25 Desember, 2012

Ode Kematian Lepas Pagi

Posted by Suguh Selasa, Desember 25, 2012, under | No comments



Menambatimu pada langit
Aku pudar disiurkan angin.

Menambatimu pada sungai
Aku hanyut diseret gelombang

Menambati pada langit
Aku buncah bersama bintang-bintang

Menambatimu pada bumi
Aku tumbang bersama guguran daun-daun.

Ah, seekor burung hantu malang
Lengguhmu sayup-sayup merambat ke tepi pagi
Waktu matahari memendarkan cahayanya
Kau lebih dulu mati membeku dibekap sepi.


18 Desember, 2012

Soe Hok Gie (Harusnya) Berkali-kali

Posted by Suguh Selasa, Desember 18, 2012, under | 10 comments

“saya katakan bahwa kita bisa hancur karena tekanan tekanan hidup, tetapi kita tidak akan pernah terkalahkan.” (Soe Hok Gie: Dikutip dari ‘Catatan Seorang Demonstran’ Hal 426) 

 Sebatang pohon oak, nicaya dapat bertahan ketika dihatam oleh topan maha dahsyat sekalipun, namun serumpun bambu akan oleng dan hilang keseimbangan meski hanya diterpa angin semilir. Soe Hok Gie, ikon gerakan Mahasiswa angkatan 66, telah menisbikan dirinya menjadi pohon oak itu. Kendati kesendirian, ancaman dan pengkhianatan dialamatkan padanya, ia tetap kukuh bertahan di atas rel perjuangan yang diyakininya benar. Masa masa sulit ditempuhnya penuh ketabahan hingga ia tutup usia di puncak gunung semeru setelah menghisap gas beracun. Sosoknya kemudian melenggenda, terutama dikalangan pemuda yang rindu akan munculnya ‘pemimpin ideal’ di tengah krisis keteladanan saat ini.

 Ternyata Dokter Curhat
“Saya dilahirkan pada 17 Desember 1942 ketika perang sedang berkecamuk di Fasifik”, demikian ungkap Hok Gie dibagian awal buku hariannya. Sosok yang akrab dipanggil Cina kecil ini, adalah putra dari Soe Lie Piet, novelis sekaligus Wartawan Sunday Courrier dan Nio Hoei An, seorang ibu rumah tangga sederhana namun penuh dedikasi dalam membesarkan kelima anaknya (Dien, Mona, Arif, Gie dan Siane). Semula Hok Gie kecil bersekolah Sin Hwa, sekolah Tionghoa berbahasa Inggris, kemudian pindah ke Sekolah Rakyat (SD saat ini) yang berlokasi di Gang Komandan, kini terletak dibelakang Pengadilan Negri Jakarta Pusat. 

Menginjak SMP, ia bersama kakaknya Arif Budiman mendaftar ke Kanisius, namun hanya Arif yang diterima sementara Hok Gie tidak. Iapun memilih SMP Strada. Pergaulannya mulai luas karena ia dapat berbaur dengan dengan kawan-kawan yang datang dari beragam strata sosial dan ekomomi. Baru saat SMA ia kembali satu almamater dengan kakaknya di Kanisius. Begitupun ketika memasuki masa perkuliahan. Mereka berdua diterima di Universitas Indonesia. Bedanya Hok Gie masuk fakultas sastra jurusan sejarah sedang Arif memilih fakultas Psikologi.

 Berbeda dengan kebanyakan remaja baik pada zamannya ataupun masa kini, Soe Hok Gie telah ‘melek sosial’ sejak dini. Buku buku bermutu karya Mochtar lubis, George Orwell, Shakespeare dan lain lain telah memengaruhinya untuk menjadi pribadi humanis, jujur, berani mengabil risiko. Hal ini tercermin pada catatan hariannya. Saat diperlakukan tak adil oleh seorang Guru sewaktu SMP, Hok Gie menulis, “Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan ilmu bumi ku 8 tapi dikurangi 3 jadi 5. Aku iri dikelas karena merupakan orang ketiga terpandai dari ulangan tersebut. Aku percaya bahwa setidak-tidaknya aku yang terpandai dalam ilmu bumi dari seluruh kelas. Dendam yang disimpan, turun hati, lalu mengeras bagai batu. Kertasnya aku buang. Biar aku di hukum. Aku tak pernah jatuh dalam ulangan.” Atau ketika mengggugat kemapanan. Setelah memberikan uang pada seorang pemakan kulit mangga, ia menulis,“Aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah makan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah satu gejala yang mulai nampak di Ibu Kota. Dan kuberikan Rp 2.50 uangku. Uangku hanya 2.50 waktu itu. Ya dua kilo meter dari pemakan kulit, paduka kita mungkin lagi tertawa-tawa, maka-makan dengan istri-istrinya yang cantik…… aku bersama mu orang-orang malang” 

Aktifitas di Kampus
 Lulus dari Kanisius, Soe Hok Gie memasuki lingkungan kampus dengan semangat full. Ia bukan hanya dikenal sebagai kutu buku yang rajin menderas bacaan bacaan berat namun juga aktif berdiskusi, berorganisasi dan naik gunung, salah satu hobi yang paling digemarinya. Aktifitasnya tak lepas dari kegiatan kegiatan sosial. Orang yang belum pernah berjumpa atau membaca kisah hidupnya akan menganggap kalau Hok Gie yang terkenal karena tulisan-tulisan tajamnya itu, adalah sosok adalah sosok berbadan tegap dengan dengan tampilan muka garang. Namun tak demikian kenyataanya. Secara fisik ia berbadan kurus (lebih tepat kerenpeng) dan cara memunyai cara berjalan yang unik seperti dapat kita lihat dalam film GIE hingga dapat membuat kita tersenyum kecil.

Secara sosial Di mata kawan kawan kuliahnya ia adalah pribadi menyenangkan, terbuka dan selalu siap membantu siapapun yang sedang mengalami masalah. Hal tersebut disampaikan oleh Kartini Sjahrir. Dalam suratnya pada Hok Gie, Ker (panggilan akrab Kartini Sjahrir) menulis, “saya ketemu kamu yang begitu lucu, imut imut, berantakan kalau berpakaian, suka naik gunung, suka diskusi, senang folk songs :Joan Baez, Nana Mouskori, suka membaca, suka organisasi-hal hal yang bagi saya terasa baru,aneh, ajaib tapi juga mnyenangkan.” 

 Lain lagi dengan yang disampaikan Oleh Luki Bekti kawan satu kampus Gie. Ia berkata, “Di kampus Hok Gie bak Dokter yang buka praktek. Teman-teman harus membuat janji dulu jika ingin berbicara serius dengannya. Menurut saya hal itu terjadi karena Hok Gie adalah orang yang pandai mendengarkan dan menanggapi keluh kesah teman temannya. Menurut istilah sekarang, Hok Gie adalah teman curhat yang baik. Baik teman perempuan maupun pria, tak sungkan bercurhat dengannya.” Masih menurut Bekti, kesetiaan Hok Gie pada teman-teman ditunjukan dengan memberi perhatian tulus. Hok Gie pernah mengajak dirinya untuk menengok seorang teman perempuan yang mengalami stress berat di unit perawatan kejiwaan. Ia menengoknya bukan cuma sekali tapi beberapa kali dengan tak bosan memberi dukungan moral baginya.


(Donna Donna Karya Joan Baez, salah satu lagu favorit Gie)

Dari Pengkhianatan Hingga Semeru
 Masih di lingkungan kampus, Soe Hok Gie dikenal pula sebagai aktifis makasiswa yang kritis serta memiliki pandangan pandangan ideal untuk bangsannya. Kendati berasal dari keluarga minoritas Tionghoa, namun ia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kepentingan lebih besar, bangsanya tanpa memandang agama, suku dan warna kulit.

Ilustasi Demontrasi mahasiswa Indonesia sekitar tahun 60-an,
yang digalang Gie dan kawan-kawannya-Film Gie
Seperti disampaikan oleh Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Utama, Hok Gie menyikapi tiap persoalan secara ‘hitam putih’. Karena itu analisisnya menjadi tajam dan menusuk. Pada masa demokorasi terpimpin sebagai contoh, ia merasa gusar saat melihat bung Karno melenceng dari cita cita revolusi semula. Menurutnya pemerintahan sang proklamator bukan hanya tak bekerja dengan efisien tetapi juga termahsyur karena praktik korupsi dan dekadensi moral. Sementara rakyat sendiri hidup dalam kemelaratan, mengantri minyak dan kekurangan pangan. Hok Gie menulis, “kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak, maka lahirlah sang demontsran.” Sebagai seorang intelektual yang merasa terpanggil untuk melakukan perubahan, Soe Hok Gie memainkan dua peran ganda yakni sebagai man on the street sekaligus Man On the paper. 

 Sebagai man on the street ia menjadi seorang demonstran yang aktif, hari harinya diisi dengan demo. Rapat penting disana sini dan membangun jaringan. Tahun 1966 ketika mahasiswa turun kejalan dengan mengusung isu Tritura, ia berada dibarisan paling depan. Konon ia pulalah yang menjadi salah satu tokoh kunci terjadinya alisansi anatara Mahaiswa dan ABRI 1966.

Sedang sebagai man on the paper, ia menjadi seorang penulis yang goresan penanya amat tajam. Tulisan tulisan Hok Gie selalu blak blakan, telanjang, berani, jujur namun tidak membabi buta, karena berdasarkan pada daya analisis mendalam dan disertai oleh sentuhan kemanusiaan. Dalam artikel berjudul ‘Orang orang Indonesia Di Amerika’ sebagai contoh, ia menulis dengan sangat gamblang kebiasaan pembesar pembesar kita yang doyan ‘menunggang kuda putih’, dengan kata lain ‘tidur’ bersama perempuan bule saat melakukan dinas kenegaraan ke luar negri. Atau waktu menyinggung proyek Monumen Nasional ia berujar, “Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1000 kilometer jalan raya.” 


Tulisan-tulisan Gie yang dibukukan
Semula Hok Gie bersama kawan-kawannya bekerja keras demi mewujudkan cita cita mereka. Ia percaya bila rezim orde lama tumbang maka keadaan akan lebih baik. Namun kejadiaanya justru anti klimaks. Setelah Bung Karno Mundur dan Soeharto menggantikan posisinya keadaan ternyata tak jadi lebih baik. Ia geram atas pembunuhan besar besaran yang dialami oleh anggota PKI dan mereka yang di tuduh sebagai simpatisannya. Hok Gie jelas bukan PKI, tapi dalam pandangannya tiap orang sejahat apapun memiliki han untuk membela diri dan mendapat pembelaan hukum saat akan diadili. Ketika banyak orang tidak tahu atau bisa jadi pura-pura tidak tahu terhadap hal itu karena takut mendapat tuduhan serupa dari Orde Baru, ia dengan berani menulis, “di akhir tahun 1965 dan disekitar tahun 1966, dipulau yang indah ini (Bali) telah terjadi suatu mala petaka yang mngerikan, yang tiada taranya dalam zaman modern ini baik dari sudut waktu yang begitu singkat maupun dari jumlah mereka mereka yang disembelih.” 

 Saat HAM perlu dibela dan keadilan perlu ditegakan, kawan kawan aktifinya justru berpaling dan lebih memilih untuk bergabung di parlemen. Hok Gie kecewa, karena baginya mahasiswa adalah kekuatan moral yang independen dan tak tersentuh oleh unsur politik manapun. mereka bertugas untuk mengganti rezim yang telah bobrok dengan rezim baru yang lebih baik. Setelah tugas itu usai, maka mahasiswa harus kembali ke kampus untuk belajar. kekecewaan itu ia wujudkan dengan menggelar protes yang bikin geger. Hok Gie mengirimi mereka bedak, gincu, cermin, benang dan jarum. Dalam suratnya ia menulis, agar mereka terlihat lebih menarik dimata penguasa. “bekerjalah lebih baik, hidup orde baru! Nikmatilah kursi Anda-tidurlah nyenak”, ungkapnya sinis.

Keberanian Soe Hok Gie bukan tanpa risiko. Ia mendapat surat kaleng dengan makian rasis agar dirinya kembali saja ke negri asalnya atau dirempet mobil. “Nasibmu akan ditentukan pada suatu ketika. Kau sekarang sudah dibuntuti. Saya nasihatkan jangan pergi sendirian atau di malam hari”, begitu bunyi salah satu ancaman yang ditujukan. Kawan kawannyapun mulai menjauh darinya. Saat keadaan tidak menjadi lebih baik, padahal penguasa telah berganti, ia curhat pada sang kakak Arif Budiman, “Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian” 

Guna menghilangkan keresahan dalam dirinya, iapun sering sering naik gunung. Aktifitas yang membuat ia dapat mengenal dan mencintai Indonesia secara langsung. Ia bersinggungan dengan orang-orang desa dan di alamlah dirinya mendapat kedamaian. Hingga kematian menjemputnya dipuncak Semeru pada 16 Desember 1969, cita cita Soe Hok Gie soal kehidupan yang adil makmur belum tercapai. Ia mati muda sebelum usiannya genap 27 tahun. Alam semesta rupanya lebih mencintai dirinya dan tak tak rela kalau sang demonstran kembali bergabung dengan kehidupan kota yang serba munafik. Prasisti atas kematiannya abadi tersimpan dipuncak gunung semeru. Barangkali ia telah menjadi penunggu gunung tertinggi di pulau jawa itu dan sedang mengawasi perjalanan bangsanya dengan bimbang.

Harusnya Berkali-kali
"I'am never be calm, and always be gelisah (Gie)
Apa reaksi Soe Hok Gie bila masih hidup saat ini? Indonesia sekarang tak lebih baik bila dibanding dengan zamannya dulu. Apakah ia akan menjadi apatis atau tetap resisten melawan setiap ketidakadilan dengan segala risikonya? Apakah ia akan berkompromi dengan kekuasaan atau tetap menjaga jarak dan independen?

Guna menjawab pertanyaan itu, sedari awal Hok Gie berkata, “Di Indonesia hanya ada dua pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas batas sejauh jauhnya”. Sampai ‘batas sejauh jauhnya’ ia berujar. Dengan senegap intergritas dan bukti bukti perjuangnnya, bilapun ia masih hidup saat ini, niscaya dirinya akan tetap konsisten rel perjuangannya yang murni. Ia tak akan mendirikan partai politik atau menjadi bagian dari kekuasaan. Profesi yang dipilih mungkin dosen, mungkin jurnalis atau mungkin juga keduannya. Namun bila profesi profesi tersebut tak dapat lagi menampung kreatifitas pikirannya, bisa saja ia menjelma jadi seorang blogger yang aktif. Bukankah sejak remaja Hok Gie telah menjadi tukang curhat dibuku hariannya. Kemajuan teknologi dapat memfasilitasinya untuk menyebarluaskan apa yang ia pikirkan secara luas dan gratis.

Terlepas ia telah meninggal atau masih hidup, Soe Hok Gie adalah model ideal bagi setiap generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa untuk menilai diri mereka secara jujur. Apa yang telah mereka lakukan untuk bangsa ini? Tridharma pendidikan tinggi mengamanatkan tiga poin penting, yakni pendidikan, penelitian dan penelitian. Namun seperti jauh panggang dari api, sebagian mahasiswa memaknai kehidupan kampus hanya berkutat soal bangku bangku, ruang kelas dan pengajaran tok. Tak heran muncul istilah istilah seperti kupu kupu atau kuliah pulang kuliah pulang bagi mereka yang tidak punya aktifitas lain di kampus kecuali belajar, atau kuper atau kuliah-perpus kuliah-perpus, bagi mereka yang telalu serius menderasi diktat diktat. Sementara sebagian lagi sama sekali tak tahu apa esensi pendidikan tinggi sesungguhnya.

Padahal menurut Novelis Edith Warthon, Generasi muda hendaknya menjadi lilin yang menjadi cahaya sekaligus mencari cermin yang memantulkan sinarnya. Hal ini dibuktikan oleh Soe Hok Gie. Secara personal dan sosial ia dikenal sebagai sosok simpatik, ramah dan tak sungkan membantuk kawan yang mendapat masalah. Sebagai seorang intelektual ia telah memenuhi panggilan jiwanya yang paling dalam. kekritisan sikapnya, tercermin dari aktiftasnya sebagai seorang demostran dan penulis. Baginya menjadi pintar saja tidaklah cukup kalau belum bisa bertindak benar. Bukankah kepintaran yang tak diiringin kebenaran berpotensi besar untuk ‘merusak’ dimasa datang. Hok Gie telah menyelerasakan fungsi tri Dharman pendidikan tinggi yang pincang itu. Meski pengkhianatan dan ancaman ditujukan padanya, namun Hok Gie tetap konsisten. Ia tak tergiur untuk bergabung dengan kekuasaan dan memeperkaya diri sendiri seperti kawan kawannya.

 Sikap seperti itu yang mestinya merasuki jiwa tiap generasi muda. Kembali menelaah risalahnya dan berkali-kali meneladaninya merupakan suatu keutamaan. Meneladani dalam prespektif mewarisi karakternya yang penuh martabat. Keculasan diganti kejujuran dan apatisme diganti dengan pengabdian kendati kecil dampaknya dimasyarakat. Pertanyaanya kemudian, apakah kita berani melakukan hal serupa sekarang? Menjadi tidak populer dan dianggap aneh di tengah keadaan yang serba munafik. Seperti disampaikan Hok Gie, kalau memang berani maka rentaslah jalan hidup yang kering dan sepi di depan kita.


Jenazah Gie
Semeru, Gunung terakhir yang didaki Gie, sekaligus tempat di mana ia wafaf

Tulisan ini disusun untuk mengenang 43 tahun wafatnya Soe Hok Gie, aktifis mahasiswa, penulis, pencinta alam Indonesia (17 Desember 1942-16 Desember 1969)

19 November, 2012

Konsep Idealisasi Perpustakaan Kita

Posted by Suguh Senin, November 19, 2012, under | No comments


Menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang ramah bagi siapapun untuk dikunjungi merupakan tantangan tersendiri. Bukan rahasia, jika kenyataanya perpustakaan diidentikan dengan tempat yang kolot dan kaku seperti museum. Hanya orang orang memiliki kepentingan tertentu seperti mencari bahan untuk menulis artikel, mengerjakan tugas kuliah atau skripsi yang mengunjunginya.

Sedang masyarakat umum, dari segala profesi seperti ibu rumah tangga, anak anak, orang tua, pedagang, buruh dan pekerja sepertinya amat langka dijumpai di perpustakaan. Kita tentu tak menghendaki perpustakaan hanya ‘dimiliki’oleh sebagian pihak saja’. Musti ada upgrading kualitas agar kehadirannya dapat mengakomodasi kepentingan semua kalangan.

 Problema Minat Baca
Lesunya tingkat kunjungan ke perpustakaan tercermin dari Laporan Human Development Report yang dikeluarkan UNDP pada 2008/2009.  Di mana disebutkan bila minat baca bangsa Indonesia menduduki peringkat 96 dari negara negara di seluruh dunia. Hal yang dapat membuat miris tentu saja. Karena terjadi saat pemerintah sedang gencar mengkampanyekan wajib belajar 9 tahun.

Memang terdapat alasan mengapa budaya baca jadi demikian lesu di Indonesia. Faktor kemiskinan berada pada urutan pertama. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data pada 2008, di Indonesia terdapat 32,8 juta rakyat miskin. Seperti disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya, aktiftas baca memilki kaitan dengan kemampuan masyarkat dalam membeli buku atau koran.

Hal lain adalah faktor ekspansi informsi. Ekspansi informasi yang menyerang melalui media mainstream dapat menyebabkan blunder bagi mereka yang tak dapat waspada. Sifatnya yang audio visual jauh lebih menarik ketimbang lembaran buku yang tebal dan kaku. Terbukti berdasarkan data BPS yang dirilis pada 2006, masyarakat kita lebih banyak menonton televisi TV (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) dalam mengakses informasi.

Adapun faktor terakhir adalah karena mandulnya fungsi perpustakaan sendiri. Masih terdapat anasir anasir negatif bila kita mendengar kata perpustakaan. Seperti disampaikan di atas, kesan kolot dan kaku langsung tergambar bila langunjungi tempat yang satu ini. Kemudian masalahnya diperparah dengan minimnya program alternative yang digagas oleh pengelola.

Perpustakaan Ideal
Bila menghendaki perubahan sudah selaiknya perpustakaan perpustakaan kita berbenah. Hal paling esensial yang mula mula musti direalisasikan ialah mengubah paradigma. Ikhtiar yang dapat ditembuh ialah menjadikan perpustakan bukan hanya sebagai tempat menyimpan dan membaca buku tapi juga sebagai learning center  atau pusat belajar. Harapan besarnya adalah tercipta kesadaran di masyarakat bila perubahan bisa digagas dan diraih dengan cara meningkatkan pengetahuan. Pencerahan intelektual menjadi sasaran utamanya. Mereka yang datang tak lagi bersifat insdental tapi benar benar menjadi pengunjung yang loyal karena dapat menemukan solusi atas persolan persoalan yang sedang mereka hadapi. Dengan begitu setiap orang merasa terwakili kepentingannya.

Karenanya guna mewujudkan cita cita tersebut, selaiknya perpustakaan di tanah air mengejawantahkan tindakan nyata dalam tiga hal berikut,

1. Pembenahan Sarana Fisik
Dalam hal ini kita dapat belajar dari Perpustakaan Iskandariah Mesir. Setelah 20 abad porak porandari lantaran dibakar pasukan Julius Caesar, kini Isknadariah berdiri lebih megah dibanding sebelumnya. Yang menarik, selain dapat menampung delapan juta judul buku, terdapat pula berbagai fasilitas pendukung yang lengkap. Seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk mempermudah mencari katalog buku. Adappun pada ruang bacanya dapat menampung sebanyak 1700 orang. Fasilitas tambahan lain adalah ruang konfrensi, ruang Khusus tuna netra, pustaka bagi anak-anak dan museum manuskrip kuno.

Dari Iskadariah kita dapat belajar bila totalitas dan dedikasi yang utuh dapat mewujudkan cita-cita memiliki perpustakaan ideal. Meski levelnya tak serta merta menyamai perpustakaan tertua di dunia itu,  paling tidak kita dapat mengambil ancang ancang soal langkah apa yang dapat dilakukan untuk membenahi perpustakaan perpustakaan kita. Klaim pemerintah soal 20% anggaran pendidikan musti diwujudkan dalam bentuk investasi jangka panjang dibidang kepustakaan.



2. Meningkatkan Kualitas Pustakawan
Sebagai front liners pustakawan musti sadar akan esensi sigma kepuasan pelanggan, meski perpustakaan adalah lembaga nonprofit, tapi membuat pengunjung loyal untuk datang perpustakaan adalah tantangan tersendiri bagi mereka.  Guna mewujudkan hal itu, para pustakawan dapat bercermin dari filosofi The Pike Place Fish, tempat perdagangan ikan di pasar rakyat Seatle Amerika Serikat.  Di sana terdapat empat nilai motivasi yang selalu dipraktikan oleh para pekerjanya.  Diantaranya,

• Kesenangan
Profesionalitas muncul dari antusiasme. Sedang antusiasme muncul dari rasa senang. Seorang pustakawan adalah ia yang gembira melaksanakan tugas tugas kepustakaanya. Karena sadar bila dirinya adalah bagian dari perubahan atas bangsanya menuju arah yang lebih cerdas dan kreatif.

• Cerahkan hari-hari pengunjung
Dengan pelayanan yang penuh dedikasi, total dan ramah membuat potensi pengunjung datang kembali keperpustakaan amat besar. Bisa jadi koleksi perpustakaan masih minim, tapi dengan sikap positif yang ditunjukan pustakawan, pengunjung akan merasa amat nyaman karena orang yang melayani mereka begitu akrab, ramah dan simpatik.

• Siap melayani
Seorang pustakawan musti menempatkan dirinya pada posisi pengunjung. Kesan berbelit belit dan birokratis musti pula dihapuskan. Selain menambah jumlah pustakawan profesional untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung yang akan meminjam atau mengembalikan buku, merekapun sejak dini mesti menyadari prinsip dasar pelayanan, “Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit.”

• Tentukan sikap sebagai pustakawan
  Pustakawan mempunyai komitmen serta visi dan misi untuk selalu mengembangkan perpustakaan. Darinya diharapkan muncul gagasan gagasan menerobos untuk menjaga eksistensi Perpustakaan agar tetap bisa bersaing dengan pengaruh media mainstream. Perubahan disikapi dengan kecakapan berpikir dan berwacana hingga kesan dinamis tak lekang dari Perpustaan meski waktu terus berputar.

3. Membuat Program Alternatif
Undang undang Republik Indonesia Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 pasal 3 tentang perpustakaan menyebut bahwa perpustakaan tak hanya berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian dan informasi semata tapi juga wahana untuk berekreasi, di mana tujuannya ialah untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Karena itu kesan fun musti dikembangkan oleh pihak Perpustakaan. Perlu dibuat program program alternatif yang dapat meningkatkan kunjungan dan minat baca. Tiap segmen usia memiliki programnya masing masing. Untuk kalangan anak anak kita dapat mencontoh perpustakaan di Delf Belanda. disana anak anak selain membaca buku, dapat pula mengikuti sejumlah aktifitas. seperti lomba menggambar dengan tema tertentu. Di lain kesempatan untuk memperingati wafatnya pengarang Annie M.G. Schmidt, diadakan lomba mewarnai tokoh Floddertje yang merupakan figur karangan Annie.

Hal ini dapat kita terapkan di tanah air agar kunjungan pada segmen anak anak dapat meningkat dan menepis anggapan selama ini bila yang datang ke Perpusnas hanya kalangan tertentu saja.

Sedang untuk segemntasi orang dewasa, Kita dapat belajar dari YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia). Dengan mendirikan 13 TBM (Taman Bacaan Mayarakat) fungsinya bukan hanya menjadi tempat mengkaji ilmu. Tapi juga memiliki usaha produktif, seperti membuat makanan kecil, pupuk organik, kerajinan tangan dan sebagainya. Selain dapat menambah ilmu, masyarakat yang datang dapat pula menambah penghasilan.

Pihat perpustakaan tentu tak dapat bergerak sendiri. Kontribusi dari berbagai kalangan musti digalang, baik dari pihak individu ataupun LSM LSM penggiat pendidikan. Dedikasi para aktifis LSM misalnya tak dapat diragukan lagi. Selama ini, meski tanpa ada yang meminta dan membayar mereka dengan penuh kesadaran sudah bergerak sendiri untuk berbuat nyata bagi lingkungan.

Menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang ramah bagi siapapun tak lagi sebatas asa. Bila ada itikat dari semua pihak hal tersebut dapat segera diwujudkan. Dengan begitu kehadirannya tak sebatas untuk tempat membaca, tapi juga menjadi pusat belajar. Tempat menemukan solusi atas segala permasalahan dengan tetap menjaga keramahan dan semangat funnya.







Daftar Pustaka
1. Al-Malaky,Ekky.2003.Remaja Doyan Filsafat? Why Not.Bandung. Penerbit DAR, Mizan
2. http://oase.kompas.com/read/2010/10/29/01404039/Faktor.Ekonomi.Pengaruhi.Minat.Baca
3. http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/17/18153173/Nasib.Perpustakaan.Daerah.
4. http://www.dapunta.com/teknologi-informasi-dan-citra-pendidikan.html
5. http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2010/05/02/92540/Perpustakaan-Nasional-Makin-Dilupakan-Orang
6. http://writingsdy.wordpress.com/2007/06/01/mengatasi-rendahnya-minat-baca-di-indonesia/
7. http://duniaperpustakaan.com/2010/03/14/menggagas-perpustakaan-modern-di-masa-depan-strategi-pemanfaatan-teknologi-informasi-melalui-kreativitas-pustakawan/
8. http://hendrinova.blogspot.com/2010/09/koin-ilmu-untuk-membangun-perpustakaan.html
9. http://emakannisa.multiply.com/journal/item/4/Perpustakaan_dan_Minat_Baca_di_Belanda
10. http://pritahw.multiply.com/journal/item/25
11. http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/06/08/brk,20100608-253596,id.html
12. http://blog.unsri.ac.id/admin/sumatera-selatan/galakkan-minat-baca-bangun-perpustakaan-lingkungan/mrdetail/1011/

09 November, 2012

Tips Nonton Sepak Bola di Stadion

Posted by Suguh Jumat, November 09, 2012, under | No comments

Menyaksikan pertandingan sepak bola langsung di stadion memberikan sensasi berbeda bila dibanding dengan menyaksikannya hanya melalui televisi. Eufororia masa, antraksi suporter dan bisa melihat para pemain dari jarak dekat, menjadi asalan bagi para suporter tuk datang berbondong-bondong memenuhi tiap sisi tribun. Lebih dari itu, seperti dikatakan Andera Hirata dalam novel Sebelas Patriot, hal ini terjadi karena sepak bola merupakan bentuk ungkapan cinta buta yang menyenangkan. Tak perlu perlu alasan logis kenapa orang-orang jadi demikian ‘gila’ pada dunia kulit bundar. Karena sepak bola bukan soal hitungan eksakta dan matematika, tapi soal cinta tanpa syarat pada tim kesayangan.

 Hanya kemudian ada hal-hal yang laik diperhatikan saat menonton di stadion agar kita merasa nyaman sekaligus aman. Berikut tips-tips ringan bila Anda bermaksud menonton langsung di Stadion. Catatan ini diambil dari pengalaman pribadi saya.

1. Membawa makanan ringan dan minuman
Menunggu kick off dan menyaksikan pertandingan hingga usai memakan waktu lama. Energi akan banyak terkuras saat mendukung tim kesayangan. Menikmati makanan ringan seperti roti, gorengan atau biskuit bisa jadi solusi menghindari rasa lapar untuk sementara waktu. Sedang membawa makanan dari rumah lebih tejamin kesehatannya dibanding membeli di luar. Selain itu bisa menghemat uang.

 Adapun minuman, disarankan jangan membawa minuman bersoda karena akan membuat kita selalu ingin buang air kecil. Lebih baik membawa air mineral. Sudah mahfum adanya, bila saat ini di stadion-stadion kita fasilitas umum seperti toilet belum (bahkan tidak) tersedia (terlebih di tribun ‘ekonomi)’.

  2. Membawa Jas Hujan
Pertandingan Persib VS Makasar United pada 3 November 2012 dalam laga Celebes Cup II di Stadion Siliwangi Bandung, di tengah pertandingan diguyur hujan ringan. Penonton yang duduk di tribun terbuka, dan tak melakukan persiapan dengan baik sibuk mencari cara agar tak kebasahan. Harga plastik kecil penutup kepala dijual Rp 2000 dan mereka pun saling berebut membelinya. Sementara sebagain ibu-ibu yang membawa balita keluar stadion lebih awal.

 Mereka yang tetap tenang pada saat itu adalah yang dari rumah membawa jas hujan. Baik yang terbuat dari bahan parasit atau jas hujan sekali pakai yang terbuat dari kantong plastik. Disaranakan membawa perlengkapan yang satu ini ke stadion, apalagi saat ini sudah memasuki musim hujan.

 3. Parkir Kendaraan di Tempat Aman
Keramaian kerap mengundang kejahatan. Tak semua orang yang berbaur dalam kerumunan memiliki itikad baik. Mengantisipasi kejadian buruk adalah hal pertama yang musti dilakukan. Mencari solusi untuk mengamankan barang berharga dari ancaman kejahatan adalah suatu keutamaan. Bila ada kawan yang rumahnya kebetulan dekat dengan stadion, maka titipkanlah kendaraan kita padanya. Hal tersebut akan lebih aman.

Tapi bila dekat stadion ada semacam super market dengan karcis berbayar resmi, titipkan lah di sana. Bila terjadi kejadian buruk dengan kendaraan kita, dan kita memegang karcis resmi, maka akan ada konpensasi sepadan yang diberikan pengelola parkir sebagai bentuk tanggung jawabnya.

 4. Naik Kendaraan Umum Bila tak mau direpotkan dengan masalah parkir, kita bisa menggunakan kendaraan umum seperti angkot atau bis kota. Keuntungannya kita bisa langsung masuk dan kelur stadion kemudian pulang dengan nyaman saat yang lain saling mendahului mengeluarkan kendaraan mereka dari area Parkir stadion.

 5. Datang Lebih Awal Pulang Belakangan
 Kalau ingin menadapatkan spot terbaik di mana kita bisa melihat setiap sisi lapangan, maka datanglah lebih awal. Sebeum para supporter berdatangan, kita bisa memilih-milih tempat duduk lebih dulu hingga benar-benar mendapat posisi yang pas. Risikonya kita menunggu kick off lebih lama.

Adapun setelah pertandingan usai, khususnya bagi Anda yang membawa anak atau balita disarankan untuk menahan diri beberapa saat. Jangan langsung meninggalkan stadion karena di pintu keluar massa sedang berdesak-desakan. Bila keadaan sudah terlihat lebih lengang baru lah kita berkemas dan pulang.

6. Datang Berkelompok
Paling tidak bawa lah satu atau dua orang kawan ke stadion. Dengan begitu kita tak akan mati gaya selama nonton pertandingan. Selain itu lebih aman juga. Bila terjadi yang tak diinginkan kita dan kawan kita bisa saling jaga.

 7. Hal-hal umum
Belilah tiket resmi, jangan di calo. Penjualan tiket sekarang tidak hanya di stadion tapi juga di distrik-distrik supporter club, fan shop dan lain-lain. Beli tiket ke calo harganya bisa dua kali lipat.

Kemudian pakai artibut klub. Jangan sampai salah kostum khususnya bagi Anda yang datang ke stadion sebagai supporter netral. Misalnya pakai kostum Persija di kandang Persib atau pakai kostum Arema di kandang Persebaya dan sebaliknya.

Agar lebih meriah, bergabunglah dengan suppoter klub yang telah terkordinir. Mereka punya lagu dan koreografi tari yang di lakukan sama-sama. And last but not least, kick racism from foot ball. Mendukung dengan hati bukan anarki.

 Sepak bola adalah pesta besar yang paling egaliter. Siapapun bebas berpesta tanpa memandang usia, status, warna kulit, agama dan sebagainnya. Tiap orang di satukan dalam isme yang sama, semangat mendukung tim tuk meraih kemenangan. Bila semua bisa saling toleran dan menjaga, stadion bukan hanya jadi ajang tuk orang-orang berkerumun. Lebih dari itu bisa jadi area rekreasi.


25 September, 2012

14 Mantra Abrakadabra

Posted by Suguh Selasa, September 25, 2012, under | 4 comments



1.
Seorang bocah SD
tak sanggup bayar SPP
Abrakadabra! besoknya gantung diri

2.
Seorang pria jantungan
ditipu kartu jamkesmas
Abrakabra! besoknya jadi pemuja batu konyol

3.
Seorang pengangguran
rebutan uang BLT
Abrakadabra! besoknya melakukan pesugihan

4.
Seorang veteran perang
tak dapat uang pensiun
Abrakadabra! besoknya jadi pemulung

5.
Seorang calon guru besar
memplagiat karya ilmiah
Abrakadabra! besoknya bayangannya serupa lutung

6.
Seorang mahasiwa
 suka sekali menyontek
Abrakadabra! besoknya jadi koruptor

7.
Seorang koruptor
ketahuan korupsi
Abrakadabra! besoknya mati sembelit

8.
Seorang penyanyi dangdut
doyan mengggeol masa kampanye
Abrakadabra! besoknya jadi anggota dewan

9.
Seorang anggota dewan
Gemar plesir keluar negri
Abrakadabra! besoknya kena ambeyen

10.
Seorang babu
Dituduh mencuri piring sialan
Abrakadabra! besoknya jadi pesakitan

11.
Seorang pasien
Protes lantaran malpraktek
Abrakadabra! besoknya masuk penjara

12.
Seorang mantan pemimpin tiran
Mencuri uang negara
Abrakadabra! besoknya didaulat jadi Pahlawan

13.
Sebuah provinsi
dirampok habis habisan emasnya
Abrakadabra! besoknya ingin merdeka

14.
Sebuah negara miskin
Pemimpinnya membudak pada adikusa
Abrakadabra! besoknya ‘potong bebek angsa’ jadi lagu nasional




16 September, 2012

Urgensi Konsistensi

Posted by Suguh Minggu, September 16, 2012, under | 1 comment


Hanya ikhtiar konsisten yang akan menemukan muaranya. Bila cita-cita adalah kereta, maka ikhtiar adalah batu bara yang menggerakan roda lokomotifnya. Mustahil kereta sampai ke tujuan bila rodanya tak berputar. Bunyi peluitnya bisa jadi meraung-raung bising, hingga memebuat telinga kesakitan. Bisa jadi para penumpang sudah duduk rapi di atas peron. Sayang ia statis, tak pergi kemanapun.

Mustinya roda berderak, bergerak, dari ya ng mula-mula lampat kemudian betambah cepat. Tapi masalah tak tuntas sampai di sana. Karena yang dibutuhkan kemudian adalah kontiniuitas. Berhenti di tengah jalan adalah tindatan tanggung dan sia-sia. Lantaran tak ada yang didapat kecuali rasa lelah, sakit, waktu, tenaga pula materi yang terbuang. Sedang Tujuan, mimpi dan target-target belum digapai.

Sedang kontiniuitas, atau dengan tala lain konsistensi sebaliknya. Ia adalah wujud dari ketekunan, kegigihan, keuletan atas nilai-nilai yang sedang diperjuangkan. I adalah mental tahan banting yang terus merangsek maju dalam menggapainya. Rasa lelah dan sakit, tenaga dan materi yang keluar, serta segala risikonya menjadi semacam tantangan yang mengasyikan untuk dilalui.  

Ia yang konsisten tak mengeluh karena cobaan yang mendera, tapi tak pula terlena dengan kemudahan yang ditemui di tengah jalan. Dirinya tetap fokus pada tujuan. Ia seolah memiliki radar yang membuat seluruh potensi yang dimiliki tertuju pada tujuannya. Hal remeh-temeh yang sejatinya adalah renik-renik, benalu yang menanggu dapat diabaikan begitu saja. sebutlah malas, mencari alasan atas kesalahan yang dibuat, melakukan pemebenaran atas kesalahan sendiri dan lain sebagainnya.

Konsistensi adalah cermin dari sikap ksatria. karena saat yang lain berhenti dan pulang dengan kepala tertunduk menanggung malu. Orang-orang konsisten terus melaju menggapai tujuannya, mimpinya. Tanpa konsistensi sia-sia pekerjaan. Tapi dengannya pintu-pintu harapan terbuka demikian lebar, di mana di dalamnya menjanjikan segala macam probabilitas, celah dan kesempatan untuk direbut. Oleh karena itu segera masukilah pintu-pintu itu. Rasakan lah perih lukanya, jauh perjalanannya dan mahat yang harus ditebus untuknya.

Tak ada kemenangan yang cuma-cuma. Siapapun yang bermental gratisan cuma akan memebudakan diri pada siapapun yang punya materi. Ia kehilangan hal paling utama dalam dirinya, yakni martabatnya. Ia mustahil menjadi leader karena lebih dulu memosisikan diri untuk membebek pada orang lian yang belum tentu benar sikap dan tujuannya. Kita tentu tak menghendaki melakukan hal memalukan macam itu. Dalam keyakinan kita sebaik-baik ikhtiar adalah melakukannya selangkah-demi selangkah, menitinya setapak demi setapak. Dengan segala risikonya kita konsisten menggapai mimpi-mimpi.

Sumber Foto: http://blog.self-improvement-saga.com/2010/06/lifes-struggles/

09 Agustus, 2012

Antara Blogger, Debus, dan Ekspansi Wisata Banten

Posted by Suguh Kamis, Agustus 09, 2012, under | No comments


Kesalahpahaman masih kerap terjadi di tengah masyarakat mengenai debus hingga saat ini. Unjuk kekebalan yang dipertontonkan tanpa tabir seperti pada pertunjukan sulap modern, tak ayal menimbulkan kesan angker. Padahal sejatinya debus memiliki kandungan  filosofis yang dalam. Selain itu terbuka potensi amat luas untuk mempromosikannya bukan hanya di dalam negeri tapi juga hingga ke mancanegara.

Dalam hal ini blogger, baik yang bersifat personal ataupun komunitas dapat mengambil peran. Turut serta mempromosikan debus melalui tulisan adalah langkah nyata yang positif. Tentu sudah menjadi tugas tiap elemen masyarakat untuk memberi pemahaman yang benar sekaligus memperkenalkan kebudayaan bangsanya.

Berdasarkan data PB+ pada 2010 jumlah blogger di Indonesia mencapai 2 juta orang. Hal ini menandaskan bila masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang gemar berbagi ide dan buah pikiran melalui dunia maya. Apalagi bila hal itu ditambah dengan pemanfaatan jejaring media sosial lain, maka jumlahnya akan meningkat. Masih menurut PB+ terdapat 25 juta pengguna Facebook per Juli 2010 di Indonesia, sedang pengguna Twitter berada di peringkat ke 6 dunia.

Dengan angka yang siginifikan tersebut, terdapat modal besar untuk mengkampayekan suatu isu atau berita tertentu. Memperkenalkan sekaligus mempromosikan debus dalam prespektif yang benar pada masyarakat bukan lagi hal yang mustahil. Melalui tulisan yang dipublikasikan secara massif di dunia maya, baik menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa asing pelan pelan akan mengikis kesalahpahaman menenai salah satu warisan kebudayaan nusantara yang eksotis itu. Saat ini internet menjadi media yang efektif karena telah bisa diakses demikian mudah. Orang tak memulu musti ke warnet atau langganan internet secara rutin, dengan ponsel sekalipun siapapun bisa berinternet ria.


Debus dan Kontribusi Blogger
Adapun tugas blogger yang pertama adalah memberi pemahaman benar mengenai debus. Menurut Pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Kandepdikbud kabupatan Serang Almarhum Tb A Sastra Suganda, debus berasal dari gedebus, yaitu nama benda yang digunakan dalam atraksi kekebalan tubuh. Benda yang terbuat dari besi tersebut digunakan untuk melukai diri sendiri. Karena itu nama debus dapat diterjemahkan sebagai ‘tidak tembus.’

Jauh dari kesan sok jagoan atau pamer kesaktian, sejatinya debus mengandung nilai nilai filosofis yang amat dalam. Dalam sudut pandang filosofis relijius ia adalah manifestasi dari bentuk penyerahan diri pada Allah SWT. Dengan segenap kerendahan hati manusia membuat persaksian diri bila mereka tak memiliki daya dan kekuatan bila tak dibantu olehNya. Hal ini tergambar pada ramapalan doa yang dibacakan sebelum pertunjukan debus yang berbunyi, "Haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat kawang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu".

Doa kemudian berbuah keyakinan, dan dengan bekal keyakinan tersebutlah para pemain debus percaya kalau benda benda tajam seperti golok, pisau, parang atau peluru tak akan sanggup menembus tubuh mereka jika Allah tak mengijinkan. Berkaitan dengan hal ini, Pimpinan Yayasan Debus Sosorohan H. Moch Idris mengatakan debus merupakan seni yang kaitannya dengan unsur unsur dakwah sebagaimana awal kesenian itu didirikan pada masa sultan maulana Hassanudin san sultan banten berikutnya. Hal senada juga disampaikan Pak Rusmendi pimpinan TTKKDH (Tjimande Tari Kolot Kebon Jeruk Hilir) Labuan. “Jangan salah sangka bahwa ilmu kebatinan itu jahat seperti yang dikira banyak orang. Ini adalah intisari dari kitab Al-Quran juga yang memerlukan ketekunan dan kesabaran untuk mempelajarinya,” ujarnya.

Nilai filosofis lain dari debus adalah segala hal mustahil dapat terwujud bila diikhtiarkan secara konsisten dan penuh keteguhan hati. Untuk menguasai debus, seseorang butuh latihan yang panjang dan serius. Sebagai contoh latihan untuk menguasainya dilalui dengan puasa tujuh hari tujuh malam, tanpa sahur. Buka puasa hanya berupa nasi tawar dan air putih. Sedang latihan fisik tak kalah berat dilakukan terus menerus dan sepanjang tahun. Hal ini bertolak belakang dengan cara pandang remaja saat ini yang ingin mendapatkan segalanya dengan cara instan. Budaya konsumtif telah membuat mereka menjadi pribadi pribadi cengeng, yang mengeluh dan merajuk bila mendapat masalah dan cenderung mekasakan kehendak bila memiliki keingianan.

Hal kedua yang dapat dilakukan blogger adalah mempromosikan debus. Hal ini memberi dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah bagi provisi banten. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten Egy Djanuiswati, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009, tingkat konsumsi ekonomi dari sektor pariwisata di Banten mencapai Rp5,66 triliun terdiri atas konsumsi wisatawan nusantara mencapai Rp 4,95 triliun dan wisatawan mancanegara mencapai Rp708 juta. Nominal ini diperkirakan akan meningkat  karena Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten menargetkan pada 2012 ini  kunjungan wisatawan domestik  ke sejumlah objek wisata banten mencapai 30 juta orang. Belum ditambah dengan kunjungan wisatawan mancanegara.
       
Keuntungan kedua adalah bagi para seniman debus sendiri. Selama ini honor yang didapat untuk satu kali pementasan debus sekitar Rp 500 Ribu. Jumlahnya menlonjak hingga Rp 1 juta bila dipentaskan di tempat yang lebih komersil seperti taman Impian Jaya Ancol atau Taman Mini Indonesia Indah. Namun jumlah uang tersebut kemudian dibagikan secara merata pada seluruh pemain.
         
Dengan honor minim tentu tak dapat menjamin kesejahteraan para pemain debus. Namun harapan masih terbuka bila ekspansi pemasaran debus terus dilakukan secara gencar baik di dunia maya dan dunia nyata. Harapan besarnya adalah, kelak bukan hanya kelompok debus Abah Barce (Tokoh Spiritual Debus) saja yang dapat melanglang buana seperti ke Amerika Serikat, Australia, Jerman, Jepang, Malaysia, Spanyol dan Belanda. Namun kelompok kelompok debus lain, yang belum terekspos pun dapat melakukan hal serupa. Dengan demikian para seniman debu dapat meningkatkan taraf hidup menjadi lebih sejahtera.


Mulai Beraksi Nyata
Siti Nurhasanah, anggota Keluarga Mahasiswa Banten UIN Bandung menandaskan pendapatnya tentang debus. “Sebagai putra daerah harusnya kita melestarikan dan mengembangkan budaya kita sendiri kan,” ujarnya. Memberi pemahaman yang benar tentang debus sekaligus mempromosikannya bisa menghasilkan efek domino yang positif. Blogger dengan segenap kapabilitas menulisnya, tanpa melihat asal usul dan suku bangsa dapat menjadi marketer marketer yang efektif. Internet yang sifatnya dapat diakses dimanapun dapat mempermudah proses prmosi debus.

Pada lain kesempatan para bloggerpun dapat melakukan kopi darat atau bertemu di dunia nyata. Kesamaan visi yang telah terbentuk di dunia nyata dapat diwujudkan secara berkelompok. Aksi DBLOGGER yang mengkampanyekan keselamatan berkendara atau aksi DOT’S dalam mengumpulkan buku untuk disumbangkan dapat dicontoh. Para Blogger yang mengkampanyekan debus dapat membuat semacam festival debus nasional. Masyarakat dapat datang ke festival itu kemudian dapat menyaksikan pertunjukan pertunjukan dari kelompok kelompok debus Banten. Lebih jauh tak mustahil bila terdapat minat besar, masyarakat umum termasuk warga asing mempelajarinya.
         
Mulai bergerak dengan segenap kesadaran adalah kontribusi blogger atas kecintaan terhadap budaya daerah. Tanpa diminta sudah semustinya para blogger mulai memposting tulisan tulisan mengenai debus. Dengan begitu peran blogger bukan hanya have fun on the net semata tapi juga memiliki nilai tambah.


Sumber Pustaka

http://www.mediaindonesia.com/move/?p=1635
http://www.potlot-adventure.com/2009/04/23/debus-atraksi-mengerikan-dari-banten/
http://yoszuaccalytt.blogdetik.com/2011/03/04/komunitas-online-peranannya-dalam-masyarakat/
http://panoramabanten.com/detail_berita.php?id=38
http://anggaz.wordpress.com/2011/05/07/ilmu-debus-2/
http://ratuatut.com/sudut-banten/pariwisata/684-target-30-juta-wisatawan-banten-tercapai-pada-2012
http://www.wisatanews.com/budaya_lengkap.php?id=381

04 Juli, 2012

Menulis Di Dunia Maya, Eksis Di Dunia Nyata

Posted by Suguh Rabu, Juli 04, 2012, under | 5 comments


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Para penulis pemula nyatanya masih tersisih dari kancah industri penerbitan. Tanpa pengalaman dan nama besar, mereka musti bersaing dengan para penulis yang jauh lebih berpengalaman. Naskah yang telah kirim tak jarang pula musti dikembalikan dengan beragam alasan, seperti tak memenuhi standar, tak memiliki prospek pasar, momen yang tidak pas, dan sebagainnya. Karena itu tak mengherenkan bila pada akhirnya banyak penulis pemula yang putus asa. Mereka tak lagi produktif menghasilkan karya.

Pepatah asing lawas berdedah, “there is a will, there is a way.” Selalu ada kesempatan jika mau berusaha. Peluang belum sepenuhnya tertutup. Ketika media mainstream dirasa belum cukup bersahabat pada karya para penulis pemula, internet justu membuka ruang seluas luasnya untuk berekspresi. Lebih jauh, bukan tak mungkin karya karya yang sebelumnya dipublikasikan di dunia maya dapat eksis pula di dunia nyata.

Internet dan Potensinya
Beradarkan riset sindikasi MarkPlus Insight pada 2011 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang. Jumlahnya meningkat signifikan bila dibanding tahun sebelumnya yang berada pada kisaran angka 42 juta. Dalam hal pemanfaatan jejaring media sosial, angkanya pun dapat dibilang menggembirakan. Di Indonesia kini, terdapat 35 juta pengguna facebook, hal ini menjadikan Indonesia berada di urutan ke dua sebagai negara pengguna facebook terbanyak di dunia.

Sedang hingga Mei 2011 Indonesia menjadi negara ketiga setelah Amerika dan Brazil sebagai pengguna twitter teraktif dengan menghasilkan 95 juta tweet. Adapun hingga Januari 2011 terdapat 4,131,861 blog. Dari angka tersebut, 80,65 persen atau 3,3 juta blog menggunakan domain Blogspot,14,5 persen atau 599 ribu menggunakan domain Wordpress, dan sisanya, 4,85 persen atau 200 ribu menggunakan domain blog lain.

Berangkat dari data di atas, terdapat peluang yang amat potensial bagi para penulis pemula untuk meniti karir menulis. Mulai membiasakan menulis di internet nyatanya memiliki manfaat yang bersifat multi dimensi. Keuntungan keuntungan tersebut diantaranya,

1. Meningkatkan Kemampuan Menulis
Mulai menulis di blog atau note facebook dapat mengupgrade skill. Seperti dikatakan Sean Connery saat berperan sebagai penulis pemenang Pulitzer Award di film Finding Forrester, “The key to writing is writing.” (kunci menulis adalah menulis). Praktik langsung adalah sebaik baik latihan setelah menderas segala macam teori.

Adapun setelahnya adalah menjaga konsistensi. Para penulis pemula hendaknya kontiniu melakukan posting tulisan. karena latihan yang terus menerus dapat membuat kemampuan jadi lebih sempurna. Tidak perlu bingung memikirkan apa yang akan ditulis dalam blog. Segalanya dapat dimulai dengan hal hal sederhana. Seperti dikatakan Novelis JK Rowling, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”.

2. Publikasi Tanpa Batas
Internet dapat merentas sekat teritori. Tulisan yang dipublikasikan di dunia maya dapat diakses oleh siapapun di tempat yang terpisah sangat jauh. Penulis pemula dapat memperkenalkan tulisan mereka pada pembaca yang tak terbatas jumlahnya. Karena itu tak heran bila kemudian muncul grup grup menulis online. Beberapa diantaranya adalah Komunitas Penulis Muda Indonesia, UNSA (Untuk Sahabat), Ayo Menulis, Klub Menulis, Komunitas Penulis atau Penulis Pemula.

Tujuannya tak lain adalah untuk menjalin komunikasi antar para netters yang memiliki hobi serupa. Saling memberi komentar atas karya yang dipublikasikan menjadi hal yang jamak. Trend positif ini membuat para penulis saling menyemangati untuk terus berkarya.

3. Belajar dari Penulis Berpengalaman
Dengan berselanjar di jagad maya, penulis pemula dapat belajar dari penulis penulis yang lebih berpengalaman. Bagi mereka yang tertarik untuk menulis tema sosial politik dapat langsung membaca tulisan tulisan wartawan senior Budhiarto Shambazy, bagi mereka yang tertarik menulis tutorial internet dapat belajar dari Constantin Potorac, atau bagi mereka yang tertarik untuk menulis tentang desain dapat membaca artikel artikel di smashingmagazine dan webdesigndeport.

Belajar tentu bukan menjiplak. Hal paling esensial adalah dapat mengail inspirasi. Lantas penulis pemula dapat berkembang dengan corak tulisannya sendiri di masa yang akan datang.

4. Menyusun Buku Jadi Lebih Mudah
Pendapat ini disampaikan oleh praktisi multimedia Onno W Purbo. Onno menandaskan menulis buku akan jadi sangat mudah jika memiliki catatan catatan pendek tentang berbagai hal. Karena pada dasarnya adalah tulisan panjang yang di rangkum dari tulisan tulisan pendek.

Para blogger memiliki keuntungan dalam hal ini. Dengan konsisten memposting tulisan di blog baik personal atau komunitas secara tidak langsung telah menjadi modal besar dalam menyusun sebuah karya buku. Terlebih bila tulisan tulisan tersebut bersifat tematik seperti pengembangan diri, aneka kuliner atau turorial dengan berbagai macam dimensi ilmu pengetahuan.

Mederas Eksistensi di Dunia Nyata

“No pain no gain,” ujar pepatah asing lawas. Kesuksesan terang tak bisa diraih dengan cara instan. Keuntungan jangka panjang hanya bisa didapat bila disertai dengan kerja keras dan konstensi. Menggapai asa untuk menjadi penulis mapan bukan lagi hanya sebatas asa bagi para penulis pemula. Istilah blook barangkali belum terlalu familiar. Secara sederhana blook merupakan blog yang dibukukan. Mulanya pada 2002 Tony Pierce berinisiatif untuk menghimpun postingan di blognya untuk menjadi sebuah buku, yang kemudian diberi judul ‘Blook’

Fenomena ini tampak pula di tanah air. Penulis muda Raditnya Dika bisa dikatakan sebagai pelopor dengan buku Kambing Jantannya. Atau ada pula Jurnalis Wicaksono alias Ndoro Kakung. Berkat kegemarannya ngeblog lantas ia mengupas segala hal tentang blog seperti seperti cara memulai blog, trik membuat tampilan blog agar jadi lebih menarik, sampai cara menyiasati ‘penyakit’ yang terdapat dalam blog. Tulisan tulisan tersebut mulanya di muat di koran Tempo. Lantas dalam perkembangnnya diterbitkan pula dalam bentuk buku dengan judul ‘Nge-blog dengan Hati’.

Belakangan trend ini juga merambah jejaring sosial lain. Grup anjing gombal di twitter misalnya, berhasil merilis buku berkat tweet gombal para anggotanya. Buku tersebut diberi judul ‘Anjing Gombal Aku Padamu’. Atau penulis kawakan Asma Nadia yang menyusun buku dari tweetnya dengan judul ‘twitografi’.

Ketika peluang sudah terbuka, tinggal pintar pintar para penulis pemula untuk meraihnya. Bila tulisan di internet diibaratkan sebagai produk. Maka pembaca adalah konsumen. Cara terbaik agar tulisan mendapat perhatian adalah memasarkannya. Blogwalking menjadi suatu keharusan karena dengan demikian para penulis telah menjadi marketer atas tulisan mereka.

Bukan tak mungkin terdapat penerbit yang tertarik untuk menerbitkan konten sebuah blog. Hal tersebut ditakar dari kualitas tulisan, Jumlah pengunjung dan tanggapan di blog tersebut. Ramainya trafick blog merupakan potensi yang dapat dibilang seksi bagi penerbit. Cara lain yang bisa di tempuh adalah menawarkan naskah langsung ke penerbit. Naskah yang tematis, unik, punya potensi pasar dan bisa memberi pencerahan menjadi alasan naskah tersebut layak untuk diterima atau ditolak.

Internet merupakan jembatan bagi para penulis pemula dalam meniti karir kepenulisan. Karya yang dipublikasikan di dunia maya bila digarap dengan serius dapat pula mendapat tempat di dunia nyata. Tinggal kemudian, masalahnya kembali pada para penulis pemula. Apakah mereka punya itikat untuk menggapai asa atau sekadar ingin have fun saja. Bila potensi internet bisa dimanfaatkan secara optimal, maka hal tersebut dapat memberi pengaruh positif pada karir menulis mereka. Namun bila sekadar ingin have fun, tentu tak ada nilai tambah yang bisa diraih.

Sumber Pustaka
 http://the-marketeers.com/archives/survey-markplus-insight-majalah-marketeers-pengguna-internet-di-indonesia-55-juta-pengguna-mobile-internet-29-juta.html
 http://www.untukku.com/artikel-untukku/blook-jalan-pintas-blogger-jadi-penulis-buku-terkenal-untukku.html
 http://blog.tempointeraktif.com/digital/berharap-pada-virus-pak-blogger/#more-750
 http://www.tokovirtual.com/news/12/Indonesia-Pengguna-Facebook-No-2-terbesar-di-Dunia
 http://www.jagatreview.com/2011/06/indonesia-mengalahkan-inggris-dari-segi-jumlah-pengguna-facebook/
 http://pelitaku.sabda.org/pemanfaatan_media_internet_untuk_menulis
 http://www.diptara.com/2011/01/inilah-3-keuntungan-yang-akan-anda.html
 http://sibukforever.blogspot.com/2011/02/jumlah-blog-di-indonesia-capai-4-juta.html
 http://alymerenung.wordpress.com/2009/11/11/kata-kata-bijak-tentang-menulis/
 http://www.goodreads.com/author/quotes/101823.Pramoedya_Ananta_Toer
 http://alixwijaya.com/2010/membentuk-klub-komunitas-menulis-online-menjaring-kemampuan-para-penulis-di-internet.html#ixzz1kzGTp6cN

03 Juni, 2012

LELAKU LELAKI

Posted by Suguh Minggu, Juni 03, 2012, under | No comments


(Pertaubatan seorang anak yang telah membunuh ibunya)

Kupapat rapalan taubat
bersama patahan butir butir dzikir
yang jatuh melindapkan bumi seperti gerimis
Ku taburkan pula sejuta kembang
nun hambur dan serak dimuka
lepas air mata kuyu membasuhnya

Bunda,
Didepan pusaramu, bersama ku
alam semesta bersimpuh
merajuk sejadinya minta diampuni

Darah telah berkarat pada tajam pangkal belati
pertalian takdir tak dapat ditautkan lagi,
dan petang nanti,
dua belas orang serdadu berderap
hendak menghujamkan peluru dijantungku

ku mohon, seg’ra melimpahlah maaf itu
Lantaran kemarin lalu,
nafsu telah membuat anak lelakimu
alpa mendedahkan lelaku

20 Mei, 2012

Mengenang Jejak-Jejak Sepatu Kemenangan

Posted by Suguh Minggu, Mei 20, 2012, under | No comments



kalau bukan karena sepatu Kodachi murahan yang dipakai pada lomba lari tempo hari, mungkin tak ada hal manis yang layak buat dikenang. Kalau bukan karena sepatu sebelah kirinya yang jebol lantaran tak tahan terus-menerus mengilas lintasan atletik, tak kan mungkin saya menggapai mimpi yang tak pernah terpikir sebelumnya, jadi seorang pelari jarak jauh.
           
Waktu itu saya masih kelas satu SMA, dan untuk kali pertama musti bertanding di lintasan lari Stadion Pajajran Bandung pada kejuaraan Atletik pelajar sekota Bandung. Bersama saya terdapat atlet-atlet yang lebih berpengalaman. Mereka tampak percaya diri dengan menggunakan spike, yang merupakan sepatu khusus bagi para pelari. Sepatu jenis ini amat ringan saat dipakai dan memiliki paku paku yang berjajar rapi di bagian bawahnya. Karenanya bisa membuat hentakan kaki seorang pelari lebih kuat dan langkahnya bertambah lebar.
         
   Adapun saya, menggunakan sepatu murahan merek Kodachi. Ini lah sepatu multi fungsi, karena selain dipakai untuk olah raga, juga telah menemani saya selama satu terakhir buat ke sekolah. Warnanya putih, alasnya dari karet. Kalau karet itu menggilas lantai, maka akan mengeluarkan bunyi berdecit yang khas.
           
Lalu, wasitpun mengangkat pistol berpeluru hampa di pinggir lintasan. Kami semua bersiap. Saat pelatuk ditarik, serta merta kami mulai bersaing tuk jadi yang pertama pada lari jarak menengah 1500 meter putra tingkat SMA. Saya yang tak punya pengalaman langsung memacu kecepatan tinggi-tinggi. Seperti roket, saya melesat ke depan, meninggalkan atlet-atlet itu di belakang. Mulanya saya percaya diri dan membuat asumsi kasar, bila untuk jadi juara ternyata tak susah-susah amat.
           
Namun kejadiannya jadi anti klimaks. Lantaran setelah melewati 400 meter pertama, saya mulai kepayahan. Napas saya mulai sesak, tarikan napas jadi tak teratur. Sedang kedua kaki terasa amat berat. Perlahan kecepatan saya melambat. Sedang atlet-atlet itu sekarang mulai mendahului saya. Mula-mula jaraknya cuma satu-dua langkah, tapi kemudian main jauh saja. 
           
Saya berusaha mengejar mereka. Tapi hingga menginjak garis finish urutan saya malah melorot di bagian belakang. Saya kalah total waktu itu. Adapun saat pertandingan usai, saya melihat sepatu bagian kiri mulai koyak. Namun saya tak memedulikannya dan memaksakannya lagi tuk bertanding. Kini pada lari jarak pendek, 200 meter dan 400 meter. Hasilnya? Naas. Senaas sepatu saya yang kini benar-benar koyak. Pelindung bagian depannya terlepas amat lebar.
           
Sore itu saya pulang dengan langkah tertahan-tahan. Kalau bergerak lebih cepat saya khawatir sepatu itu akan tambah jebol. Kekalahan dalam tiga nomor berturut-turut memang menyakitkan. Sedang teman-teman satu sekolah saya berhasil mendapat medali. Tampak demikian bagus mendali-medali itu. Terang, berkilauan dan membuat pemiliknya selalu tersenyum.
          
  Setelah pertandingan, sempat terpikir untuk berhenti latihan lari. Saya merasa tak cukup berbakat tuk jadi pelari. Tapi bila mengingat sepatu Kodachi itu, saya merasa ada panggilan yang membuat saya tuk kembali ke lintasan lari. Panggilan yang datang dari alam bawah sadar, yang membuat saya merasa perlu tuk melakukan refleksi diri. Kalau saya kurang rajin berlatih, tak punya stategi dan masih minim pengalaman.
           
Akhirnya sepatu itu saya simpan di rumah. Sering saya lirik ia, untuk mengingatkan ke masa lalu bila saya telah mengamami kekalahan yang amat menyakitkan. Sekaligus melihat ke masa depan bila saya harus meraih prestasi yang lebih baik.
           
Kemudian saya kembali berlatih dengan kawan-kawan satu klub atletik di sekolah, Atletik Bumi Siliwangi namanya. Saya lebih rajin datang ke lintasan lari. Setelah lewat beberapa bulan sayapun diberi program latihan oleh pelatih atletik kami, Pak Sudjarwo Kuncoro Djati. Kini latihah jadi lebih terstruktur, sebab dilakukan  tak cuma dua-tiga kali dalam seminggu, tapi enam hari berturut-turut. Ketika satu program latihan selesai dalam satu bulan. Maka akan ada program lain yang lebih berat pada bulan berikutnya.
           
Hingga datang lah kabar dari pak Sudjarwo akan ada pertandingan atletik sekota Bandung lagi. Sayapun kembali bertanding, tentu tidak dengan sepatu lama, tapi dengan sepatu baru. Pada pertandingan itu, terbuktilah hasil latihan berat yang dilakukan selama berbulan bulan. Untuk kali pertama, saya mendapat medali perunggu pada nomor lari 1500 meter. Tak sampai di sana pada lomba-lomba lain saya mendapatkan medali  pada nomor 5000 meter, halang rintang 3000 meter, estafet 4000 meter dan sebagainnya.
           
Berlari, telah memberikan saya pencerahan bila tak ada yang tak mungkin untuk bisa di raih. Sedang kemenangan, bisa dimulai dengan modal yang sedernaha. Meski dengan sepatu murahan, bila tekun kita dapat pula meraih prestasi. Sepatu murahan itu memang penuh kenangan, sepatu kemenangan atas segala keputus-asaan, rasa frustasi dan pesimisme. Untuk kemudian menggapai keniscayaan mimpi yang paling mustahil sekalipun.





YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog