18 Desember, 2010

MENGHIRUP 'CANDU' TIMNAS

Posted by Suguh Sabtu, Desember 18, 2010, under | 1 comment


pulang kerja saya pergi ke kampus. Sore sore sampai disana. Saya sudah janjian dengan kawan untuk bertemu. Seperti biasa saya naik angkot dari Panorama menuju Cikutra. Dalam angkot orang orang ramai benar bicara soal Timnas Indonesia. Sekumulan mahasiswa kira kira jumlahnya tujuh orang, yang saya terka baru pulang kerja paruh waktu hampir sepanjang jalan membahas soal kemenangan tim kesayangan mereka itu. Mereka bicara soal Bachdim, Bambang, Gonzales, Okto, Arif Suyono penuh rasa optimis. Salah satu dari mereka bilang nanti bisa jadi dia pergi kemana mana tidak akan pakai Baju Barca atau MU lagi tapi baju Timnas. Yang lain juga bilang permainan Timnas ketika lawan Filipina amat heroik. Inilah pencapaian terbaik Indonesia secara kolektif sebagai timnasional.

Habis ngobrol tak keruan bersama kawan kawan dikampus dan makan sama sama. Saya pulang naik angkot lagi. Dua orang mahasiswi kembali bicara soal timnas. Saya terka mereka sebenarnya jarang nonton main bola, karena salah menyebut beberapa nama pemain, tapi apa yang mereka bahas merupakan perwujudan atas rasa bangga bada sebuah tim yang sekalipun tak pernah jadi juara AFF dan kini tiba tiba berubah menjadi monster menakutkan bagi lawan lawannya.

Bangsa ini, termasuk saya dan juga mahasiswa mahasiswa dalam angkot tadi sedang merasakan apa yang disebut dengan eouforia. Tim kami tak terkalahkan bahkan selalu menang dalam setiap pertandingan di AFF Cup. Bagi kami monetum ini jadi semacam angin segar dalam kehidupan mayoritas rakyat yang karut marut. Rakyat yang saban hari jengah dengan persoalan hidup seperti kemiskinan, biaya pendidikan selangit, pelayanan kesehatan yang buruk dan sederet masalah lain seperti menemukan oasisnya. Rakyat yang geram karena sikap birokrat yang tingkahnya lebih mirip pedagang ketimbang negarawan lantaran sibuk dengan pencitraan semu, rakyat yang jengah melihat pemimpin rabun nilai nilai lantaran hidup bermewah mewah menggunakan pajak negara, dan rakyat yang bosan melihat makin bobroknya tatanan birokrasi, kini dapat menemukan apa yang disebut dengan pelarian.

Bangsa ini seolah olah dibuat ‘sakaw’ atau bisa juga dikatakan ‘fly’ atas raihan positif yang terlah dicapai oleh Timnas. Firman Utina dan kawan kawan menjadi candu yang memabukan hingga rakyat seolah melayang layang dalam gegap gempita euforia AFF Cup. Volume pede mereka melonjak beberapa digit dan kini tak sungkan lagi untuk mengaku sebagai bangsa Indonesia bila ada yang menanyakan asal usul bangsa mereka.

Sejenak rakyat melupakan soal kasus Gayus yang terkenal jayus itu. Sirkus ala gayus amat konyol tapi tak sedikitpun membuat kita tertawa. Seorang pesakitan yang ditahan lantaran terjerat kasus suap bisa melenggang ke Bali untuk menonton pertandingan tenis. Gayus memang jayus. Buktinya ia membuktikan betapa kekuatan uang bisa meruntuhkan benteng integritas kepolisian RI. Dinginnya dinding sel MAKO BRIMOB ditembusnya dengan kekuatan uang.

Kita bisa melupakan pula untuk sejenak kisruh Sultan Jogja dengan pemerintah pusat. Pernyataan soal monarki dan demokrasi serta usulan untuk memilih gubernur Jogja secara langsung benar benar telah membuat rakyat jogja geram. keistimewaan jogja seakan tercabik atas pernyataan itu. Terlebih saat Gamawan Fauzi menyatakan bila aksi menentang pemilihan langsung sultan sebagai gubernur beberapa waktu lalu tidak merepresentasikan suara mayoritas rakyat jogja sendiri.

Bagi rakyat miskin (berpendapatan dibawah Rp 6000/hari), kedigjayaan Timnas adalah pelarian dari segala macam kemelaratan. Gol gol cantik El Loco dan kawan kawan sejenak menepis rasa lapar mereka yang selama ini tak tertahankan. Sejenak hutang dan kreditan sandang pangan terlupakan, sejenak pula biaya kosan perbulan, biaya pendidikan anak anak dan problema pekerjaan yang tak kunjung diraih pun diganti dengan sorak sorai bahagia dan teriakan yang lepas.

Tak ada yang tahu apakah Timnas akan jadi kampiun atau tersingkir. Paling tidak inilah hiburan bagi 250 juta rakyat. Semua bersinergi tanpa lagi melihat asal usul, identitas, rasa atau agama demi satu nama, Indonesia. Tak ada yang tahu apakah Timnas akan jadi kampiun atau tersingkir. Untuk sementara, biarlah rakyat melayang layang dalam euforia. Sebelum kelak mereka kembali menjalani hidup yang biasa dijalanani. Sebelum mereka kembali menginsyafi betapa getirnya kenyataan.

14 Desember, 2010

GARUDA SIAGA

Posted by Suguh Selasa, Desember 14, 2010, under | No comments

Tim Nasional Indonesia kembali akan berlaga dalam lanjutan AFF Cup 2010. Setelah menggasak Malaysia, laos dan Thailand dibabak penyisihan group A, disemifinal Firman Utina dan kawan kawan ditantang Filipina. Kendati kedua pertandingan semifinal digelar di Jakarta pada 16 dan 19 Desember mendatang, para ponggawa garuda sudah semustinya tetap waspada.

Lantaran Kiprah Filipina pada AFF Cup kali ini terbilang fenomenal. Skuad Simon McMenemy berhasil mengalahkan tuan rumah Vietnam 2-0 pada fase penyisihan Grup B. selanjutnya mereka menahan imbang Myanmar 0-0 dan Singapura 1-1. Dalam sejarah AFF Cup inilah kali pertama Filipina melaju ke babak semifinal.

Kesuksesan Filipina tak lepas dari ikhtiar naturalisasi yang mereka lakukan. ‘Tim bajak laut’ merekrut delapan pemain asal Inggris. Diantaranya ialah Robert James Dazo Gier yang sempat membela tim liga Premier Inggris Wimbeldon pada musim kompetisi 1999-2000. Selain itu terdapat pula James Younghusband. Striker berusia 23 tahun ini merupakan pemain binaan Chelsea. Di tim sebelumnya ia menjadi pemain tim cadangan dengan bermain sebanya 62 kali dan mencetak 14 gol. Dibawah mistar gawang terdapat Neil Leonard Dula Etheridge, pemain Inggris keturunan Filipina. Neil pernah bermain untuk tim nasional U-16 Inggris. saat ini ia merumput untuk Fulham.

Selain nama nama tadi, Filipina masih Jason De Jong yang menjadi gelandang, Ray Anthony Jonsson di bek kiri, Manuel Ott. sebagai Gelandang, dan Alexander Charles Luis Borromeo berposisi sebagai gelandang bertahan. “Mereka memiliki pertahanan yg bagus. Jadi mereka akan menyulitkan kami di dua pertandingan semifinal nanti,” kata Riedl. Sementara direktur teknis PSSI Sutan Harharah mengatakan dengan kekuatan delapan pemain naturalisasi Filipina memiliki kualitas istimewa. Duo Younghusband, James dan Phill misalnya, meski tak didukung pemain tengah mampu menerobos ke jantung pertahan lawan.

Optimis
Kendati akan menghadapi ujian berat, rasa optimis tetap dirasakan insan sepak bola nasional. Pelatih Persija Jakarta Rahmad Darmawan mengatakan, “Saya yakin timnas dapat memetik kemenangan dari Filipina karena materi pemain yang ada saat ini sangat menyakinkan." Menurutnya. Masih kata Rahmad, “Saya berharap pemain tidak terbebani atas besarnya pengharapan masyarakat terhadap mereka. Jika mereka terbebani, tentunya permainan seperti babak penyisihan tidak akan keluar," sementara mantan pelatih timnas Benny Dolo menjagokan Indonesia dengan prosentase 55: 45.


Sumber
http://witho-sang-pembual.blogspot.com/2010/12/prediksi-indonesia-vs-filipina.html
http://www.tribunnews.com/2010/12/09/mengintip-kekuatan-timas-filipina
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/12/11/pelatih-timnas-indonesia-akui-filipina-kuat
http://bola.liputan6.com/international/201012/311213/Rahmad.Darmawan.6040.untuk.Indonesia
http://www.tempointeraktif.com/hg/sepakbola/2010/12/10/brk,20101210-298021,id.html

05 Desember, 2010

SURAT CINTA BUAT CORRIE

Posted by Suguh Minggu, Desember 05, 2010, under | 3 comments


Corrie sayang,
Asal kau tahu
Dinegri ku
Mahasiswa mahasiswa rajin benar belajar
Lulus tepat waktu
tapi anehnya malah bertambah dungu
Waktu kuliah mereka menyontek
Waktu bekerja mereka korupsi
Makin sempurnalah pertunjukan sirkus
dinegri ku ini, Corrie
Lantaran para bromocorah
girang nian jumpalitan main akrobat
diatas toga dan piagam kelulusan mereka

peluk cium terdalam
Suguh

30 November, 2010

CATATAN SEORANG MAHASISWA TUA

Posted by Suguh Selasa, November 30, 2010, under | 1 comment

saya jadi ingat kata katanya Hok Gie kalau sejarah manusia adalah sejarah pengkhianatan. Apakah tanpanya sejarah tak akan lahir? Kebenaran hanya ada dilangit dan dunia adalah palsu. Palsu.

Sebentar lagi saya lulus kuliah, sebentar lagi saya bukan mahasiswa. Tinggal menulis tugas akhir, ujian sidang dan lulus. Rasanya baru kemarin saya mengijak kampus dan sekarang segalanya akan berakhir. Masih kata hok Gie lagi, semua kembali pada hari yang biasa, pada masa yang telah kita ketahui. Nanti tidak akan ada lagi kuliah, diktat diktat dan ujian. segalanya berakhir dan saya akan menjalani hidup sebagai orang yang biasa.

Tapi pengalaman kemarin dapat menjadi tapal batas paling maksimal atas nilai nilai yang telah diperjuangkan. Karena perkara kuliah bukan Cuma perkara belajar saja tapi juga perkara moralitas. Menjelang lulus masih banyak benar bajingan bajingan tengik tukang menyontek, mahasiswa mahasiswa penjilat dan tukang cari muka berkeliaran di kampus. Dan sialnya mereka menjadi pemimpim pemimpin mahasiswa. saya terang terangan melihat ketika ujian presiden mahasiswa menyontek dikelas diikuti oleh mahasiswa lain yang juga melakukan hal serupa. Seorang pengwas yang ‘baik hati’ mengijinkan kami membuka buku (padalah dilarang) karena mahasiswa mahasiswa yang diawasi terlihat kebingungan mengahdapi soal ujian. Tapi demi tuhan kawan, langit dan bumi menjadi saksi dan apa yang saya katakan akan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah, saya tak lantas ikut ikutan membebek menyontek. Saya tak selembarpun membuka buku waktu itu.

Ada juga kejadian waktu saya dan kawan dekat saya mau dipukuli oleh panitia ospek. Luar biasa kawan mungkin jumlahnya sepuluh sampai lima belas orang. Pasalnya waktu itu kami bersama kesatuan aksi menyebarkan buletin ilegal, atau bisa disebut gelap. Didalamnnya terdapat konsepsi kami soal ospek. Bagi kami ospek tak melulu musti harus betendensi feodalistik dan menindas. Hal paling esensial adalah melakukan kaderisasi. Uang hanya akan mubazir bila dibelikan barang barang remeh temen seperti karton, tas kantong terigu, pita, balon dan lain lain. Pelatihan motivasi dan kepribadian jauh labih pas untuk disampaikan pada mahasiswa baru ketimbang bentakan.

Apa yang saya alami dengan Dhiora adalah terror, intimidasi, kekerasan psikologis waktu itu. Kami tidak merasa dielilingi oleh kumpulan mahasiswa tapi bandit. Dikatakan bandit karena sudah jumlahnya banyak mereka bicara kasar dan sarkas. Untunglah kami bisa keluar dengan elegan dari kondisi serba menjepit macam itu. Lebih jau soal Dhiora, dia sering benar dimaki makidi facebooknya. Tak terhitung kawan banya benar hinaan yang haru di dapat karena selama kuliah bersikap objektif. Tapi Kawan tionghoa saya ini tetap bergeming dan bertahan pada nilai nilai kebenaran yang dia pegang.

Pernah suatu waktu ada dua orang bernama Doni dan Roni memaki maki dhiora difacebook. Bosan lantaran makian mereka, secara terang terangan saya tantang mereka untuk berdebat secara elegan diruang public. Saya tantang mereka bicara langsung di Radio Rapublik Indonesia dan disaksikan oleh elemen elemen gerakan mahasiswa sebandung raya. Setelah itu mereka hilang. Tak pernah muncul lagi.

Soal kuliah adalah soal moralitas kawan, tak mestilah orang yang IPKnya tinggi itu dalah seorang intelektual sejati. Karena bisa jadi dia sekedar seorang bajingan tengik yang menghalakan segala cara untuk mendapat nilai baik. Efeknya tentu saja pada kualitas lulusan. Meeka yang lulus belum tentu kompeten. Dan masyarakat tak mengenal kata ampun dalam berkompetesi. Lingkungan yang lebih real menuntut kompetensi bukan selembar ijazah yang sarat dengan nilai nilai palsu.

Dalam hal berkawan, mereka yang setia adalah mereka yang ada ketika kita menangis bukan Cuma tertawa. Dan hal itu saya dapat dari Sari yang nyentrik, Tyo yang totaliter, Dhiora yang amuk amukan atau arul dan wildan yang pendamai. Perahabatan tidak lagi ditakar dengan materi tapi loyalitas, maka kami lebih berhubungan lebih dekat dari saudara sekalipun. Pernah suatu kali saya tak punya uang untuk bayar kuliah, pikiran saya kalut sekali. Padahal semester baru sementar lagi akan dimulai. Lalu dhiora lah yang menalangi kekurangan uang kuliah saya. sarilah yang menjari saya betapa pahit rasa penghkianatan. tyo mengajarkan saya soal loyalitas.

Selebihnya diluar kuliah saya lebih banyak gila gilaan dengan kawan kawan saya ini, main keluyuran sampai subuh, nonton ke Bioskop, makan makan di Punclut, karaoke atau Cuma duduk dibukit bintang. Bermain adalah pelarian dari lingkungan yang naïf. Bermain adalah wahana melepaskan diri dari masalah yang bertumpuk tumpuk.

Setelah lulus nanti saya tak muluk bermimpi. Saya tak terlalu ngebet ingin jadi orang kaya, saya Cuma ingin menjadi berguna saja buat lingkungan. Seperti waktu kuliah, saya ingin kembali merumuskan konsepsi yang tepat guna buat masyarakat. Saya bermimpi membuka sekolah, pengobatan dan pendidikan Cuma Cuma. Saya bermimpi ingin membantu banyak orang tanpa dibarengi embel embel materi. Berbuat tak musti pula bergabung dalam partai. Karena sebgian orang partai juga bajingan. Saya mungkin akan menjadi guru, penggiat LSM aekaligus jadi penulis buku. Saya mungkin akan mengajak kawan kawan saya waktu kuliah untuk ikut berjuang. Tapi kalaupun toh saya harus berjuang sendiri, saya akan berjuang sendiri saja. Tak jadi soal lah masalah jumlah karena hal paling penting adalah kita suda mulai merumuskan konsepsi dan mulai bergerak.

28 Oktober, 2010

ISLAM, PENDIDIKAN DAN PERADABAN

Posted by Suguh Kamis, Oktober 28, 2010, under | 1 comment

Selaiknya Indonesia dapat menjadi tonggak kebangkitan peradaban Islam. Potensi penduduk Muslim terbesar didunia serta dukungan kekayaan sumberdaya alam yang mumpuni membuat hal tersebut amat rasional untuk diwujudkan. Selain itu makin besar pula kerinduan umat untuk kembali merengkuh kecemerlangan Islam disegala bidang seperti masa kejayaan kaum Muslimin terdahulu. Namun persoalannya kemudian menjadi anti klimaks, karena alih alih berperan sebagai leader dan sumber inspirasi, negeri berjuluk zambrud katulistiwa ini justru menorehkan noda hitam pada perjalanan sejarahnya.

Kebangkitan Tinggal Harapan?
Degradasi moral masih menjadi bahaya laten bangsa kita. Meminjam istilah populer teranyar, pengaruhya dapat ‘berdampak sistemik’ terhadap eksistensi Indonesia secara lokal dan citra baiknya dimata dunia secara global. Demoralisasi yang sudah sampai pada titik paling mengkhwatirkan ini, nampak ditiap lini kehidupan.

Sebagai contoh, ditataran elit oknum birokrat sibuk memperkaya diri. Hal tersebut diamini oleh Adnan Topan Husodo, koordinator Bidang Informasi Publik ICW yang melansir kerugian negara karena korupsi pada 2006 mencapai Rp 10,6 Triliun (detiknews.com/19/7/06). Penggede penggede sekelas Sarjan Tahir, Al Amien Nur Nasution, Yusuf Erwin Faisal dan Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan (Kepulauan Riau) Azirwan yang menjadi tersangka dalam kasus alih fungsi hutan, atau mark up atas pembelian 2 buah helikopter PLC Rostov jenis MI-2 senilai Rp 12,5 miliar yang dilakukan Abdullah Puteh hanya sederet kecil kasus korupsi ditengah tirani ketidak jujuran yang menindas bangsa Ini (id.wikipedia.org/yahya_zaeni).

Sementara pelajar dan mahasiswa yang sejatinya dapat menjadi pembaharu justru melakukan keculasan serupa. Generasi muda kita tumbuh menjadi pribadi pribadi tanpa percaya diri. Hal ini kentara tiap kali ujian tiba. Ketimbang belajar, menyontek menjadi jalan instant untuk lulus tepat waktu. Sedang mahasiswa ‘malas’ dapat menjadi sarjana dengan skripsi abal abal (hasil plagiat atau bukan hasil karyanya sendiri). Didunia maya,terdapat situs yang mengkomersilkan naskah skripsi dengan harga Rp 450.000 dan Thesis Rp 1.750.000 . Pengelola menjual naskah naskah tersebut bak kacang goreng karena sambutan antusias para peminatnya yang datang dari berbagai kota besar diseluruh Indonesia. Terlepas dari etis atau tidak mengkomersilkan karya ilmiah orang lain, hal ini hanya membuat mahasiswa tumpul daya analitisnya, menjadi pencuri ide orisinil dan penjiplak. Tentu belum hilang dalam ingatan kita kasus memalukan, soal guru besar yang memplagiat karya ilmiah hingga ia divakumkan secara tidak hormat dari aktivitas pendidikannya.

Lebih jauh generasi muda kita juga tumbuh tanpa jati diri. Arus globalisasi yang permisif tidak disikapi secara tangkas dan cermat. Jangankan mewarnai, yang ada justru malah terwarnai oleh perubahan zaman. ‘Pembebekan’ masal atas nilai nilai barat membuat mereka jadi konsumtif, royal serta mengedepankan eksistensi ketimbang substansi. Tidak dikatakan gaul kalau belum dugem dan glamoritas yang nampak dari pakaian atau aksesoris serba mahal menjadi tata nilai baru dikalangan anak muda. Bagi anak anak orang kaya, dengan sokongan materi orang tua tentu sangat mudah bagi mereka untuk memuaskan gaya hidup luxnya. Tapi untuk anak anak dengan kondisi ekonomi pas pasan jalan pintas kembali dijadikan pilihan. Kasus 20 siswi SMP Negri Tambora Jakarta Barat yang menjual keperawanan mereka seharga Rp 2-3 Juta, menguatkan sinyalemen kalau generasi muda kita sudah gelap mata terhadap materi, sekaligus menunjukan gejala sangat memrihatinkan. Karena menurut Luh Putu Ika Widani dari ‘LSM Kita Sayang Remaja’, disembilan kota besar yang telah ia teliti, dirinya menemukan angka kehamilan tidak diingkinkan pada remaja meningkat 150-200 ribu kasus per tahun. (bataviase.co.id/09/01/10).

Bila menilik sederet kasus diatas, mustahil kiranya mengharapkan kebangkitan peradaban Islam bangkit dan bermula di Indonesia. Tapi seperti dikatakan pemeo lama, “beter late than never”, kesempatan itu masih terbuka amat lebar kalau ada itikat kuat dari berbagai kalangan. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kamu bila kaum itu tidak merubahnya sendiri?

Mencari Akar Masalah
Koreksi fundamental fardhu’ain hukumnya dilakukan oleh umat Islam Indonesia. Reformasi pendidikan hendaknya menjadi sasaran utama. Seperti dikatakan oleh budayawan Ajip Rosidi, “Sistem pendidikan nasional di Indonesia masih mewarisi sistem kolonial. Perlu dilakukan perombakan total pada sistem pendidikan nasional agar bisa membentuk watak anak yang mandiri dan kreatif”( hati.unit.itb.ac.id).

Kebobrokan sosial disegala lini selama ini bermuara pada sistem pendidikan salah kaprah. Faktanya sekolah dan kampus hanya menjadi tempat untuk mentrasfer ilmu pengetahuan tanpa dibarengi pesan moral dan kemanusiaan. Peserta didik dicekoki seabrek pelajaran yang membuat mereka cerdas secara intelektual tapi bebal secara sosial. Tak heran bila kemudian muncul intelektual intelektual bermental kolonialistik seperti diungkapkan Ajip, karena mereka sekedar menuhankan kepentingan pribadi diatas pengabdian pada masyarakat. Alih alih menjadi kreatif dan mandiri, Kolusi, korupsi, nepotisme, pembodohan publik, pencucian uang serta segala hal tercela lain menjadi suatu kelaziman umum.

Agama Islam yang harusnya menjadi rem moralpun teralienasi dipinggiran. Sistem pendidikan sekuler tak menghendaki Islam memberi warna bagi para siswa dan mahasiswa. Seperti halnya minyak dan air, keduanya terpisah oleh jarak. Kalau berbicara soal pendidikan agama dilembaga pendidikan formal kita, tak lebih dari hafalan hafalan tahun dan tanggal, mengingat nama nama malaikat dan nabi atau menderasi bacaan shalat diluar kepala. Sedangkan esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin serta sifatnya yang tak terpisahkan ditiap sendi kehidupan tak pernah diajarkan secara mendalam. ‘Pendidikan agama sambil lalu’ terbukti tidak memberi dampak real pada kepribadian peserta didik. Generasi muda kita, seperti halnya robot justru makin tumbuh dengan pola pikir monoton, egois, dan rabun nilai nilai karenanya.

Pendidikan Islam Sebagai Solusi
Kedepan langkah langkah progresif musti dilakukan oleh umat Islam Indonesia. Karena sistem pendidikan formal kita masih bersifat sekuler, ada dua hal fundamental yang dapat dijadikan solusi.
1. Mendirikan Sekolah Dan Kampus Islam Unggulan.
Ditengah menjamurnya sekolah bertaraf internasional sudah waktunya umat Islam mendirikan banyak sekolah serupa. Kebijakan pro umat harus menjadi sumber motivasi terdepan. Indonesia Zakat and Development Report (IZDR) memproyeksikan penghimpunan dana ZISWAF tahun 2010 oleh semua OPZ akan berkisar antara Rp 1,025 triliun hingga Rp 1,395 triliun (hanumisme.wordpress.com/28/12/09).

Bila disalurkan secara produktif, dengan potensi dana semelimpah itu dapat dibayangkan berapa banyak sekolah dan kampus Islam bertaraf Internasional bisa dibangun ditiap kota di Indonesia. Selain kurikulum, pendidik dan iklim yang serba Islami, hal paling penting dari pendirian lembaga lembaga ini adalah tiap siswa dan mahasiswa tidak dipungut biaya sepeserpun. Selain dapat menyerap peserta didik yang cerdas tapi kurang mampu secara finansial untuk bisa meraih pendidikan terbaik, hal ini dapat menepis kesan kalau untuk masuk sekolah atau kampus unggulan harus mengeluarkan budget ‘selangit’, dan Islam bisa menjawab problema tersebut.

Diluar zakat masyarakatpun bisa berpartisipasi ekstra. Misalnya menggalang dana pendidikan sukarela. Koin peduli Prita atau koin cinta Bilqis yang disosialisasikan melalui facebook dapat menjadi contoh. ketika isu kemanusiaan diusung menjadi tema utama, tanpa diminta masyarakat merasa terpanggil untuk membantu meski hanya dengan sekeping koin. Lembaga dakwah kampus atau LSM Islam yang terbukti keamanahan serta komitmen dakwahnya dapat menghimpun dana itu, kemudian sepenuhnya dialokasikan untuk pendidikan.

2. Menyampaikan Nilai Nilai Islam Pada Tiap Mata Pelajaran
Bagi sekolah dan kampus formal yang sistem pendidikannya sekuler, pendidikan Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab Guru agama semata. Tiap pengajar dari dimensi ilmu yang beragam memiliki kewajiban serupa untuk menyampaikannya.

Sistem pendidikan di Saudi bisa dijadikan model. Menurut pakar pendidikan Erma Parwita sari, Kalau kita membuka buku sains SD yang menggunakan kurikulum negri kaya minyak itu, sebelum anak anak belajar tentang makan misalnya, mereka lebih dulu disuguhi firmal Allah yang mengingatkan betapa syukur dapat mengundang nikmat lebih besar dan kufur dapat mengundang azab yang pedih (QS. Ibrahim (14): 7). ”Betapa indahnya apabila anak-anak kita tidak hanya belajar tentang jenis-jenis makanan dan manfaatnya, tetapi juga belajar memahami makanan sebagai salah satu syukur nikmat Allah yang wajib kita syukuri.”, Papar Alumni Boston Universtity itu (myquran.com).

Meski tak semirip Saudi tentu hal ini bisa diterapkan juga di Indonesia dengan sedikit modifikasi. Seorang guru ekonomi selain mengajarkan neraca rugi laba, ia juga mengingatkan bahwa mencuri dan berbohong itu itu dosa besar serta para pedagang harus mengutamakan kejujuran ketika mereka berniaga. Seorang guru sosiologi, selain mengajarkan hubungan antar manusia, ia juga mededahkan hal kalau hijab antara laki laki dan perempuan hendaknya dijaga dan keperawanan adalah segalanya bagi tiap siswi. Seorang dosen planologi, selain mengajarkan bagaimana caranya menata kota dengan cakap, juga memberitahu para mahasiswa kalau penggusuran serta penyerobotan lahan adalah pealnggaran kemanusiaan dan setiap warga negara berhak diperlakukan dengan adil seperti termaktub dalam Al qur’an dan Sunah. Dan begitu seterusnya pada setiap latar belakang pendidikan.

Karenanya dibutuhkan para pengajar yang insyaf terhadap nilai nilai kaislaman. Mengajar bukan hanya untuk mentrasfer ilmu tapi juga berdakwah. Unsur materi tentu tidak dapat dielakan dari kegiatan pendidikan seorang pengajar, namun hal itu tidak mengalahkan idealismenya untuk menyampaikan hal penting bahwa Islam mencakup segala semdi kehidupan dan bila segala sesuatu diuar ibadah ritual dibarengi niat untuk mendapat keridhoan Allah, hal tersebut dapat medatangkan keutaan bagi para siswa dan mahasiswa.

Tonggak Awal Peradaban
Jhon W Newbern mengatakan, manusia dapat dibagi dalam tiga kategori, pertama, mereka yang membuat sesuatu terjadi. kedua, mereka yang melihat sesuatu terjadi. ketiga, mereka yang terkesima dengan apa yang terjadi. Dengan memaksimalkan potensi sekolah dan kampus Islam unggulan serta pendidikan Islam disekolah formal hal tersebut membuka harapan untuk mewujudkan cita cita kita diawal untuk menjadikan Indonesia sebagai tonggak kebangkitan Peradaban Islam didunia.

Hal tersebut menjadi sangat niscaya karena pendidikan menjadi pilar utamanya. Kelak kemudian hari, Istana Qazruzzabad nan agung tidak lagi muncul di Baghdad, istana megah Al Hambra tidak lagi muncul di Cordoba, Kerajaan Mulukuththawaif nan elok permai tidak lagi muncul di Sevilla, kota Sammara nan cantik dan apik tidak lagi muncul di sebelah timur sungai Tigris. Karena semuanya, beserta segenap ilmuwan, cendikiawan dan sumber pengetahuan paling mutakhir disegala bidang, berhimpun dan bermuara di Indonesia. Insya Allah.

21 Oktober, 2010

DEBAT MOMENT

Posted by Suguh Kamis, Oktober 21, 2010, under | No comments

Debat Moment bareng Bem ITB, UNPAD, UPI sama UNISBA @RRI Bandung. saya bilang, dari pada dengan amerika, lebih baik kita membuka hubungan diplomatik seluas luasnya dengan IRAN, VENEZUELA,BOLIVIA dan KUBA





20 September, 2010

DILEMA LAUT INDONESIA

Posted by Suguh Senin, September 20, 2010, under | No comments

Oleh Suguh Kurniawan

Ungkapan, “Jalasveva Jaya Mahe" atau “justru di laut kita jaya”, sepertinya tak terlalu populer bagi kebanyakan rakyat Indonesia. Kendati bermukim dinegara kepulauan yang memiliki sumber daya laut melimpah, tak serta merta membuat kita sebagai warga negara tergerak untuk menggarap potensinya secara optimal. Kegiatan agraris dan industrialisasi justru lebih gencar dilakukan. Karena itu Indonesia dengan lautnya ibarat raksasa tidur, yang menanti dalam waktu sangat panjang untuk dibangunkan.

Mencari Akar Masalah
Berdasarkan catatan, Indonesia memiliki panjang garis pantai 95.181 Km dan dengan luas laut 5.800.000 Km2. Sementara lebih kurang 17,505 pulau tersebar diatasnya. Selaiknya negara kepulauan, terdapat sumber daya yang luar biasa besar untuk dimanfaatkan.

Bila ditilik dari segi ekonomi, menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sarwono Kusuma Atmaja, “Letak geografis kita strategis, di antara dua benua dan dua samudra dimana paling tidak 70% angkutan barang melalui laut dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik, dan sebaliknya, harus melalui perairan kita” (bunyu-online.com). Lalulintas perairan yang padat dapat meningkatkan kegiatan ekonomi antar bangsa. Indonesia tentu menjadi pihak yang amat diuntungkan dalam hal ini. Sebab terbuka peluang untuk melakukan kerjasama dengan pihak asing dalam bidang kelautan.

Selain itu prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia dalam setahun mencapai 149,94 miliar dollar AS. Hal itu meliputi perikanan senilai 31,94 miliar dollar AS, wilayah pesisir lestari 56 miliar dollar AS, bioteknologi laut total 40 miliar dollar AS, wisata bahari 2 miliar dollar AS, minyak bumi sebesar 6,64 miliar dollar AS dan transportasi laut sebesar 20 miliar dollar AS (kompas.com)

Kendati demikian, tak berarti kehidupan menjadi rakyat sejahtera. Terutama bagi masyarakat pesisir yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Berdasarkan data Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikaanan (KIARA) pada 2003-2008, sekitar 1,2 juta nelayan meninggalkan laut. Mereka beralih profesi ke sektor lain seperti buruh bangunan, buruh pabrik atau tukang ojek. Mahalnya bahan bakar, jeratan tengkulak atau harga jual ikan yang rendah menjadi penyebabnya. Seperti disampaikan oleh salah satu aktifisnya Riza Damanik, jumlah nelayan hanya sekitar 2,8 juta kepala keluarga. Sangat timpang bila dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta.

Dilain pihak aksi pencurian ikan oleh pihak asing memperburuk keadaan. Masih menurut Riza, “Data (Kerugian: pen) terakhir sekitar US$ 2 - 4 juta. Kalau kita melihat dalam konteks pencurian ikan, kami mencatat setidaknya ada 10 negara yang secara konsisten aktif setiap tahunnya mencuri ikan kita.” Hal ini menunjukan bahawa fungsi pengamanan laut belum maksimal. Angkatan Laut Indonesia buktinya kalah sigap dengan para pencuri. Bukan rahasia bila armada perang kita dijuluki sebagai Angkatan Besi Tua. Indikasinya terlihat dari contoh kecil seperti, Indonesia hanya memiliki dua kapal selam buatan tahun 60an. Sedangkan Singapura yang luasnya tak lebih besar dari Kakarta memiliki tiga kapal selam fresh buatan tahun 2000an. Karenanya fungsi fungsi lainpun tak berjalan maksimal pula. Misalnya fungsi menjaga pulau yang jumlahnya banyak dalam area amat luas. Dengan armada yang tak memadai mustahil menjaga pulau tersebut secara maksimal. Kasus lepasnya Simpadan dan Ligitan merupakan contoh betapa lemahnya fungsi penjagaan kita.

Menilik hal hal diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia saat ini belumlah menjadi negara maritim tapi masih menjadi negara kepulauan. Karena menurut Pakar Hukum Laut Hayim Jalal, negara maritim adalah negara yang mampu mengelola sumber daya laut. Sedangkan negara kepulauan adalah negara yang terdiri dari banyak pulau (news.okezone.com). Hal tersebut dikuatkan pula oleh mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Sarwono Kusumaatmadja, “maritim merujuk pada kegiatan ekonomi yang terkait dengan perkapalan, baik armada niaga maupun militer, serta kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan itu seperti industri maritim dan pelabuhan.”

Menuju Negara Maritim
"Roda sejarah tidak bergerak maju mengikuti pola garis lurus; tetapi, apabila didorong oleh para pemimpin yang berketetapan hati dan terampil, roda sejarah pasti bergerak maju," ujar Huntington. Menjadikan Indonesia sebagai negara maritim memang pekerjaan berat. Namun bila semua pihak bersinergi untuk mewujudkannya hal tersebut tentu bukan hanya sebatas asa tapi benar benar niscaya. Apalagi romantisme historis mengatakan kalau bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut baik itu pada zaman kerajaan Sriwijaya sampai kerajaan Demak.

Hal paling krusial yang musti segera dibenahi adalah menambah armada laut. Pada zaman Bung Karno, angkatan laut Indonesia masuk dalam empat besar angkatan laut terkuat didunia bersama Amerika Serikat, Uni Soviet dan Iran. Saat ini meski skalanya tak mendunia, sudah saatnya melakukan hal serupa. Menambah armada laut termasuk personilnya menjadi hal penting. Fungsinya tak melulu bertujuan perang tapi mengamankan wilayah wilayah terluar tanah air dari klaim negara lain. Selain itu tingkat pencurian ikanpun dapat ditekan ketitk minumum. Penulis buku ‘Indonesia Negara Maritim’ Wahyono Sk mengatakan, “Angkatan laut, khususnya kapal perang tak hanya penting bagi eksistensi negara di pulau-pulau terpencil, tetapi juga memperkenalkan wujud nyata iintegrasi bangsa Indonesia melalui awak kapalnya. Pada kapal perang melekat kekuasaan negara, karena merupakan bagian dari kedaulatan negara.” (antaranews.com/2604/10)

Sementara peningkatan kesejahteraan terutama bagi masyarakat pesisir wajib dilakukan. Sebagai benteng pertahanan sipil yang bersentuhan langsung dengan dunia luar mereka rentan untuk dimanfaatkan pihak asing untuk tujuan tertentu. Belum sirna dalam ingatan kita soal kabar masyarakat sipil yang dijadikan asykar Wathaniah oleh negara tetangga beberapa tahun lalu. Pemicunya dapat ditebak, kemiskinan.

Guna mendukung hal ini pemerintah musti memberi subsidi bahan bakar gratis bagi para nelayan. Ongkos melaut yang mahal tak boleh lagi dijadikan alasan untuk tidak menagkap ikan. Selain itu kredit murah untuk mencicil perahu bisa dijadikan solusi. Dengan dana subsidi dan cicilan tanpa bunga, nelayan dapat memiliki perahu sendiri tanpa lagi bergantung pada juragan.

Namun hal tersebut belum cukup, bila tak terjadi sinergi antara nelayan dan pembeli. Kasus yang sering adalah, setelah menangkap ikan nelayan tak tahu harus menjualnya kemana. Sementara tak disemua pesisir terdapat pasar ikan atau sentra penjualan hasil laut. Karena itu pemerintah dapat menjadi jembatan dengan mendirikan sejumlah distributor milik negara dimana fungsinya menjembatani antara para nelayan dan hasil tangkapan mereka dan para pembeli, seperti industri pengolah makanan, super market atau restoran. Selain dapat membantu meningkatkan penghasilan nelayan karena tak jatuh ketangan tengkulak, hal ini dapat pula membuka lapangan kerja lebih luas, dimana masyarakat yang masih menganggur dipekerjakan oleh pemerintah sebagai distributor.

Membangunkan Raksasa Tidur
Bila penjagaan wilayah dan kesejahteraan masyarakat pesisir telah tercapai, proses Indonesia menuju negara maritimpun makin terbuka lebar. Infrastruktur pelayaran yang sudah ada dapat dioptimalkan bahkan ditambah. Proses niaga antar bangsa tak lagi menimbulkan kesenjangan. Karena masyarakat yang selama ini termarjinalkan (nelayan) telah dicukupi kebutuhannya. Bahkan bisa jadi bila kondisinya telah mendukung pemerintah menjembatani langsung kegiatan niaga antara para nelayan dan para pembeli asing. Tentu keutungannya jauh lebih besar bagi nelaya. Ungkapan Jalasveva Jaya Mahepun tak sekedar menjadi slogan kosong. Karena diimplementasikan pada ranah nyata dan dapat dipastikan ‘sang raksasa’ akan segera ‘bangun’.

26 Agustus, 2010

DIBALIK RENDA PHANTASY POETICA

Posted by Suguh Kamis, Agustus 26, 2010, under | 8 comments



Phantasy Poeitica lahir dari rahim Komunitas Penulis Muda Indonesia, seneng banget bisa gabung dibuku ini. kaya penulis penulis lain, saya nyumbangin lima naskah puisi. Pada dasarnya konsep Phantasy Poeitica sendiri digabung sama antologi cerpen Imazonation. Desainnya dicetak bolak balik. Saya nggak ikutan nulis cerpen karena aturannya bilang hanya boleh ngambil salah satu diantara dua pilihan.

Hhmmm..saya sendiri nggak tau mulai kapan suka nulis puisi. Seingat saya waktu SMP saya mulai iseng ngerangkai susukan bait dan larik. Tapi itu bukan puisi deh kayanya. Lebih tepat disebut semacam curhat bete gitu. Bentuk ratapan hati saya yang nelangsa karena menjalani likaliku hidup seorang ABG yang nggak laku laku..hehehehe..bete banget dong karena waktu temen2 saya udah pada jadian saya masih ngejomlo. (huff hidup emang pedih jendral) waktu itu Saya ngumpulin beberapa naskah dibuku catatan tapi nggak tau sekarang buku itu ada dimana.

Naik ke SMA saya mulai tertarik baca tulisannya Helvy tiana rosa, Acep zamzam noor, Soni farid maulana, Dody Achmad fauzy dan beberapa penulis lain. Terus suka iseng juga beli majalah Sastra (yang sekarang udah ga terbit lagi), saya masih inget edisi perdananya tuh bersampul foto HB Jasin yang ukurannya gede banget. waktu SMA saya masuk kelas bahasa, alasannya simple,

  1. kelas bahasa saya anggap bisa mengakomodasi kondisi jiwa saya yang metal (mellow total). Pelajaran bahasa saya pikir lebih menyenangkan dari pelajaran eksak.
  2. emang ga keterima aja di kelas IPA atau IPS. Otak saya terlalu miring kekanan, jadinya kalo disuruh ngerjain soal soal matematis saya bisa ngedadak kena diare, seranangan jantung ringan atau hipertensi. Anak lain yang senasib sama saya malah ada yang kesurupan gara gara salah milih jurusan. Whahaha..(anak IPA biasanya suka ada aja yang kesurupan kalo sore2). Selain itu Ngambil jurusan bahasa relatif aman karena saya bisa bebas dari dari musuh terbesar dalam hidup saya, TIRANI MATEMATIKA.

Waktu itu pelajaran bahasa Indonesia dikasih 10 jam per minggu. Sejujurnya ya saya ga terlalu ngerti kalo disuruh ngapalin rumus ketatabahasaan formal. Saya cuma ngeh kalo disuruh baca novel, cerpen atau puisi. Paralel sama kondisi otak saya yang selalu layu (penghalusan istilah untuk menghindari kata lemot). Terus bu tetty wali kelas saya, kalo pelajaran nulis puisi suka ngebebasin kita buat nyari inspirasi diruang terbuka. Tempat favoritnya sih biasanya di kolam cinta, letaknya sebelah atas kampus UPI deket gedung Pentagon. Tapi temen temen saya, anak anak ABG yang lagi agresif agresifnya nyari pacar hingga kelakuan mereka (ga cowo ga cewe) mendadak berubah dari siswa siswi SMA yang terjaga tatakramanya kemudian jadi mirip pasien rumah sakit jiwa yang buas. Mereka bukannya nulis puisi, malah PDKT bahkan pacaran sama pasangan mereka masing masing. Sementara saya, dipinggir kolam cinta itu, nangis darah sendirian karena meratapi kejombloan saya yang nggak berakhir.


Tapi ada untungnya juga sih, karena saya bisa lebih fokus nulis. Selama ini apresiasinya baik dari bu Tetty atas tulisan saya. dan dari sana saya mulai nulis puisi lumayan banyak dibuku catetan baru. Kalo ga salah jumlahnya kira kira 30an. Sempet kepikir seandainya kumpulan naskah ini dibukuin. Tapi dulu mah masih mimpi. Ga kepikir juga gimana caranya nerbitin buku. Mimpi itu terus kebawa sampe saya kerja dan kuliah.

Baru setelah menunggu sangat lama saya bisa gabung di Komunitas Penulis Muda Indonesia. Kebetulah belum lama gabung ada proyek nulis buku bareng. Seneng banget bisa nyumbangin naskah. Buku ini laku atau nggak saya nggak tau. Karena ada yang jauh lebih esensial dari materi menurut saya, yaitu waktu kita bisa ngewujudin mimpi kita walau harus nunggu bertahun tahun. Ngalahin rasa jenuh sama putus asa karena tulisan terlalu sering ditolak editor, terus konsisten bikin karya walau ga ada yang mengapresiasi, kemudian akhirnya bisa juga bikin antologi puisi yang dulu dianggap mustahil itu. Saya jadi inget sama kata kata yang pernah dibilang seorang temen, kalau selalu ada cahaya duju

ng terowongan. Titik balik niscaya bakal kita temuin kalo kita ga pernah bosen buat nyari jalan sama rutenya. AA Navis juga bilang ada banyak jalan kalo kamu pengen pergi dari Avemaria menuju Roma. Jadi teman, keep dreaming dan get it. bukan Cuma soal nerbitin buku tapi hal hal yang udah lama ngeganggu pikiran kamu dan dia pengen dibikin nyata sama kamu.

Resensi Phantasy Poetica dan Imazonation di HARIAN SEMARANG, Sabtu, 28 Agustus 2010.

16 Agustus, 2010

MAHASISWA LAWAN SIAPA?

Posted by Suguh Senin, Agustus 16, 2010, under | No comments


“Nila setitik rusak susu sebelanga”, ungkap pepatah lama. Hal tersebut amat paralel dengan tidakan anarkis yang ditunjukan oleh oknum mahasiswa belakangan. Disebut oknum sebab tak semua insan perguruan tinggi bertindak demikian. Namun karenanya, dapat dipastikan jarum sejarah bergerak mundur dan kita seolah kembali kezaman purba, dimana darah dan peperangan menjadi solusi dalam memecahkan suatu masalah. Intelektualitas dan heroismepun hilang wibawa, lantaran gejolak ‘darah muda’ para mahasiwa terlanjur lepas kendali.

Bila mengkalkulasinya dengan ‘ rumusan matematika politis’, tindakan kekerasan seperti yang terjadi antara mahasiswa YAI-UKI Jakarta, tawuran antar fakultas di Universitas Samratulangi Manado atau berkonfrontasi langsung melawan aparat seperti di Makasar, membuat citra mahasiswa dihadapan publik anjlok ketitik minus. Alasannya?

Pertama, kekerasan yang terjadi dalam ‘tubuh mahasiswa’, makin menguatkan tudingan kalau terdapat kekeliruan dalam mengelola sistem pendidikan tinggi kita selama ini. Kampus tak ubahnya ‘konsulat asing’ yang bekerja mengeluarkan visa bagi para mahasiswa untuk mendapat gelar akademik. Iming iming absen longgar, cepat lulus atau jadwal fleksibel merupakan magnet tersendiri bagi mereka. Sedang pembinaan etika, moral dan sprititual diajarkan sambil lalu dengan durasi kuliah yang seret. Tak heran kalau mahasiswa berkembang menjadi sosok yang cerdas secara intelektual namun bebal secara personal. Bila muncul suatu masalah, jalan keluar yang ditempuh adalah cara cara konfrontatif, bukan duduk bersama untuk mencari solusi terbaik.

Kedua, kekerasan sama dengan ‘bunuh diri sosial’ yang konyol. Padahal romantisme sejarah menggariskan bila mereka dan rakyat sejatinya adalah kekuatan manunggal. Menjadi kontra produktif bila mahasiswa yang berjuang mengatas-namakan rakyat justru ‘melukai’ rakyat. Pemblokiran jalan, perusakan aset aset publik atau menyerang mobil dinas dan ambulan dapat membuat mereka kehilangan suport moral. Mahasiswa anarkis hanya akan menjadi tiran tiran bertipikal anarkis pula lima sepuluh tahun kedepan. Seperti dikatakan Pramudya Ananta Toer, mereka dengan kekuasaan absolutnya memiliki, “mentalitas umum priyayi: beku, rakus, gila hormat dan korup.”

Karena itu kedepan introspeksi wajib dilakukan. Kampus musti meninjau kembali kebijakan korporatifnya. Hal paling penting bukanlah menambah tambun ‘takaran neraca laba’, namun mencetak lulusan yang bukan hanya pintar intelektualnya tapi juga bermoral kepribadiannya. Sedang bagi mahasiswa, alih alih bertindak anarkis dengan mengatas namakan rakyat, konsolidasi dan memperkuat jaringan musti digalang. Dengan mencopot asal usul kampus dan masing masing ideologi golongan, kekuatan moral yang melebur dapat menjadi senjata ampuh dalam mensukseskan cita cita perjuangan. Ungkapan asing berkata, “Fight war not war”, dan karenanya aksi massa yang massif namun tetap damai dan simpatik, dapat menaikan kembali grade mahasiswa secara umum dihadapan publik. Tabik!

Sumber Foto: http://wahyukokkang.wordpress.com/

04 Agustus, 2010

MARCOS: EKSISTENSI TANPA RUPA

Posted by Suguh Rabu, Agustus 04, 2010, under | 2 comments


“Beda antara mereka dan kita semua bukanlah terletak dalam kantung salah satunya, meski kantung mereka berlimpah uang sementara kantung kita berlimpah harapan.”
(Subcomandante Marcos)

“Kata adalah senjata,” ungkap Subcomandante Marcos, pemimpin sekaligus juru bicara gerakan Zapatista. Baginya Revolusi tak sekedar retorika klasik soal darah, tapi ia bisa tampil 'seksi' bila didukung oleh instrumen yang biasanya dilirik sambil lalu oleh geriliyawan bersenjata populer, yakni kata kata.

Diluar dugaan umum, Marcos bukanlah sosok geriliyawan fanatik yang membabi buta dalam mewujudkan cita citanya. Ia justru dikenal sebagai penulis mahsyur dari Pegunungan lacandon, negara bagian Chiapas tempat para pejuang Zapatista terkonsentrasi. Setelah kontak senjata dua pekan melawan militer pemerintah pada Januari 1994 menyusul disepakatinya draft perdagangan bebas antara Mexico, Amerika dan Kanada. Hingga karenanya petani petani miskin kehilangan tanah dan nafkah mereka, Marcos menggebrak dengan perang gaya baru yang luar biasa unik.

Komandan Zapatista ini menterjemahkan gagasan gagasannya melalui tulisan. Tak kurang dari dua ratus esai dan cerita, juga dua puluh satu buku dengan total tiga puluh tiga edisi ia terbitkan sejak 1992-2006. Menanggapi karya karya Marcos, Alexander Cockburn penulis kolom untuk The Nation mengatakan, “ribuan kata dari prosa paling indah yang pernah ada dalam sejarah Mexico”. Sementara Gacia Marquez sang empunya realisme magis, menyebut, “Apa yang tengah terjadi di Chiapas membuatku ingin membuang buku buku ku ke laut.” Dengan gaya santai dan renyah Marcos dalam tulisannya mengagitasi, meledek, merayu, merajuk, bahkan melucu. Hal ini terbukti ampuh menyerang balik represi neoliberal pemerintah Mexico yang telah 'melacurkan diri' pada sistem ekonomi haram jadah itu. Kemenangan opini berbuah kemenangan posisi, pihak incumbet dipaksa menyetujui tuntutan politik para pejuang soal otonomi khusus dan hak pengolahan tanah oleh petani miskin.

Dibalik Topeng
Siapa Marcos? Tak seorangpun tahu. Ia selalu menyembunyikan identitas dibalik balaklava (topeng hitam) yang kemanapun selalu pakai. Melihat kesamaan karakter tulisan, pemerintah Mexico menduga Marcos adalah Rafael Sebastian Guillen Vicente mantan profesor filsafat National Autonomous University of Mexico (UNAM) kelahiran Tamaulipas. Namun hal itu dibantah oleh Marcos, dengan guyon ia berkata memang pernah bekerja disana tapi sebagai bodyguard pada salah satu rumah bordil. Saat wartawan majalah Vanity Fair, Ann Louise Bardach bertanya kenapa ia tak mau melepas balaklavanya, dengan guyon kembali Marcos menjawab, “Jika aku menanggalkan balaklava ini wajahku akan menjadi lebih buruk, Sebab aku sekarang dianggap tampan”.

Lebih dari segurat rupa, Subcomandante Marcos adalah simbol dari gerakan revolusi yang ispirasional. Tak melulu anarki seperti dipertontonkan oknum mahasiswa belakangan, bila jeli, katapun bisa menjadi kran penyalur aspirasi yang efektif . Selain itu, substansi lebih utama dibanding eksistensi. Karena tugas seorang intelektual adalah menghegemoni masyarakat baik didalam dan diluar kampus dengan pesan pesan konstruktif. Marcos telah mencontohkannya, tanpa harus menjadi 'banci tampil' yang lebay rindu eksis, ia berjuang sembari merahasiakan identitas dirinya. Belajar dari Subcomandante Marcos adalah hal niscaya bila menghendaki perubahan tersturuktur dimasyarakat kita.

21 Juli, 2010

MOBIL DINAS BIKIN MACET, ANTI SOSIAL ATAU KEBELET PIPIS?

Posted by Suguh Rabu, Juli 21, 2010, under | 5 comments



liat berita di Metro ada oknum Patwal SBY arogan, saya jadi inget artikel saya sebulan lalu, artikel ini di terbitin juga di Kabar Indonesia

Oleh Suguh Kurniawan
Penulis H. Jackson Brown, Jr. berkata, “Pemimpin mencapai suksesnya melalui pelayanan kepada orang lain, bukan dengan mengorbankan orang lain.” Hal ini belum paralel dengan sikap para pejabat kita dijalan raya. Dengan kawalan motor gede Polisi Militer atau Polri kendaraan mewah yang mereka tumpangi dapat melaju tanpa hambatan ditengah kerumunan masa yang geram. Ketika kendaraan kendaraan lain terpaksa berhenti atau menepi untuk memberi ruang gerak pada mereka, muncul pertanyaan besar. Sebagai abdi negara yang sejatinya melayani rakyat justru mereka malah ‘menyakiti’ rakyat sendiri? Apakah hal ini berkaitan dengan kealpaan para pejabat terhadap nilai nilai sosial? Atau kebetulan pada waktu itu pejabat bersangkutan memang sedang kebelet pipis sampai harus memacu mobil cepat cepat agar hajatnya lekas terpenuhi.

Pelanggaran Materi Dan Moral
Sikap seorang pemimpin ujar pendiri restoran waralaba cepat saji Mc Donald Ray Crock, “bisa dilihat dari standard yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri.” Faktanya pada Maret 2009 terdapat 32,5 juta penduduk miskin dengan penghasilan kurang dari 7000 per hari di Indonesia (laporan BPS). Dilain pihak nilai utang ‘kita’ yang jatuh tempo pada 2010 mencapai Rp 116 triliun (Detikfinance, 26/12/09). Mempertontonkan kemewahan materi melalui mobil dinas hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial. Para pejabat harusnya merasa malu bila melewati tiap perempatan kemudian mendapati anak anak jalanan, pemulung atau pengamen yang rentan dicederai fisik dan psikisnya oleh pihak lebih berkuasa seperti preman atau Satpil PP. Tentu masih segar dalam ingatan kasus Baekuni dan robot gedeg yang membunuh lalu mensodomi belasan korbannya? Atau masih santer terdengar berita soal kasus pelecehan seksual terhadap pengamen jalanan perempuan yang kebanyakan masih dibawah umur. Bukankah pengabaian untuk melindungi keselamatan warga negara merupakan pengingkaran terhadap kemanusiaan?

Sementara secara moral, masyarakat umum pengguna jalan juga punya hak untuk mendapat pelayanan maksimal dalam kegiatan berlalu lintas. Karena sudah menjadi tanggung jawab para pejabat untuk memprioritaskan Service to public ketimbang mendahulukan ego. Benar adanya bila ditilik dari prespektif sejarah, para pejabat kita masih mewarisi tabiat raja raja terdahulu. Mereka senang kalau diperlakukan istimewa seperti dikawal, mendapat pelayanan khusus atau diiring iring seperti ‘pengantin sunat’. Padahal pemahaman feodal tersebut harusnya luluh bila melihat kepentingan lebih luas. Karena bisa jadi saat mobil dinas mereka lewat hingga membuat kendaraan lain diverboten, disalah satu angkutan kota, terdapat siswa siswa SMA yang akan mengikuti ujian akhir kemudian terlambat datang kesekolah. Bisa jadi juga ada buruh pabrik, tukang bangunan dan karyawan level bawah berstatus kontrak yang terancam dipotong gajinya karena terjebak macet. Bila alasan melakukan hal tersebut adalah untuk melaksanakan tugas tugas negara, kenapa pula mereka tidak berangkat lebih pagi ketimbang rakyatnya. Dengan segala fasilitas yang telah dipenuhi melalui pajak harusnya mereka bisa bekerja makin trengginas.

Dwight D. Eisenhower berkata,“Kau tidak memimpin dengan cara menindas orang, itu kekerasan namanya, bukan kepemimpinan.” Disadari atau tidak oleh para pejabat, dengan mengabaikan kepentingan masyarakat dan mendahulukan keperluan pribadi hanya akan menimbulkan rasa ketertindasan baru diatas ketertindasan lama. Dapat dipastikan yang muncul kemudian bukan simpati namun antipati. Koreksi fundamental mesti dilakukan bila tak ingin mengubah ‘rasa benci’ menjadi Chaos.

‘Bisa Merasa’ VS Kebelet Pipis
Ditengah kemiskinan yang masih menjadi bahaya laten bangsa ini, para pejabat harus bisa menjaga sikap. Keberadaan mereka ketika dijalan raya hendaknya bisa mencerminkan kalau mereka adalah abdi negara yang ‘membumi’. Kedepan diharapkan muncul penggede yang berani merombak aturan protokoler. Hal ini dicontohkan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang menolak kendaraan dinas dan setia pada mobil Peugeot butut 504 tahun 1977 miliknya. Pengawalan pribadipun dikurangi. Malah ketika masih menjadi walikota Teheran, anak pandai besi ini berani menyindir presiden Mohammad Khatami saat mengeluhkan kemacetan yang ia alami. "Kita harus bersyukur memiliki presiden yang baru kali ini merasakan persoalan-persoalan yang setiap hari dirasakan oleh rakyat.", ujarnya. Dalam pandangan Ahmadinejad pemimpin jangan hanya mau enak sendiri tapi harus benar benar memahami problema yang dihadapi masyarakat secara global.

Karenanya ‘bisa merasa’ menjadi fundamen paling dasar atas suatu kepemimpinan . Bisa merasa dalam arti seorang pejabat sejajar, beriringan serta selevel dengan rakyatnya. Bila macet itu menyebalkan, maka ia memilih bergabung dengan barisan kendaraan lain ketimbang menerobos dengan arogan. Bisa merasa artinya ketika melintas dijalan ia bukan sekedar melintas sambil lalu tapi menyerap gejala sosial yang timpang kemudian merumuskan formula untuk menyelesaikannya. Semakin sering berada dijalan harusnya semakin tangkas ia untuk menyelesaikan masalah anak anak jalanan, pemulung dan pengamen.

Agar hal tersebut lekas terwujud, masyarakat sendiri harus menjadi normatic contolers yang efektif. Mereka bisa menerapkan sanksi sosial seperti tidak memilih kembali pejabat yang suka membuat macet pada pemilu berikutnya. Atau melalui LSM LSM kemanusiaan dan HAM dapat mengajukan draft kontrak politik baru pada mereka dengan segala konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan pejabat bersangkutan. Dengan draft tersebut tidak menutup kemungkinan untuk menyita mobil dinas sang pejabat, melelangnya lalu menggunakan keuntungannya untuk biaya pendidikan, mendirikan sekolah gratis atau membuka lapangan kerja baru.

Membudayakan sikap malu ketimbang secara vulgar mempertontonkan kemewahan, menjunjung tinggi kerendahan hati, toleran, tenggang rasa serta bisa meraba perasaan rakyat dapat memadamkan ‘bara’ kegeraman yang selama ini ditujukan pada para pejabat dijalan raya. Lebih jauh jika keinsyafan nilai nilai dapat tertata dengan matang, jangankan dikawal dan menerobos, memiliki mobil dinaspun akan dianggap tak pantas. Seperti dikatakan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida “Lebih baik uang untuk mobil itu digunakan untuk menyekolahkan anak-anak yang tidak mampu. Pejabat sudah ada tunjangan-tunjangan dan fasilitas lainnya. Sangat tidak logis anggaran digunakan secara konsumtif.” (nasional.kompas.com/2010/01/04).

Namun bila segala upaya untuk mensejajarkan hak pengguna jalan ternyata gagal. Sedang mobil para pejabat masih seenaknya menyerobot barisan kendaraan lain dengan kecepatan penuh hingga muncul kesan arogan. Ketimbang melulu memendam rasa jengkel, akan lebih arif bila rakyat belajar untuk berbaik sangka. Setelah kehabisan tenaga karena protes tak pernah ditanggapi, mereka (untuk kesekian kali) diam diam memelas dalam hati sembari berkata, “Ah yaa Tuhan, ternyata banyak benar pemimpin kami yang sedang kebelet pipis.”

26 Juni, 2010

MEMBEDAH FENOMENA SASTRA MAYA

Posted by Suguh Sabtu, Juni 26, 2010, under | No comments


diterbitkan juga di Inioke, Media Online Remaja

Oleh Suguh Kurniawan

Media mainstream seperti koran, majalah atau industri penerbitan buku dirasa masih belum bersikap akomodatif terhadap para penulis pemula. Selain skill yang masih terbatas, mereka pun jauh dari hingar bingar 'nama besar'. Oleh karenanya, sering karya yang telah dikirim mendapat penolakan. Meskipun demikian, banyak penulis yang termasuk dalam kelompok ini tak patah arang. Mereka melirik dunia maya. Jaringan internet dijadikan wahana dalam berekspresi.

Metropolitan Sastra Maya
Ibarat rumah, jaringan sosial seperti facebook dan friendster atau blog seperti wordpress, multiply dan blogspot menjadi tempat yang nyaman untuk berekspresi. Seperti rumah pada umunya, tuan rumah memiliki otoritas penuh atas apa yang mereka kehendaki terhadap tempatnya bernaung. Tak seorangpun dapat menggangu aktifitas mereka bila sudah menginjak 'ranah privacy'.

Di internet, 'rumah sastra maya' tumbuh dan berkembang. Sebelum aksesnya ngetrend, skalanya masih berupa 'perumahan sederhana'. Namun, seiring perjalanan waktu dengan akses yang semakin mudah serta biaya yang relatif murah, telah membuatnya menjadi 'mertopolitan' tak berbatas. Para peminat sastra dari berbagai kalangan dan profesi ramai-ramai memposting karya. Cerpen, puisi, esai bahkan kritik sastra, kini begitu mudah diperoleh hanya dengan sekali klik.

Dalam hal ini, karena sifatnya sangat personal, tak terdapat pakem-pakem bahasa atau editor yang biasanya 'galak' terhadap mereka. Tiap orang punya hak untuk menuangkan gagasan menurut selera masing-masing. Segalanya pun dilakukan sendiri, baik menulis, mempublikasi sampai balik mengomentari pendapat kawan atas suatu karya.

Kendati demikian, mereka tak serta merta menjadi ekstrovert terhadap lingkungan, khususnya lingkungan maya. Apalagi, jaringan semakin luas, disertai dengan bertambahnya kawan dari berbagai tempat. Akibatnya, tampaklah para penulis pemula ini semakin mapan dengan komunitasnya. Mereka melakukan sosialsisasi dengan cara sendiri. Melakukan blog walking atau berkunjung ke blog orang lain, dengan tujuan saling memberi apresiasi atas karya masing-masing. Selain itu, mereka juga menshare notes kepada kawan di facebook, karena cara ini dianggap efektif dalam mempublikasikan tulisan.

Lebih jauh, dalam dunia maya ini terdapat pula komunitas-komunitas sastra yang menjadi tempat berkumpul sekaligus berwacana bagi para penulis pemula, misalnya, kemudian.com dan penulismuda.com.

Merumus Sastra

Bila mengkalkulasikan dengan rumusan matematika, menulis diinternet memang tak memberikan keuntungan finansial secara langsung. Namun demikian, hal tersebut memberi sinyal positif atas perkembangan dunia sastra tanah air. Apa pasal? Karena seperti dikatakan di atas, ketika akses untuk menembus media mainstream masih dianggap sebagai suatu kemustahilan, internet justru memberikan kesempatan selebar-lebarnya untuk berkarya. Seseorang yang nothing berpotensi menjadi something bila terus berkarya secara intens. Proses learning by doing dapat membuat kualitas tulisannya semakin matang. Bukan tak mungkin bila kelak terdapat penerbitan yang tertarik atas postingan atau notes untuk ditebitkan dalam bentuk buku. 

Selain itu, dengan semakin banyaknya masyarakat menulis sastra di dunia maya, ini meruntuhkan pendapat yang mengatakan bila minat baca tulis di Indonesia masih rendah. Indikatornya dapat terlihat dari jumlah peserta lomba menulis yang dipublikasikan di internet. Pada sayembara cerita anak, yang diselenggarakan oleh penerbit Aerlangga, panitia musti mengundur pengumuman pemenang karena membludaknya jumlah peserta. Di bloggagas.net pun demikian, kendati hanya berhadiah paket buku. Antusiame partisipan terbilang tinggi.

Namun ini menjadi catatan. Idealnya, koran, majalah atau industri penerbitan memberikan ruang khusus bagi para penulis pemula. Dengan demikian mereka dapat berkontribusi untuk menambah khazanah kesusastraan Indonesia. Artinya, mari mentransfer karya maya menjadi karya nyata.

Mereka yang selama ini aktif menulis di internet semestinya dapat menerbitkan antologi puisi atau cerpen independen. Dengan dana yang digalang secara swadaya, ini menjadi peluang untuk melakukan hal serupa seperti dilakukankan para penulis mapan. Keuntungan tak melulu diukur dengan materi. Kendati honornya sudah tak menjanjikan seperti royalti yang diberi oleh penerbit, tapi hal ini dapat menjadi pijakan awal untuk berkarya lebih besar di masa depan.

Fenomena sastra maya musti mendapat apresiasi positif. Bangunannya yang telah menjadi 'metropolitan' harus terus digarap dan dikembangkan oleh para 'insinyur maya' sendiri. Bila proses pembelajaran terus berlangsung secara kontinue dan jalinan pertemanan makin sinergis, bukan tak mungkin kebangkitan sastra Indonesia bermula dari dunia 'tak kasat mata' ini. (*)

22 Mei, 2010

MONOPOLI HUTAN INDONESIA

Posted by Suguh Sabtu, Mei 22, 2010, under | 1 comment


Oleh Suguh Kurniawan

Tragis bila melihat kondisi hutan Indonesia saat ini. ‘hamparan Zamrud Hijau’ yang sejatinya menjadi paru paru dunia setahap demi setahap musnah. Pembalakan liar dan pebabatan lahan tanpa kontrol ditengarai menjadi penyebabnya. Ekosistem hayati didalamnya pun berada dalam ancaman dan bila hal ini terus berlanjut, bukan tak mungkin Indonesia menjadi negara tropis tanpa hutan sepuluh-duapuluh tahun mendatang.

Pengrusakan Membabi Buta
Pada 2006 Departemen kehutanan melansir, dari 120,35 juta hektar hutan ditanah air 59,6 juta hektarnya mengalami kerusakan dan tak berfungsi optimal. (id.wikipedia.org). Adapun variasi pengrusakannya beragam ditiap daerah. Hal memilukan terjadi di Riau. Data Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Menyebutkan dari 9,2 juta Hektar tutupan hutan alam pada 1982, yang tersisa kini tinggal 860 ribu Hektar saja (Media Indonesia/21/05/10). Lain lagi di Bengkulu. Dari 920 ribu Hektar kawasan hutan di Provinsi tersebut 300 ribu hektarnya pun rusak. Adapun Administratur KPH (Kesatuan Pemangkuah Hutan) Madiun Kristomo mengatakan, “Data dari KPH Madiun menyebutkan, kerugian akibat pencurian kayu hutan hingga bulan Oktober tahun 2009 mencapai Rp541 juta atau setara dengan 1.944 pohon," (antarajatim.com/04/12/09)

Ibarat fenomena puncak gunung es, tentu fakta fakta diatas hanya sedikit saja merepresentasikan betapa hancurnya kondisi hutan Indonesia. Namun demikian dampak yang dirasakkan oleh rakyat didaerah karena hal tersebut begitu nyata dan tak bisa disanggah lagi. Bencana hindrometeorologi yang prosentasenya lebih besar dibanding bencana geologi yakni 53,3 persen telah menyebabkan Banjir (34,1 persen) dan longsor (16 persen) (groups.yahoo.com/group/lingkungan). Petaka yang memiliki kaitan erat dengan pengrusakan lingkungan ini menyebabkan sektor sosial, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang memang sudah bermasalah makin bermasalah.

Sementara dilain pihak pengrusakan hutan hanya menguntungkan segelintir orang yang memiliki kuasa. Motif bisnis kentara dalam hal ini. Dengan mengesampingkan keseimbangan ekosistem, alih fungsi hutan untuk kepentingan komersil seperti menjadi lahan kelapa sawit, area pertambangan, atau diambil gelondongan pohonnya guna dijual dengan harga tinggi menjadi legaliasi atas tindakan ‘terorisme lingkungan’ ini. Seperti disampaikan oleh Wakil Direktur Program Human Right Watch Joseph Saunders, “kerugian negara dari sektor kehutanan pertahun sejak 2003-2008 mencapai 20 Triliun” (primaonline.com/03/12/09). Jumlah luar biasa fantastis yang sejatinya dapat disalurkan untuk mensejahterakan rakyat.

Green Power Unite
Guna menanggulangi masalah tersebut, dibutukan sinergi dari berbagai kalangan. Seperti dikatakan Bill Mccartney, “Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi.”, sedangkan perubahan sendiri mustahil terjadi pada masyarakat yang hanya diam.

Ditataran elit penegakan hukum harus dilaksanakan dengan tegas. Pasal pasal pelestarian alam jangan cuma jadi macan kertas yang tak punya taring dalam menjerat para perusak hutan. Faktanya data ICW pada 2005-2008 menyatakan Polisi dan Kejaksaan masih dikriminatif dalam menangani pembalakan liar. Febri Diansayah dalam paparanya mengungkapkan, “Perbandingannya, aktor kelas atas yang ditangani mencapai 49 atau 23,9 persen, sedangkan kelas bawah mencapai 156 atau 76,1 persen," (primaonline.com/03/12/09).

Karena itu baik organisasi organisasi yang tergabung dalam LSM dan kelompok pecinta lingkungan musti menjalankan fungsi kontrolnya bagi pemerintah. Mengawal agar kinerja elit tetap berada pada relnya adalah tanggung jawab moral yang harus diemban oleh siapapun bila masih memiliki itikat untuk melestarikan lingkungan dinegri ini. Kedepan harus lebih banyak aktor intelektual diseret ke meja hijau. Disamping mengganjar perbuatan mereka dengan hukum pidana, penerapan sanksi moral dan sosial seperti tak boleh lagi merambah hutan atau pengasingan dari lingkungan sekitar sepanjang pelaku masih melakukan tindakan ‘terorismenya’ dapat memberi efek jera.

Sementara bagi masyarakat umum terutama yang tinggal disekitar hutan, agar mereka tak ikut ikutan melakukan pembalakan liar, sudah saatnya memaksimalkan kembali kekuatan ekonomi pedesaan seperti koprasi. Dalam hal ini pemerintah betanggung jawab untuk mensejaterakan masyarakat dengan menyediakan lahan pertanian, bibit gratis dan distribusi hasil panen yang memberi keuntungan finansial menjanjikan. Bila kebutuhan primer mereka sudah terpenuhi, tak adalagi alasan untuk merambah hutan dengan dalih kepentingan ekonomi. Lebih jauh, penanaman kembali hutan gundul secara massifpun tak akan menjadi hal sia sia. Karena masyarakat yang sudah sejahtera kondisi finansialnya dapat menjaga pohon pohon tersebut hingga tumbuh dan berkembang.

Green Power Unite, bukan hanya menjadi retorika kosong tanpa makna, bila semua kalangan menghendaki perubahan. Menghijaukan kembali hutan Indonesia memang pekerjaan luar biasa berat. Namun seperti dikatakan oleh ungkapan asing, “no pain no gain”. Kerja keras dengan dedikasi tinggi niscaya dapat membuat Indonesia menjadi ‘hijau’ kembali laiknya semula.

19 Mei, 2010

DARI ‘TITIK BALIK’ HINGGA JUNGKIR BALIK

Posted by Suguh Rabu, Mei 19, 2010, under | 4 comments


‘Titik Balik’ adalah buku saya yang pertama, sebuah kompiliasi kisah inspiratif. Penulisnya dari seluruh Indonesia dan setelah melalui proses penyeleksian terhimpunlah 18 naskah yang diterbitkan oleh leutika Publisher.

Terus terang saya terkejut waktu melihat profil para penulis lain diblog atau di profil facebook mereka yang bejibun prestasi, sangat kawakan bahkan ada yang sudah karatan. Suatu kehormatan besar buat saya yang nothing bisa bergabung dalam satu buku bersama mereka yang sudah jadi something.

Karena kenyataanya saya belum menjadi penulis yang baik, bahkan sampai saat ini. Apalagi dari dulu saya sama tidak pernah bermimpi untuk jadi penulis. Hanya lingkungan dan pergaulan saja yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Kalaupun beberapa naskah terbit, saya langsung ingat dengan apa yang pernah di sampaikan Paulo Coelho dalam Novel The Alcemist kalau, “Setiap pencarian dimulai dengan kemujuran pemula dan setiap pencarian berakhir dengan kemenangan yang telah melewati ujian berat."

Dengan menulis, saya hanya ingin menjadi bagian dari perubahan terstruktur seperti disampaikan oleh aktifis kemanusiaan Chico Mendez. Kedepan bisa jadi saya harus siap jungkir balik untuk membuat karya yang lebih baik. Saya ga pernah tahu apakah orang akan baca tulisan tulisan saya atau tidak, karena yang penting adalah, saya telah memenuhi panggilan jiwa saya yang paling dalam untuk menulis, kemudian berbagi dengan siapapun atas apa yang sedang saya pikir dan renungkan.

Judul : TITIK BALIK,
Menerjang Rintangan Menggapai Masa Depan
Penulis : 18 Pemenang Lomba Cipta Karya Inspiratif
Penerbit: Leutika, Mei 2010.
Tebal : xvi, 191 halaman
ISBN : 978-6028-597-39-5
Kategori: Nonfiksi - Motivasi
Harga : Rp 38.000,-



Resensi Buku TITIK BALIK
(Majalah STORY No. 14/ 25 Agustus 2010)

Peluk terhangat dan Cium terdalam buat kawan kawan Semua
sepanjang kita belum bisa ketemu ^_^

23 April, 2010

ELIMINASI : SOLUSI DAMAI PALESTINA-ISRAEL ?

Posted by Suguh Jumat, April 23, 2010, under | 1 comment

Diterbitkan juga dibuletin Mahasiswa Suara Kawan

Oleh Suguh Kurniawan

Bila diibaratkan dengan gurita, maka tentakel tentakel imperialisme Israel begitu rakus menghisapi martabat rakyat Palestina. Sejak berdiri sebagai negara illegal diatas tanah Palestina pada 15 Mei 1948, cara cara fasistik dan barbar dilakukan oleh penjajah untuk memperluas teritorinya. Sementara pribumi (meminjam retorika satir lawas), menjadi ‘inlander’ yang termarjinalkan dinegri mereka sendiri.

Penjajah Terjajah
Inlandernisasi (pencacing tanahan) Israel terhadap rakyat Palestina melalui masa yang panjang. Pada 1914 hanya terdapat 85000 imigran yahudi di negri para nabi itu. Kemudian jumlahnya melonjak menjadi 589.341pada 1947 hingga mengancam eksistensi pribumi. Tak menunggu lama, hal tersebut menjadi kenyataan Karena Pasca deklarasi kemerdekaan 1948, pendatang yahudi dari seluruh dunia bermigrasi lebih massif.

Dibantu sokongan militer, mereka merampas, mengusir, menghancurkan bahkan membunuh warga pribumi untuk dikuasai tanahnya. Pembantaian Salha pada 1948 yang menewaskan 105 orang, pembantaian Shatila-Shabra pada 1982 yang menewaskan 3000 orang atau pembantaian Gaza pada 2009 yang menewaskan 1434 orang merupakan contoh kecil dari sederet pelanggaran kemanusiaan Israel. Penjajah yang semula mendiami 0,5 % tanah Palestina kini berhasil merebut 75 %-nya. Sampai sekarang secara besar besaran imigran yahudi ilegal terus dikirim kesana untuk ‘diputuhkan’ menjadi warga Israel. Terispirasi doktrin talmut yang menyatakan, "Semua anak keturunan orang kafir (non yahudi) tergolong sama dengan binatang" (Yebamoth 98a), membuat Israel menganggap pelanggaran kemanusiaan sebagai kelaziman umum guna melampiaskan ‘libido’ penjajahannya pada bangsa Palestina.

Solusi : Eliminasi Dan Pramuka
Israel layak mendapat ‘raport merah’ atas kebiadaban mereka. Namun faktanya tak demikian. PBB tidak pernah memberi sanksi tegas seperti embargo atau pengucilan. Sedangkan rekonsiliasi damai melulu merugikan pihak Palestina. Sebagai contoh perjanjian Oslo membuat palestina hanya mendapat 22% dari tanah air yang kering air dan sumber air, sementara israel mendapat bagian lebih besar. selain itu daerah yang didiami rakyat palestina dipisah pisah oleh pos penjagaan militer hingga membuat warga tidak leluasa bergerak. Dilain waktu Konfrensi Anapolis hanya menghadiahkan ‘cek kosong’ karena pengagasnya adalah Amerika yang selalu ambigu dan berpihak soal timur tengah.

Bila menghendaki perdamaian abadi, Eliminasi (dengan kata lain: penghapusan) Israel sebagai negara secara permanen dari peta dunia menjadi satu satunya solusi paling rasional. Merunut sejarah, sebelum 1948 tidak pernah ada negara bernama israel. Mereka adalah entitas diaspora, komunitas yang tersebar diseluruh dunia tanpa pernah memiliki tanah air. Klaim Israel atas tanah rakyat Palestina menjadi prematur karena sebelum mereka mendiami tempat tersebut, secara turun temurun lebih dulu terdapat etnis Arab tinggal disana. Pendirian negara diatas tanah orang lain adalah kepanjangan dari imperialisme gaya modern, dimana Israel membuat suatu aturan ketatanegaraan, warga negara, hukum dan aturan yang sama sekali baru.

Melihat unsur kepatutan sudah selaiknya pula para pendatang dikembalikan ketempat mereka semula. Imigran ilegal dari Eropa kembali ke Eropa serta imigran ilegal dari Amerika kembali ke Amerika. Tanah jajahan harus diserahkan pada pemilik sahnya dan pengungsi perang dapat pulang kenegri mereka dengan damai. Alibi yang mnegatakan bila alasan yahudi mendirikan negara diatas tanah rakyat Palestina untuk menghindari kekejian NAZI, hal tersebut mentah dengan sendirinya. Karena logikanya kenapa pula yahudi tidak menuntut konpensasi pada Jerman dengan dengan menuntut sepetak tanah kosong di Jerman untuk dihuni dan dijadikan sebuah negara yang indepanden.

Guna mendukung hal diatas, dewan keamanan PBB dituntut bersikap tegas. Sterilisasi Palestina dari unsur unsur israel harus dikawal dengan seksama tanpa pertumpahan darah. Lembaga HAM internasional dan LSM yang peduli pada masalah kemanusiaan juga dituntut untuk memantau hal ini hingga rampung. Kalaupun dewan kemananan PBB pada akhirnya sama sekali tak tergerak untuk menghentikan penjajahan dan lebih memilih bungkam, lebih baik mereka semua diganti saja dengan ‘pramuka’ yang jauh lebih peka dan isyaf nilai nilai kemanusiaan.

03 April, 2010

MENGGUGAT PRAGMATISME MENDEDIKASIKAN DIRI

Posted by Suguh Sabtu, April 03, 2010, under | 5 comments

Artikel ini terbit juga diharian Media Indonedia (28-03-2010)

PRAGMATISME mahasiswa berada pada titik nadir. Kampus menjadi Pulau Elba yang asing, yang fungsinya sebatas melaksanakan knowlegde transfer tanpa social value. Karenanya, insan pendidikan tinggi terjebak dalam pandangan sempit. Kuliah dimaknai tak lebih dari balapan lari. Mereka berlomba untuk menjadi nomor satu secara akademik kemudian bekerja di tempat nyaman dan terjamin. Hal bertendensi egosentris ini telah menjadikan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi pincang, setelah mahasiswa hanya menderas pendidikan dan penelitian tanpa dibarengi pengabdian.

Meski begitu, ketika kampus terlempar menuju posisi under dog secara sosial dan kesenjangan antara insan perguruan tinggi dan rakyat semakin lebar, ternyata ada harapan bagi kebangkitan gerakan kaum muda, yang bukan hanya sebatas asa, tapi memang benar-benar niscaya.

Adalah mereka, yang dalam istilah sosiolog Ignas Kleden disebut sebagai wonderkinder politik atau `anak-anak ajaib' dalam politik, muncul ke permukaan. Disebut demikian karena saat angka kemiskinan dalam data Biro Pusat Statistik 2009 membengkak mencapai angka 33,88 juta jiwa di negeri ini, dan saat rekan-rekan sebayanya cenderung mendahulukan kepentingan pribadi, ada minoritas mahasiswa yang masih antusias menjalankan fungsi-fungsi sosial. Mereka bergabung dalam organisasi intrakampus seperti BEM, Senat, HIMA, dan UKM, atau organisasi ekstrakampus seperti ormas kepemudaan dan LSM.

Tentu ini memberikan sinyal positif. Hanya pertanyaannya kemudian, fungsi sosial apa yang mesti dilakukan? Meminjam ungkapan novelis Edith Wharton, mahasiswa hendaklah menjadi lilin penyebar cahaya sekaligus menjadi cermin pemantul sinarnya. Artinya, mereka harus mendedikasikan diri pada lingkungan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Terlepas dari warna bendera serta ideologi organisasi, mahasiswa secara sukarela turun ke lapangan untuk menciptakan ruang. Setelah itu, secara konsisten membina masyarakat hingga terbentuk tatanan sosial lebih cerdas dalam prespektif multidimensional.
Baik dari sisi pendidikan, kesejahteraan, sosial, politik, maupun budaya.

Sudah tentu mahasiswa memiliki cita-cita setelah lulus. Namun, semangat aktivisme yang terus terjaga hendaknya dapat mereduksi ego dan ambisi pribadi. Hal tersebut tidak akan membuat cita-cita itu luntur, tapi justru menjadikannya makin istimewa. Karena dengan kapasitas dan kapabilitas ilmu yang lebih mumpuni, mereka bisa bersinergi dengan masyarakat guna meraih kesejahteraan bersama.

Tidak semata hal itu dilakukan untuk mendapat label pahlawan.
Jauh-jauh hari mahasiswa mesti sadar kalau mereka bukanlah superman yang merasa bisa melakukan segala hal. Tapi hanya pribadi-pribadi yang sadar atas esensi human to all human atau manusia bagi semua manusia-seperti diungkapkan Nietzsche. Karenanya, sinergi masyarakat kampus dan rakyat dapat terbangun kembali seperti diharapkan selama ini, dan kepincangan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat ditegakkan kembali. (M-4)

24 Maret, 2010

KAWAN DALAM CURHAT GRACE

Posted by Suguh Rabu, Maret 24, 2010, under | No comments


“Lelaki sejati tidak mencari disisi mana hidup lebih baik, tapi disisi mana terhampar kewajiban.” (Jose Marti)

Waktu ketemuan magrib magrib di Rektorat, Grace (yang sekarang rambutnya dipotong lurus diatas bahu kaya Geum Jandi) bilang sama saya, kalau kawan widyatama itu mirip kumpulan kecil anak anak yang jadi bahan tertawaan orang dewasa (kata lain dari penguasa) karena mereka dianggap bego. seperti halnya anak anak, Kawan Widyatama selalu telanjang, apa adanya, blak blakan dan tanpa kompromi. Hal ini berlawanan dengan sikap mayoritas orang dewasa yang penuh kepura puraan dan kebohongan, dan karena hal itu mereka menertawakan ‘kekonyolan’ kawan.

Sebelum lebih jauh bercerita, Grace membahas satu satu siapa saja yang ada dalam struktur kawan widyatama (saya harap anda merahasiakan hal ini baik baik lantaran orang dewasa suka menguping dan memasukan nama orang seenak perut mereka dalam lista negra, daftar hitam). Kata Grace, Kalau menggunakan metafora Geriliawan klasik Amerika latin, yang menjadi Comandante generale sekaligus pemimpin utamanya adalah mahasiswa bernama Dhiora Bintang. Seorang pria perantauan dari udik. Secara matematis memang paling cocok menjadi Comandante Generale karena bertipikal pendombrak dan memiliki wawasan politik paling luas. Tulisan tulisannya yang terlampau nekat iapun sering dapat masalah, seperti dimaki maki difacebook, ditodong di jalan, sampai mau dikeroyok oleh lebih dari lima belas orang dewasa. Dibawah Dhiora terdapat seorang subcomandante, ia militan, bisa bekerja efektif dalam komunikasi, paling muda, polos, punya minat besar dalam belajar bermana subcomandante Tyo Joe. Disebelah Tyo, sedikit beda karakternya, terdapat pula pria yang suka ngaku ngaku paling ganteng seuniversitas, ngerasa lucu dan imut imut, sedikit narsis, agak lebay, suka ketawa keras keras kaya orang bego hingga banyak mahasiswi kena disentri, mual mual dan datang bulan lebih cepat dari biasanya (tapi sejujurnya mereka juga suka walau nggak mau ngaku). Ialah companeero bernama Suguh kurniawan. Kata Grace mereka ada dalam daftar hitam mengingat aktifitas mereka yang bikin orang dewasa ‘nggak kuku’. Kemudian bersama Kawan Widyatama berjalan beriringan, dalam strata yang setara, dimana Kawan banyak belajar banyak dari mereka adalah para anggota, segenap buruh tani, mahasiswa dan rakyat miskin kota yang termarjinalkan oleh sistem birokrasi yang terkenal telmi dan lemot menyerap aspirasi masa.

Kembali lagi ke cerita Grace, kata Grace walau jadi bahan tertawaan, kawan widyatama bersikap seperti anak anak bego yang masa bodo, mereka terus melakukan apa yang mereka mau lakukan. Tanpa harus ada didalam sistem, kawan dapat bergerak lebih efektif. Dari luar pintu kekuasaan, Kawan dapat melihat segalanya dengan jujur dan terbuka. Borok borok birokrat yang oportunis, aktifis aktifis penjilat dan tukang cari muka, pemimpin pemimpin bermental inlander secara terang benderang ada didepan mata. Dari luar pintu kekuasaan kawan dapat melihat segalanya dalam prespektif lebih luas. kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, pemarjinalan, dan banyak hal dilakukan oleh mayoritas pada minoritas, oleh besar pada kecil, oleh kaya pada miskin, oleh kuasa pada tak berdaya, hingga membuat kawan berbisik diantara mereka, “ada yang tidak beres dan kita harus melakukan sesuatu”

Grace melanjutkan dengan menyitir ungkapan Jose Marti, “Lelaki sejati tidak mencari disisi mana hidup lebih baik, tapi disisi mana terhampar kewajiban.” Karenanya kata garce kawan bergerak sesuai kompetensi mereka. hal paling utama merubah pola pikir mahasiswa yang makin autis terhadap persoalan persoalan sosial. Untuk mewujudkan cita cita ini membutuhkan waktu sangat panjang dan itu tantangan bagi generasi setelah Kawan. Diskusipun digalakan, buletin disebarkan, ajakan agar mahasiswa isyaf secara sosial dilakukan. Hal ini tidak berarti kawan lebih tahu (atau ingin sok tahu) tapi menghendaki perubahan simultan yang terstruktur. Selanjutnya kata garce tugas Kawan adalah menghantam sistem yang bobrok. Melalui corong radio, kolom media cetak, dan buletin independen krikit dilancarkan, borok birokrasi ditelanjangi, kebohongan diungkap, fakta disampaikan. ketika kawan melakukan tugas tugasnya, orang dewasa makin keras tertawa (bahkan kini terbahak bahak). Saking gelinya, Mereka sampai meneteskan air mata melihat kawan yang minoritas berontak melawan mayoritas. Suatu hal yang tidak masuk akal (kata ganti dari gila). Dalam pandangan mereka Bagaimana mungkin suatu tatanan birokrasi (yang dikuasai rayap) dapat ditumbangkan oleh Kawan yang berjumlah kecil? Retorika pantun lawas berbunyi, “menepuk dalam tempayan, menyulam sarang laba laba, mengayak tepung tak guna”

Tapi kata Grace lagi, kawan terus bergerak, mereka makin solid dan bersatu. Bagi kawan yang penting bukan soal menang kalah (aktifisme bukanlah pertarungan Gladiator) tapi soal sejauh mana seorang intelektual berjuang mewujudkan cita citanya. Batas maksimal macam apa dan akan diletakan dimana tapal batas pertarungan ideologi bila kelak perang berakhir. Karenanya, ketika orang dewasa berbohong Kawan Jujur, Ketika orang dewasa merusak kawan memperbaiki, ketika orang dewasa apatis kawan dinamis, ketika orang dewasa diam kawan bergerak, ketika orang dewasa menindas kawan membela, ketika orang dewasa lengah Kawan waspada, ketika orang dewasa takut kawan berani, ketika orang dewasa melacurkan dirinya pada materi, kawan tak punya apa apa (lebih tepat disebut bokek). Karenanya pula setelah melakukan perjuangan, kawan balik menertawakan orang orang dewasa itu. Bagi kawan, mereka tampak blo’on. lantaran kata tidak sesuai dengan perbuatan, janji tidak ditepati, bersikap sok bersih padahal opotunis, betingkah sok berwibawa padahal ‘cabul’. Inilah parade yang lebih lucu dari badut sirkus. lantaran badut badut sirkus memakai maskara sebatas pertunjukan, sementara orang dewasa memakainya kemanapun dengan sebuah tulisan konyol dikening mereka yang berbunyi, ‘Kami tukang tipu’. Kawan tertawa keras keras (bahkan sampai berguling guling) melihat semua itu.

kata grace, Kawan tak pernah takut bergerak sebab yang mereka hadapi adalah pandir pandir yang kalau menggunakan metafora teknologi, berfikir lemot dengan kecepatan kilo byte sementara kawan sudah berpikir taktis dengan kecepatan giga byte. Kata grace, baik kawan atau orang orang dewasa (sekali lagi : kata lain untuk penguasa) sama sama ketawa. Cuma bedanya tawa kawan adalah tawa lepas sementara tawa orang dewasa adalah tawa yang dipaksakan, tawa kawan adalah respon atas tingkah konyol orang dewasa , sementara orang dewasa tertawa pada diri mereka sendiri. Tawa kawan membuat mereka naik kepuncak karena dibarengi perjuangan, tawa orang dewasa membuat mereka tersungkur kelubang kuburan karena oportunis. Itulah bedanya, kata grace menguatkan. Meski dianggap bego seperti anak anak, kawan tak ambil pusing lantaran yang bilang mereka begitu ternyata bego betulan.

Grace mengakhiri ceritanya dengan menarik nafas panjang. Saya yang dari tadi bengong ngeliat dia cerita, kaya bangun dari tidur panjang. Grace nanya sama saya, “eh guh ngomong ngomong rambut ku udah mirip rambut Geum Jandi kan ?” saya ngejawab, “ ngga , ngga sama sekali, potongan rambut kamu lebih mirip Dora the eksplorer”….terus kami berdua ketawa kaya orang bego (tentu aja orang bego versi Kawan Widyatama).

Dari salah satu toilet kampus
dimana saya belepotan menulis ulang semua kata kata Garce,
saya ucapkan,
“Vale….el Campesino unido camasera vencido ”

Besok lusa disambung lagi cerita cerita dari Grace (yang makin oriental itu)
-Suguh Kurniawan-

20 Maret, 2010

FILM INDONESIA MELAWAN PORNOGRAFI

Posted by Suguh Sabtu, Maret 20, 2010, under | 2 comments

artikel ini terbit juga di kabar Indonesia

kebangkitan film Indonesia dalam dilema. Ketika tuntutan moral memacu para sineas untuk menghasilkan karya berkualitas, muncul film-film ‘panas’ seperti pada era 80an dimana unsur pornografi tersisip didalamnya. Tak ayal tayangan bergenre esek esek ini mendulang kontroversi. Kendati kecaman dan pencekalan makin luas ternyata proses produksinya terus berjalan. Apakah hal tersebut berkaitan erat dengan pemenuhan selera pasar atau kebebalan oknum penggiat sinema yang hanya mengkultuskan materi?

Sama Dulu Sama Sekarang
"Masalahnya yang terjadi di Indonesia saat ini adalah banyak produser atau rumah produksi yang bisa pesan tanggal penayangan filmnya ke bioskop jaringan di Indonesia, sementara ketika dia daftar filmnya itu belum jadi," papar Nia Dinata Produser Kalyana Shira Films (KapanLagi.com/27/9/08). Hal ini serupa dengan nasib film nasional pada era 80an. Saat itu Peraturan pemerintah mensyaratkan setiap empat film import harus diimbangi satu film lokal. Menetri penerangan Harmoko menargetkan 200 film dalam negeri dapat dirilis meski yang terpenuhi hanya 100 judul saja (Kick Andy/hal 135-141).

Karena pengerjaannya yang cerderung terburu-buru membuat para sineas pada kedua era diatas berkarya asal jadi. Film ‘panas’ yang menampilkan adegan seronokpun dijadikan jalan pintas guna mengejar target dan balik modal. Alih-alih mendapat apresiasi positif, yang ada ialah lahirnya film kaya kuantintas tapi miskin kualitas. Bedanya Kalau dulu muatan pornografi sebagian besar dikemas dalam film drama seperti kenikmatan tabu, jago jago bayaran dan perempuan malam, kini sutradara menyisipkan dalam film bergenre horor atau popular teenleet ala american pie, seperti kawin kontrak, Suster Keramas atau Hantu Puncak Datang Bulan.

Sementara mayoritas penikmat film lokal sendiri tidaklah bodoh. Kendati disuguhi tayangan bertendensi cabul, mereka dengan cerdas dan selektif memilih karya yang bukan hanya dapat menjadi tontonan tetapi juga tuntunan. Pada era 80an film garapan Sumanjaya dan Teguh Karya terbukti bisa laku dipasar. Sementara saat ini film dengan muatan moral dan religi makin diminati. Sebagai contoh dari jumlah penonton Laskar Pelangi pada 2008 berhasil menyedot 4,6 juta angka, Ayat-ayat Cinta pada 2007 dengan raihan 3,6 Juta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 pada 2009 mencapai 3,1 juta(wikipedia.com).Adapun film-film ‘panas’ baik dulu atau sekarang, kalau menggunakan metafora sepakbola ‘selalu terpuruk di klasmen bawah bahkan terdegradasi secara mengenaskan’.

Film garing kering makna dapat mengancam eksistensi industri ‘gambar idoep’ dalam negeri. Hal ini diamini oleh Mira lesmana produser ‘laskar pelangi’. "Ketika film yang tidak berkualitas muncul, penonton akan meninggalkan film Indonesia dan kami akan menjadi sulit," katanya (detik.com/21/02/10). Karenanya Para sines harus berfikir dua kali sebelum berkarya bila tak ingin menjadi bagian dari penyebab keterpurukan film Nasional.

Film adalah Kebudayaan
Guna mengawal kebangkitan film Indonesia dibutuhkan orang orang yang kopenten. Kopentesi tidak cukup diukur dengan label sutradara, kameraman, produser dan kru jempolan. Hal paling penting adalah munculnya keinsyafan berfikir bahwa film adalah salah satu elemen penting yang menyertai perjalanan suatu bangsa. Tantangannya kemudian bukan hanya soal mencari untung tapi bagaimana film dapat menghegemoni dan memengaruhi para penonton dengan suguhan edukatif, bermoral dan bertanggung jawab dengan tidak menghilangkan fungsi primernya untuk menghibur.

Kedepan hendaknya insan perfilman dan pemerintah dapat bersatu. Sudah saatnya para sineas berani merambah genre baru diluar horor dan popular teenleet ala american pie yang cabul itu. Iran dapat dijadikan acuan. "Darbareye Elly (About Elly)" film besutan Asghar Farhadi sebagai contoh, berhasil menyabet dua penghargaan dalam Festival Film Asia Pasifik (Asia Pacific Screen Awards/APSA) 2009 bukan karena kepornoannya tapi keunikan temanya. Selain itu film film keluaran Show box production (Korea selatan) seperti bare foot gibong, The host atau beauty 200 pounds patut ditiru. Karena dengan cerita bertema sosial yang mudah dicerna, penonton dapat tercerahkan sisi kemanusiaannya dan mendapat hikmah setelah pulang dari bioskop.

Sementara bagi pemerintah, cinta film nasional tidak cukup ditandai dengan berbondong bondongnya birokrat ke bioskop dan setelah itu bubar. Tapi merekapun berkewajiban mendanai para sineas dalam menghasilkan karya. Budget produksi yang selangit hendaknya disokong oleh subsidi negara. Seperti halnya tari pendet dan reog, filmpun dapat menjadi budaya bangsa bila digarap secara profesional. Mendukung perkembangannya secara real adalah bukti bahwa pemerintah tidak sekedar menjadi ‘tim hore’ atau ‘audience terima beres’, tapi benar benar menghendaki kebudayaan Indonesia menggurita secara global.

YANG PALING KEREN SEDUNIA

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Widget by Suriyadi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Tags

Blog Archive

Arsip Blog