kampus. pernahkan anda mendengar istilah introvert ? itulah sebutan untuk orang yang takut bergaul alias menutup diri. apapun alasanya dikampuslah semua sikap tertutup itu harus didobrak. seseorang hendaknya mulai menyadari kalau pergaulan adalah jalan untuk memperluas wawasan, mendewasakan cara berfikir dan membentuk kepribadian. tapi, jangan sembarangan bergaul karena pergaulan pada hakikatnya adalah pertarungan mempertahankan identitas dan ideologi. ideologi pemenang akan menjajah dan menguasai dunia kata seorang filsuf. Ibnu khaldun dari dulu menggaris bawahi bahwa orang kalah akan didikte cara hidup orang menang. kita tahu kapitalismelah pemenang saat ini. lebih parah dari perang fisik kapitasime tidak hanya mendominasi tapi juga menghegemoni negara negara jajahanya. anak anak muda (khususnya mahasiswa) mengikuti gaya hidup amerika yang kebarat baratan. dengan semangat sex, song, sport dan smoke mereka menjadi garda terdepan yang rela menghisap mentah mentah candu westoksinasi (racun barat). “bapak ibu dosen” di MTV menyebarkan gaya hidup hedon semisal tato, cat rambut, mode dan sebagainya. sementara restoran siap saji menjadi hidangan junk food terlaris lambat laun pola pikir mahasiswa (seperti halnya junk food) juga mulai teracuni suatu pemahaman kalau bergaul ala anak muda adalah bergaul ala Amerika. Ekky al Malakky mendefinisikannya sebagai pergaulan yang hanya menginginkan kesenangan belaka, tanpa beban aturan, tanpa tanggung jawab dan tanpa tujuan hidup hingga pada titik terendah mereka kehilangan sense of crysis ditengah kondisi bangsa yang carut marut karena keterpurukan ekomomi.

Apakah salah mengikuti gaya hidup seperi itu ? sebenarnya tidak ada larangan untuk bersikap kebarat baratan. Adalah fitrah untuk tampil gaul dan trendy dikampus karena itu adalah kebutuhan manusia yang haus akan nilai nilai estetis (nilai nilai keindahan). tapi alangkah bijaksana kalau kita sebagai mahasiswa melihat barat tidak sebatas dari kulit luar saja namun juga mendalami intisari didalamnya. banyak semangat barat yang patut ditiru. bagaimana mereka menjadi pemenang, bagaimana etos kerja, kerajinan, kebersihan, ketekukanan dan disiplin mereka terapkan. bagaimana daya kritis dan persaingan sehat di tinggikan. bagaimana prestasi dan kerja keras diangungan. dengan memahami intisari barat diharapkan mahaiswa bukan hanya tampil trendy dan gaul tapi juga dapat memilah milah mana budaya yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk ditiru.

Fungsi terakhir mahasiswa adalah sosial kemasyarakatan. bagaimana mahasiswa berbuat untuk rakyatnya tidak untuk mendapat imbalan berupa materi tapi semata mata untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagai seorang intelaktual. ada yang menafsirkan berbuat berarti berdemonstrasi padahal lebih dalam dari itu makna hakiki dari berbuat adalah terciptanya suatu kesadaran dalam diri untuk membela nilai nilai kemanusiaan yang terampas. bentuknya bisa apapun seperti melalui tulisan, pengglangan dana, pendidikan gratis dan lain lain. suatu waktu demonstrasi memang dibutuhkan untuk mendobrak suatu tatanan nilai yang bobrok tapi lebih jauh dari itu yang terpenting adalah mahasiswa mahasiswa indonesia berbuat dengan cara apapun bagi bangsanya sesuai dengan kompetensi di bidang mereka masing masing.

Dari mana memulainya ? bukankah terlalu banyak masalah dinegri ini? kalau begitu, mari kita gunakan logika berfikir seorang pengangkut batu. jangan terlalu lama merenung berapa banyak batu yang harus diangkut tapi mulai saja pindahkan batu paling pertama sampai batu paling terakhir. mungkin pendapat ini dinggap terlalu utopis. tapi bagi seorang mahasiswa yang sadar akan fungsinya lebih baik disebut berfikiran utopis daripada diam.
memang ditengah kebekuan kampus seperti sekarang ini dimana apatisme sedang menggejala, sebagaian orang berkata “untuk apa cape cape ikut gerakan sosial? untuk apa demonstrasi ? toh hidup saya sudahnya nyaman. biaya hidup saya tercukupi. siapa musuh kita sekarang ? toh soeharto sudah tumbang, mau apa lagi?” kalau mahasiswa sudah berfikir seperti itu, ia telah menempatkan dirinya sebagai menara gading. terlihat tinggi, berwibawa dan anggun karena renda renda ilmu pengetahuan tersemat pada dirinya namun tampak begitu kerdil dimata rakyat. jelas ini merupakan sebuah penghianatan intelektual. cara berfikir mementingkan diri sendiri hanya akan melahirkan tirani tirani baru dimasa depan. pemimpin pemimpin yang berkerja bukan untuk mengabdi tapi sekedar mencari penghasilah materi seperti hal buruh, nelayan dan petani.

sebaik baik sikap dari seorang mahasiswa adalah menjadi pengawal sejarah bangsanya menuju kehidupan adil makmur. mungkin ia akan lebih dulu mati ditengah perjalanan sementara mimpi mimpinya masih banyak yang belum terwujud dan kemenangan belum tercapai. tapi alangkah indah kematin apabila ia datang pada sang mahasiswa ketika sedang gigih berjuang mempertahankan keyakinannya, idealismenya dan pembelaanya terhadap kemanusiaan. sungguh kematian itu bukan kesia siaan melainkan sebuah pengorbanan yang menenpatkan dirinya sebagai seorang martir.

setelah membaca tiga fungsi mahasiswa diatas, hendaknya kita melakukan introspeksi kedalam diri masing masing, sebenarnya untuk apa kita kuliah ? dan akan kemana setelah nanti kita lulus kuliah? Nasib kita dikampus jangan sampai berakhir seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf anonim, “aku datang kedalamnya seperti orang buta, aku hidup didamanya seperti orang bingung dan aku keluar darinya seperti orang kesal”.

sumber tulisan :
Al- Malaky,Ekky.2003.Remaja Doyan Filsafat ?, Why Not.Bandung.Penerbit DAR, Mizan
Kertanegara,Mulyadi.2005. The Best Chicken Soup Of The Philosophers.Jakarta: Penerbit Hikmah ( PT Mizan Publika )
May,Rollo.2004.The Courage To Create.Jakarta: Penerbit Teraju (PT.Mizan Publika)
Sonata, Thamrin. 1998. Tragedi Semanggi:yayasan Pariba
Trim, Bambang.2005. Menginstall Nyali. Bandung :MQ Publishing
Gie, Soe Hoek.zaman peralihan:Gagas Media






http://www.sanursukur.blogspot.com/
sanursukur@gmail.com

4 komentar:

Tulisannya bagus yah =)

Tapi kayaknya kalo sekarang ini, bakal jarang ditemuin mahasiswa yang punya idealisme tinggi ..

bukan masalah jarang atau tidaknya mahasiswa seperti ini tapi benari atau tidakkan kita menjadi pioneer untuk memulainnnya

add me yaa sanursukur.blogspot.com

mas guh, saya link di fb saya yah.
dhiora

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog