11 Desember, 2013

Seandainnya Besok Matahari Terbit Lagi

Posted by Suguh Rabu, Desember 11, 2013, under | No comments


(Mimpi-mimpi satu hari sebelum kiamat)

Seandainnya besok matahari terbit lagi,
Saya akan jadi orang paling bahagia di dunia. Saya akan bersyukur karena kembali diberi kesempatan merasakan hangatnya sinar matahari, mendengar kicau burung-burung, mencium wangi bunga-bunga dan mendengar lagu-lagu.

Seandainya besok matahari matahari terbit lagi,
Saya akan membasuh luka-luka saya. Saya akan bangkit kembali meski telah jatuh berkali-kali. Saya akan menahan bekas luka itu walalu ngilu dan nyeri. Kemudian lagi melajutkan perjalanan dengan langkah yang pasti.

Seandainnya besok matahari terbit lagi,
Saya akan jadi orang paling pemberani. Menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, menyambuti segala cobaan dan rintangan paling mustahil sekalipun yang musti dijalani manusia. Saya akan berlari sekencangnya menuju mimpi-mimpi saya. Mimpi menjelajahi dunia. Mimpi menginjakan kaki di prancis.

Seandainnya besok matahari terbit lagi,
Saya akan jadi orang paling murah hati di muka bumi. Saya akan membagi-bagikan uang saya pada orang-orang miskin. Jika uang saya habis, saya akan membagikan senyum saya yang tak habis-habis.

Seandainnya besok matahari terbit lagi,
Saya akan menyatakan perasaan cinta saya pada gadis yang diam-diam telah lama saya sukai. Mengirimnya sekuntum mawar dan surat berisi puisi. Saya akan jadi suami yang paling manis di sisinya. Dia akan menjadi istri yang paling bahagia karena menikah dengan saya. Kami sama-sama Mengurus bayi-bayi kami yang rewel. Kami sama-sama memberi makan kucing-kucing kami yang rakus. setiap hari sepanjang tahun. begitu. tak putus-putus.

Seandainnya besok matahari terbit lagi………

Seandainnya besok matahari terbit lagi………





10 November, 2013

Kupu-Kupu dan Kawanan Kecoa

Posted by Suguh Minggu, November 10, 2013, under | No comments

Seekor kupu-kupu terbang di atas taman bunga. Matanya berbinar saat dari ketinggian menyaksikan hamparan warna warni yang indah pada sebuah padang. Mawar, Lily dan Lantana telah memasuki masa mekarnya. Mereka umpama dewi-dewi yang turun dari langit kemudian merubah diri menjadi kuncup-kuncup cantik. Sengaja menebar pesona, menggoda, agar mahluk-mahluk di bumi jatuh cinta dan kepayang pada mereka.

Kemudian sang kupu-kupu hinggap pada salah satu kuncup mawar. Ia mengatupkan sayapnya dan menutup mata dalam-dalam. Dengan segenap jiwa ia menarik napas. Maksud hati hendak menikmati aromanya yang harum dan segar itu. Bunga-bunga hanya mekar pada musim semi. Ini kesempatan yang tak datang tiap saat. Pikir Kupu-kupu, menyambut mereka adalah cara untuk bergem, mencium wangi mereka adalah cara untuk berterima kasih.  

Namun belum genap menuntaskan niatnya, tiba-tiba kupu-kupu terbelalak. Wajahnya memerah dan keningnya berkerut. “Uh! Bau apa ini?" Ujarnya ketus.
Ia melirik ke arah kiri dan kanan sembari menutup hidung. Di bawah sana, di antara rumputan tampaklah seekor kecoa kotor dan bau sedang menyepak-nyepakan kakinya ke belakang. Ia membersihkan bekas kencingnya.
Hei mahluk tak tahu aturan! Tak bisakah kau kencing di tempat lain?” ujar kupu-kupu geram. “pesing benar kencingmu itu tahu!”

Kecoa yang sedang asyik bersiul-siul itu mendelikan mata ke arah kupu-kupu. Ia acuh. Dengan bersikap begitu dirinya seolah hendak berkata, “Memang apa peduliku?”

Melihat sikap kecoa yang tak peduli, kupu-kupu makin geram. Sedang geramnya kian menjadi waktu melihat, kecoa-kecoa lain bermunculan dari balik rimbun rumputan. Tak kurang dari Sembilan jumlahnya. Mereka gemuk dan rakus. Waktu muncul, mulut mereka penuh dengan makanan.

Seperti dilakukan kecoa pertama, dengan acuh mereka kencing di mana saja. Mereka bersiul-siul sembari memejamkan mata. “Astaga!” ujar kupu-kupu sembari menepuk kening.
Makin terciumlah bau pesing di sekelilingnya. Meski sudah menutup hidung, kini ia tak dapat menahan lagi baunya. Muka sang kupu-kupu pucat, perutnya mual dan kepalanya pening.

“Hei! Bagaimana bisa kalian bersikap amat jorok macam itu?”
Kecoa-kecoa itu mendelikan mata ke arah kupu-kupu. Salah satu dari mereka menjawab, “kalau kami jorok, memang itu jadi masalah buatmu?”
“Ya tentu jadi masalahku. Kalian menggangu aku yang sedang mneikmati bunga-bunga. Lagi pula Apa kalian tak merasa risih dengan kencing kalian sendiri?”

Kecoa pertama kembali menjawab kalau mereka dapat tinggal di di mana saja. Seperti di bawah tumpukan sampah, genangan lumpur, rawa-rawa atau batang-batang kayu lapuk. Kotoran akrab dengan mereka, bau busuk telah menjadi bagian hidup. Mereka tak lagi risih dengan hal-hal jorok.

Mendengar penjelasan itu, muncul ide dalam benak sang kupu-kupu. Ia mengajak kecoa-kecoa tersebut menaiki batang bunga dan bertengger di puncaknya.
“Oh. Kau ingin bunga-bungamu kami kencingi? Begitu maksudmu?” salah satu kecoa meledek.
“Yakin kau tak akan menyesal?” sahut yang lain. Tawa tergelak saling bersahut terdengar kemudian.

Sang kupu-kupu merayu kecoa-kecoa itu agar menuruti ajakannya. “Yaa. Kalian mungkin saja bisa kencing sepusnya di atas sini.” Ujarnya.

Maka para kecoapun mulai merayapi batang-batang bunga. Mereka bersiul sembari menutup mata. Mereka merasa tak seorangpun dapat mencegah kelakuan mereka yang seenaknya. Tiba di puncak-puncak kuncup bunga, suasana lain tiba-tiba terasa. Angin segar berhembus pelan. Aroma lain tercium oleh mereka. Aroma itu yang begitu lembut dan dalam. Masuk ke rongga dada mereka dengan membawa aneka wewangian.

Aroma wangi itu rupanya amat kuat bila dibanding dengan bau busuk yang selama ini jadi bagian hidup para kecoa. Hal tersebut membuat mereka nyaman. Mereka menghirup napas dalam-dalam. Berulang kali dalam helaan yang teratur. Dengan bersikap begitu, mereka seolah hendak berkata, “Hei! Ke mana saja kau selama ini.”

Sedang asyik menikmati aroma bunga, dari arah bawah suara yang tak asing memanggil mereka. “Coba kalian datang kemari sebentar.” Sang kupu-kupu berujar. Belum juga turun dan hanya menengokan kepala ke arah bawah, tiba-tiba tercium bau berbeda dibanding aroma wangi yang mereka sedang cium. Kontan para kecoa itu menutup hidup. Wajah mereka memucat dan perut mereka mual.

“Astaga bau apa ini!” ujar kecoa pertama. Lagaknya seperti orang yang baru bangun dari tidur yang amat panjang.
Sambil terbang sang kupu-kupu menjawab, “Bau kencing kalian!”
Wajah para kecoa kemerahan. Mereka berlarian di antara bunga-bunga. Agar mereka bisa menyembunyikan malu. Agar tubuh mereka berbaur dengan aroma wangi dan tak lagi bau.

<CENTER><iframe width="420" height="315" src="//www.youtube.com/embed/sUcvnQFhPeo" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></CENTER>

03 November, 2013

Bau Tubuhmu Aphrodite

Posted by Suguh Minggu, November 03, 2013, under | No comments


Aphrodite,
Di atas Jelaga menara-menara Stoa Attalos
Pada undakan-undakan tribun teater Apollo
Aku,
seekor camar Artik, yang pulang mengembara
dari tepi laut merah datang kembali padamu
tuk menyandarkan bahu

Oh, Aroma surgawi yang melandai ke bumi
Oh, kunang-kunang langit gemerlapan seperti bintang

Bukan perut laut yang mendidih memuntahkan gelombang
Bukan gumpalan awan bergulungan melamurkan jarak pandang
Sayap-sayapku tak surut mengepak
Mengeja kelok dan laju jalan pulang

Oh rindu yang lebih bergemuruh dari debur ombak
Oh cinta yang lebih dekat dari denyut urat nadi

Aphrodite,
Aku datang padamu
Biar lagi rindu dan cinta larut menjadi tuak

Ah, Betapa….
Mencium bau tubuhmu
Serasa aku mencium bau tubuh ibuku sendiri






29 Oktober, 2013

Dalam Empat Lajur Waktu

Posted by Suguh Selasa, Oktober 29, 2013, under | No comments


Pada fajar
Langit telanjang berwarna tembaga
Kabut tipis memulas rona wajahnya
Dan kawanan burung manyar dengan syahdu
Menyenandungkan kasidah tentang dirimu

Pada siang
Tangan-tangan liat matahari menyibak gumpalan awan
Bunga-bunga merona dijamah kumbang
Dan di sabana yang luas, seorang kelana
Pada secarik kanvas dengan anggun memulas rupamu

Pada Senja
Tirai malam memeluk hati nan durja
Sinar bulan menghangatkan dingin jiwanya
Dan seorang peri jelita Berbisik ke telingaku,
bercerita siapa sebenarnya dirimu.

Pada malam
Waktu menyeret kenangan
Lubang sejarah menelan manusia dalam perutnya
Dan semua tiada. Kecuali aku. Makin Kepayang.
Tak bisa melarikan diri dari bayangmu

*nb: bacanya sambil denger ini ya..Solveig's Song...


13 Agustus, 2013

Kumpulan Fiksi Mini: Cinta Dibawa Mati

Posted by Suguh Selasa, Agustus 13, 2013, under | No comments


CINTA DIBAWA MATI: Sore ini dia menyatakan cinta lagi.Bagaimana bisa? Kemarin dirinya baru saja dikubur.

PERGANTIAN PEMAIN: Kamu keluar. Giliran dia masuk dalam hatiku.

PENGGEMAR SUSHI: Daging lengan perempuan muda itu, masih tersisa di piringku.

SEMUA SETAN DIPENJARA: Kami sekeluarga di rumah saja. Takut kena razia. 

DUA KALI LEBARAN GA PULANG-PULANG: Ayah kembali tak berlebaran di rumah. seorang perempuan asing mencegatnya di jalan.

KAU BIDADARI JATUH DARI SURGA: Sayang tak jatuh di pelukanku. Namun di pelukan lelaki tua, gendut, jelek tapi kaya itu. 

BELAH DADAKU: Di sana ada mereka. Bukan cuma kamu.

PEMILIK HOTEL YANG LAMA:  Madame masih berkenan menyambut para tamu, di ujung lorong tanpa kepala.

KUNTILANAK: Lepas subuh ia baru pulang. nanti malam dirinya berpesta lagi.

AMNESIA: kalau tak ditegur para pelayat, mayat itu hendak bangkit lagi. 

KANIBAL: Dia memang brengsek. Anak perempuannya sendiri dimakan.

RAMADHAN: "Sampai jumpa lagi Ramadhan", kata juita. "Sudah cukup perpisahannya. kini waktunya buat pulang." sahut malaikat maut.

PETRUS 2: Pagi ini mayat dua ekor anjing ditemukan mengambang di tepi kali. Nanti sore keadaan kota pasti lebih tenang.

26 Juli, 2013

Hakikat Pengebaraan

Posted by Suguh Jumat, Juli 26, 2013, under | No comments

Wahai jiwa, obat gelisahmu adalah ziarah. Pelamur nyeri lukamu adalah pengembaraan. Hati yang sakit umpama sungai yang alirannya mampet tertahan sampah dan kotoran. Airnya menjadi statis, kaku, diam. Ia menggenang tanpa gairah. Hingga lama-lama warnanya menjadi kelam dan berbau busuk. Apalah artinya hidup yang tak hidup? Apalah Artinya hidup tanpa dinamika?

Buah dari diam berkepanjangan adalah kekosongan. Muara dari kekosongan adalah kesepian. Sedang sayap-sayap kesepian adalah kesediahan yang niscaya mengantarmu pada maut. Sejarah umat manusia adalah rangkaian panjang rantai kekalahan zaman. Mata-mata rantainya adalah bangkai mereka yang mati penasaran menanggung tanda tanya besar dalam diri mereka, hasrat yang belum tercapai, angan yang belum di raih dan mimpi-mimpi yang masih menganggu dalam benak. Mereka gentayangan menjadi hantu. Melolong-lolong sepanjang waktu bersama kawanan serigala dan bururung gagak. Meyebarkan teror pada mu agar kau menjadi bagian dari mereka.

Duhai engkau yang sedang gelisah. Bukalah sumbat-sumpat penutup yang menghalangi cahaya masuk jiwamu. Perubahan mustahil terjadi dengan cara yang biasa. Kau perlu mendobraknya dengan cara yang paling keras sekalipun. Bila jiwamu umpama air yang tersumbat, maka sulur-sulur sungai adalah ladang kembara yang akan membebaskanmu.

Mengembaralah, paling tidak sekali dalam hidup. Pengembaraan pertama akan melamurkan luka jiwamu. Kemudian mengobati kesepian hatimu.kemudian  menggelorakan semangatmu. Dunia bukan hanya lingkup sempit atap rumahmu. Di luar sana ada dunia lain yang jauh lebih luas, lebih menarik, lebih kaya. Mengebaralah karena kau akan bermetamorfosa menjadi sosok yang baru. Bila kau sekali waktu ingin merasakan deraan gelombang laut yang dahsyat, gigitan udara gunung yang liat atau kelok curam jalan penuh duri, onak pula bau-batu, maka jawabannya adlah dengan mengebara. Jika sekali waktu kau ingin menemukan saudara-saudara baru, pohon-pohon yang menjulang hingga ke langit, sisa bangunan yang tua di makan zaman, maka jawabannya adalah dengan mengebara.

Buat apa pula itu semua? Kau musti sadarkan dirimu sendiri bila kau buka kebanyakan orang yang seharian membusuk di depan televisi menonton acara yang katanya realty show tapi ternyata bohongan. Kau adalah jiwa yang lain. Jiwa yang selalu tergoda untuk menemukan hal-hal baru. Itulah yang membedakanmu dengan mereka. kau memiliki antusuame.  tengoklah! Mustahil Marcopollo menemukan India dan Persia jika hanya melabuhkan kapalnya di tepi pantai. Mustahil bangsa Viking dapat menemukan Benua Amerika jauh sebelum Collombus jika hanya mendengkur di skandinavia. Mustahil Tan Malaka akrab dengan budaya Eropa dan Asia jika hanya diam saja di rumahnya di Padang sana.

Syarat pengebaraan adalah keberanian. Tanpa keberaniah semua mimpi-mimpi besar cuma jadi wacana. Tulang punggungnya adalah rencana yang matang. Sedang kedua lengannya adalah biaya yang patut di perhitungkan. Tak perlu risau memikirkan hal ini. Pengorbanan yang besar akan membuahkan hasil yang besar pula. Percayalah. Jika diumpamakan dengan berniaga, maka mimpimu, rencanamu, dan sebesar apapun biaya yang kaku keluarkan jumlahnya tak kan sepadan dengan pengalaman yang kan kau alami.

Keluar rumah lah!
Mengebara lah!

  

16 Juli, 2013

TAN Malaka: Sang Penulis, Sang Agitator

Posted by Suguh Selasa, Juli 16, 2013, under | 1 comment

"Orang Tak akan berunding dengan maling di rumahnya" (Tan Malaka menanggapi agresi militer Belanda) 

Saya baru selesai baca buku TAN MALAKA Bapak Republik yang Dilupakan terbitan Tempo. Saya agak terlambat baca buku ini. Selain terlambat mendapat info terbitnya, saya juga kesulitan mendapatkannya karena buku itusudah jarang dijual di toko-toko buku besar seperti Gramedia. Tan Malaka sendiri adalah figur yang saya 'kenal' belakangan, jauh setelah saya membaca dan menganggumi Soekarno sejak SMP atau Soe Hok Gie dan Sub Comandante Marcos saat kuliah.

Buku tersebut, menurut saya menyampaikan biografi Tan Malaka (juga biografi-biografi lain seperti Jederal Soedirman dan Douwes Dekker) dengan prespektif berbeda jika dibanding dengan buku-buku sejarah lainnya. Tempo menampilkan figur Tan Malaka dalam bukunya secara random. Bawa awalnya justru dimulai dengan informasi kematian sang geriliawan di Gunung Wilis.  kemudian berlanjut pada bab-bab lain seperti kontribusinya pada rapat akbar pemuda di Jakarta pada September 1945, kiprahnya sebagai guru, pelarian-pelariannya hingga mengelilingi dunia, perjalanan asmaranya yang kering dan sebagainnya.

Dari buku tersebut saya mencatat beberapa hal penting berkaitan dengan kontribusi Tan Malaka dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.  Bagi kawan-kawan yang sama sekali belum mengenal figur Tan Malaka, dapat membaca profilnya di sini.

Sang Penulis Sang Agitator 
Di kancah politik nasional, Tan Malaka adalah sosok yang getol menyampaikan gagasan-gagasan
kemerdekaanyanya melalui tulisan. Menulis adalah salah satu cara Tan Malaka mengagitasi massa selain berorasi. Hingga karenannya ia musti mengalami pelarian politik dari kejaran intel-intel asing.

sebagai Contoh, Naar De Republiek Indonesia yang ditulisnya pada 1925, dalam pelarian diluar negeri, merupakan buku pertama yang mengagas konsep Republik Indonesia. Buku tersebut lebih dulu terbit dibanding Indonesia Vriej (Indonesia Merdeka) karya Hatta sebagai pledoi di depan pengadilan Belanda pada 1928. Atau 'Indonesia Menggugat'nya bung Karno  pada 1933 di pengadilan Belanda di Bandung.
 
Tulisan-tulisan Tan Malaka memberi pengaruh bagi aktivis kemerdekaan pada masanya. Sayuti Melik  (Sleman, 22 November 1908–Jakarta, 27 Februari 1989) tokoh pemuda radikal mengenang, bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal-hal penting dalam buku Massa Actie (Aksi Massa). Saat itu Bung Karno masih memimpin Klub Debat Bandung. Saat menjalani proses pengadilan Lanraad, salah satu tuduhan yang memberatkan bung Karno karena ia menyimpan buku yang oleh pemerintah kolonial Belanda dianggap terlarang itu. lebih jauh, Massa Actie menjadi inspirasi dalam buku Indonesia Menggugat

Lain lagi dengan WR Supratman yang juga telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukan kalimat, "Indonesia tanah tumpah darahku." ke dalam lagu Indoensia Raya setelah diilhami bagian akhir Massa Actie pada bab Khayal Seorang Revolusioner.. Di mana pada bab tersebut tertulis, "Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri. Kewajiban seorang yang tahu, kewajiban putra tumpah darah."

Adapun Jenderal Besar Abdul Haris Nsution mengatakan dalam memeringati hilangnya Tan Malaka pada 19 Frbruari 1957 (Saat itu pangkatnya masih Mayor Jenderal dan KASAD), mengatakan jika pikiran Tan Malaka dalam buku GERPOLEK (Geriliya Politik dan Ekonomi) serta gagasan-gagasannya dalam kongres Persatuan Pejuang pada 4 Juni 1946, telah menyuburkan perang rakyat semesta.Perang in lanjut Nasution sukses saat melawan dua agresi militer Belanda pasca Proklamasi Kemerdekaan. Nasution berkomentar, terlepas dari pandangan politiknya, Tan Malaka harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.

Massa actie, GERPOLEK atau Naar de Republiek Indonesia merupakan sebagain kecil dari berpuluh buku yang di tulis oleh Tan Malaka. Menjabarkan figurnya dalam satu kali posting dalam blog dirasa amat kurang. hal ini berkaitan dengan perjalanan hidup Tan Malaka yang amat kompleks, yang menurutnya sendiri jauh lebih seru dibanding kisah fiksi. Tapi paling tidak tulisan ini bisa memberi gambaran meskipun samar-samar soal sosok yang justru dilupakan oleh bangsa yang iaperjuangkan kemerdekaanya. Pada tulisan selanjutnya mungkin kembali saya akan memposting soal Tan Malaka dengan tema yang lain






09 Juli, 2013

MELAHIRKAN PEMUDA ISLAM PRESTATIF DENGAN KARAKTER BAKU (Bagian II)

Posted by Suguh Selasa, Juli 09, 2013, under | No comments

Selanjutnya, mari kita uraikan lebih dalam karakter Baik dan kuat pada sub bab selanjutnya.

2.2.1 Karakter Baik
Karakter baik melambangkan kearifan pribadi. Bagaimana dengannya kita diajak untuk melakukan koreksi diri. Pembenahan pribadi wajib dilakukan bila kita menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik. Akhlaqul karimah adalah tujuannya. Seperti disampaikan Aa Gym, karakter baik memiliki tiga ciri sebagai berikut,

• Ikhlas
Ikhlas secara bahasa memiliki arti membersihkan. Sedang secara istilah ialah membersihkan hati supaya
menuju kepada Allah semata. Dengan kata lain ibadah baik yang sifatnya vertikal pada Allah SWT ataupun horizoltal pada sesama mahluk tak boleh diniatkan selain pada Allah.

Dalam riwayat, Umar bin Abdul Aziz sempat tiba-tiba turun dari mimbar saat sedang berkhutbah. Pada kesempatan lain, beliau sempat pula merobek kertasnya ketika sedang menulis kitab. Setelah dicari tahu, ternyata hal tersebut dilakukan karena sempat muncul perasaan riya dalam dirinya. Timbul lintasan hati ingin mendapat pujian karena memiliki kepandaian dalam berbicara dan menulis kitab. Beliau kemudian berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejelekkan diriku sendiri.”

Ikhlas menjadi pondasi penting dalam amal. Ia mencerminkan niat, apakah dilakukan tulus karena Allah atau ingin mendapat pujian mahluk? Salah dalam berniat maka akan sia-sia pula amal. Hal ini tercermin dalam hadist Rasulullah Mummad saw yang berbunyi, “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya,”Apa syirik kecil itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab,”Riya.” (HR Ahmad) .

Ciri selanjutnya pribadi ikhlas adalah tidak berduka karena cobaan dan tidak ujub karena mendapat nikmat. Peristiwa yang menurut mahluk baik atau buruk baginya sama saja,. Adanya rizki tak menjadi lupa diri, hilangnya rizki tak membuat bersedih.

Hal ini tercermin dari sikap nabi Ayub yang tak luntur kecintaannya meski telah dicabut segala kemewahan dunia dan ditimpa ujian berupa penyakit selama bertahun-tahun. Contoh lain bisa kita teladani dari Khalid bin Walid, yang tak protes saat Umar bin Khattab menurunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa. Padahal sebelumnya ia adalah seorang panglima besar yang memimpin 46.000 pasukan Islam dalam melawan 240.000 orang tentara Bizantium, dan berhasil menaklukan pasukan Romawi yang jauh lebih terlatih dan bersenjata lebih lengkap.

Khalid berkata, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!" kemudian iapun kembali melanjutkan perjuangannya tanpa memikirkan tanda pangkat dan kedudukan. Karakter Ikhlas adalah jalan menuju kemerdekaan, membebaskan belenggu, menanggalkan segala niat yang keliru dalam hati. Tak lagi tertinggal beban dalam hati, karena segala amalan hanya untuk Allah Swt.

Sedang latihan untuk menjadi pribadi Ikhlas seperti disampaikan oleh Yahya bin Abi Katsir berkata, “Belajarlah niat, karena niat lebih penting daripada amal.” Hal ini dikuatkan oleh Muththarif bin Abdullah yang berkata,”Kebaikan hati tergantung kepada kebaikan amal, dan kebaikan amal bergantung kepada kebaikan niat.” Sudah masanya untuk merubah orentasi amal kita. ibadah mustinya tak lagi karena ingin dilihat mahluk tapi karena Allah Swt. Bilapun toh masih ada lintasan hati ingin dinilai mahluk, maka mohonlah perlindungan dari Allah, karena Dia maha menyelamatkan.

• Jujur
Karakter jujur bagi seorang pemuda Islam bukan sekadar menjadi topeng. Lebih dari itu, ia adalah lambang dari kehormatan dan integritas yang terjaga dari hal-hal khianat.

Jujur bermakna keselarasan antara kata dan perbuatan. Dalam sebuah hadist Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Selalulah kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga. Sedangkan dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka.” (Hadits: Mutafaqun Alaih)

Sejarah gemilang Islam dikenal bukan hanya karena kisah para pejuanganya di medan perang, tapi juga karena riwayat kejujurannya yang terjaga. Rasulullah saat masih muda mendapat julukan Al-Amin atau yang dipercaya. Hal itu diakui bukan hanya oleh kawan tapi juga lawan. Sempat Abu Jahal berkata di hadapan kaum Quraisy, “Sesungguhnya kami tidak mendustaimu (Muhammad), hanya saja kami mendustai ajaran yang kamu bawa. (mahluktermulia.wordpress.com: 21 April 2013)

Kejujuran Rasul tercermin saat beliau berniaga. Bila berjanji beliau selalu menepati janji. Sedang bila mengantarkan barang dagangan selalu tepat waktu dengan kualitas sesuai pesanan. Karena itu pelangganya tak pernah merasa kecewa atau mengeluh. Integritas dan tanggung jawab terhadap tiap transaksi beliau perlihatkan pada siapapun. Berkat kejujurannya Rasulullah SAW, meminjam ungkapan Pakar Ekonomi Syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio, telah “membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manager, dan kemudian menjadi investor.” (m-alwi.com: 21 April 2013)

Karena itu mulai saat ini, tak ada lagi perkataan bohong terucap dari mulut kita. Tak ada lagi janji yang tak ditepati dan kepercayaan yang dikhianati. Sekali orang tak percaya karena khianat maka selamanya kita mencorengkan noda hitam pada sejarah hidup kita. Bukankah pepatah lama telah berdedah, “Sekali lancung ketujuan, seumur hidup tak dipercaya lagi.” Lebih sulit mengembalikan kepercayaan orang lain dari pada menyembuhkan luka di tubuh. Berjuang menjadi pribadi berintergritas musti menjadi resolusi hidup. Jaga ia baik-baik, karena intergritas adalah pertaruhan atas kehormatan kita sebagai seorang Muslim.

• Tawadhu
Tawahdu menurut Abu Yazid Al Bushtami adalah karakter pada diri seseorang yang tidak memandang jika ia lebih baik dari orang lain dan tidak memandang ada orang lain yang lebih buruk dibanding dirinya. sedang Ibnu Atha’ berkata, “Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dari siapapun. Kemuliaan itu ada di dalam tawadhu’, barangsiapa yang mencari kemuliaan di dalam kesombongan maka seolah-olah dia mencari air di dalam api.”

Tawadhu bukan dramatisasi penampilan dengan mengenakan pakaian jelek dan lusuh. Bukan pula prilaku yang dibuat-buat hingga orang lain merasa iba. Tawadhu adalah cermin dari sikap proporsional. Tidak di lebih-lebihkan tidak juga dikurang-kurangkan.

Ada kalanya karakter tawadhu dimiliki seorang kaya serpeti nabi Sulaiman. Beliau memberi makan mahluk hidup dalam jumlah yang banyak, tapi hatinya tetap terjaga dari kesombongan. Namun, ada kalanya karakter tawadhu dimiliki pribadi sederhana seperti sahabat Rasul, Zuwaibar, yang karena kemiskinan dan penampilan fisiknya yang buruk rupa tak lantas mendramatisir masalah dengan jadi peminta-minta, ingin dikasihani atau menjadi beban.

Karenanya jadi tak lagi penting mencari perhatian dari mahluk. Segera melupakan kebaikan setelah melaksanakannya dan segera bertaubat bila melakukan kesalahan. Dengan melakukannya tidak untuk ingin mendapat pujian mahluk, tapi memang Allah saja yang memerintakan untuk berbuat demikian. Seperti sabda Rasulullah saw, “Barang siapa rendah hati kepada saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengangkat derajatnya, dan barang siapa mengangkat diri terhadapnya maka Allah akan merendahkannya.” (HR Ath-Thabrani)

Untuk menjadi pribadi tawadhu, kita dapat mengkaji konsep 2B 2L yang digagas oleh Aa Gym. Konsep 2B 2L ini terdiri dari,
  1. Bijak mengakui jasa dan kelebihan orang lain. selalu ada langit di atas langit. Belajar dari kelebihan orang lain adalah ciri ketawadhuan.
  2. Bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Tak ada orang yang sempurna. Tugas kita adalah membantu orang lain agar sama-sama tumbuh menjadi pribadi lebih baik.
  3. Lihat kekurangan dan kesahalan diri sendiri. Instrospeksi diri musti dilakukan. Tak perlu merasa diri memiliki kelebihan di hadapan mahluk. Karena pada dasarnya kita cuma mengaku-ngaku punya sesuatu padahal semua hanya pinjaman dan kan kembali pada Allah SWT.
  4. Lupakan jasa dan kebaikan diri sendiri. Bukankah amal yang baik itu saat tangan kanan berbuat, tangan kiri tak mengetahuinya? Allah maha menilai dan memberi balasan. Cukup ia yang jadi Tujuan.(Trim, 2005: 54)
2.2.2. Karakter Kuat
Karakter kuat merupakan cermin dari pribadi yang bersungguh-sungguh menggapai suatu tujuan. Ikhitiar menjadi syarat wajib, sedang doa musti pula menyertai tiap laju dan langkahnya. Karakter kuat menegaskan bila impian tak begitu saja dapat diraih dengan gratis. Ia perlu diperjuangkan dengan sebagap kemampuan.percayalah, segala hal yang didapat secara gratis tak kan ada gregetnya.

Sama halnya seperti karakter baik, karakter kuatpun memiliki tiga cirri sebagai berikut,
• Disiplin
Apabila diibaratkan dengan otot, maka disiplin tiap orang memilki tenaga berbeda-beda. Agar memiliki disiplin kuat, maka diperlukan latihan kuat pula. Definisi disiplin sendiri adalah, “melatih diri melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur secara berkesinambungan untuk meraih impian dan tujuan yang ingin dicapai dalam hidup.” (belajarpsikologi.com: 21 April 2013)

Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bila disiplin tak dapat dibentuk dengan cara instan. Ia adalah aktifitas yang dilakukan secara berulang-ulang hingga membentuk karakter kuat. Dengannya perlahan akan tergerus kemalasan, membuat pembenaran dan menunda-nunda pekerjaan.

Kesimpulan lain yang dapat diambil adalah bila disiplin dapat terbentuk jika memiliki target yang hendak dicapai. Menyadari benar manfaat atas aktifitas yang sedang dilakukan akan membentuk kedisiplinan. Sebagai contoh, bila sadar shalat lima waktu dapat mendekatkan kita dengan Allah, maka kita akan mati-matian berusaha untuk tidak meninggalkannya. Jika sadar dengan shadaqah dapat mengundang lebih banyak rizki, maka tak akan luput satu haripun bagi kita untuk bersedekah.

Berkaitan dengan membentuk karakter disiplin, mari kita tengok bagaimana rakyat Jepang mempraktekannya. Bagi mereka terlambat tanpa keterangan akan membuat orang lain khawatir dan berpikir pada hal-hal buruk seperti kecelakaan, sakit atau ada halangan yang menyulitkan. Sengaja terlambat atau mengkingkari janji berarti menyakiti perasaan orang lain. Karena itu bila memang benar-benar tak bisa menepati janji mereka selalu memberi informasi. Sedang bila sudah membuat janji maka sekuat tenaga berusaha untuk datang lebih cepat dari jadwal yang telah disepakati. Pepatah Jepang berkata “Kunshi wa hitori otsutsa shinu” (orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri), dan dengan kedisplinan Jepang berdiri dengan rasa hormat.

Contoh lain, meski terkenal rapi dan bersih, orang Jepang getol mengkampayekan negara mereka sebagai utsukushii kuni (Negara yang cantik). Di Universitas Chukyo misalnya, telah terbentuk grup sukarelawan Gomihiroi-tai atau pasukan pemungut sampah. Relawan yang bergabung diharapkan dapat membantu menjaga kebersihan kampus. Bila menemukan sampah seperti puntung rokok atau permen karet relawan tak boleh berpura-pura tak melihat atau mengumpat dengan berkata, “Dare ga tsuteta?” (siapa sih yang buang?), tapi dengan penuh kesadaran harus langsung memungutnya.

Jepang memulai disiplin dari hal-hal sederhana dan kecil tapi dilakukan secara konsisten. Sudah selaiknya kita mencontoh. Berjuang untuk senantiasa shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an setelahnya, menunaikan puasa sunnah, bersedakah adalah beberapa contoh nyatanya.

• Berani
Berani seperti yang dikatakan Anis Matta dalam buku ‘Mencari Pahlawan Indonesia’ adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa yang mendorong seseorang maju untuk menunaikan tugas baik tindakan maupun perkataan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan menyadari semua kemungkinan risioko yang akan diterima.

keberanian adalah energi yang merubah angan-angan menjadi nyata. Ia adalah bensin yang ditumpahkan ke atas bara api yang tengah redup hingga menyala kembali. Prestasi dunia akhirat hanya milik para pemberani karena tak semua orang memiliki nyali menghadapi risiko. Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, ada orang yang berani berjalan kaki hingga ke Mekah untuk menjalankan ibadah Haji, tapi ada juga orang yang demikian berat untuk berangkat ke masjid meski masjid itu ada di dekat rumahnya.

Para pemberani menyikapi risiko bukan sebagai halangan apalagi musuh. Tapi menjadikannya sebagai tantangan. Semakin tinggi tantangan, semakin mereka bersemangat. Adapun musuh utama dari keberanian bukanlah rasa takut. Karena takut adalah karater manusiawi yang dimiliki tiap insan. Musuh keberanian sesungguhnya adalah sifat malas. Sebab malas seperti kanker, yang bila didiamkan terlalu lama akan menjalar ke seluruh tubuh. Ia merontokan semangat, meruntuhkan harapan dan memupus cita-cita.


Cara satu-satunya tuk menggalahkan kemalasan adalah melawannya. Kemalasan dapat berganti keberanian jika kita sadar akan manfaat yang ada dibaliknya. Tentu jalan yang harus ditempuh terasa berat, melelahkan dan pahit. Tapi seperti seperti mendaki gunung yang amat tinggi, semua rasa sakit itu kan berganti dengan kebahagiaan bila telah sampai di puncaknya.

Karena itu, Rasulullah berani bangun malam dan menunaikan Qiyamul lail ketimbang tidur. Dengan begitu beliau semakin bisa ma’rifat pada Allah SWT. Karena itu, Evliya Celebi, petualang muslim legendaris di era Turki Usmani pada abad ke 17, berani untuk menjelajah ke belahan bumi yang jauh ketimbang berleha-leha di rumah. Sebab dengan menjelajah, ilmunya akan bertambah, wawasannya semakin luas dan hikmah dapat mematangkan pribadinya. Karena itu, Andrea Hirata berani menuntun sepeda motornya berpuluh kilo meter di Belitong, untuk benar-benar menjiwai kisah masa kecilnya yang kemudian ditulis menjadi novel Laskar Pelangi. Muslim sejati adalah pemberani. Dengan begitu ia dapat meraih prestasi luar biasa saat yang lain masih sibuk mencari alasan dan menjadi biasa-biasa.

• Tangguh

Ming-ming memang bukan mahasiswi biasa. Gadis kelahiran 18 April 1990 ini adalah pribadi pantang menyerah. Kondisi keluarga yang serba kekurangan tak menyurutkan semangatnya menggapai pendidikan tinggi. Oleh karena itu, aktifitasnya telah dimulai sejak pukul tiga pagi pagi, saat sebagian besar orang masih tertidur pulas. Ia melaksanakan shalat malam, lantas membantu pekerjaan rumah tangga. Pukul delapan, ia bersiap menuju kampus Universitas Pamulang yang berjarak 40 km dari rumahnya di kampung Sukasirna Desa Rumpin Bogor.

Ming Ming musti berpikir keras guna membiayai kuliahnya secara mandiri. Tanpa canggung ia memungut botol plastik yang ia temui di jalan saat pulang kuliah. Ia tak memungkiri bila kerap mendapat ejekan dari orang-orang yang ditemuinya. Meski begitu tak seorangpun sanggup meruntuhkan semangat belajarnya.

Dari pribadi Ming Ming kita bisa mengambil hikmah, bila keberanian saja belum cukup jika tidak dibarengi karakter tangguh. Berani yang berdiri sendiri, bila tak hati-hati akan membuat semangat menggebu pada langkah awal namun kemudian berpotensi padam pada langkah-langkah selanjutnya begitu menghadapi rintangan. Mundur sebelum bertempur, menyerah sebelum ‘berkelahi. Semangat itu menjadi tak berarti lantaran belum matang diuji.

Sedang jika keberanian dibarengi ketangguhan, maka seseorang akan konsisten dalam menggapai tujuannya. Tangguh adalah simbol dari keuletan, kegigihan dan kesabaran. Sukar memang, melelahkan memang. Namun perlahan tapi pasti keduanya kan mengatar pada kemenangan. Seperti air yang menetes di atas batu kemudian membuat lubang yang tembus hingga ke bawahnya. Seperti bara api yang membakar batu kemudian mengeluarkan kilau emas dari baliknya. Karena itu bila menghadapai ujian bertubi-tubi, masalah yang tak kunjung tuntas, ujian yang dirasa luar biasa berat, maka hadapilah seperti Ming ming menghadapi semuanya itu. Melangkah mundur hanya akan membuat diri kita jadi bahan tertawaan. Sedang maju dengan gigih kan membuka pintu-pintu harapan.

Untuk menjadi pribadi tangguh terdapat tiga syarat seperti disampaikan dalam situs motivasi-islam.com. Di antaranya adalah,
  1. Berpikir Positif, karena dengannya kita seolah sudah bersiaga sebelum genderang perang ditabuh. Akan muncul keyakinan dan optimisme bila tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan bila gigih menjalaninya.
  2. Semangat Belajar yang Tinggi, dengan belajar hal-hal baru bukan hanya dapat menambah wawasan tapi juga mematangkan kedewasaan pribadi. Perlu penanganan berbeda untuk masalah yang berbeda. Bila manajemen penyikapan masalah masih berantakan, hasilnyapun pasti akan berantakan.
  3.  Manajemen Diri, mengatur aktifitas agar terus produktif. Tak ada detik tersia-sia kecuali dilewatkan dengan hal-hal manfaat. Dengan begitu kita akan selalu siap untuk menghadapi perubahan dan rintangan macam apapun.

III
KESIMPULAN
Dalam Islam, prestasi tak sekadar menjadi retorika atau wacana. Prestasi justru telah menjadi budaya. Hal itu dibuktikan dengan Karya-karya bermanfaat bagi umat manusia ditemukan oleh para intelektual Muslim.

Saat budaya prestatif ini meredup, dan budaya konsumtif telah mendominasi, diperlukan aksi nyata untuk mengembalikannya. Konsep BAKU merupakan suatu ikhtiar yang dapat dikaji dan dipraktekan. Merubah karakter lemah dan buruk menjadi karakter kuat dan baik adalah tugas para pemuda Islam. Prestasi dunia dan akhirat mustahil diraih dengan berleha-leha. Diperlukan tenaga eksta baik tenaga, harta dan waktu tuk menggapainnya.

Dengan begitu, melahirkan kembali generasi muda Islam prestatif tak lagi jadi sekadar angan-angan. Pemuda Islam dengan karya-karyanya, tak sekadar latah mengikuti arus, terbawa hanyu dan pudar ditelan sejarah. Sebaiknya mereka dapat tampil dibarisan paling depan sebagai pioneer perubahan, leader sekaligus inspirator.

IV
SUMBER PUSTAKA
Buku
• Gymnastiar,Abdullah,2004.7B BANGKIT! Mannajemen Qolbu Untuk Meraih Sukses.Bandung,Khas MQ
• Gymnastiar, Abdullah,2004.Jagalah Hati MQ For Beginners.Bandung,MQS
• Matta, Anis,2004.Mencari Pahlawan Indonesia.Jakarta,The Tarbawi Center
• Trim, Bambang,2005.Meng-install Nyali.Bandung,MQS Publishing

Website
• http://mandiri.dpudt-jogja.org/2012/05/12/kisah-inspiratif-ming-ming-sari-nuryanti-mahasiswi-yang-juga-pemulung/
• http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/09/lpnl8x-kisah-sahabat-nabi-khalid-bin-walid-si-pedang-allah
• http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jujur-kiat-menuju-selamat.html
• http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/9988-evliya-celebi-petualang-muslim-tangguh-di-era-turki-usmani.html
• http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=2785
• http://www.motivasi-islami.com/menjadi-pribadi-tangguh-menghadapi-perubahan-hidup/
• http://dunia.news.viva.co.id/news/read/339918-bunuh-diri-karena-bullying--hantui--jepang
• http://belajarpsikologi.com/menumbuhkan-sikap-disiplin-diri/
• http://abumushlih.com/ma’rifatullah.html/
• http://tanbihun.com/tasawwuf/definisi-riya-dan-penjelasannya/#.udwxyac9gsq
• http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ikhlas-dalam-ilmu-tasawuf/#.uezq_bjltcy
• http://lead.sabda.org/11/oct/2007/kepemimpinan_membangun_disiplin_diri
• http://saputra51.wordpress.com/2012/06/09/jujur-dan-amanah-dalam-islam/
• http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/02/22/kejujuran-rasulullah/
• http://m-alwi.com/bisnis-ala-rasulullah-saw-uang-bukan-modal-utama.html
• http://anwararis.wordpress.com/2010/02/22/hikmah-dari-sang-sahabat-buruk-rupa-dan-miskin/
• http://zilzaal.blogspot.com/2012/07/ming-ming-mahasiswi-pemulung.html
• http://harapanumat.wordpress.com/2007/05/11/menjadi-pribadi-yang-ikhlas/
• http://anggakusumaw.wordpress.com/2013/01/24/ingin-hidup-mewah-25-pelacur-sukabumi-adalah-siswi-sekolah/
• http://forum.kompas.com/teras/235294-tokoh-tokoh-penemu-muslim.html
• http://www.psikologi-islam.com/detail-refleksi-38-mari-menuju-prestasi-yang-hakiki.html

Video
• http://www.youtube.com/watch?v=gYUtfInsiPM



05 Juli, 2013

MELAHIRKAN PEMUDA ISLAM PRESTATIF DENGAN KARAKTER BAKU (Bagian I)

Posted by Suguh Jumat, Juli 05, 2013, under | No comments

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang


Sejak berabad silam, Sejarahwan Muslim Ibnu Khaldun telah menegaskan jika kebudayaan para pemenang akan mendominasi kebudayaan para pecundang. Sejalan dengan pernyataan itu, kenyataanya kini generasi muda Islam khususnya di Indonesia, tak cukup cekatan menangkal migrasi informasi yang berdatangan dari segala arah. Internet, televisi, radio, majalah, koran menjadi corong kepentingan pihak tertentu, yang isinya kadang tak dipilah dulu bahkan ada pula yang malah ditelan mentah-mentah.

Akibatnya para pemuda Islam jadi bulan-bulanan pengaruh sampah kebudayaan yang masuk dari luar. Ibarat kacang lupa kulit, mereka melupakan pula asal-usulnya Sebagai seorang Muslim. Nilai-nilai keIslaman tak nampak dalam pribadi mereka. Karena kini telah digantikan oleh budaya populer yang dianggap serba lux dan berkelas. Kebanggan artifisial tercermin dalam prilaku sehari-hari. Sudah jamak jika para pemuda rela mengatri sejak dini hari untuk mendapat tiket konser boy band dari luar negeri dengan meninggalkan shalat. Sudah jamak pula bila mereka bergaya, berlaku dan bersikap mirip idola mereka. prestasi tak lagi diukur dari nilai-nilai akademik atau jumlah hafalan Al Qur’an. Seorang pemuda baru dikatakan berpretasi jika sudah punya gadget terbaru, bergaul di cafe-cafe mahal, tempat hiburan malam dan sebagainnya. Di luar itu maka akan di anggap kuno dan ketinggalan jaman.

Dampak negatif lain dari hal ini adalah munculnya generasi yang labil, mudah menyerah, pesimis dan tak visoner. Konsumerisme telah mengajarkan pola hidup instan, di mana segalanya ingin di dapatkan dengan mudah tanpa kerja keras hingga batas kemampuan maksimum. Tak heran jika sekitar 25 persen dari 239 pekerja seks komersial di Sukabumi Jawa Barat adalah pelajar yang ingin hidup mewah (antarawens-Jakarta-2 Desember 2009). Tak heran pula siswa SMP kelas VIII berinisial HD di Gresik sampai nekat mencuri karena ingin memiliki sepda motor (surabayapagi.com: 18 April2013).

Dua kejadian di atas sekadar puncak gunung es bila dibanding kejadian sebenarnya. Artinya terdapat peristiwa perstiwa lebih besar namun tak nampak ke ruang publik. Tak dapat dibayangkan jika generasi macam ini yang kelak yang menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan. Harapan membangkitkan kebangkitan Islam, rasanya hanya sekadar mimpi.

1.2.Tujuan
Tujuan dari disusunnya artikel ini adalah suatu bentuk ikhtiar untuk mengembalikan budaya Islam yang mulai redup. Budaya prestatif para pendahulunya yang teruntai dengan karya-karya agung. Pengertian budaya di sini tak berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya artistik misalnya musik, tarian atau nyanyian. Namun lebih condong pada aktifitas sehari-hari yang menjadi kebiasaan, Kemudian dari kebiasaan tersebut menjadi karakter yang mempengaruhi diri dan lingkungan.

Adapun manfaatnya dapat dirasakan bukan cuma oleh kaum Muslimin tapi juga non Muslim. Hal itu sesuai dengan visi Islam sebagai dien Ramatan lil alamiin. Tengoklah bagaimana Al Farabi menjadi ahli musik dah ahli filsafat Yunani, Ibu Sina yang mengusai ilmu kedokteran dan psikologi, Al Battani yang ahli metematika dan astonomi, Ibnu Khaldu yang sejarawan dan ahli ilmu pendidikan dan banyak nama lain.

Berangkat dari latar belakang di atas, menarik untuk mengkaji lebih dalam konsep BAKU yang digagas oleh KH Abdullah Gymnastiar pimpinan pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung. BAKU merupakan singkatan dari Baik dan Kuat, dua karakter yang selaiknya dimiliki oleh pemuda Islam. Diharapkan dengannya para pemuda Islam dapat mengembalikan budaya prestatif diennya, bukan hanya pada bida duniawi tapi juga ukhrowi.

1.3.Rumusan
Dengan menggunakan metode dekriptif kuantitatif, maka rumusan masalah Artikel ini dapat dijabarkan adalah sebagai berikut,

Seperti apakah kriteria prestasi yang bersifat hakiki dalam pandangan Islam?
Bila dikombinasikan satu dengan lainnya, apa pengaruh karakter Buruk-Lemah dan Baik-Kuat dalam diri manusia?
Apa saja ciri karakter BAKU (Baik dan Kuat)?
Bagaimana cara menggapai karatker BAKU, yang menjadi jalan ikhtiar untuk membangkitkan kembali budaya prestatif kaum muslimin.


PEMBAHASAN
2.1 Prestasi dalam Prespaktif Islam

Tiap manusia memiliki naluri untuk berprestasi. Dalam bahasa psikologi disebut dengan istilah power motive. Di mana seseorang akan berkorban segalanya termasuk harta, waktu dan tenaga agar keinginannya dapat meraih sukses atas apa yang diinginkan (psikologi-islam.com: 20 April 2013) .

Hanya kemudian prespektifnya berbeda-beda. Tak jarang seseorang terjebak dalam raihan prestasi semu. Uang, pendidikan, aksesoris mewah menjadi tolok ukur meski tuk meraihnya menggunakan cara yang tidak halal. Sedang Islam memiliki formula tersendiri mengenai prestasi. Hal ini terkandung dalam Al Quran surat 28 Al Qashash ayat 77 yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Bila ayat di atas kita interpretasikan maka jelaslah jika ukuran prestasi dalam Islam bersifat hakiki. Kesuksesan akhirat menjadi tujuan utama. Karena dengan prestasi tersebutlah yang berupa amal salih, yang kelak kan mengantar kita pada kehidupan kekal di Surga. Kendati begitu jangan pula kita mengabaikan pretasi di dunia. Karena dunia umpama ladang tuk bercocok taman, ranah tempat bekerja keras tuk mengumpulkan bekal sebelum maut menjemput dan kehidupan kekal menanti.

Islam mempersilahkan tiap hambanya untuk berprestasi setinggi mungkin di bidang yang masing-masing mereka geluti, asal tetap dalam koridor Ibadah. Tiada ikhtiar yang dilakukan kecuali dengan hararapan menjadi amal saleh. Karena itu ibadah ruhiyahnya mengundang pahala. Sedang ikhtiar duniawinya mendatangkan ridho Allah SWT. Dengan begitu, bila tiap amal perbuatan diniatkan untuk ibadah maka pada satu sisi seorang muslim akan bersemangat mengejar impiannya, dan pada sisi lain akan selektif dalam bertindak. Ikhtiar yang dilakukannya hanya dengan niat, cara dan jalan yang dirhidhoi Allah SWT.

2.2. Kuadran Karakter Manusia
Perubahan mustahil terjadi hanya dengan menunggu dan berdiam diri. Ibarat air, bila hanya berdiam pada satu tempat dalam waktu lama, maka ia akan menjadi busuk. Begitu pula manusia. Ia akan kehilangan eksistensinya, memudar dan hilang ditelan pusaran sejarah. Sedang generasi prestatif yang mewarnai dunia dengan karya-karyanya tak datang dengan ditunggu. Ia musti dilahirkan meski harus melewati proses panjang yang memeras keringat, waktu dan harta. Ia lahir tidak dengan gratis, tapi musti berkelahi dulu melawan sifat-sifat buruk dalam diri seperti kemalasan, kesombongan, riya, dengki dan sebagainnya.

Guna melahirkan generasi prestatif tersebut, menarik untuk mengkaji konsep BAKU yang digagas oleh KH Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Aa Gym menyampaikan bila karakter manusia dibagi menjadi dua kelompok. kelompok pertama terdiri dari karakter baik dan karakter kuat. Sedang karakter Kedua terdiri dari karakter buruk dan karakterm lemah.

Bila karakter baik digabung dengan karakter lemah, maka pribadi dengan karakter ini memiliki sifat jujur, tawadhu, amanah, ikhlas tapi sayang ia tidak punya kekuatan. Dirinya didominasi oleh sifat penakut, ragu-ragu, mudah menyerah dan sifat-sifat lemah lainnya. Maka yang timbul kemudian adalah orang-orang baik yang selalu ditindas dan tak mampu membela diri. Contohnya seperti kasus bulyying yang marak terjadi di sekolah. Saking mengerikannya kasus Bullying ini membuat Yumi, seorang anak berusia 12 tahun asal Jepang putus asa lantas bunuh diri dengan cara melompat dari sebuah kondominium

Lain lagi bila karakter buruk digabung dengan karakter lemah. Pribadi dengan karakter seperti ini adanya tidak berbahaya, tidak adanya tak memberi pengaruh pada orang-orang sekitar. Dia khianat, riya, sombong, pendusta. Sekaligus malas, penakut, ragu-ragu dan mudah menyerah. Sikapnya umpama katak dalam tempurung. Menganggap tempurung itu sebagai langit yang luas, padahal terdapat langit sesungguhnya di luar sana.

Selanjutnya karakter Buruk digabung dengan karakter kuat maka yang lahir adalah bencana, penjajahan, penindasan dan tirani. Pribadi dengan karakter ini memiliki sifat pembohong, sombong, riya, ujub, takabur, sekaligus ia juga pintar, berani, disiplin. Orang macam Hitler yang menyiksa ribuan tawanan perang hingga mati kehabisan napas di ruang gas beracun di kamp konsetrasi auswitch Polandia atau Polpot yang membunuhi satu juta rakyat sipil Kamboja adalah contohnya.

Karakter terbaik adalah gabungan antara karakter baik dan karakter kuat yang melahirkan karakter baku (baik sekaligus kuat). Pribadi baku memiliki sifat jujur, amanah, tawadhu. Sekaligus berani, ulet, disiplin. Maka yang lahir adalah sosok-sosok inspiratif seperti Jenderal Soedirman. Meski menjabat sebagai panglima perang revolusi kemerdekaan tapi beliau tetap menjaga ketawadhuannya dengan kosisten melaksanakan amal-amalan shalih seperti shalat malam. Meski bergrilya dengan paru paru sebelah karena mengidap TBC, beliau tetap bertahan. Sempat Jenderal Soedirman disarankan untuk berhenti berjuang. Tapi simaklah jawaban sang Jenderal “Soedirman yang sakit, palima besar tak pernah sakit.”

(Bersambung ke Bagian dua-Minggu depan diposting ya)

16 Juni, 2013

PREEEETTTT!!!

Posted by Suguh Minggu, Juni 16, 2013, under | 2 comments

Orang kaya menghibur diri dengan pesta
Orang miskin menghibur diri dengan lamunan
orang kaya saling bertukar hadiah
orang miskin saling bertukar tawa
orang kaya berkuasa
orang miskin dikuasai
orang kaya bermuslihat
orang miskin dipecundangi
orang kaya merampok
orang miskin dirampok
orang kaya menjarah tanah
orang miskin kehilangan rumah
orang kaya membangun pabrik
orang miskin menganggur
orang kaya plesir ke luar negri
orang miskin tamat dirumah sakit jiwa
orang kaya cepat mati karena kolestrol
orang miskin cepat mati karena bunuh diri

“hidup memang tak adil
Jadi terimalah kenyataan!”
Kata Patrick si Bintang Laut.
Maka bersabar sajalah sampai kiamat
Karena hidup cuma sebentar

Preeeeeeeeet!!!!!!!!!!

27 Mei, 2013

Seksinya Unsur Motivasional Madre

Posted by Suguh Senin, Mei 27, 2013, under | 3 comments



Saya baru beli buku Madre karya Dee hari minggu tanggal 26 Mei lalu. Saya memang agak terlambat baca buku itu karena filmnya sudah tayang di bioskop dan cetakan pertamannya pada Juni 2011. Dalam buku ini terdapat 13 karya yang terdiri dari cerpen dan puisi,  yang terbitkan Bentang Pustaka dengan tebal 160 Halaman.

Beberapa karya sudah saya baca. Salah satunya Madre yang ditempatkan di halaman awal dan merupakan karya dengan jumlah halaman terbanyak (72 hal). Secara umum kawan-kawan (khususnya penggemar Dee) tentu sudah tahu jalan ceritanya. Tapi bagi kawan-kawan yang sama sekali belum baca akan saya coba sampikan sinopsis singkatnya.

Segalanya bermula dari Tansen. Ia mendapat warisan dari Kakeknya yang telah wafat Tan Sin Gie Berupa sebuah kunci. Tansen mulanya tak tahu kunci apa itu. Tapi setelah pergi ke daerah Jakarta Kota, didapatinyalah  sebuah toko roti tua Tan De Bakker. Toko tersebut  telah lima tahun tutup. Kemudian atas bantuan Pak Hadi mantan kariawan dan kini penungu toko  barulah Tansen tahu bila kunci yang dipegangnnya adalah kunci kulkas tua.

Kembali ditemani Pak Hadi,  Tansen membuka lemari es itu dan mendapati  adonan biang roti yang telah berusia puluhan tahun. Itulah adonan turun-temurun  TokoTan De Bakker hingga karenanya Tan De Bakker memiliki citarasa unik, enak dan tak ada tandingnya. Pak Hadi menyebut Adonan biang itu sebagai Madre, yang artinya ibu dalam bahasa Spanyol, juga ibu atas roti-roti lain.


Cerita  Madre kemudian berkembang lebih luas. Bagaimana Tansen yang urakan, hidup tanpa aturan, bebas dan seenaknya musti melanjutkan usaha toko roti kakeknya. Tansen nyaris urung menjalankan usaha toko rotinya dan bermaksud kembali ke Bali, tempat di mana ia lebih banyak menghabiskan waktu. Tapi dengan dukungan pak Hadi ia bangkit. Setelah muncul tokoh Mei yang berniat membeli adonan biang Madre dan mantan-mantan karyawan Tan De Bakker seperti bu Cory, bu Sum,  bu Dedeh dan pak Joko.

Saya tak akan menceritakan semua isi cerita, biar kawan-kawan yang belum baca jadi penasaran dan tertarik untuk baca. Saya selanjutnya ingin membahan Madre dari prespektif lain. Setelah membaca cerita Madre saya dapat menarik pesan moral yang patut dikaji lebih jauh.

  1. Dedikasi tanpa Batas
Mantan Mantan Karyawan Tan De Bakker di antaranya Pak Hadi, bu Corry, bu Sum,  bu Dedeh dan pak Joko telah berusia renta. Rata-rata usia mereka telah mencapai usia 70-80 tahun. Masa kerja mereka berkisar selama 30-40 tahun. Dengan tenaga yang sudah tak lagi fit, usia yang sudah renta dan kesehatan yang menurun mereka justru masih dapat menunjukan dedikasi yang tinggi pada perusahaan.

Saat ada pesanan membuat roti dari Mei, mereka rela bekerja lembur, begadang hingga pagi. Untuk mendukung berjalannya kembali proses pembuatan roti mereka dengan swadaya menyedia bahan-bahan. Demikian dengan dengan makanan karyawan para nenek bergantian membawakannya buat mereka.Saat Tansen mengkhawatirkan kondisi kesehatan para sepuh itu, pak hadi menjawab

“Sehat itu bukan Cuma urusan badan. Dalem sini lebih penting.” Ia menunjuk dadanya kamu piker kalo kami ini ndak ngapa-ngapain dan di rumah terus kaya pajangan, kami lebih sehat?” lanjutnya. “di sini kami bahagia kami bikin seuatu. Kami ngdak jadi pikun. Ngerti?” (Halaman 56-57)
       
Dedikasi mudah diucapkan namun sulit benar diterapkan. Bila mau jujur sudah maksimalkah waktu kita gunakan saat bekerja? Berapa jam yang terbuang untuk mencuri-curi mengakses media social seperti facebook, twitter, ksype dan lainnya? Lebih jauh apa kontribusi kita untuk perusahaan? Adakah nilai tambah yang dapat diberikan atau justru kita malam menjadi beban?

Menarik apa yang kembaliu dikatakan Pak Hadi, “Rumah adalah tempat di mana saya di butuhkan.” Dedikasi mustahil tumbuh tanpa rasa cinta. Para karyawan Tan De Bakker yang sudah sepuh-sepuh itu bernteraksi bukan Cuma sebagai partner kerja tapi juga keluarga. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Saat Tan De Bakker mulai collaps mereka rela tak di gaji, saat Tan De Bakker benar-benar ambruk mereka mereka  bersemangat membangkitkannya kembali.

  1. Adaptatif dengan Pekembangan Jaman
Tan De Bakker collapse bukan karena rasanya yang tak enak tapi karena strategi penjualannya yang ketinggalan jaman. Toko tersebut masih berpromosidari mulut ke mulut,  saat yang lain sudah menggunakan media online. Selain itu lokasinya hanya terdapat di satu tempat sedang yang lain telah membuka cabang di tempat-tempat lain. Tengok saja toko roti Fairly Bread milik Mei yang ditatak ekslusif di mall. Pak hadi yang baru kali pertama ke mall sampai terkesima di buatnya.

Menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman adalah cara untuk terus berkembang. Dengan begitu kita tak ketinggalan langkah dalam ‘berlari.’ Kalaupun tak lebih, paling tidak kita punya cara, strategi, usaha dan target yang sama dengan para competitor.

  1. Berani Mencoba Hal Baru
Tansen nyaris meninggalkan warisan Kakeknya melanjutkan usaha Toko Roti Tan De Bakker. Ia merasa tak memiliki kemampuan dasar membuat roti. Karena itu dirinya bermaksud meninggalkan toko itu dan kembali ke Bali untuk kerja serabutan seperti guide, instruktur surfing dan sebagainnya.

Tapi setelah diyakinkan oleh Pak Hadi iapun berusaha mencoba membuat roti. Hasilnya tak buruk bahkan dapat dikatakan berhasil. Roti buatan Tansen bentuknya mengembang dan disukai Mei sebagai pembeli pertama.  Pak Hadi berkata, “yang dibutuhkan toko ini bukan modal, Tansen. “ Ujarnya pelan. “kapanpun kami mau bikin roti, kami bisa. Tapi kami butuh pemimpin.” (Madre Halaman 37)

Peluang mustahil terbuka jika terus menutup diri. Mencoba hal-hal baru merupakan kuncinya. Adalah normal Langkah pertama mencoba niscaya dipenuhi ketakutan, langkah selanjutnya menjadi tantangan dan langkah-langkah selanjutnya adalah peluang.  Mencoba hal-hal baru akan membaut jadi kaya. Kaya tentu bukan dalam prespektif materi saja, tapi juga wawasan, pengetahuan, jaringan dan lainnya.
bila merasa takut, kawatir, tak pecaya diri atas hal-hal baru yang dicoba lantaran kita memang belum pernah menjalaninya.

Cerita Madre mengandung nilai-nilai probabilitas. Pesan moral di dalamnya secara pribadi memengaruhi saya sebagai pembaca. Menderasnya membuat saya tergerak untuk menjadi lebih baik lagi dalam berkarya baik di tempat kerja ataupun saat menulis.

14 Mei, 2013

Revitalisasi Braga Menjadi Jalan Budaya

Posted by Suguh Selasa, Mei 14, 2013, under | 3 comments



Mengembalikan kejayaan Jalan Braga merupakan suatu keniscayaan. Menjadikannya sebagai primadona wisata laiknya tempo dulu adalah suatu ikitad yang musti disikapi pula dengan antusias. Seperti disebut dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto, pada masa jayanya Braga dijuluki sebagai “de meest Europessche winkelstraat van Indie” atau komplek pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia-Belanda.

Ungkapan Paris Van Java atau Parisnya Jawa bermula dari jalan ini. Kehadirannya menjadi magnet bagi tiap orang tuk berkunjung. Sederet pertokoan elit dengan bangunan bergaya art deco khas eropa di sepanjang jalannya, membuat Braga memiliki nilai plus di banding jalan-jalan lain di Bandung saat itu. Glamor, elit, elegan dan berkelas adalah citra yang terdanding padanya.

Namun tak dapat dimungkiri seiring perkembangan jaman, pamor Braga lambat laun memudar. Proses modenerisasi di segala lini, menggilas peran Braga yang  sejatinya bukan cuma area wisata tapi juga kawasan bersejarah. Pemugaran bangunan tua yang serampangan, terbengkalainya gedung-gedung penting yang alpa dilestarikan, semrawutnya trotoar dan badan jalan, merupakan potret suram Braga masa kini. Lantas pertanyaanya, apa yang musti dilakukan guna menyikapi hal itu?

Dari Jalan Culik hingga Parisnya Jawa
Bila merunut asal usulnya, istilah Braga memiliki sejumlah versi. Dalam beberapa literatur kata Braga diyakini berasal dari nama sebuah perkumpulan drama Belanda yang didirikan Peter Sijthot, seorang Asisten Residen pada 18 Juni 1882. Pemilihan Braga sebagai nama kelompok diduga kuat diambil dari nama Theotilo Braga (1834 -1924), salah seorang penulis naskah pada perkumpulan drama itu. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama jalan yang kita kenal saat ini. selain itu ada pula pendapat mengemuka jika Braga berasal dari nama dewi puisi dalam mitologi jerman, Bragi.

Sedang para budayawan Sunda semisal MA Salmun, berpendapat jika istilah Braga berasal dari bahasa sunda yakni ‘baraga’, yaitu jalan yang ada di sepanjang sungai. Jika seseorang berjalan menyusuri jalan tersebut maka disebut dengan istilah ‘ngabaraga’.  Pada kenyataanya lokasi Jalan Braga memang terletak di tepi sungai Cikapundung

Terlepas dari beragamnya asal usul istilah Braga, menarik untuk mengkaji lebih dalam runutan sejarah yang mengantarnya hingga menjadi ikon Bandung. Seperti diungkapkan oleh Ir. David Bambang Soediono, Pengurus Bandung Society for Heritage Conservation, Bidang Lingkungan Alam dan Binaan dan Staff Pengajar di Universitas Parahyangan jurusan Arsitektur, di situs bandungheritage.com, secara singkat terdapat tiga hal yang melatar belakangi lahirnya jalan Baraga, di antaranya.

  1. Pembangunan Proyek Jalan Raya Pos yang digagas Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendles (1801-1811). Jalan ini terbentang dari Anyer di Provinsi Banten hingga Panarukan di Provinsi Jawa timur. Membentang sepanjang seribu kilo meter. Di kawasan Bandung, jalan ini menjadi cikal bakal jalan Jenderal Sudirman,  Jalan Asia Afrika  dan Jalan Ahmad Yani.

  1. Pada 1831-1870 pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik tanam paksa atau cultuurstelsel. Hal ini disebabkan karena kondisi keuangan Belanda yang morat marit setelah perang Diponegoro (1825-1830) dan perang-perang lain. Kopi merupakan salah satu hasil tanam paksa itu. Kopi tersebut kemudian dikirim ke tempat pengemasan atau Koffie Pankhuis yang berada di kawasan Balai Kota Bandung kini. Jaraknya kira-kira satu kilo meter sebelah utara Jalan Raya Pos.
  2. Dari Jalan Raya Pos terdapat jalan penghubung menuju Koffie Pankhuis. Jalan itu berlumpur dan becek. Karena sering di lewati pedati yang bolak balik ke tempat pengemasan kopi tuk mengantar hasil bumi maka di kenal sebagai nama Karren Weg atau Jalan Pedati sebelum Abad ke 20. kerena kerawanannya akan aksi kejahatan  jalan ini pun di kenal sebagai jalan culik, kelak kehadirannya menjadi cikal bakal Jalan Braga.
Karrenweg, cikal balak Bragaweg atau jalan Braga
 Mulanya, tak ada yang menyangka jika jalan sepanjang 700 meter ini akan menjadi kawasan paling Elit di Hindia Belanda. Denyut perbahan mulai terasa saat berdirinya toko kelontong De Vries. Para petani Priangan keturunan Belanda atau dikenal dengan Preanger Planters kerap mengunjunginya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kemudian kehadiran mengundang toko-toko lain bermunculan di Braga. Hal itu membuat pamor Braga melesat memasuki awal abd ke 20.

Apalagi pada 1906 dibuat peraturan standar bangunan toko di jalan tersebut, di mana  bentuk mulai dari klasik hingga arsitektur modern. Dikutip dari  situs pda-id.org, perombakan pada bangunan-bangunan di Jalan Braga dilakukan setelah tahun 1920-an secara drastis. Gemeentebestuur atau pemerintah kotapraja Bandung mengeluarkan aturan jika tiap rumah dan toko di jalan itu harus didisain dalam gaya Barat termoderen pada era itu. Dalam perjalanannya banyak para arsitek terlibat. Antara lain bangunan-bangunan rancangan RA de Waal, Bennink, Brinkman, Gmelig Meyling, Trio arsitek Bel-Kok & Piso. Tapi yang paling banyak adalah karya dua bersaudara arsitek Prof Ir Richard LA Schoemaker dan adiknya, Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker. Sejak itu berbondong-bodonglah para pengusaha keturunan Eropa untuk mendirikan toko di Braga

           
Onderling Belang, salah satu toko elit di Braga
 pada masa jayanya
Jalan Braga sendiri mencapai puncak kejayaanya pada periode 1920-1930. Apalagi setelah wali kota Bandung saat itu  B. Coops menginginkan Braga jadi pusat pertokoan eksklusif bergaya barat di Hindia Belanda dengan hanya menjajakan barang-barang lux. Braga menjadi satu-satunya tempat dalam menunjukan life stile yang mewah kalangan elit saat itu khususnya orang Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.
Mereka menjadikannya sebagai pusat politik, intelektual, seni, budaya hingga hiburan.

            Untuk memfasilitasi para Preanger Planter kaya dan kaum elit Eropa lainnya dalam bersosialisasi di bentuklah societeit Concordia yang kini menjadi gedung Merdeka. Selain itu terdapat pula toko-toko elit semisal Butik Au Bon Marche, yang cuma menyediakan pakaian impor dari Paris. Selain itu ada pula toko jam Stocker yang cuma menyediakan jam buatan Swiss.  Kemudian terdapat toko bunga Van Doup, Fuchs & Rents yang merupakan toko mobil pertama di Hindia Belanda sampai penjahit August Savelco yang menjadi langganan figure-figur terkenal macam JP. Coen dan Bung Karno. Mengunjungi Braga saat itu menjadi gengsi tersendiri karena demikian elitnya jalan tersebut.

Pokok Masalah
Begawan sastra Khalil Gibran berkata, “Tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri”. Begitu pula dengan Braga. Seperti disampaikan pada bagian awal, seiring perkembangan jaman perlahan pamor Braga meredup. Mengutip situs berita arafuru.com, Sejak warga Belanda dan Indo-Belanda hengkang dari kawasan tersebut pada 1957 jalan tersebut berangsur sepi. Pembangunan di Bandung kemudian membuat keramagia kota tak tersentra  pada satu titik.  Bermunculan komplek pertokoan baru yang menggeser posisi Barga sebagai tempat favorit. Sebutlah arena pertokoan Delam Kaum, Bandung Indah Plaza, Paris Van Java, Cihampelas dan lain-lain.

Masih menurut arafuru.com, bahkan sejak 2005 sebanyak 45 persen pemilik usaha sekitar Braga gulung tikar alis menutup usaha. Akibatnya bangunan-bangunan bersejarah terbengkalai dengan kondisi menyedihkan. Sebagai contoh adalah gedung Sarinah atau Onderling Belang. Baik bagian luarnya telah dipenuhi lumut dan tumbuhan liar. Hal lebih menyedihkan adalah tak tampak lagi atap pada gedung tersebut. Sedang untuk menyembunyikan kekumuhannya hanya ditutupi oleh dinding seng yang penuh dengan coretan dinding. Padahal pada masa jayanya Onderling Belang murupakan toko yang menyediakan kain kualitas impor.

Nasib toko Onderling Belang kini
Selain itu sebut saja toko Hellerman yang dibangun pada 1894 hingga 1896. Pada 2010 lalu kubah gedung ini roboh. Beruntung, meski reruntuhan bangunan jatuh ke trotoar namun tak menimbulkan korban luka. Seperti diungkapkan David Bambang Anggota Bandung Heritage Bidang Lingkungan, pada masa jayanya toko tersebut menjual segala kebutuhan sehari-hari hingga senapan dan peluru. Hingga 1998 bangunan itu dipakai oleh Modern Foto. Namun "Sesudah krismon (krisis moneter) gedung itu tak berpenghuni, pohon-pohon di atapnya mulai tumbuh,"  kata David lagi. Kalaupun toh bangunan-bangunan itu masih berdiri hal amat disayangkan adalah identitansya yang telah hilang. Di mana bangunan-bangunan itu secara serampangan dirombak oleh pemiliknya dengan gaya modern atau menghalanginya dengan papan-papan reklame yang sifatnya komersial.

Adapun masalah selanjutnya di luar bangunan taua namun tetap memiliki kaitan sejarah adalah masalah badan jalan. Pada masa colonial Belanda Jalan Braga dilapisi aspal hot mix. Sampai kemudian muncul ide yang dicanangkan Pemerintah Kota Bandung untuk menggantinya dengan batu andesit. Revitalisasi jalan Braga ini memakan biaya sekitar 2,8 miliar rupiah yang berasaldari APBD 2008. Niat baik tuk menjadikan Kawasan Braga sebagai pedestrian yang tertutup bagi kendaraan bermotor sempat memunculkan harapan.

Jalan andesit, cuma buang-buang anggaran
kalau tak tepat penggunaannya
Namun sayang, jalan andesit itu kini rusak di sana sini. Kendaraan bermotor masih meraja di atasnya sedang pedestrian tak kunjung terwujud. Problem yang muncul kemudian umpama lingkaran setan. Perbaikan terus dilakukan tiap kali terjadi kerusakan jalan. Hal tersebut membuat anggaran terus juga keluar saban waktu. Terkesan buang-buangan anggraan dan mubazir. Dikutip dari blog komunitas sejarah aleut, padahal sebelum dirubah jadi jalan andesit karena kualitas aspalnya yang sangan baik.“Seorang pemilik toko di Braga bahkan mengatakan belum pernah mengalami sedikit pun kerusakan jalan di Braga sejak 25 tahun terakhir ini,” demikian tulis komunitas itu dalam 

 Sedang masalah selanjutnya adalah area parkir yang terbatas. Unit usaha di Braga pada dasarnya membutuhkan ruang untuk mengakomodasi tamu yang membawa kendaraan bermotor. Namun karena kerebatasan tempat maka digunakanlah sisi badan jalan . Akibatnya, ruas jalan yang sempit jadi bertambah sempit. Hal lebih mengenaskan tak jarang trotoar yang sejatinya domain para pejalan kaki digunakan pula untuk parkir khususnya kendaraan roda dua. Saat pejalan kaki terusik kenyamanannya, trotoar menjadi tak terawat, kotor, bahkan kumuh.


Memprihatinkan .Parkir kendaraan yang semrawur bi Braga
Hal ini berbeda dengan dengan perhatian pemerintah Hindia Belanda pada masa lalu. Amun Syarif salah seorang warga Bandung dan juga pelaku sejarah mengungkapkan kenangannya tentang braga. Menurutnya, “Saat itu, setiap pukul 02.00 WIB Jalan Braga selalu dibersihkan dengan sebuah truk tangki khusus yang menyemprot kan air ke jalan dari ujung ke ujung.”

Mewujudkan Art Distric
Mengembalikan kejayaan Braga bukan sekadar angan-angan, namun merupakan suatu keniscayaan. Karena itu dibutuhkan real action guna mewujudkannya. Adapun rencana kemudian musti dirumuskan agar hal tersebut dapat mencapai hasil maksimal. Bukankah gagal membuat rencana sama dengan merencanakan kegagalan?

Bila menilik potensi, sudah selaiknya Braga dijadikan kawasan pedestrian sepenuhnya. Memadukan kawasan wisata sejarah dan industri kreatif musti pula dipikirkan. Bukankah selama ini Bandung di kenal sebagai kota kreatif yang tak hanya sanggup menarik para turis berdatangan tapi juga mendatangkan keuntungan finansial. Sedang kota ini sendiri hingga kini belum memiliki kawasan pedestrian laiknya kota-kota besar di  negara lain seperti Turki, Prancis atau Jerman, apalagi yang terintergrasi dengan kawasan kota tua. 

Bangunan tua tak bertuan.
Mustinya diambilali Pemkot dan dipugar
Guna mewujudkannya, kita dapat mencermati hal-hal berikut. Hal paling esensial adalah mengembalikan Braga yang telah berganti rupa itu ke wajah aslinya. Dengan kata lain musti dilakukan revitalisasi bangunan bersejarah yang terdapat di sepanjang jalannya. Hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, menjelaskan bahwa Cagar Budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, Kawasan Cagar Budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau (http://elib.unikom.ac.id/)

Perlu kerja sama antara antar semua pihal yang terlibat dan memiliki kepentingan. Sebut saja Pemerintah, Sejarahwan, Arsitek dan pemilik bangunan. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan publik dapat meminta bantuan dari sejarahwan dan Arsitek yang lebih kompeten mengenai konsep revitalisasi bangunan di Braga dengan wajah aslinya. Hal itu diharapkan dapat menjadi semacam rem untuk para pemilik bangunan. Selain tidak melakukan pemugaran secara serampangan, mereka juga bisa sadar akan nilai sejarah atas bangunan yang mereka tinggali.

Perhatian sama kita harapkan terjadi pula pada bangunan-bangunan lain dengan status tak bertuan. Bangunan-bangunan tua tersebut dapat diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah kota. Keberadaannya dapat dialih fungsi seperti menjadi museum jalan Braga, yang merupakan centre point di mana pengunjung dapat mengetahui sejarah Jalan ini dari awal hingga masa kini, lengkap dengan koleksi barang-barang bersejarahnya. Atau dapat dijadikan pula sebagai ruang pertemuan para pemuda tuk berdiskusi, bertukar pikiran, melakukan bermacam akfitas misalnya bedah buku, pelatihan motivasi atau kegiatan kesenian

Setelah itu hal lain yang kemudian musti dilakukan adalah menutup jalan Braga sepenuhnya dari kendaraan bermotor. Merupakan suatu impian bisa memiliki kawasan pedestrian seperti Marie Platz atau Plaza Maria di Munchen Jerman, di mana para pejalan kaki dapat menyusuri kawasan pedestrian sembari menikmati pertunjukan seniman jalananan macam menjumpai para pemain band unplugged, pemain biola dan bas dan lain-lain. Atau kawasan Grotte Markt di Brussel Belgia dimana pengunjung pada menikmati pedestrian dengan nuansa kota tua dengan nuansa gothic  berusia seribu tahun.

Berkaitan dengan proses sterilisasi jalan, kita musti memerhatikan hal-hal berikut. Pertama adalah jalan yang disterilkan dari kendaraan bermotor, akan mengundang keramaian para pejalan kaki. Sedang keramaian itu sendiri berpotensi menarik kehadiran para Pedagang Kali Lima. Bukan tak mungkin jalan yang sudah nyaman, kembali jadi sembrawut. Kita dapat belajar dari kasus car free day di kawasan Dago tiap hari Minggu. Di mana para PKL mulai mendominasi trotoar yang mustinya hak para pekalan kaki itu. Karena itu musti dilakukan pengawasan intensif oleh petugas kemanan, sebutlah Satuan Polisi Pamong Praja yang konsisten agar para pedagang tak makin menjamur di Braga Kelak.

Malasah kedua adalah soal transportasi. Seperti diketahui saat ini badan jalan dan trotoar Braga masih digunakan untuk parkir. Pemilik  usaha dan pengunjung memang memiliki kepentingan tuk memarkirkan kendaraan mereka di lokasi yang dirasa dekat dan nyaman tempat usaha. Namun guna mendukung Braga sebagai kawasan pedestrian tertutup, maka perlu dipikirkan solusi alternatifnya.

 Menyiapkan sarana pendukung adalah hal utama. Area parkir selaiknya di sediakan di luar Braga semisal di kawasan dalem kaum, alun-alun atau Wastu Kencana. Guna menjakau Braga dari kawasan-kawasan tersebut dapat menggunakan kendaraan alternatif seperti trem dengan model klasik atau monorel seperti di Singapura. Memang di butuhkan  investasi tak sedikit untuk hal ini. Tapi modal yang dikeluarkan sebanding dengan keuntungan yang diperoleh kelak. Kendaraan lain yang bisa di gunakan adalah delman seperti yang terdapat di kawasan kota tua Salzburg, Austria.

Hal terakhir yang juga amat penting adalah aktifitas apa yang kelak dan di helat di Braga setelah jadi pedestrian? Bandung merupakan gudangnya insan-insan kreatif baik yang bersifat individu ataupun kelompok. Seniman-seniman besar banyak lahir di kota ini. Oleh sebab itu menjadikan Braga sebagai jalan budaya atau art distric amat potensial nilainya.

Street Performance di Jalan Braga
mustinya tak hanya saat Braga Festival saja
tapi bersifat permanen
epanjang jalan Braga selaiknya diisi oleh berbagai macam pertuntukan seni jalanan atau street performance baik itu tradisional ataupun modern. Dengan begitu warga kota dapat menikmati berbagai aktifitas kesenian. Sebutlah macam pertunjukan music klasik, pantomim, sulap, pencak silat, karinding dan lain sebagainnya. Aktiftas ke arah itu sebetulnya sudah tampak pada event tahunan Braga Festival yang di helat tiap tahun sejak 2005. Event ini selalu menarik banyak berangkat dari hal itu, telah cukup cukup menjadi modal tuk mematenkan Braga sebagai kawasan pedestrian berbasis aktifitas seni.

Menggapai keniscayaan
Mewujudkan kawasan Braga sebagai kawasan pedestrian bukan merupakan hal tak mungkin. Wisata sejarah dan aktifitas seni merupakan potensi yang kan menarik para pengunjung ke kawasan itu. dengan fasilitas pendukung yang mumpuni makin membuka peluang bagi Braga tuk kembali pada masa jayanya. Perlu kesadaran dan kerjasama antar komponenkota seperti masyarakat, swasta dan pemerintah. Sinergi mutlak musti digalang, bila menghendaki Braga kembali pada masa jayanya.

 Daftar Pustaka
http://palingindonesia.com/pudarnya-popularitas-braga/
http://bataviase.wordpress.com/2007/07/05/mengenang-pedestrian-eropa-untuk-kota-tua/
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/09/09/ngabaraga-di-jalan-tua-braga-491505.html
http://jalan2.com/city/bandung/jalan-braga/   
http://aleut.wordpress.com/2010/03/13/revitalisasi-kawasan-wisata-kota-tua-bandung-menghidupkan-kembali-raga-jalan-braga/
http://hensyam.com/2007/08/31/renungan-hari-kelahiran/
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/09/09/ngabaraga-di-jalan-tua-braga-491505.html
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=sejarah+jalan+braga+%26+julukan+parijs+van+java&dn=20090813144821
http://www.indonesiakaya.com/see/read/2011/11/13/815/20008/1/jalan-braga
http://arafuru.com/lifestyle/wisata-bandung-bernostalgia-di-jalan-braga.html
http://blogketinggalanzaman.blogspot.com/2013/02/bandung-tempo-doeloe-sejarah-seabad.html
http://www.pda-id.org/library/index.php?menu=library&act=detail&gmd=artikel&dkm_id=20000001&start=30
http://jurnal-is-me.blogspot.com/2011/11/jalan-braga-gagalnya-sebuah.html
http://m.inilah.com/read/detail/1210282/paris-van-java-sebenarnya-ada-di-jalan-braga
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/533/jbptunikompp-gdl-eviearisan-26612-5-unikom_e-v.pdf
http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/11/11/29/lvezn5-austria-tingkatkan-status-diplomatik-palestina

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog